Seisi balairung istana raja menyambut dingin kehadiran Dante dan semua mata tertuju padanya. Posturnya yang tinggi tegap, tubuh proporsional tidak terlalu besar, wajah khas Italia berdarah campuran, tampil sempurna dengan jas resmi kerajaan. Mereka memang diam namun dalam hati tak mengelak kenyataan bahwa Dante memang pantas menjadi kesatria. Sekarang, tinggal melihat bagaimana perangainya.
Sampai di depan tangga menuju singgasana, Dante menghentikan langkah, menuruti instruksi Eyn Huza bahwa ia harus membungkuk, memberi hormat pada raja. Sejauh ini lancar saja. Eyn Huza yang juga hadir di situ, menghembuskan napas lega.
“Mengapa kau lakukan ini padaku?” tanyanya menuntut.
Hadirin terperanjat, sungguh tak menyangka kalimat bernada kurang sopan itulah yang terlontar pertama dari mulut Dante. Semula, semua orang menyangka bahwa pemuda itu akan menyapa raja, berbasa-basi dan berterima kasih padanya karena telah dipercaya menyandang sebuah kekuatan besar, tetapi nyatanya …. Eyn Huza pun terkejut.
“Hidupku baik-baik saja sebelum kalian ikut campur urusanku. Jika Kapten Skivanov tewas, itu bukan salahku, Dia yang cari gara-gara denganku. Seandainya aku yang tewas … itu bukan masalah. Aku tidak akan menyalahkan siapapun. Tidak seorang pun yang akan menangisiku, jadi … berhentilah menganggap bahwa aku adalah kesatria kalian. Aku ini pecundang. Berharap terlalu banyak sama saja bermimpi tanpa kenyataan. Kalian akan menyesal. Tolong, ambil kembali Zeal kalian dan biarkan aku pergi. Aku akan menganggap peristiwa ini tak pernah terjadi. Bagaimana?”
Sesaat hening, tiba-tiba adik Eyn Mayra, Al Hadiid, menghunus pedangnya sambil berteriak murka, “AKAN KUBUNGKAM MULUTNYA! HHEEAA!!”
Semua orang menahan napas, menyaksikan adegan pertarungan yang tak mungkin dimenangkan Carlo Dante. Dante sigap, memilih menghindar tebasan pedang dan merebut sebilah pedang milik seorang pengawal yang berdiri tak jauh darinya. Pertarungan yang berlangsung sebentar, sebab sang raja menghentikannya.
“Al Hadiid, kau tak berhak mendahului keputusanku. Masukkan kembali pedangmu dan duduklah di dekat kakakmu!”
Eyn Aziz, atau yang biasa dipanggil Al Hadiid itu pun mundur, mengikuti titah raja. Duduk di sebelah Eyn Mayra, ia keheranan, kakak perempuannya itu justru lekat memandang ke arah Dante.
“Dan kau, Carlo Dante, aku minta maaf. Maaf bila begini cara kita berjumpa. Seorang kesatria hanya dapat dipanggil saat ia terluka, demikian pula dirimu. Sudah lama kami memperhatikanmu, namun baru sekarang kita bertemu, tepat pada saat kau membutuhkan bantuan.” Eyn Rasyid, sang raja, kembali membuka suara.
Dante menyeringai, masih merasa tak ada yang salah pada dirinya. “Bantuan? Bantuan apa? Zeal? Sudah kubilang, aku tak memerlukannya. Aku bisa …. ” Kesadarannya lumpuh. Lagi-lagi Zeal mengendalikan tubuhnya karena menentang raja.
“Hm, tampaknya aku harus bicara empat mata dengannya,” ucap Eyn Rasyid.
Satu jam kemudian. Bahkan Eyn Rasyid merasakan sendiri betapa sulitnya menundukkan kerasnya sifat Dante. Ia tersenyum, tamunya itu telah sadar dengan wajah ingin tahu di mana lagi sekarang.
“Senang kau bangun, duduklah di sini dan bergabung denganku minum teh,” ajak raja yang rendah hati itu, setelah melihat Dante bangun dan duduk di sofa balkon ruang tamunya.
“Tempat yang luar biasa. Negeri apa ini? Anda punya balkon yang hampir seluas kamarku tadi. Kalian, istana ini, semua seperti dongeng. Aku masih tak percaya yang kulihat.”
Eyn Rasyid tersenyum. Selesai menyeduh, diletakkannya secangkir teh itu di meja di depan Dante tanpa bantuan pelayan, karena memang hanya mereka berdua di sana. “Negeri Eyn dan istananya dijaga oleh keturunan pendiri kerajaan ini. Kami, Eyn Bersaudara, memiliki ciri khas dan kekuatan masing-masing. Aku, putra sulung, sebutlah kekuatan diplomasi ada padaku. Eyn Huza, kau sudah melihatnya, ahli ilmu pengobatan yang sangat berguna. Eyn Mayra, satu-satunya saudara perempuan yang kami anggap aneh karena menyerahkan kekuatan pelindungnya padamu, Zeal. Dia bilang, hanya kau yang sanggup menerima dan menggunakan roh pedang dengan tujuan mulia. Dia juga mengatakan bahwa sosok dirinya dari masa depan menyerahkan tugas itu padanya, jika tak ingin semua terlambat. Sebelum inti Zord dalam tubuhmu benar-benar menguasai dirimu dan membuatmu buta. Sebelum kau benar-benar menjadi boneka Roughart.”
“Sampai di sini aku paham, lalu siapa pemuda sok jago suka mencari perhatian yang cepat naik darah itu?”
“Oh, itu Eyn Aziz. Dia lebih suka dipanggil Al Hadiid. Dialah yang dijuluki Harimau Gurun, tidak suka bernegosiasi, disegani lawan maupun kawan. Tak lama lagi dia akan dinobatkan menjadi panglima perang. Agak iri padamu karena kau yang sanggup menyangga kekuatan Zeal, bukan dirinya.” ucap Eyn Rasyid sembari meneguk pelan minuman itu.
“Mengapa?”
“Kami pernah mencobanya, memasukkan Zeal ke dalam tubuhnya, lalu dia … nyaris tewas. Tubuhnya nyaris terbakar, untunglah Eyn Huza bergerak cepat menyelamatkannya. Baru setelah enam bulan, Al Hadiid benar-benar pulih. Hingga kini ia masih bertanya-tanya mengapa kau yang dipilih.” Senang tamunya tak lagi berkomentar, Eyn Rasyid meneruskan kata-katanya, “Katakan, Carlo Dante, apa yang akan kau lakukan bila makhluk lain mencoba membinasakan manusia? Roughart sudah lama mengincar bumi. Sekarang, mengetahui inti Zord ada dalam dirimu, giliran Saturn Gallant yang dijadikan target utama. Tidakkah kau peduli pada keselamatan kami semua? Saat ada kekuatan besar yang bisa membantumu. Zeal memang tidak sempurna, namun kalian dapat saling mengimbangi. Itu pendapatku. Eyn Mayra juga telah meyakinkanku sehingga aku setuju.”
Mendengar nama itu, Dante teringat sesuatu. “Eyn Mayra, memberikan Zeal untukku?”
“Ya, dia bilang dia akan baik-baik saja. Sebelumnya, roh pedang Zeal hanya disimpan di ruang pusaka di istana Eyn Mayra. Kini, setelah ada padamu, Eyn Huza-lah yang membantu mengamankan istananya, karena setiap Eyn memiliki istana sendiri-sendiri. Hanya saja, Al Hadiid lebih suka tinggal di istana Eyn Mayra untuk menjaganya, setidaknya sampai Eyn Mayra menikah.”
“Menikah?”
“Ya, aku bertemu dengan seorang kolega saat berada di Saturn Gallant, ia tertarik menjodohkan Eyn Mayra dengan putranya dan aku setuju. Sudah saatnya sang putri memiliki pendamping hidup, aku ingin dia bahagia.” jelas Eyn Rasyid menyudahi pertemuan pribadinya. “Nah, kurasa kita sudah saling memahami. Tidakkah kau ingin melihat-lihat lingkungan istana sebelum pulang? Aku yakin, kau akan betah di sini.”
Apa gunanya menjadi kesatria Eyn bila melihat Eyn Mayra bersanding dengan pria lain? Seenaknya disuruh-suruh? Bayangan kecemburuan itu hinggap dalam benaknya dan menyurutkan niatnya semula untuk mengikuti keinginan raja. Cukup lama berjalan menyusuri lorong istana, akhirnya sampailah ia di bagian atas salah satu atap bangunan besar dimana terdapat taman di sana. Angin malam menelusuk melalui celah jasnya, tak terlalu dingin terasa. Seseorang duduk di bangku panjang tembaga sambil membaca buku yang menutupi wajahnya.
“Buku. Benda itu seharusnya sudah punah puluhan tahun yang lalu. Apa yang kau baca?”
Orang itu menurunkan bukunya dan tampaklah wajah Eyn Huza. “Tentang struktur macam-macam daun. Buku ini yang paling menarik minatku, meskipun usianya sudah tua dan aku sudah berkali-kali selesai membacanya.”
“Oh, benarkah? Apa menariknya?” Dante ingin tahu sesuatu yang menurutnya sepele, mengapa hal remeh itu begitu menarik bagi Eyn Huza?
“Dante, kau ibarat daun. Daun tak pernah seindah bunga, namun melalui daun, tanaman memperoleh makanannya. Pernahkah kau berhenti menganggap dirimu pecundang? Sesuatu dalam dirimu sangat dibutuhkan orang lain dan kau menyia-nyiakannya. Sesuatu, yang bukan tentang senjata. Sesuatu, yang hanya Tuhan dan dirimu yang tahu.”
“Percayalah, dude, aku sudah mencobanya. Buat apa aku susah payah bergabung dengan Space DJ Legacy jika akhirnya seorang Skivanov memanfaatkan aku atas nama keselamatan Saturn Gallant? Benar, aku telah mencuri sebagian kecil ionosnya, tapi itu juga kulakukan karena suatu alasan. Alasan yang tak mungkin kubagi dengannya.” Detik itu juga, Dante menyadari kesalahannya.
Eyn Huza tersenyum. Lanjutnya bijak, “Kau dan Kapten Skivanov hanya perlu saling jujur dan terbuka. Bukan masalah besar, tinggal mau atau tidak. Bila memang alasannya demi kebaikan Saturn Gallant, mengapa kalian tidak bisa menyatukan visi? Masing-masing dari kalian cukup kenyang dengan pengalaman hidup, terutama kau, Dante. Walaupun masih muda, dulu pernah menderita. Pengetahuanmu tentang Roughart bisa membantu kapten untuk menghadapinya. Roughart licik, dan dia akan kembali. Akankah kau lebih siap kali ini, atau melihat Saturn hancur lebur berikut warganya? Sekarang, terserah bagaimana kau dan Kapten Skivanov mengatasi selisih paham di antara kalian.” Eyn Huza meneruskan kembali bacaannya. Saat menurunkan lagi bukunya, pemuda itu telah beberapa langkah menjauh darinya. “Selesaikan urusanmu dengan Roughart, maka kau bisa kembali ke Eyn. Kami menunggumu di sini.”
Dante menjawab tanpa menoleh ke arah Eyn Huza, “Untuk apa? Menyaksikan pernikahan Eyn Mayra? Maaf, aku sibuk.” Lantas meninggalkan Eyn Huza begitu saja, kembali ke kamarnya.
Di kamar, ia menutup pintu dan melepas jas resmi kerajaan, melemparnya begitu saja ke atas tempat tidur. “Mana baju lainnya?” Menyasar lemari baju yang besar dan menemukan beberapa pakaian ganti yang juga khas bangsa Eyn, hanya saja lebih nyaman dan tidak terkesan resmi. Perhatiannya tertuju pada sebuah buku tulis berlogo istana lengkap dengan pena di atas meja. “Kuno sekali …. ” Mengurungkan ucapannya menilai gaya hidup bangsa Eyn yang masih menggunakan buku, ketika terbit suatu ide di kepalanya. Selembar surat untuk Eyn Mayra. Baru saja selesai menggores kalimat terakhirnya, Dante mendengar suara seseorang dalam kepalanya.
Suara Al Hadiid! Mau apa bicara lewat telepati?
“Turun dan temui aku di halaman belakang istana, ada arena berlatih bela diri di sana. Kita selesaikan urusan yang tertunda!” tantangnya.
Atas nama harga diri, Dante dengan sigap bergegas menuju ke sana.
“Kakakmu sudah memberitahuku siapa dirimu, Harimau Gurun. Sama seperti Kapten Skivanov, kalian mengajakku bertarung di kandang sendiri. Mana mungkin aku unggul? Menang, kalian memenggalku, kalah, kalian menghinaku. Tidakkah bisa kau lepaskan status pangeranmu, kita bertarung di suatu tempat tanpa perlindungan politik? Kalau kau tersinggung akibat ucapanku di balairung, maka kau harus belajar lebih banyak dari Eyn Rasyid. Kami sudah sepakat tentang suatu hal, demikian pula Eyn Huza. Apalagi yang kau mau?”
“Tidak ada hubungannya dengan mereka. Aku berbeda dari keduanya. Sebenarnya aku hanya mencari alasan untuk bertarung denganmu. Seorang Space DJ Saturn Gallant. Mantan anggota Lethal-X pimpinan Roughart. Mendengar siapa dirimu dan sepak terjangmu, membuatku berpikir untuk mengukur sejauh mana kemampuanmu. Benarkah seperti yang orang-orang katakan? Atau mereka hanya mengigau? Ayo maju, Space DJ Carlo Dante. Kita lihat seperti apa dirimu. Jangan cemas, di arena ini hanya ada menang atau kalah, tidak ada yang akan menyalahkanmu.” Al Hadiid sudah memasang kuda-kuda.
“Benarkah?” Dante berusaha memastikan.
“Pegang janjiku.”
Dalam hitungan detik mereka sudah terlibat dalam baku hantam. Dante ingin menundukkan Sang Harimau Gurun sedangkan Al Hadiid ingin mematahkan persepsi yang tersebar luas bahwa Carlo Dante sulit dikalahkan. Keduanya tak ada yang saling mengalah. Al Hadiid bertarung adil, sama sekali tak menggunakan kekuatan Eyn-nya, dan Dante tak terlintas di pikirannya untuk menggunakan kekuatan Zeal. Masing-masing kena pukul, tendangan atau hantaman yang menyakitkan, namun tak juga berhenti hingga salah satu tumbang kehabisan tenaga.
“Inti Zord dalam tubuhmu membuatmu tak cepat lelah. Itu bagus, aku bisa memukulimu lebih lama.” kata Al Hadiid seraya menyeka darah yang mengalir dari ujung bibirnya dengan pandangan menghina.
“Tunggu, kain Eyn ini mengganggu gerakanku. Jika kau tak keberatan.”
“Silakan.” Al Hadiid menunggu Dante melepas atasan busana Eyn yang memang longgar, lalu mengikatnya di pinggang.
“Aku siap, ayo, teruskan!”
Gerakan Dante semakin cepat dan berbahaya. Dalam waktu singkat ia mampu memutar otak untuk mengantisipasi serangan atau harus menerjang. Sementara Al Hadiid mengandalkan tikaman berbahaya, Dante cenderung aktif mencari titik kelemahan lawan. Hingga pada satu kesempatan ….
“AARRGGHH!!” Al Hadiid kehilangan keseimbangan akibat gerakan Dante yang terlalu cepat sehingga pada saat ia lengah, Dante dengan mantap menyasar salah satu urat sendinya. Pemuda yang lebih muda dari Dante itu akhirnya terjatuh di lantai arena, setelah hampir satu jam pertarungan itu berlangsung.
Dante berdiri terhuyung-huyung, berusaha menyeimbangkan diri, menghimpun kembali tenaga dan kesadarannya. Beberapa kali terkena pukulan di rahang dan dahi membuatnya nyaris pingsan. Wajah dan tubuhnya juga babak belur, kemudian menyudahi pertarungan itu dengan mengulurkan tangan pada Al Hadiid untuk membantunya bangun.
“Senang bertarung denganmu. Akhirnya, ada seseorang yang menganggapku manusia.”
****