Carlo Dante siuman, pelan-pelan pandangan yang kabur semakin jelas, tenaganya mulai pulih. Seperti bangun dari kematian, begitu ia merasakannya, namun bersyukur bahwa ia masih hidup. Hampir semua ototnya terasa kaku, tubuhnya menolak bangkit, segera menyadari itu semua akibat kondisinya yang lama tertidur. Tidur, tapi di mana? Kedua matanya mengamati ke segala arah.
Aneh.
Tempat ini lebih mirip kamar istana. Semewah apapun hotel di dunia, tidak akan bisa menyamai fasilitas di dalamnya. Perabot dan tempat tidur emas, kusen jendela berukir yang membulat, dilengkapi balkon yang mungkin membuatnya mampu melihat awan-awan selembut salju, dan masih banyak lagi unsur kemewahan yang mustahil dijelaskan dengan kata-kata. Dan tempat tidur ini … lembut melebihi kapas. Ia seolah berbaring di atas awan. Sungguh nyaman dan sejenak, ia pun terlena.
Lalu terdengar suara jejak kaki halus seorang wanita. Ia masuk setelah menutup pintu kamar. Dante menutup mata, pura-pura belum sadar. Ia harus tahu apa yang terjadi dan sedang berada di pihak mana, lawan atau kawan? Untuk itu ia tak boleh gegabah, sedikit membuka mata untuk melihat siapa yang datang. Gadis itu, jantungnya berdetak kian cepat, benarkah … Eyn Mayra?
Dengan cekatan putri kerajaan Eyn tersebut menyeduh sebuah minuman dalam cangkir di atas baki perak yang kemilau. Selembar kain kecil ia benamkan ke dalam sewadah air hangat yang juga telah dilarutkan dengan ramuan beraroma menyegarkan. Sesaat kemudian gadis itu telah menyeka wajah Dante dengan kain lembut yang telah diperas sehingga tidak menetes lagi. Dante memilih membiarkannya, menikmati detik-detik kedekatan mereka.
“Andai ini di surga, aku memilih tak bangun lagi.” kata Dante seraya membuka salah satu matanya, dan tersenyum seolah pada kekasihnya.
Sepasang mata indah berbulu lentik itu membulat sesaat karena terkejut. “Kau, telah sadar? Sejak kapan?” Pandang Eyn Mayra curiga.
“Sejak kau memandikanku semalam.”
Eyn Mayra mundur, meletakkan kain itu di atas meja ukir tak jauh darinya. “Dusta, bukan aku yang melakukannya.”
Dante tergelak. Ia hanya bercanda namun gadis itu menanggapinya serius. “Kalau begitu, siapa? Para dayangmu? Kau izinkan mereka melakukan itu? Oh, Anda telah merendahkan harga diriku, Tuan Putri. Anda harus bertanggung jawab untuk itu.” Dante berbaring menyamping sembari menopang kepala dengan satu tangannya.
“Juga bukan dayang.” Eyn Mayra menggeleng.
“Lalu?” tanya Dante penasaran, mengingat jebakannya akan gagal.
“Eyn Huza, kakakku. Dia tinggal membuat tubuhmu melayang dan merendammu di kolam ramuan. Ramuan yang tidak akan membuat tubuhmu bau oleh keringat, intinya, kau tak perlu mandi selama beberapa hari.” jelas Eyn Mayra meyakinkan. Ia tahu pasti ke arah mana percakapan ini berakhir bila tak hati-hati. Walau bagaimanapun, Carlo Dante telah memikat hatinya. “Lagi pula, kami para wanita dilarang berhubungan dengan pria sebelum menikah, jika itu maksudmu. Jadi, kumohon, hentikan … pikiran kotor … itu.”
“Dan kau diizinkan menyeka wajahku?”
“Untuk kepentingan pengobatan dan keselamatan nyawa seseorang, masih bisa ditoleransi. Tenang, aku sudah diizinkan tiga saudaraku. Mereka tahu apa yang kulakukan untuk merawatmu. Ada hal m***m lain yang kau pikirkan, Carlo Dante? Dengan senang hati kujawab semua pertanyaanmu.” Setengah menantang, namun itulah isyarat bahwa ia adalah gadis dewasa yang punya kendali penuh atas hasratnya dan Dante tampak menghargai kata-katanya. “Tidakkah … kau ingin tahu sedang di mana sekarang? Apa yang terjadi pada Dual Exchanger? Dan mengapa punggungmu menjadi aneh? Seharusnya kau menanyakan itu padaku, bukan mempersoalkan siapa yang mengganti busanamu.”
Senyum Dante mengembang, sangat menawan. Pemuda itu mampu menebak bahwa Eyn Mayra juga memiliki getar yang sama, namun pandai menutupinya. Sebuah tantangan terlintas di benaknya, mampukah ia meruntuhkan dinding itu? Dinding yang membatasi kedekatan mereka. Entah mengapa Dante semakin tertarik. Pribadi Eyn mayra begitu anggun, santun, tegas dan berwibawa. Pada usia semuda itu sang putri telah tahu ke mana tujuan hidupnya dengan kepribadian yang demikian matang.
“Biar kutebak, aku sedang di bumi, tepatnya di kerajaan Eyn yang tidak terdapat dalam peta manapun. Dual Exchanger ada pada kalian di sebuah tempat aman dengan niat mengembalikannya padaku setelah aku benar-benar pulih. Lalu, tentang … punggung? Apa yang terjadi dengan punggungku?”
Dante melompat dari tempat tidur dan melepas busana atas di depan sebuah cermin besar, memeriksa bagian belakang tubuhnya. Bekas-bekas luka lamanya memang telah hilang seluruhnya, namun beberapa tonjolan aneh di sepanjang tulang belakang membuatnya sedikit ngeri. “Apa yang kalian lakukan padaku?” desisnya tertahan.
“Roh pedang Zeal. Di dalam tubuhmu telah bersemayam sebilah pedang pendek yang dapat kau gunakan pada saat benar-benar membutuhkannya. Pedang itu dapat lurus memanjang ataupun membesar sesuai keinginan. Kekuatan Eyn yang hanya dirimu yang mampu menerimanya. Sebuah tanggung jawab besar yang kami titipkan padamu.” tutur Eyn Mayra pelan, berharap Dante tak marah karena ia dan Eyn Huza telah menanamkan roh pedang Zeal tanpa seizinnya.
“Apalagi setelah ini? Kalian pikir bisa berbuat seenaknya? Kalian membutuhkan tubuh seseorang sebagai tempat tinggal makhluk ini? Perbuatan macam itu mengingatkanku pada Roughart, yah, kalian sama saja. Dia memberiku inti Zord tanpa bisa kutolak, dan sekarang … roh pedang? Lelucon apa ini? Sebaiknya kalian melepasnya lagi, atau …. ”
“Atau apa? Membiarkan inti Zord menguasaimu lagi? Ingatlah, Dante, roh pedang Zeal dapat mengimbangi kekuatannya. Kini kau telah sempurna, mengapa tak mampu menerimanya sebagai bagian dari takdirmu?”
Dante mendekat, dan meskipun Eyn Mayra berusaha menghindar, yang terjadi justru lebih buruk. Dante mendesak gadis itu hingga tubuh keduanya telah berada di atas tempat tidur. Ia menahan masing-masing tangan Eyn Mayra sehingga gadis itu sulit bergerak apalagi melepaskan diri dari dominasinya. Wajah mereka begitu dekat sehingga Dante mulai mencium harum aromanya meskipun terbalut gaun panjang. Bibir Dante bergerak ke arah sisi leher Eyn Mayra tanpa memedulikan ketakutannya. Tubuh gadis itu bergetar. Ia benar-benar takut.
“Memilikimu adalah bagian dari takdirku, Tuan Putri. Apa yang terjadi di antara kita bukanlah rahasia. Walaupun kau bilang akan menikah, aku tak peduli. Bahkan aku tak keberatan bersaing dengan pangeranmu itu. Sekarang, apakah Anda akan mengizinkanku melakukannya?”
Eyn Mayra menutup mata. Ia takut dan menolak pasrah, namun ia benar-benar tak berdaya.
Tiba-tiba pedang dalam tubuh Dante bereaksi. Meski tonjolan di punggungnya hanya sedikit bergerak, cukup menimbulkan rasa sakit yang luar biasa sehingga menghentikan Dante dari perbuatannya menyakiti sang putri. Dante berteriak kesakitan dan melepas genggamannya yang menahan tangan Eyn Mayra.
Eyn Mayra bangkit, memerintahkan sesuatu pada Zeal, “Hentikan, aku yakin dia akan berpikir ratusan kali sebelum mengulanginya lagi.”
Rasa sakit itu sirna. Tubuh Dante penuh keringat, menatap nanar Eyn Mayra yang tak lantas melarikan diri darinya. “Jadi inilah permainan kalian. Baiklah, aku salah. Sudah kubilang, aku menghormati semua wanita, terutama dirimu, Eyn Mayra. Jadi jangan salahkan aku bila terus mengujimu.”
“Apa? Mengujiku?” tanya Eyn Mayra ragu dan hampir tertawa karenanya.
“Ya, entah kau percaya atau tidak, tolong, jangan tertawa. Aku serius.” Dante duduk bersandar pada lemari di sebelah tempat tidur, lelah tampak mendera dirinya akibat hukuman kecil barusan. “Terus terang, kau berbeda. Mungkin … aku merindukan sosok wanita sepertimu, tempat bersandar, berbagi keluh kesah, meskipun aku sadar … bahwa aku tak pantas. Aku hanyalah sampah.” Space DJ itu tak sanggup lagi bicara apalagi bergerak untuk bangkit. Matanya tertutup, kembali tak sadarkan diri.
“Angkat dia, Zeal. Biarkan dia istirahat hingga tiba waktunya menghadap raja.”
Cahaya perak memindahkan tubuh Dante kembali berbaring di tempat tidur. Selesai memastikan Dante baik-baik saja serta meninggikan selimutnya, Eyn Mayra meninggalkan pemuda itu setelah berbisik lembut di telinganya, “Bila saatnya tiba, Yang Mulia.”
Kembali membuka mata, pandangannya yang semula kabur semakin jelas. Entah mengapa, Dante selalu merasakan sensasi yang sama tiap kali bangun dari tidurnya dan rasanya sekarang ia tahu jawabannya. Seorang laki-laki berbusana serba putih dan berambut putih panjang hingga ke pinggang, tampak selesai membuatnya sadar. Di sekelilingnya, berdiri beberapa pria, kemungkinan pelayan. Mereka semua membawa peralatan mandi, busana ganti dan tata rias.
“Carlo Dante, kau diundang Eyn Rasyid, raja kami, ke sebuah pertemuan penyambutan. Acara kecil-kecilan, tak usah gugup. Pelayan-pelayan istana akan membantumu menyiapkan diri. Menurut Eyn Mayra, kau terlalu ribut soal siapa yang memandikanmu. Oleh karena itu, kau diberi waktu. Silakan, pergilah ke ruang pemandian di balik pintu itu dan nikmati kesempatanmu. Oh ya, namaku Eyn Huza.” Isyarat tangan kakak laki-laki Eyn Mayra itu dimengerti para pelayan yang membawa busana mandi dan lulur wewangian. Mereka meletakkannya di meja khusus di dalam ruang pemandian agar mudah diambil dan digunakan, serta mencampur ramuan ke dalam air kolam yang langsung beraroma semerbak. Setelah selesai, mereka keluar dan menunduk hormat pada Eyn Huza.
“Kesatria Eyn, silakan.” pinta EynHuza merentangkan tangan kanannya.
Agak pening, namun Dante tahu harus bergegas. Nyeri di punggung mengingatkannya pada roh pedang Zeal. “Sial, masih sakit,” umpatnya, sengaja diucapkan supaya Eyn Huza mendengar kekesalannya. Lewat di depan pria itu, Dante berkata, “Aku bukan kesatria Eyn!”
Eyn Huza tetap tenang, membiarkan Dante melewatinya dengan tidak sopan menuju ke ruang pemandian. Ia maklum, bagaimanapun Dante berhak marah atas roh pedang Zeal dalam dirinya. Pemuda tersebut telah terbiasa hidup bebas dan kini sesuatu membelenggunya. Rasanya tidak akan mudah meyakinkannya bahwa bersatu dengan Zeal sangat membantu sepak terjangnya. Untuk sementara, Eyn Huza hanya bisa menunggu.
Di dalam kamar mandi yang luas itu, Dante bersiul kagum. “Pantas namanya pemandian. Seseorang bisa bersenang-senang di sini.” gumamnya sendiri. “Kita lihat, berapa lama kau sabar menunggu, Eyn Huza.” Ia tersenyum licik. Pikirnya, bangsa Eyn memang layak diberi pelajaran. Seenaknya saja menyatukan dirinya dengan Zeal tanpa izin. Sepele, ia cukup mandi selama mungkin, tak lagi memedulikan waktu yang diberikan untuknya. Tak lama, ia sudah berendam di kolam pemandian tersebut. Tempat yang mampu membuat seseorang betah berlama-lama untuk sekadar berendam, atau membersihkan diri di bawah pancuran berbentuk paruh angsa.
Dante memperhatikan bunga-bunga mekar nan harum yang mengambang di air sekitarnya, teringat seseorang lalu bertanya dalam hati, “Mengapa di depan Eyn Mayra aku tidak bisa mengendalikan diri?” Ia benar-benar tak habis pikir, seakan-akan gadis itu memiliki daya tarik yang membuatnya hilang kendali. Apa yang terjadi? Negeri Eyn dan orang-orang di dalamnya, benarkah mereka nyata? Semua kekuatan di luar nalar yang jauh dari pengaruh teknologi, mengapa masih ada hingga saat ini? Satu demi satu pertanyaan itu harus terjawab karena mereka telah lancang ikut campur dalam kehidupannya. Semilir angin yang nakal menerobos dari sela-sela batuan yang sengaja ditata apik pada bagian atas dindingnya, menyebabkan kantuk mengipasi mata Dante yang makin terpejam, lalu ... tertidur.
Nyaman.
Dalam mimpi ia dikelilingi banyak bidadari. Tak seorang pun dari mereka yang merayunya. Anggun, santun, bersahaja, semua tersenyum padanya. Setelah itu mereka membagi dua barisan, lalu muncul seorang bidadari lainnya yang juga menutup wajah dengan cadar dan hanya menampakkan sepasang matanya. Dante mengenalinya.
“Eyn Mayra?” tanyanya.
Tak ada jawaban, cukup lama mimpi itu berlangsung dan saat terdengar suara memanggilnya, lambat laun matanya terbuka. “Dante, kita harus cepat!” kata Eyn Huza.
Telepati. Eyn Huza menyadarkannya melalui komunikasi pikiran. Masih terpengaruh sensasi mimpi, Dante buru-buru bangkit, secepat mungkin menyelesaikan urusan mandinya. Satu hal yang ingin dilakukannya adalah bertemu lagi dengan Eyn Mayra. Ia benar-benar lupa pada niat awal untuk mengakali Eyn Huza. Satu nama itu, yang mewakili sosok terindah dalam hidupnya, tidak akan dibuatnya menunggu. Setidaknya untuk hari ini.
****