BAB 10 TAK TERKENDALI

1771 Words
“To clarify:  Shiva AI Unit Breakdown Code. Subject: Carlo Dante. Status: locked.” Shiva bangun dan berusaha memecah kode agar bisa kembali berkomunikasi dengan Carlo Dante. Sudah ke sekian kali dan selalu menemui jalan buntu. Subjeknya tak bereaksi. Carlo Dante tampak aneh dan bertindak lain dari biasanya. Ia memegang senjata! Melalui kemampuan visual yang terhubung dengan indra penglihat Dante, Shiva tahu segalanya. Tetapi percuma jika Dante tak mendengar suaranya. Space DJ itu terus berjalan di bawah pengaruh seseorang dan Shiva tak mampu mencegahnya! Ia yakin bahwa Dante telah dikendalikan oleh alien yang menyabotase pesawat yang mereka tumpangi. Selanjutnya, jatuhnya korban menjelaskan kengerian yang sedang terjadi. Carlo Dante berhasil masuk ke Saturn Gallant, dan bagaikan mesin perang, ia menembaki siapa saja yang melintas di depannya. Akibatnya, alarm peringatan situasi berbahaya meraung-raung, semua fasilitas dan tempat tinggal ditutup. Semua orang dapat menyaksikan perkembangan situasi melalui layar virtual masing-masing melalui jaringan EDOS. Dalam waktu singkat, situasi dalam Saturn Gallant berubah sepi layaknya makam. Terlihat jelas bagaimana Dante membantai robot  polisi, melumpuhkan atau bahkan menembak staf keamanan maupun staf militer. Serangan taktisnya mirip pembunuh profesional karena itulah yang ia kerjakan di masa lalu. Saat ini, ia hanya mengulang mimpi buruk yang sama. Siapapun yang menyaksikan kebrutalannya, pasti langsung takut dan membencinya. Hilang sudah citra positif yang susah payah ia bangun sejak berhenti dari dunia hitam dan bergabung dengan Space DJ Legacy. “Dante …. ” ucap Ray lirih, ditemani beberapa staf termasuk Cain dan Shawn yang sudah mengunci  rapat-rapat fasilitas klub dengan keamanan maksimal. “Seperti bukan dia, entah menurut kalian, tapi aku yakin, Dante tidak mungkin berbuat sebodoh itu. Lihat saja caranya berjalan, pandangan matanya kosong! Haruskah kalian meminta bukti jika kita sangat yakin bahwa Dante orang baik?” Kata-kata Cain memperoleh dukungan. “Andai aku tahu cara membantunya.” gumam Ray sedikit menyesal. “Dante pasti ingin kau selamat. Kita lihat bagaimana Kapten Skivanov menyelesaikan masalah yang ia buat sendiri.” Sementara itu, Shiva yang tak mampu berbuat apa-apa hanya bisa merekam kejadian itu, detik-detik Dante memburu Kapten Ivan Skivanov sebagai sasaran tunggalnya sebab itulah yang diinginkan Roughart. Tentu Roughart adalah dalang di balik kekejaman Dante. Ia berhasil mengaktifkan inti Zord dalam tubuh Dante agar berbuat seperti keinginannya. Dante, tak lebih dari sekadar boneka hidup sebagai alat cuci tangan Roughart. Bila Dante tertangkap, bukan dia yang akan menerima hukumannya. Layar virtual besar di tengah kota menampilkan wajah sang kapten. Rupanya ia tak mau menambah jumlah korban dari stafnya. Apalagi Dante membawa Dual Exchanger yang sanggup meremukkkan kapal induk ini dalam beberapa kali tembakan saja. “Bukankah kau ingin membuat perhitungan denganku? Arena Raja, kutunggu kau di sana.” tantang Kapten Ivan Skivanov yang masih menganggap remeh kemampuan Dante. Tidak perlu menunggu lama, tantangan itu pun terpenuhi. Kini keduanya sudah saling berhadapan tanpa gangguan siapapun, termasuk staf militer. “Kau tetap memakai benda itu? Aku ingin bertarung secara jantan. Lucuti Dual Exchanger, kita buktikan, siapa yang terbaik.” Carlo Dante memiringkan senyum, tanda ia sangat siap pada tantangan Kapten Skivanov lalu kedua kakinya membentuk kuda-kuda. Tangan kanannya bergerak memberi isyarat ‘ayo maju’, peluang untuk Kapten Skivanov menyerang lebih dulu. “Tenang saja, Dual tidak mengganggu pertarungan kita.” Tanpa menunggu lama, matanya mengamati setiap detil gerakan Kapten Skivanov yang bergerak menuju ke arahnya membangun serangan. Saat dekat, disambutnya pukulan itu. Perbedaan gaya bertarung tak berakibat pada timpang irama pertarungan. Tinju rusia Kapten Skivanov dan tendangan mautnya pasti mampu menghancurkan tulang dan sendi lawan dalam sekali hantam. Sebaliknya, kecepatan serangan dan pertahanan Dante mampu mengimbangi terkaman singa di depannya. Ia tahu persis, cara jitu untuk melumpuhkan pria tinggi besar tersebut. Tiap kali Kapten Skivanov lengah, ia memanfaatkan pukulan yang langsung berefek fatal pada jantung pertahanannya serta tidak membiarkan satupun tinju maut mengenai dirinya. Akibatnya, dalam tiga kali pukulan telak, Dante mulai menguasai medan. Kehabisan konsentrasi dan tenaga, Kapten Skivanov akhirnya cuma bisa menerima pukulan dan tendangan Dante sehingga cepat terluka. Darah mengalir pada pelipis, hidung dan mulutnya, belum bagian lain yang menderita luka lebam dan cedera. Terakhir, Dante berhasil menyambar keras rahangnya. Darah bercampur keringat tersembur seketika. Pria itu ambruk. Dengan tenang,  Dante mendekat. “Giliranku.” Dante mengarahkan moncong Dual ke arah Kapten Skivanov tanpa menghiraukan keadaannya yang sudah tanpa daya. “Kita akan mati bersama, itu yang diinginkan Roughart. Ada kata-kata terakhir?” “Roughart? Tu-tunggu!” Ujung Dual sudah memerah karena panas ionos. Tak lama lagi ledakan besar akan melubangi Saturn dengan daya ledak yang besar, bukan hanya menghancurkan tubuh mereka. Namun tepat sebelum tragedi itu terjadi, muncul cahaya perak menggulung tubuh Carlo Dante yang membuatnya kehilangan kesadaran seketika tanpa bisa melawan sekaligus meredam tenaga Dual yang nyaris terlepas. Pada saat yang sama, sosok seorang wanita muncul di depan Kapten Skivanov, dialah Eyn Mayra. Ucapnya, “Berhati-hatilah pada keinginanmu, Kapten, karena Dante mampu mewujudkan lebih dari yang kau mau. Sesuatu yang nyaris membunuhmu dan menghancurkan kehidupan. Lain hari kalian bertemu, bersikaplah bijak dan adil, sebab bila tidak, kami, bangsa Eyn, akan mengambilnya darimu.” Usai mengucapkan pesan itu, wanita itu menghilang bersama Dante yang masih tertutup cahaya perak. Kalimat tersebut belum cukup membuat sang kapten menyadari kesalahannya. Niat melindungi Saturn justru berbalik tragis karena dimanfaatkan pihak lain. Semua bermula dari egonya untuk menguasai Dante dan menyetir hidup Space DJ itu. Ya, seorang pemuda yang hanya ingin mengubah hidupnya, keluar dari masa lalu yang gelap dan mencekam. Sebagai seorang kapten, seharusnya ia berhenti menjerumuskan Dante untuk terperosok ke dalam lubang yang sama. Tanpa sedikit pun rasa penyesalan, ia memutuskan menghadap Central untuk menerima sanksi. Baginya, jatuhnya korban tetaplah kesalahan Dante. Suatu saat pemuda tersebut harus bertanggung jawab. Menolak bantuan staf medis yang mulai berdatangan, Kapten Skivanov memilih merawat sendiri luka-lukanya, memutuskan kembali ke ruang pribadinya. Sementara itu, di kapal induk Dark Zord, Roughart menghantam dinding layar yang kehilangan kontak kamera di tubuh Dante. Ia tak bisa menyaksikan apalagi mengendalikan Dante. Meskipun demikian, ia sempat tahu siapa perusak rencananya. Tangannya mengepal karena amarah dan dendam membara. “Eyn, kalian akan merasakan akibatnya!”   ****   Eyn Mayra memindahkan tubuh Dante melalui teleportasi ke negeri para Eyn. Di sebuah hutan kecil, ia menunggu seseorang. Tak lama, seorang gadis muncul. Gadis yang berwajah serupa dengan dirinya. Eyn Mayra muda. “Kau mendapatkannya?” tanyanya khawatir, memandang tubuh Dante yang melayang disangga cahaya perak yang masih terus menyelimutinya. Eyn Mayra dewasa tersenyum, sangat paham dengan perasaan gadis itu. “Seperti yang kau lihat.” jawabnya singkat. “Aku yakin, Kapten Skivanov tidak akan menekannya lagi. Ia hampir membuat warga Saturn Gallant celaka.” “Tapi … bukankah engkau telah memindahkan Zeal ke dalam raga Dante? Mengapa Zeal tidak melindunginya ketika Roughart membangkitkan inti Zord?” “Dua kekuatan besar dalam satu tubuh. Manakah pemenangnya? Atau, kita harus menunggu waktu untuk menyatukan keduanya? Pada saat itu, dapatkah kau bayangkan seperti apa Dante nantinya?” Eyn Mayra dewasa mendesah pelan, seolah tahu segalanya sebab ia berasal dari masa depan. “Berikan dia waktu, dan kau akan menyaksikan perubahannya menjadi seorang kesatria. Percayalah padaku.” Usai mengucapkan itu, Eyn Mayra kembali ke masanya, menyerahkan Dante pada Eyn Mayra muda. Cukup lama termenung, seseorang muncul di belakangnya. Dialah sang kakak, Eyn Huza. “Sampai kapan kau terus memandanginya? Haruskah waktu terhenti untukmu?” tanyanya menggoda, berharap Eyn Mayra sadar dari lamunannya. “Kita harus segera membangkitkan kekuatan penuh roh pedang Zeal agar bersemayam dalam tubuhnya. Tidak bisa ditunda lagi.” “Sekarang? Bagaimana jika dia menolaknya? Dia bisa lumpuh seumur hidup!” “Dia sudah lumpuh, sebagian dari dirinya bukanlah Carlo Dante yang sesungguhnya, melainkan inti Zord yang mustahil kita musnahkan. Bila Zeal tidak mengimbanginya, entah bencana apalagi yang mungkin terjadi di masa depan.” “Kalau begitu .… ” “Lakukan sekarang.” perintah Eyn Huza halus. Tak lama, adiknya menegakkan tubuh Dante yang masih tak sadarkan diri menggunakan kekuatan cahaya perak yang dia kendalikan. “Zeal, bangkitlah!” Cahaya perak menjelma menjadi sosok kesatria berpedang besar. Zeal tunduk dan membungkuk pada Eyn Mayra dan menyadari kehadiran Eyn Huza. “Sudahkah Yang Mulia berpikir matang sebelum memyerahkanku pada Carlo Dante? Kekuatan Anda akan berkurang.” tanyanya pada putri kerajaan Eyn itu. “Dengan dirimu dalam raga Dante, maka Dante akan menjadi kekuatan baruku. Lagi pula aku tidak pernah menjadi ‘rumah’ bagimu dan tak seorang pun dari saudaraku yang bisa. Kami tidak sanggup menerima kekuatan pedangmu.” jelas Eyn Mayra tanpa keraguan. Zeal melihat ke arah Carlo Dante sekilas. “Manusia ini, hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Apakah kita bisa percaya padanya?” “Menurutmu, bagaimana aku dan Dante bisa bertemu? Bukankah peristiwa itu juga bagian dari masa lalu? Masa lalu yang justru ingin kuperlihatkan padanya dan hanya kau yang bisa membantu Dante untuk mengingatnya. Zeal, aku tidak bisa memaksamu tapi … kami mengandalkan kalian berdua. Kumohon, berikan pedangmu pada Dante.” Tanpa menunda lagi, Zeal meluluskan permintaan junjungannya. Berikutnya, adalah pemandangan yang mengerikan dan menyakitkan, bahkan untuk Eyn Mayra yang menunduk di balik bahu kakaknya sebab tak tega melihatnya. Cahaya perak Zeal yang kini berwujud pedang mulai masuk ke dalam tubuh Dante. Merasakan sakit yang teramat sangat, Dante tersadar dan berteriak panjang, “AARRGGHH!!” Ia tak kuasa menolak. Matanya memancarkan cahaya perak, kulit tengkuknya perlahan terbuka, siap menerima pedang pendek yang akan segera merasuk dalam ruas-ruas tulang punggungnya. Proses itu demikian sakit sehingga jika ia bisa memilih, mungkin lebih baik mati. Pedang Zeal akhirnya masuk seluruhnya dan kulit tengkuk Dante menutup seperti semula, mengakibatkan tonjolan aneh pada setiap ruas tulang punggung Dante dan pemuda itu kembali kehilangan kesadaran. Eyn Huza keheranan. “Bagaimana mungkin? Bahkan tak satupun Eyn Bersaudara yang sanggup melakukannya. Mataku masih belum memercayainya.” “Seseorang dari masa depan memberitahuku.” gumam Eyn Mayra. “Siapa?” “Diriku.” jawab Eyn Mayra menimbulkan kebingungan baru di raut wajah Eyn Huza. “Apa? Apa maksudmu?” “Ayo, pindahkan dia ke klinik istanamu. Dia harus segera sadar dan pulih.” Eyn Huza yang berambut putih panjang itu memang terkenal dalam bidang pengobatan. Dengan teleportasi, ia memindahkan tubuh Dante ke klinik, membaringkannya di tempat tidur kecil dalam keadaan tertelungkup, serta menggunakan ramuan di atas punggung Dante untuk mengurangi rasa sakit. “Sesungguhnya, cepat atau lambat, daun-daunan ini tidak akan berguna. Dante harus membiasakan diri dengan keluar masuknya pedang Zeal ke dalam tubuhnya. Setidaknya, dia masih hidup, dan tampan.” Lagi-lagi menggoda adiknya yang membalasnya dengan senyum. “Bila kau perhatikan, Dante sudah lama menderita. Bekas-bekas luka di tubuhnya ini, pastilah karena efek hukuman atau beratnya pertarungan. Kita tidak bisa membiarkannya. Ramuanku yang lain bisa menghilangkannya. Dia akan menjadi Carlo Dante yang baru.” “Terima kasih, Eyn Huza. Aku tidak bisa melakukannya tanpamu.” kata Eyn Mayra bahagia.   ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD