BAB 9 KRISIS

2350 Words
Dante termenung. Kata-kata Eyn Mayra masih terngiang di telinganya. Butuh waktu beberapa hari untuk melupakannya, sejak kepergian gadis itu kembali ke bumi. Ia tak bicara pada siapapun, termasuk Shiva. Tidak akan pernah ada solusi. Program hologram itu hanya akan cerewet menceramahinya dengan beragam nasihat pernikahan yang tak ada hubungannya sama sekali, hanya akan membuat otaknya lelah dan emosi meninggi. Sementara Dante berkutat pada pekerjaan dan perasaannya, ancaman dari kegelapan tengah menyusun strategi. Di dalam kapal induk berbentuk mengerikan, cukup jauh dari Saturn Gallant, sesosok alien yang sekarat dan berdarah-darah, merangkak di antara tumpukan tengkorak manusia. Badannya lumpuh akibat siksa hukuman yang luar biasa akibat kegagalannya, kepala nyaris hancur, nadi kehidupan meredup, namun tetap bergerak sebisanya seolah masih bisa lolos. Mustahil. Muncul bayangan alien lain yang mendominasi, ia menikmati kebencian dan ketidakberdayaan itu, lalu dalam sekali injak, alien sekarat tadi langsung tewas! Dialah Roughart, penguasa Dark Zord, sebuah koloni kegelapan yang selalu mencari planet berpenghuni untuk dihabisi. Para pengikutnya mengelukan namanya, mengagungkan kebesaran singgasananya dan tak ada yang berani menentangnya. Sekali tangannya terangkat, suara-suara itu terdiam, menunggu kata-katanya. “Manusia. Makhluk itu selalu membuatku muak! Central mulai mengendus misi kita menghabisi para pemburunya sehingga kalian lihat, gundukan tengkorak dan tulang belulang mereka tak lagi bertambah. Ini kerugian besar dan aku ingin para manusia itu musnah!” serunya murka. “Sayang sekali, Lethal-X Academy sudah lama hancur. Tempat kita mencuci otak anak-anak manusia itu sesungguhnya sangat berguna untuk menghancurkan bumi dari dalam. Mereka sanggup membuat keonaran dan bumi akan menghukum bangsanya sendiri. Tangan kita pun bersih.” Torrax, tangan kanan Roughart, bicara dari belakang. “Apakah ada kemungkinan kita membentuk Lethal-X generasi berikutnya? Masih belum terlambat.” “Tidakkah kau dengar? Hingga sekarang Central dan Dewan Bumi sangat waspada, kecil kemungkinan bagi kita untuk menebus pertahanan mereka dan mengulang strategi yang sama seperti dua puluh tahun yang lalu.” tolak  Roughart. “Tapi setidaknya kita beruntung, karena masih tersisa satu ‘burung kecil’ yang sebentar lagi mengepakkan sayapnya bila kita mengajarinya terbang.” “Si pengkhianat Carlo Dante? Kenapa? Bukankah sejak kecil ia dididik oleh Alex dan Ruby agar menentang kita? Andai saat itu kita tidak terlambat tahu, mungkin Dante sudah berhasil melakukan kudeta bersama teman-temannya yang lain. Gara-gara dia, seluruh rencana kita di Italia gagal! Mengapa sekarang kau menaruh harapan padanya?” Roughart tersenyum licik. “Bagimu dia adalah pengkhianat, tapi bagiku, semua hanya soal waktu. Alex dan Ruby, orang tua angkat Dante, memang berhasil menyelamatkannya dari program cuci otak. Namun malam itu, beberapa anak pilihan telah menerima inti Zord saat mereka tidur, cikal kekuatan abadi yang kutitipkan, agar kelak bisa kita panen hasilnya. Kabar bagusnya, masih ada satu anak pembawa inti Zord yang berhasil hidup, dan dia adalah mesin perang sejati. Carlo Dante!” “Kau yakin, Dante akan tunduk pada perintah kita?” tanya Torrax sangsi. Roughart pernah sekali tumbang dan kesalahan yang sama tidak boleh terulang. “Oh, seharusnya begitu, atau kita bisa meledakkan tubuhnya. Dia tidak punya pilihan, Torrax! Andai dia memilih mati karena menolak menjadi boneka, kita masih bisa mengambil inti Zord itu dari dalam tubuhnya. Selalu ada kemenangan di pihak kita.” “Kalau begitu, kita harus segera meningkatkan pertahanan dan sistem persenjataan. Perang kita dengan Saturn Gallant sudah dekat.” Roughart mendesis sambil mengepalkan tangannya, “Setelah itu, tinggal menghancurkan bumi. Central tidak akan melakukan apapun. Bersiaplah bangkit kembali!” Kobaran semangatnya disambut anak buahnya, tidak sabar menunggu hari itu tiba. Di pintu masuk Soundbuzzter Club, para pengunjung mulai antri tiket menggunakan boarding pass masing-masing juga menjalani pemeriksaan ketat. Pemandangan yang biasa namun Dante merasakan kejanggalan. “Staf militer? Untuk apa mereka di sini?” “Pemeriksaan rutin. Waktunya tidak ditentukan. Tidak seorang pun tahu kapan mereka akan datang.” keluh Ray, tampak kurang suka. “Bagusnya, setiap pengunjung akan disiplin pada aturan sehat secara fisik dan mental untuk menikmati musikmu, tapi jeleknya, jumlah mereka menyusut begitu tahu ada operasi macam ini.” “Kurasa tidak ada masalah dengan itu …, ” belum selesai Dante bicara, dua staf militer bersenjata lengkap sudah menahan masing-masing lengannya. “Hei, lepaskan!” Ray ikut menengahi, membela anak buahnya. “Ada apa? Kapten Skivanov marah lagi? Kenapa tidak memanggilnya saja seperti biasa?” “Bukan urusanmu. Dante, kami tak perlu memaksamu.” Peristiwa itu terulang lagi. Tak yakin nasibnya baik kali ini, Dante cuma bisa menurut. Mengikuti langkah lima staf militer yang mengantarnya hingga ke depan ruang kerja Kapten Skivanov. “Masuklah, Kapten menunggumu. Saranku, berdoalah!” Lagi-lagi seorang di antara mereka mendorong tubuh Dante hingga masuk ke dalam ruangan setelah pintu terbuka. Berhadapan untuk kesekian kali, ia merasakan hawa yang berbeda. Nafsu membunuh. Tampaknya itu yang akan dilakukan sang kapten padanya, tapi ia tak gentar sedikitpun. Dante melangkah maju. Pelan suara sepatunya pasti dikenali pria tinggi besar yang sedang berdiri membelakanginya. Seperti biasa, Dante pun duduk di kursi putar itu. Menunggu. “Apakah ada keinginanku yang tidak kau pahami?” Suaranya seperti siap meledak, namun masih jelas tertahan di tenggorokan. “Semuanya jelas, Capt., aku harus membenahi sistem persenjataan Saturn Gallant. Ada yang salah dengan itu?” Kapten Ivan Skivanov sedikit menoleh, lalu perlahan membalikkan badan. “Kau tahu? Sebuah pekerjaan besar akan bermasalah jika seseorang mulai menganggap dirinya paling pintar. Tidak ada yang salah dengan purwarupa yang kau kerjakan di lab, tapi ada sesuatu yang kurang. Ionos yang kuberikan padamu sudah terpotong. Sebuah bagian kecil hilang. Kau tahu tentang itu? Atau … pura-pura tidak tahu?" Dante masih bersikap tenang. Cepat atau lambat, perbuatannya akan ketahuan juga. “Tentu aku tahu, aku sendiri yang memecah materinya, dengan bantuan … tim lab.” Ia mengaku. “Untuk apa pecahan kecil ionos itu? Central baru saja mengambil semua ionos termasuk yang berada di lab. Dengan kata lain, ionos kecil yang kau curi adalah satu-satunya aset yang kumiliki.” Dante tak menjawab. “CEPAT KATAKAN! Atau kuledakkan kepalamu!” Space DJ itu tetap bergeming bahkan ketika senjata laras pendek ditodongkan ke kepalanya. Baginya, ancaman seperti ini bukan yang pertama. Mati pun tak rugi apa-apa. Justru Kapten Skivanov yang tidak akan memiliki senjatanya. “Dengar, aku masih ingat raut muka orang yang terakhir kali mengacungkan senjata ke arahku. Dia tewas, sangat mengenaskan. Kubuat dia merasakan sendiri bagaimana sakitnya ketika maut meledakkan kepalanya. Dan aku tak ambil pusing. Begitu pula dengan dirimu, Kapten. Aku tidak suka diancam. Apapun yang kulakukan atas dasar pemikiran yang biasa disebut ‘tak percaya siapapun’. Jangan harap kau memiliki senjata itu. Dual Exchanger milikku.” “Oh ya, kalau begitu keluarkan ionos dari dalam Dual Exchanger-mu itu. Kita akan buktikan bahwa benda itu tak lebih dari sekadar mainan anak-anak. Kau melampaui batas, Dante. Kau lupa siapa dirimu. Setelah menjuarai battle dan memikat hati banyak orang, kau anggap aku akan mengasihanimu? Ingat, hidupmu di sini hanyalah kesepakatan kontrak! Semakin membangkang, makin tak punya harga diri!” “Kalau begitu tunggu apalagi? Jangan menunda kesempatan yang tak datang dua kali, Kapten. Bila senjata itu berbalik melawanmu, aku takkan ragu.” Insting Dante yang terlatih mampu membedakan perubahan udara dan bunyi senjata yang mulai dikokang. Detik itu juga ia menepis pistol hingga terlempar ke udara, jatuh cukup jauh. Kecepatan gerakannya tak mampu diimbangi Kapten Skivanov. Meskipun demikian, pimpinan tertinggi Saturn Gallant itu mampu membendung serangan. Meskipun dihantam beberapa kali, tubuhnya mampu menerima serangan itu. Beberapa kali pukulan Dante berujung sia-sia. Pria itu tak sekalipun merasa kesakitan. Dante seperti berhadapan dengan tembok batu! “Giliranku, Space DJ! Inilah yang disebut tinju rusia!” Dante lengah. Sekali kena pukulan, berikutnya darah sudah mengalir dari hidung dan mulutnya. Persis seperti dugaannya, impak pukulan tangan keras dan besar Kapten Skivanov cukup membuat dunia terasa berputar. Secepat mungkin Dante berusaha stabil jika tidak ingin berakhir di rumah sakit atau penjara. “Lumayan, tapi tidak cukup membuatku pingsan. Nah, Kapten, aku ingin sekali meladenimu tapi … sampai kapanpun kau pasti menang. Jadi, aku memutuskan pergi. Selamat tinggal!” “Apa?!” “Shiva, sekarang!” Sebuah papan luncur berbentuk oval seukuran bola basket dilengkapi peluru otomatis pada setiap sisi-sisinya tiba-tiba melesat, dalam hitungan sepersekian detik telah mampu melumpuhkan lima staf militer di luar ruangan sekaligus menghancurkan kode akses pintu sehingga Carlo Dante bisa keluar. Papan luncur itu memanjang sehingga kedua kaki Dante bisa naik ke atasnya. “Kejar Carlo Dante! Statusnya buronan sekarang. Tutup semua gerbang!” komando sang kapten langsung membuatnya semua stafnya sibuk. Pengumuman darurat tentang perintah penangkapan Dante muncul di semua layar virtual di seluruh penjuru fasilitas Saturn, tak terkecuali di Soundbuzzter Club. “Apa-apaan ini?” Ray terkejut. “Lelucon macam apa lagi ini?” kata Shawn. “Mereka berhasil menjebaknya!” ucap Cain. Ketiganya dari tempat yang berbeda, juga kru dan para pengunjung terkesima mendongak ke atas, di mana layar virtual yang biasa menayangkan iklan kini berubah menampilkan wajah Dante lengkap dengan identitas dan status yang baru. Buronan. Sebagian orang kecewa namun sisanya justru menganggap Dante semakin keren dan tidak percaya pada tuduhan itu. “Kita butuh pesawat untuk keluar dari Saturn, bisakah kau aktifkan salah satu?” Shiva ragu menanggapi permintaan Dante. “Akan kucoba. Ikuti rute peta ke hanggar.” “Jangan lupa mengajak ‘adik kecil’ kita, Shiva. Aktifkan Dual Exchanger sekarang!” “Siap, luncurkan!” Benda berbahaya yang sangat diinginkan Kapten Skivanov itu pun aktif dan terbang melesat dari kamar Dante setelah meledakkan pintu, menuju pemiliknya yang sedang dikejar-kejar drone penembak. Sebuah senjata tangan yang langsung terbagi dua secara otomatis dan terpasang di masing-masing lengan Dante. Kini, Dante telah lengkap dengan senjata. Ia membalas rentetan peluru dan laser yang dimuntahkan drone-drone itu, membuat semua mesin perang itu malfungsi atau meledak seketika. Di atas papan luncur, Dante terbang melewati berbagai fasilitas ‘kota’ dan masuk ke area militer angkatan udara. Tepat di atas sebuah hanggar pesawat, Dante berteriak, “Yang mana pesawatnya, Shiva? Waktu kita menipis untuk meninggalkan Saturn Gallant!” “Maaf, Kapten Skivanov mengunci semua akses. Gerbang terdekat akan tertutup lima belas detik lagi. Kau butuh pesawat yang aktif.” Mata Dante jeli menerawang situasi. Sebuah pesawat berawak baru saja masuk ke area, bersiap mendarat. “Kalau begitu, itu saja.” Mengarahkan papan luncur terbangnya agar mendekati pesawat satu awak tersebut, lalu menancapkan alat penyadap yang dilepaskan dari papan luncurnya. “Shiva, aktifkan kursi lontar. Kita harus membuang pilotnya.” “Tidak masalah.” Berkat alat penyadap, Shiva leluasa membajak pesawat itu, dan melontarkan pilot dari ruang kokpit, menyisakan teriakan pilot tersebut yang terkejut bukan main karena mendadak disabotase. Berikutnya, tepat ketika Dante berhasil masuk, sebuah tempat duduk cadangan terbuka, menjadi ‘singgasana’di dalamnya. Dante, dengan tempaan panjang semasa di Lethal-X Academy ditambah kecerdasannya, tak menemui kesulitan apapun untuk menerbangkan pesawat tempur itu. “Siapkan sistem senjata, kita pergi dari sini.” Gerbang sudah menutup hampir separuhnya dan tak ada jalan lain selain menerobos setelah memperkirakan jaraknya. “Gunakan Dual untuk memperbesar akses?” “Negative. Kurasa aku masih bisa membawanya keluar. Walau bagaimanapun gerbang Saturn harus tetap utuh, saat ini.” Keahlian Dante akhirnya mampu meloloskan pesawat yang ditumpanginya, keluar dari zona terbang kapal induk Saturn Gallant, tepat sebelum gerbang menyempit hingga tertutup seluruhnya. “Kita belum aman. Berapa persen senjata yang kita punya?” “Hanya lima puluh dua persen. Pesawat ini memang seharusnya mendarat untuk mengisi amunisi.” Jawaban Shiva cukup mengecewakan Dante tentang kondisi pesawatnya namun ia tetap beruntung dapat melarikan diri. Memandang Saturn dari kejauhan, menyesali segalanya. “Yah, itu dia. Berakhir sudah semuanya. Rumah terakhir dan kita diusir.” “Armada Saturn mengejar. Empat unit Armour Eagle beramunisi penuh, tanpa awak. Misi mereka, menangkapmu hidup atau mati.” Shiva mengingatkan menyebabkan adrenalin Dante naik. “Tanpa awak, maka ini kesempatan bagus untuk mengurangi pesawatnya. Kapten, maafkan aku.” Peristiwa selanjutnya sungguh menegangkan! Aksi kejar-kejaran sekaligus pembantaian itu menguji kemampuan Dante untuk bertahan hidup. Ia memilih menggunakan trik terbang lalu menembak dari belakang setelah berhasil mengunci target. Hasilnya, dua pesawat berhasil ia tembak hingga hancur berkeping. “Oh, yeah, baby!” teriaknya penuh kemenangan. “Dante, dua lainnya berada di sisi kanan dan kirimu. Mempertahankan jarak terbang memberi kesempatan mereka untuk mengunci posisi kita.” “Percepat, saatnya balapan.” perintahnya, ia tinggal mengendalikan arah pesawat, dan ketika batas kecepatan telah mencapai limitnya …. Dante melakukan gerakan manuver luar biasa. Ia menghentikan pesawat secara tiba-tiba serta memiringkannya, sehingga tepat berada di tengah-tengah dua pesawat musuh yang mengincarnya. Detik itu pula, pesawat Dante menembak  hancur keduanya. Pesawat Dante terhentak dan terlempar namun untunglah tak menabrak benda antariksa. Tak lama, pesawat itu kembali stabil. “Bahan bakar takkan cukup membawa kita ke bumi. Jarak terdekat dengan stasiun bahan bakar kurang dari dua jam. Jika ingin bertahan hidup, kita harus mencuri lagi dari Saturn Gallant.” Dante meremas rambutnya, berpikir keras agar tidak terlunta-lunta di luar angkasa. “Kapten Skivanov akan terus memburumu.” “Aku tahu. Situasi semakin kacau, meskipun aku yakin bahwa Central masih mendukungku.” “Bagaimana kau tahu?” “Jika dia mau, aku sudah mati sejak dulu, tapi Skivanov membuat segalanya menjadi rumit.” “Bicara tentang Kapten Skivanov …. ” Tubuh Dante terhentak ketika dentuman keras menyambar sayap pesawatnya. Dalam sekejap pesawat itu lumpuh seperti telah dicabut daya listriknya. Ia menyadari pesawat lain di belakangnya yang tiba-tiba muncul dari kegelapan. “Siapa mereka, Shiva?” teriak Dante terus mengusahakan tenaga cadangan dapat menyala. “Bukan dari pihak aliansi yang membantu Saturn memburu dirimu. Kemungkinan Dark Zord,  Roughart pemimpin mereka. Kau harus hati-hati, Dante. Pesawat ini malfungsi, kita tak berdaya.” saran Shiva yang membaca situasi. “Masuklah ke dalam chip, Shiva. Jangan sampai mereka mendeteksi keberadaanmu. Tunggu sampai aman.” “Baik.” Program kecerdasan buatan itu menurut, kembali ke dalam chip di kepala Dante dan tidak akan melakukan kontak untuk sementara waktu. Dante kini seorang diri, menunggu apa yang akan mereka lakukan padanya. Cahaya terang menyilaukan matanya sehingga mustahil memikirkan apapun. Sempat melihat alien keluar dari pesawat itu, lantas merusak jendela kokpit pesawat Dante dan menarik Space DJ itu keluar secara paksa. Tanpa baju astronot atau piranti lain untuk bernapas, Dante dengan cepat kekurangan oksigen. Ia tak kuasa melawan alien yang bertubuh dua kali lipat dari dirinya. Selang beberapa menit kemudian, ia pun pingsan.   ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD