bc

Bloody Marriage

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
contract marriage
manipulative
gangster
drama
bxg
serious
enimies to lovers
villain
like
intro-logo
Blurb

Arunika, selama hidupnya selalu berada di bayang-bayang saudara kembarnya, Jingga, seorang pewaris keluarga terpandang.

Ketika Jingga tiba-tiba menghilang tepat beberapa hari sebelum pernikahan politiknya dengan ahli waris konglomerat muda, Ganesh Narendra, keluarga memaksa Arunika untuk mengambil tempat sang kakak demi menyelamatkan reputasi dan kepentingan bisnis.

Dunia Ganesh membuka banyak rahasia, termasuk motif sesungguhnya di balik pernikahan itu dan alasan mengapa Jingga menghilang.

Sementara Ganesh yang tampak dingin dan penuh perhitungan, perlahan melihat bahwa Arunika bukanlah wanita yang ia kira. Konflik utama memuncak ketika tanda-tanda keberadaan Jingga mulai muncul.

Ganesh yang dipenuhi kebencian terhadap Arunika, meragukan alasannya membenci. Cinta yang dulu menggebu untuk Jingga seorang, mulai dia pertanyakan.

Apa Arunika benar hanya pengantin pengganti?

chap-preview
Free preview
BAB 1 Malam Tanpa Wajah (Menjadi Pengganti)
"Tersenyum, Jingga tidak pernah berwajah dingin seperti itu." Arunika belajar membedakan kegelapan jauh sebelum malam ini. Bukan karena lampu-lampu padam atau langit memutuskan untuk menelan cahaya, melainkan karena dunia, pelan-pelan memutuskan untuk pergi dari matanya. Cermin di ruang rias memantulkan seseorang yang seharusnya bukan dirinya. Gaun putih menjuntai di tubuh, seperti kebohongan yang terlalu mahal untuk ditolak. Jahitan halusnya menusuk kulit, seolah mengingatkan bahwa setiap benang adalah hutang. Rambutnya disanggul rapi, wajah pucat itu dipulas sempurna. Mereka menyebutnya wajah Jingga. Wajah yang akan diserahkan pada seorang laki-laki bernama Ganesh Narendra. Arunika menatap pantulan itu terlalu lama. Mata di dalam cermin tampak kosong, atau mungkin hanya ia yang tak lagi bisa menangkap fokusnya. Garis-garis wajah mulai melebur. "Jangan sampai mereka curiga, atau kau mau kepalamu dipenggal lebih dulu sebelum Jingga ditemukan." Suara tegas ayah seperti keputusan sebelum eksekusi mati. "Orang seperti Ganesh tidak bisa ditipu," sahut Arunika. "Kita sudah jatuh ke perangkap mereka, Ayah." Kata ayah terasa mengganjal di mulutnya. Siluet wajah lelaki paruh baya itu mengabur. Arunika berkedip. Sekali. Dua kali. Dunia kembali utuh, tapi dengan tepi yang bergetar. "Jatuh? Dia sudah lebih dulu jatuh di kaki Jingga, mungkin saja nyawanya pun akan diberikan dengan sukarela." Getir merayapi hati, bunganya layu. Bahkan sebelum sempat bersemi. Tanpa diberitahu, cinta Ganesh untuk Jingga itu buta. Dunia menganggapnya romantis, tapi Arunika menganggapnya tragis. "Ini perihal perusahaan. Kalau Jingga kembali, semua rencana ayah untuk mengakuisisi perusahaan mereka akan hancur, atau mereka mungkin yang jadi pemilik saham terbesar dan mengambil alih perusahaan kita." Sayaka Pradipta tahu jikalau kecerdasan bisa membungkam. Namun, mereka tidak dalam posisi untuk diam. "Kalau Jingga kembali, itu baik buatmu. Kau bisa jadi bintang paling terang, posisi tertinggi di perusahaan bisa kau kuasai dengan mudah." Arunika mengernyit. "Dan Jingga?" Sayaka terkekeh, lebih menyerupai tawa hampa yang kejam. "Dia adalah aib. Nama dan perannya adalah milikmu, dia tidak pernah berperan bagi perusahaan dan di hidup Ganesh." Arunika termenung, ada kelegaan samar di dadanya yang seketika berubah menjadi debaran menyakitkan. "Cinta Ganesh milikmu. Dia menyukai Arunika bertopeng Jingga, kekasih bayangan yang dikencaninya hampir tiga tahun ini." Sayaka diam sesaat, wajah keriputnya tertekuk heran. "1095 hari tanpa kecurigaan, ironi sekali untuk pewaris Narendra itu." Dia mencengkeram pundak telanjang Arunika, menekannya kuat sembari menatap lekat pada kedua netra serupa miliknya itu. "1095 hari terlalu singkat di banding 90 hari, kan?" 90 hari. Dokter mengucapkannya seperti angka mati, seperti vonis yang tak butuh simpati. Dalam 90 hari, Arunika akan kehilangan hampir semuanya. 90 hari sebelum wajah Ganesh berubah menjadi bayangan. 90 hari sebelum Arunika tak lagi bisa membedakan Jingga dan dirinya sendiri. — “Apa kau siap?” Ayah berdiri di belakangnya. Suaranya terdengar seperti perintah, bukan pertanyaan. Arunika mengangguk tanpa ekspresi. “Jangan lupa,” kata ayah pelan. Terlalu pelan untuk disebut lembut. “Kau Jingga malam ini.” Arunika tersenyum, seperti yang sudah-sudah. Raganya milik Jingga, kembarannya yang mendadak hilang seminggu menjelang pernikahan impiannya dengan sang kekasih. Senyum yang telah Arunika latih bertahun-tahun. Senyum yang tak pernah sampai ke mata. Senyum yang selalu membuat mereka percaya ia baik-baik saja. Aku Jingga. Jingga yang lembut. Jingga yang cerdas. Jingga yang tak pernah gagal. Bukan Arunika, anak yang terlahir dengan nasib sial, anak yang rusak, anak dengan mata yang dalam hitungan hari akan kehilangan fungsinya. Kecacatan adalah aib bagi Pradipta. Tidak peduli seberapa sempurnanya kamu di mata dunia. — Lorong menuju altar terasa lebih panjang dari biasanya. Musik mengalun, tapi terdengar teredam, seperti dari balik air. Arunika menggenggam buket bunga terlalu erat hingga durinya menusuk telapak tangan. Ia menyambut rasa sakit itu. Setidaknya satu hal masih nyata. Lalu Arunika melihatnya. Ganesh Narendra. Atau, ia hanya melihat siluetnya. Wajahnya tegas, rahangnya kaku, bahunya tegap dalam setelan hitam. Dia berdiri di ujung altar, menunggu dengan ekspresi yang bahkan dari jarak ini terasa dingin. Arunika tahu tatapan itu. Tatapan yang selalu Ganesh berikan padanya, bukan pada Jingga. Tatapan jijik. Tatapan kecewa. Tatapan seseorang yang dipaksa menerima sesuatu yang tak diinginkan. Langkah Arunika goyah. Ia memaksakan diri menatap lurus. Fokus, Arunika. Jangan biarkan dunia kabur sekarang. Jangan biarkan dia tahu. Ketika jarak mereka menipis, begitu dekat hingga Arunika bisa mencium aroma maskulinnya, bersih, dingin, mahal. Aroma yang dulu selalu membuatnya berdebar setiap kali dirinya meminjam nama Jingga. Sekarang, aroma itu terasa seperti ancaman. Ganesh menatap lekat. Arunika tahu lelaki itu sedang mencari sosok Jingga di wajahnya. Dan Ganesh tidak menemukannya. Alisnya mengeras. Rahangnya mengencang. Ada sesuatu di netra kelam yang berubah itu, bukan rindu, bukan cinta. Hanya kebencian yang telah lama mengendap. Seolah lelaki itu baru saja sadar. Perempuan di hadapannya bukanlah sosok yang dia tunggu. — “Aku terima,” ucapnya saat ijab diucapkan. Suaranya datar. Tanpa getar. Tanpa emosi. Seperti menandatangani kontrak. Arunika ingin tertawa. Ingin berteriak bahwa ia bukan Jingga. Bahwa dirinya Arunika, yang telah mencintainya terlalu lama dari balik bayangan. Yang rela membakar diri sendiri agar kakaknya tetap terlihat suci. Namun, Arunika bungkam. Sebab Arunika segalanya telah hancur. — Saat cincin itu melingkar di jari manis, pandangan Arunika kembali bergetar. Wajah Ganesh sedikit buram. Arunika berkedip, menahan napas, menolak kepanikan. "Tidak sekarang," gumamnya. "Jangan malam ini." Jika ini adalah awal dari neraka, setidaknya biarkan ia melihatnya dengan jelas. Arunika mengangkat wajah. Jemari panjang itu menyentuhnya lembut, deru napas panasnya menerpa sisi wajah. Sebelum bibir mereka menyatu. Ganesh berkata lirih, "selamat datang di neraka. Sayang...." Tepuk tangan riuh memenuhi ballroom hotel, para tamu undangan berdiri dari kursi mereka, mengangkat gelas anggur tinggi-tinggi. Lalu salah seorang petinggi berkata lantang. "Demi kemajuan Pradipta Narendra!!" Tarikan kuat di pinggang membuat Arunika tersentak, lengan itu memeluk pinggangnya erat. Nyaris meremukkan. Ganesh tersenyum, terlihat palsu. "Ganesh..." panggil Arunika ragu. Lelaki itu tak menoleh, tak juga bersuara. Namun, sorot tak biasa di iris kelam itu membuat Arunika bertanya-tanya. "Aku... Aku bahagia," bisiknya hampa. Senyum itu pudar, Ganesh merunduk. Lantas berbisik, "tentu. Kita akhirnya bersama, Jing... ga." Arunika membeku. Ganesh tahu! Rasa takut, perasan itu kembali dirasa. "Selamat Ganesh, kau menjadi satu-satunya kandidat muda di keluarga sebagai pemimpin perusahaan." Salah seorang keluarga inti Narendra menjabat tangan Ganesh. Beralih menatap Arunika, senyum aneh diberikan. "Nona Jingga, Ganesh beruntung mendapat berlian sepertimu. Meski aku heran kenapa Pradipta mau melepas kartu as mereka dengan mudah pada rival bisnis mereka, beruntung saja Ganesh tidak menikahi Arunika, perempuan gila itu bahkan tidak pantas hidup." Arunika mengernyit, bara api tampak di iris karamelnya. Sejenak ia lupa perannya sebagai Jingga yang manis. "Tidak ada yang salah dengan itu, yang perlu dipertanyakan adalah mulutmu yang busuk itu." Lelaki berambut pirang di depannya tampak terkejut, begitu pun Arunika yang sontak menoleh ke arah Ganesh. Dia diam saja. Wajahnya datar. Padahal Jingga yang Ganesh kenal tidak pernah mengutuk. "Leo, kurasa ayahmu sudah kehabisan uang menutupi pesta obat-obatan itu. Selain kata keluarga, harga mana yang pantas ku dapat darimu." Leo, lelaki berambut pirang itu menggeram marah. "Sialan, sekarang aku paham kenapa kalian berjodoh. Ku harap kalian masuk neraka." Arunika menatap Ganesh, laki-laki yang membencinya, yang tak tahu bahwa dia baru saja menikahi perempuan yang akan kehilangan dunia sebelum sempat mengenalnya. "Kau tidak perlu seperti itu," bisik Arunika. Ganesh menatap lekat, nyaris membuatnya tak bernapas. "Dia pantas mendapatkannya, dan kau benar-benar penuh kejutan, Jing... ga." Dunianya tampak kabur, dan di dalam kegelapan yang mulai merayap di mata Arunika, ia tahu satu hal dengan pasti. Cinta ini tidak akan menyelamatkannya. Cinta hanya akan menghancurkan mereka berdua.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
317.5K
bc

Too Late for Regret

read
347.8K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
148.0K
bc

The Lost Pack

read
460.0K
bc

Revenge, served in a black dress

read
157.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook