Part 7 Ketidakadilan yang Terasa Nyata

1752 Words
Iris merasa bahwa pemuda yang sedang berdiri di depannya saat itu adalah orang yang tidak memiliki rasa malu sedikit pun. Betapa tidak, melihat senyumnya yang masih mengembang tanpa beban sama sekali saat ini di hadapannya. Bahkan ia merasa bahwa sikapnya selama ini masih kurang keras dan tegas untuk membuat pemuda itu berhenti mengganggunya. Berusaha tak acuh, ia segera mengeluarkan uangnya untuk membayar makanan yang baru saja ia selesai nikmati beberapa saat yang lalu. Namun, tampaknya Alex tak akan membiarkannya merasa tenang begitu saja. Ia melirik tajam pemuda yang menahan Bu Susi menerima uang pemberiannya. “Biar aku yang bayar. Nasi goreng dua ditambah es teh manis satu.” Alex menyerahkan uang lembar lima puluh ribuan kepada perempuan berusia pertengahan tiga puluh tahun yang berdiri di belakang meja kasir. Setelah menerima uang angsurannya, ia kemudian menoleh pada Iris yang masih berdiri di sampingnya memandanginya dengan ekspresi wajah tak suka. “Jangan harap mendapatkan kata terima kasih dariku.” Iris berlalu dari sana, menaruh kembali uangnya ke dalam saku roknya. Sama sekali tidak merasa senang dengan maksud baik pemuda yang masih mengekor di belakangnya. Ia tidak butuh ditraktir, dengan uang jajan berjumlah besar yang selalu ia dapatkan dari ayahnya tidak membuatnya merasa kekurangan sedikit pun. Bahkan itu sangat cukup untuk membawanya berbelanja di pusat perbelanjaan setiap harinya. Alex tersenyum berusaha menyamakan langkah kakinya dengan Iris. “Tenang saja, aku melakukan itu bukan karena ingin mendapatkan kata terima kasih darimu.” Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. “Aku hanya melakukan yang seharusnya seorang laki-laki lakukan.” Iris menghentikan langkahnya secara tiba-tiba yang tentu saja membuat pemuda di sampingnya ikut melakukannya juga. Tatapannya lurus mengarah pada Alex yang menoleh padanya dengan alis bertaut. “Apa kau senang dipuji? Atau kau ingin dipuji olehku?” Awalnya ia sedikit bingung, namun kemudian Alex tersenyum. “Aku tidak mengerti kenapa kau bertanya seperti itu. Tapi tidak, aku bukan orang yang gila pujian. Aku hanya ingin berteman denganmu, apa itu salah?” Iris kembali melangkah, kali ini ia sengaja membuat langkahnya lebih cepat bermaksud menghindari Alex, namun ia sadar bahwa langkah kakinya yang kecil tentu akan sia-sia jika di hadapkan dengan langkah kaki Alex yang lebar. Matanya tak sengaja menangkap sosok Irina yang berjalan berlawanan arah dengan mereka, seperti biasanya gadis cantik itu selalu dikelilingi oleh para pengikutnya yang setia. “Tuan Putrimu sudah datang, sebaiknya kau menghampirinya sebelum ia mengamuk dan memberimu hukuman.” Alex mengikuti arah pandangan Iris, ia hanya tersenyum melihat Irina yang kini menatap padanya. Jarak gadis cantik itu kini semakin dekat dengannya. “Kenapa dia harus menghukumku? Aku bukan bawahannya yang harus selalu berada di sampingnya setiap saat.” “Hai, Alex. Baru kembali dari kantin?” Irina bertanya dengan nada lembut seperti biasa. Tatapan matanya hanya berpusat pada pemuda di depannya, seolah mengabaikan keberadaan saudari kembarnya di sana. Sementara para pengikutnya masih setia mendampinginya tanpa protes sedikit pun. “Benar, bagaimana denganmu?” Alex sedikit melirik Iris di sampingnya, ia pikir gadis cantik itu akan segera berlalu pergi dari sana setelah kedatangan Irina, namun ternyata gadis itu masih berdiam diri dan menyaksikan pembicaraan tidak pentingnya bersama Irina. Sejujurnya ia sedikit bingung mengenai sikap dua saudari itu yang terkadang terlihat sangat dekat namun entah kenapa di matanya mereka tidak sedekat itu. Bahkan saat ini Irina seolah mengabaikan sosok saudarinya yang katanya sangat ia sayangi itu. Irina menoleh pada Iris yang menatapnya dengan wajah datar, ia tersenyum sambil menyilangkan tangan kanannya di lengan Alex yang seperti sudah terbiasa dengan itu. “Aku baru saja ingin ke kantin. Bagaimana kalau kamu ikut dengan kami?” Tatapan matanya yang sendu membuat Alex seperti terhipnotis ke dalamnya. Alex berusaha menolak dengan pelan. “Tapi aku baru saja selesai dari sana. Perutku juga sudah sangat kenyang untuk mengkonsumsi apa pun lagi saat ini.” Ia berusaha menyingkirkan tangan Irina di lengannya namun ternyata gadis cantik itu tidak akan melepaskannya begitu saja. Melihat raut keras kepala gadis itu mengurungkan niatnya. Iris yang merasa bodoh karena tetap berdiri di sana menyaksikan pemandangan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengannya itu akhirnya melangkah pergi. Ia membuang muka saat Alex menatapnya dan seakan memintanya untuk tetap tinggal di sana. Ia tidak perduli dan ia hanya ingin sendiri saat ini. “Iris, tunggu.” Alex berusaha pergi mengejar langkah Iris, namun langkahnya dihentikan oleh Irina. Ia menatap pada Irina yang kini menampilkan wajah datarnya. Ia sempat merinding melihat perubahan wajah gadis cantik itu yang biasanya selalu terlihat ramah dan lembut. “Jangan pergi, Alex, di sini saja.” ***** “Nona Iris, Tuan besar memanggil nona ke ruang kerjanya sekarang.” Perempuan muda yang sudah bekerja selama lebih dari satu tahun itu berdiri di depannya dengan canggung. Walau bagaimana pun ia rasanya tidak nyaman setiap kali harus berhadapan secara pribadi dengan Iris, sang Nona Muda yang selalu menguarkan aura permusuhan dan tatapan bencinya pada siapa pun, sangat berbeda dengan Irina yang selalu ramah pada mereka yang hanya seorang pembantu sekali pun. Iris mematikan televisi yang setelah lama mencari namun tidak ada satu pun siaran yang menarik perhatiannya. Ia kemudian menoleh pada perempuan muda yang ia tidak tahu namanya itu setelah layar televisinya kini berubah warna menjadi abu-abu. “Aku akan segera ke sana,” ujarnya bangkit dari duduk nyamannya, meraih ponselnya dan ikut berjalan keluar dari kamarnya. Ia kini berdiri di depan pintu ruangan ayahnya yang memang selalu dikunjungi ayahnya ketika berada di rumah, tempat yang memang menjadi tempat ternyaman untuknya menuntaskan pekerjaan atau sekadar menikmati waktu sendiri di sana. Helaan napasnya terdengar berat, cukup membuatnya tak ingin melangkah masuk ke dalam ruangan yang luas namun cukup membuatnya sesak jika berada di dalam sana. Lagipula ia tidak merasa melakukan kesalahan yang bisa membuat ayahnya itu memanggilnya saat ini. Namun dengan berat hati ia kemudian mengangkat tangan kanannya dan mengetuk pintu berwarna cokelat itu dengan pelan. “Masuk.” Suara tegas dan berat yang berasal dari ayahnya di dalam sana membuatnya segera memutar kenop pintu dan mendorongnya. Ruangan yang dingin dengan rak-rak yang menutupi dinding dan penuh dengan buku-buku, sofa di tengah ruangan, lemari pendingin dan meja kerja ayahnya tepat di depan sebuah rak besar dengan gaya klasik yang semakin membuatnya terlihat mahal. Ia berjalan lurus menuju sofa tunggal dan duduk di sana, membuka sebuah toples kaca yang berisi kue cokelat yang manis dan memakannya dengan santai. “Ayah memanggilku?” tanyanya di sela-sela kunyahannya pada kue sokelat yang masih tersisa setengah di tangannya. Ia melirik minuman yang berjejer rapi di atas meja berdampingan dengan toples-toples kue yang tampak menggugah selera. Sebenarnya ia juga punya banyak di dalam kamarnya yang memang khusus untuk ia nikmati seorang diri atau jika ada temannya yang datang bertamu, namun rasanya jika itu milik sendiri maka rasanya akan terasa biasa saja, sangat berbeda jika itu adalah milik orang lain. Terlebih lagi ia tidak punya teman yang akan mengunjuinginya di rumahnya. Bagas yang tengah duduk di meja kerjanya dengan setumpuk berkas yang perlu ia perbaiki dan koreksi itu melepas kacamata bacanya dan memijit pangkal hidungnya sejenak, berusaha menyingkirkan rasa pusing yang ia rasakan setelah berjam-jam memandangi kertas-kertas yang tidak ada habisnya. Ia tidak protes dengan sikap tak acuh anak bungsunya yang sama sekali tidak menunjukkan sikap sopan padanya yang jelas-jelas adalah orang tuanya, ia sudah hapal dengan kebiasaan putrinya itu dan hanya bisa memakluminya. Ia beranjak dari duduknya menuju lemari pendinginnya dan mengambil sebuah pudding dan dua botol minuman dingin di dalam sana. Pudding yang ia ambil tentu bukan untuknya melainkan untuk Iris yang masih menikmati kue di tolpes dan menonton televisi yang memang tersedia di sana. Ia letakkan sepiring kecil pudding rasa Oreo itu di hadapan Iris yang menatapnya datar. “Makanlah, itu memang untukmu. Ayah membelinya saat pulang kerja tadi.” Iris menatap pudding berwarna putih dengan corak hitam di depannya dengan raut dingin kemudian kembali menatap ayahnya. Ia tidak berpikir ayahnya akan memanggilnya ke ruangannya dan mengganggu kerjanya hanya untuk memberikannya sebuah pudding yang bahkan bisa ia beli kapan saja ia mau. Lagipula, sepiring kecil pudding bukanlah sesuatu yang berarti untuknya saat ini. “Apa ayah memanggilku hanya untuk memberikan sepotong pudding?” tanyanya sarkastik, selera makannya mendadak hilang saat ini. Ia kemudian menutup kembali toples kue yang sejak tadi berada dalam pelukannya, rasa manis dari cokelat itu kini terasa pahit di lidahnya. Bagas menggeleng dengan senyum di bibirnya. “Tentu saja tidak, sayang. Ayah memanggilmu untuk membicarakan perjalanan bisnis ayah yang akan dimulai minggu depan. Selama seminggu ayah tidak akan ada di rumah, jadi ayah ingin kamu untuk-“ “Menjadi anak baik dan tidak membuat masalah, begitu ‘kan maksud ayah?” Tanpa mendengarkan penuturan ayahnya lebih lanjut, Iris sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh ayahnya itu. Lagipula di mata ayahnya ia hanyalah anak pembuat onar yang tidak pernah lepas dari masalah. Ia tidak percaya, ternyata ayahnya memanggilnya hanya untuk memperingatinya tentang sikapnya dan menyogoknya dengan sepotong pudding. “Benar.” Bagas tidak berusaha untuk menyangkal perkataan putri bungsunya itu, karena memang itulah yang akan ia katakana saat ini. Ia tentu tidak akan meninggalkan rumah dengan tenang dengan sikap Iris yang tidak bersahabat yang tentunya hanya akan membuat masalah pada orang-orang di rumah. Irina saja pasti tidak akan cukup untuk menghadapi sikap keras kepala Iris yang memang seperti tidak ada pawangnya itu. “Ayah hanya ingin kamu tidak membuat kakakmu kesusahan. Dia sudah cukup lelah dengan tanggung jawabnya di sekolah, jadi ayah harap jangan membebaninya lagi di rumah.” Iris tertawa kecut, di mata ayahnya ia memang hanyalah anak bermasalah. “Apa ayah juga mengatakan hal seperti ini pada Irina atau cuma padaku?” Tatapannya lurus menatap pada sepasang manik bening milik ayahnya yang tampak goyah di sana, hanya dengan melihatnya saja ia sudah tahu jawabannya. Ia yang merasa kecewa kemudian berdiri dari duduknya. “Aku akan kembali ke kamar sekarang.” “Iris.” Ayahnya berusaha memanggilnya, namun Iris seperti sudah tuli sekarang. Ia tidak ingin mendengar apa pun lagi dan tetap melangkah keluar dari ruang kerja ayahnya yang mendadak membuat dadanya sesak. Saat membuka pintu cokelat berbahan mahoni itu ia bisa melihat sosok Irina yang berdiri di depan pintu. Matanya melirik gaun berwarna krem yang digunakan saudari kembarnya itu yang ia ingat adalah gaun yang baru saja dibelikan oleh ayahnya beberapa hari yang lalu hanya untuk anak kesayangannya dan tentu saja ia tidak mendapatkan apa-apa selain pudding yang tidak ia sentuh sama sekali di dalam sana. Ia tersenyum sarkastik. “Gaun yang cantik.” Kemudian ia berlalu dari sana mengabaikan senyum miring milik Irina yang tentu saja menertawakan kekalahannya dan lagi-lagi hanya ia yang tahu sisi lain dari saudarinya itu. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD