Kelas sudah berakhir beberapa saat yang lalu, namun Iris lebih memilih untuk berdiam diri di dalam kelasnya. Bertahan dengan kesendiriannya yang terasa lebih menyenangkan dibandingkan harus bertemu dengan orang-orang yang tak suka padanya. Lagipula ia lebih menyukai kesendiriannya itu, tidak ada yang bisa mengaturnya dan lain sebagainya.
Matanya sedikit melirik sosok yang menyerupai dirinya sedang bercanda gurau dengan teman sebangkunya, candaan yang terasa garing dengan senyum memuakkan yang ia tangkap dari wajah cantik Irina yang selalu sukses membuat suasana hatinya memburuk. Senyum palsu yang tampak memuakkan namun sangat diminati oleh orang-orang bodoh yang sangat percaya padanya. Bukan karena ia merasa cemburu, namun ia malah bersyukur tidak dikelilingi oleh penjilat seperti mereka yang tentunya bermuka dua.
Biasanya, kedua gadis itu tidak pernah terlihat berdiam diri di kelas selama jam istirahat, Irina selalu punya waktu dan kegiatan yang bisa ia kerjakan di luar kelas di mana banyak penggemarnya di sana yang selalu mengagumi setiap apa yang ia lakukan. Berbeda dengan dirinya yang selalu mendapatkan tatapan penuh kebencian setiap kali sosoknya terlihat di hadapan orang-orang. Bahkan guru sekali pun tampak jijik dengannya.
Ia tidak pernah iri dengan saudari kembarnya yang mempunyai segudang prestasi dan menjadi idola bagi siswa lainnya. Justru ia merasa bersyukur memiliki sikap yang bertolak belakang dengan Irina yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa ia terima sebagai saudaranya, tidak bahkan jika seluruh dunia memusuhinya sekali pun.
Ia membuang pandangannya ke luar jendela saat menyadari sosok pemuda yang familiar memasuki kelas mereka. Bukan untuk menemuinya tentu saja, namun untuk bertemu dengan Irina yang memang merupakan teman dekatnya. Cukup dekat hingga ia akan mengunjungi saudari kembarnya itu ke rumahnya hanya sekadar untuk kunjungan semata tanpa adanya sebuah kepentingan.
“Hai, roti cokelat bukan?” Suara Alex terdengar jelas memasuki indera pendengaran Iris yang bahkan sudah ditutupi oleh earphone sekali pun. Entah karena ia merasa penasaran ada apa gerangan pemuda itu mengunjungi Irina di kelas atau karena suara musik yang mengalun pelan melalui ponsel pintarnya itu tidak cukup keras untuk menutupi suara-suara berisik yang menggangu telinganya.
Iris tak ingin membuang-buang waktu mendengarkan pembicaraan tidak penting yang akan terjadi selanjutnya, dengan itu ia menaikkan volume suara ponselnya agar ia semakin bisa menikmati musiknya dengan tenang. Sambil mengunyah permen karet yang memang selalu ia bawa kemana pun, ia bisa merasakan seseorang berjalan mendekat ke arahnya dan duduk di kursi kosong yang berada di depannya.
Suara ketukan pelan di permukaan mejanya membuatnya mau tidak mau menoleh pada pemuda yang kini tersenyum padanya, senyum yang ia akui cukup manis dengan wajahnya yang tampan. Namun ia tidak ingin lengah, menyadari sorot tak bersahabat yang dilayangkan sosok cantik di sebelah mejanya membuatnya segera menoleh hanya untuk sekadar memastikan sendiri bahwa ia tidak sedang berimajinasi.
Saat pandangannya bertumpu pada Irina, ia dengan jelas bisa melihat raut penuh kekesalan gadis cantik itu yang tentunya hanya bisa disadari olehnya. Orang-orang tidak akan pernah menyadari kelicikan yang tersembunyi di balik wajah cantik dan senyum manis yang selalu ia perlihatkan pada semua orang kecuali dirinya. Berusaha mengabaikannya ia kembali memandangi Alex yang masih menampilkan senyumnya di hadapannya.
“Ada apa?” tanyanya dingin dengan eskpresi tak bersahabat, berharap sikapnya itu bisa membuat pemuda di hadapannya itu untuk menyerah dan menjauh darinya. Ia tidak butuh teman, karena teman baginya saat ini hanya kesendirian yang pastinya akan selalu menemaninya kapan pun dan di mana pun.
Alex semakin tersenyum, sikap dingin gadis cantik di depannya tidak akan pernah bisa membohonginya. Karena ia tahu rahasia gadis itu yang selalu ia sembunyikan dari orang lain. “Hanya ingin menyapamu. Apa itu salah?” Tangan kirinya menopang dagunya dengan santai sementara tangan kanannya senantiasa mengetuk permukaan meja yang menciptakan irama tersendiri untuknya.
Iris tak bisa menahan raut wajahnya yang semakin mendingin melihat respon pemuda di depannya yang jelas sekali sangat mengganggu ketenangannya. Ketukan jari Alex di permukaan mejanya semakin membuat emosinya meningkat yang berusaha ia tahan setengah mati. “Irina ada di sana, bukan di sini.” Ia menunjuk keberadaan Irina yang kini kembali berbicara dengan teman sebangkunya, berusaha menyadarkan pemuda di hadapannya agar ia tidak salah orang.
“Aku tahu. Karena itulah aku ke sini.” Mata Alex beralih pada earphone hitam yang terpasang di kedua telinga gadis cantik di depannya, cukup lama ia memandanginya sebelum akhirnya tangan kanannya terulur untuk menarik salah satu yang terpasang di telinga kanan Iris yang membuat sang pemilik menyentak lengannya dengan kasar.
“Kau mau apa?” Pertanyaan dengan nada tinggi itu cukup membuat beberapa orang yang ada di kelasnya menoleh padanya termasuk Irina yang kembali memandanginya dengan tatapannya yang penuh arti. Ia tidak perduli jika orang-orang terganggu dengannya karena yang ia inginkan saat ini adalah pemuda yang sedang duduk di hadapannya itu segera menjauh dari pandangannya.
Tangan Alex masih menggantung di udara akibat sentakan keras dari Iris yang cukup membuat kulitnya terasa nyeri, ia tidak menyangka gadis dengan postur tubuh kecil seperti itu mempunyai tenaga yang cukup untuk meninggalkan bekas kemerahan di kulitnya. Ia tersenyum sambil menarik kembali tangannya. “Maaf kalau aku membuatmu terkejut. Aku hanya ingin mendengarkan lagu apa yang sedang kau dengarkan saat ini.”
Iris tak meluluhkan ekspresi wajahnya, tetap dingin dengan raut wajah kemarahan yang jelas tergambar di wajah cantiknya. Ia tidak pernah suka dengan pemuda itu yang selalu berusaha untuk ikut campur dengan urusannya dan selalu ingin mencoba akrab dengannya. Tipe pengganggu yang sangat dibenci olehnya layaknya serangga yang tak ada habisnya.
“Alex.”
Panggilan dengan nada lembut itu mengalihkan perhatian Alex yang semula menatap Iris, pemuda itu menoleh pada Irina yang tampak memanggilnya untuk mendekat. Kembali menatap pada Iris yang kini mengabaikan keberadaannya dan lebih memilih untuk menatap ke luar jendela, ia kemudian beranjak dari posisinya dan menghampiri Irina yang tersenyum senang menyambutnya.
*****
“Ada hubungan apa kamu sama Alex?”
Iris yang mendapat pertanyaan tiba-tiba seperti itu segera mendongak menatap saudari kembarnya berdiri menjulang tinggi di hadapannya yang tengah duduk santai sambil membaca buku di balkon kamarnya. Ia melirik pintu kamarnya yang terbuka lebar yang menandakan bahwa ia lupa menguncinya saat memasuki kamar tadi. Kegiatan yang selalu ia lakukan setiap ingin menikmati waktu sendiri di rumah tanpa diganggu oleh siapa pun, bahkan oleh pelayan yang ingin membersihkan kamarnya.
Pandangannya kembali berpusat pada wajah Irina yang memantulkan wajahnya dengan sempurna kecuali t**i lalat di ujung bibir gadis itu yang ia tidak punya. “Kau tidak salah bertanya soal itu padaku?” Tangannya kembali membuka lembaran buku yang sedang ia baca dan berusaha mengabaikan sosok cantik di depannya yang terlihat tidak suka dengan sikapnya itu.
Irina dengan sikap tidak sabarnya menarik buku yang berada di dalam genggaman Iris, menyentaknya menjauh dari jangkauan sang adik yang bahkan tidak bergeming dari posisinya dan hanya menatapnya dengan tatapan datarnya. “Aku sedang bertanya padamu, Iris. Ada hubungan apa kamu sama Alex?”
Menghela napas, Iris menyilangkan kedua tangannya dengan angkuh. Seolah sikap intimidasi yang ditunjukkan saudari kembarnya itu tak membuatnya gentar sedikit pun. “Kenapa kau tidak bertanya sendiri pada Alex, kenapa dia sangat suka menggangguku?”
“Dia mengganggumu?” Tatapan Irina memicing tak percaya, ucapan saudarinya itu tentu tak akan pernah ia percayai melihat bagaimana sikap Alex yang begitu santai dan ramah padanya seolah mereka adalah teman dekat. “Tapi kenapa di mataku kalian malah terlihat layaknya teman dekat?”
“Itu artinya ada yang salah dengan matamu.” Iris memutar matanya jengah, terlalu malas untuk berdebat dengan orang yang tidak akan pernah mau mengerti akan dirinya dan selalu mengambil kesimpulan yang mereka percayai sendiri. Penjelasan yang ia berikan tidak akan ada artinya bagi sosok egois yang selalu ingin menang sendiri itu.
“Alex bukan tipe orang yang akan mendekati orang lain lebih dulu apalagi mengejarnya seperti yang kamu katakan. Dia adalah orang yang lebih nyaman bersama orang yang sudah ia kenal dengan baik, bukan tipe yang akan mengganggu orang asing secara sembarangan.” Irina berkata dengan percaya diri, seolah ingin menunjukkan pada sosok di depannya bahwa ia sangat mengenal Alex dan hanya dirinya yang tahu bagaimana sosok pemuda itu.
Iris tersenyum, menertawakan sikap saudarinya yang terdengar bodoh di matanya. “Maaf, tapi secara tidak langsung kau mengatakan bahwa kau tidak begitu mengenal sahabat terbaikmu itu.” Ia berdiri, menatap dengan tajam sosok di depannya yang tak bergeming sedikit pun. “Alex bukanlah orang yang bisa kau kendalikan semaumu, dia punya hati dan pikiran yang bisa membuatnya mengambil keputusan berdasarkan keinginannya sendiri. Bukan robot yang hanya akan menurut pada ucapanmu.”
Tangan Iris dengan mudah bisa kembali meraih bukunya yang masih berada di genggaman tangan Irina. Karena lengah, Irina tentunya tak menyadari bahwa adiknya itu sudah mengincar bukunya sejak tadi. Iris menunjuk pintu kamarnya dengan dagunya. “Sebaiknya kau pergi sekarang, aku ingin menikmati waktuku sendiri tanpa diganggu oleh siapa pun.”
Raut wajah Irina mengeras, ia bukanlah tipe yang akan mengalah dengan mudah terlebih pada sosok adiknya yang seperti dengan sengaja memancing amarahnya saat ini. Ia masih ingin melanjutkan argumennya, namun suara ayahnya yang memanggilnya dari lantai bawah membuatnya berusaha mengalah dan mengabaikan sikap tak sopan Iris padanya. Ia kembali menatap Iris yang sekarang sedang sibuk dengan bukunya seolah tidak ada dirinya di sana sebelum akhirnya ia melangkah pergi dengan emosi yang berusaha ia kendalikan.
Iris mengikuti langkah Irina yang berjalan keluar dari kamarnya melalui ekor matanya. Ia menghela napas saat saudarinya itu membiarkan saja pintunya terbuka lebar tanpa berniat untuk menutupnya kembali. Dengan langkah malas ia berjalan menuju pintu dan ingin menutupnya saat matanya tidak sengaja menangkap pemandangan di bawah sana, di mana Irina tampak bahagia dengan gaun baru yang dibelikan oleh ayahnya.
Dengan perasaan kesal ia membanting pintunya dengan keras yang cukup membuat ayahnya mendongak menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat dengan kedua alis yang bertaut, sementara Irina malah tersenyum penuh kemenangan di samping ayahnya karena setidaknya perhatian dan kasih sayang ayahnya akan tetap menjadi miliknya seorang.
*****