Bab 7

1396 Words
Raya 7 Tidak nyaman rasanya di acara lamarannya bersama Vika, tapi Reno tidak memiliki pilihan lain. Dia harus tetap diam di sana dan mendengarkan petuah-petuah yang diberikan oleh keluarga besar mereka. Sama halnya dengan Reno, Vika juga tampak kurang nyaman dengan acara tersebut. Dia bukannya fokus mendengarkan tapi malah sibuk bermain ponsel membalas pesan teman-temannya yang ingin mengajak wanita itu untuk berkumpul. Dengan sangat terpaksa Karena ada acara lamaran tersebut Vika harus menunda terlebih dahulu partynya. Setelah lamaran selesai Vika akan segera berangkat menuju ke club yang telah mereka sepakati. Hidup biasa bebas dan jauh dari kekangan tentunya membuat Vika leluasa ingin menentukan seperti apa hidupnya, namun sayangnya semua itu harus berakhir karena sebentar lagi dia akan menjadi istri sahnya Reno. Pernikahan yang lebih mirip sebuah kerjasama bisnis tersebut harus dijalani meskipun dia maupun Reno tidak menginginkan pernikahan itu. "Kamu kalau orang tua ngomong tolong diperhatikan, jangan malah sibuk dengan ponsel seperti itu. Lihat Reno, meskipun dia menolak pernikahan kalian tapi, dia tetap mendengarkan dan menyimak apa yang kami katakan." Salah seorang tante dari Vika menegur wanita itu yang sedari tadi malah cekikikan sendiri. Terhibur karena guyonan teman-temannya di grup chatting. Teguran tersebut mengundang seluruh pasang mata yang ada di sana untuk menoleh ke arahnya, mereka sedikit mencebikkan bibir mengejek Vika yang tidak ada sopan santun sama sekali. Reno mendesah panjang, ingin bersikap sama seperti anggota keluarga lainnya, tapi dia tidak bisa menyalakan Vika karena memang pernikahan mereka merupakan bencana besar bagi mereka berdua. Jika diminta memilih Reno yakin Vika juga tidak menginginkan pernikahan ini. Hanya saja dia lebih pandai menyembunyikan rasa tidak suka tersebut, sekaligus pandai pula bersikap agar tidak ditegur terus menerus oleh anggota keluarga yang lain. "Iya, habisnya kalian semua terlalu lama berbincang ini dan itu. Padahal cukup ke inti acara saja atau cuma bertukar cincin lagi. Sama seperti pertunangan waktu itu, kan?" "Bukan, itu makanya kamu menyimak apa yang kami katakan di sini. Tidak ada lagi pertukaran cincin. Kalian sudah bertunangan, hari ini cukup menentukan hari kapan pernikahan kalian berdua akan dilangsungkan." "Ya, ya, kalau begitu tentukanlah kapan kami akan menikah?" Vika menyahut acuh. Reno hanya bisa menggelengkan kepalanya setidaknya dengan sikap dan acuhnya Vika saat ini masih sedikit menyelamatkan dirinya dari wawancara yang lain. Karena tadi sempat ada salah seorang dari anggota keluarganya mempertanyakan tentang pernikahan Geo. Jika seandainya mereka tahu pernikahan Geo batal dan dialah yang menggantikan, Reno tidak dapat menebak apa yang akan terjadi nantinya. "Kalau begitu satu minggu dari sekarang pernikahan kalian bisa dilangsungkan dan mohon maaf kami tidak pernah memberitahu bahwasanya belakangan ini kami sudah mulai mempersiapkan acara pernikahan kalian berdua." "A-APA?" tanya Reno dan Vika secara serentak. Mulut mereka terbuka mendengar penuturan sang kakek. "Bisa-bisanya kalian semua menentukan pernikahan kami tanpa kami ketahui terlebih dahulu??" Protes langsung diberikan Reno kepada sang kakek yang membuka rahasia keluarga besar mereka. "Jika menunggu kalian tentu saja tidak akan ada habisnya. Vika sibuk dengan teman-temannya, dan kamu juga sibuk dengan pekerjaanmu. Kalau dituruti bisa-bisa kalian berdua menikah tahun depan, bahkan lima tahun lagi. Padahal tujuan kami menjodohkan kalian agar pernikahan segera bisa dilangsungkan. Bukannya menunda-nunda apalagi membatalkan rencana ini semua." "Tapi, Kek. Ini tidak masuk di akal." "Tidak masuknya di mana? Bukankah kami yang mengatur segala sesuatu yang kalian butuhkan untuk pernikahan ini? Jadi kalian cuma tinggal duduk manis di rumah dan mengikuti saja apa yang kami perintahkan." "Kalau begitu kenapa bukan Kakek saja yang menikah dengan Vika, jika memang hanya menuruti saja alur yang telah ada?" "Reno!!" tegur sang ayah, ketika Reno malah menyudutkan sang kakek. Bukannya malah menuruti apa yang pria berusia senja itu katakan. "Kenapa, apa? Kenapa malah aku yang dibentak seperti itu? Bukankah benar yang aku katakan? Pernikahan ini seharusnya tidak terjadi. Kalian ini sudah memiliki segala-galanya dan mendapatkan pula apapun yang kalian inginkan hanya dengan satu kali ucapan saja. Namun tetap saja masih kurang puas sehingga mengorbankan masa muda kami." "Muda katamu? Usia kalian sudah sama-sama matang untuk menikah. Kamu mau menjadi perjaka tua nantinya?" Sang ibu menyusul. "Ya, enggak begitu …." "Kalau begitu turuti saja apa yang kami katakan daripada pernikahan kalian dilangsungkan besok hari. Lebih baik satu minggu lagi jadi kalian masih memiliki waktu tujuh hari lagi untuk berbenah dan menerima semua keputusan kami." "Ck, meskipun dua tahun lagi, bahkan sepuluh tahun lagi pernikahanku dengan Vika tetap saja aku belum mampu menerima pernikahan ini." Reno tersenyum tipis, bangkit dari tempatnya duduk. "Semuanya sudah selesai, bukan? Bahkan kalian sudah menentukan tanggal pernikahan tanpa ada kehadiranku dan Vika. Jadi untuk apa pertemuan ini dilakukan kembali jika hanya untuk mengulur-ngulur waktuku saja? Jadi lebih baik aku berpamitan. Selamat malam dan terima kasih atas kerja keras kalian semua." "Reno, kamu ingin ke mana?" tanya Meliana, ibu dari Reno. Wanita paruh baya itu tidak terima jika Reno malah pergi, sedangkan acara lamaran belum selesai dilangsungkan. Bahkan mereka belum mencicipi hidangan yang telah disediakan di sana. "Aku ingin kembali ke apartemen rasanya lelah seharian bekerja." "Bekerja? Bukankah sekarang weekend? Kamu jangan coba-coba …" "Ma, dengar. Sebagai atasan aku memiliki pekerjaan yang tidak tergantung dengan hari. Mau weekend ataupun tidak, tetap saja aku memiliki pekerjaan yang harus aku selesaikan. Sebagai pemimpin tentunya tanggung jawabku jauh lebih besar sehingga tidak bisa terlalu banyak membuang waktu ketika berbicara bersama kalian semua di sini. Jadi permisi, selamat malam. Senang bertemu dengan kalian semua." Meliana mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Beginilah adanya sosok Reno, tidak mau diatur dan meskipun sudah bisa dikendalikan tetap saja ada celah bagi pria itu untuk membuatnya kesal setengah mati. Menghela napas panjang, mereka semua tidak bisa menahan kepergian Reno dan lebih parahnya lagi baru beberapa menit Reno beranjak Vika juga berpamitan kepada mereka semua. Dia mengaku ada masalah yang harus diselesaikan secepat yang dia bisa, padahal Vika hanya ingin menghadiri acara makan-makannya bersama para sahabat yang kini tengah menunggu di salah satu klub yang ada di sana. "Inilah sebabnya aku ingin tergesa-gesa menjodohkan dan meminta mereka berdua menikah," keluh Meliana, memijat pelipisnya yang terasa sakit dan berdenyut karena ulah kedua anak manusia tersebut. "Kalau seandainya Vika sama seperti gadis yang lainnya suka diam di rumah dan tidak keluyuran kemana-mana mungkin saat ini aku belum menjodohkannya dengan Reno," tutur seorang wanita paruh baya yang duduk di samping Meliana. Dia juga mengusap pundak wanita itu. "Makanya aku berharap dengan pernikahannya bersama Reno Vika bisa berubah dan menjadi ibu rumah tangga yang utuh. Tidak lagi keluyuran dan membuat kekacauan di luar sana." "Aku juga berharap demikian, besan. Semoga ini semua berjalan dengan lancar." "Oh ya, aku ada kabar yang tidak mengenakan sama sekali. Mungkin kalian semua akan sama sepertiku terkejut mendengar berita ini. Mau tidak percaya, tapi rasanya tidak mungkin karena aku juga mendapatkan foto-foto sebagai barang bukti atas gosip ini." "Bukti apa?" Meliana mengejar, bergegas mendekati salah satu adik perempuannya yang memperlihatkan sebuah ponsel kepada mereka semua. "Aku memiliki foto di mana Reno baru saja menikahi seorang office girl," katanya dengan menekankan setiap kata yang dia ucapkan. Tidak lupa wanita itu memperlihatkan pula foto-foto pernikahan antara Reno dan Raya beberapa jam yang lalu. "Astaga …." Meliana terperanjat melihat Reno yang tampan dengan setelan jasnya. Bersanding dengan seorang gadis. "Namanya Raya, dia bekerja di perusahaan kita. Dia seharusnya hari ini menikah dengan Geo sekretarisnya Reno. Tapi sayangnya laki-laki itu malah kabur dan tidak datang ke acara pernikahannya sehingga Reno menawarkan diri untuk menggantikan posisi Geo." "Astaga, kenapa Reno tidak menyampaikan ini kepada kita semua? Seandainya kalau ada kolegal bisnis kita yang menghadiri acara pernikahan itu otomatis dia akan menganggap bahwa Reno memiliki dua orang istri." Ibunya Vika menambahkan. "Tentu saja, karena pernikahan ini terbuka untuk umum dan mengundang begitu banyak orang sangat mustahil jika tidak ada rekan bisnis kita yang mengetahui hal ini." " Jadi bagaimana dengan Vika? Mana mungkin dia mau menjadi istri kedua?" " Entahlah aku akan bicarakan ini kembali dengan Reno dan meminta dia menceraikan gadis miskin itu." Meliana langsung mengambil keputusan agar seluruh keluarga besar yang ada disana tenang. "Itu ide yang bagus, karena kami tidak ingin Vika menjadi istri kedua." Peringatan diberikan oleh ibunya Vika sebelum membubarkan acara lamaran tersebut. Melihat Reno yang sudah menikah dengan gadis lain membuat mereka tiba-tiba saja enggan melanjutkan acara yang tergolong mewah itu. Di sini ada kesalahpahaman dan ketidaksukaan sehingga acara dibubarkan sebelum waktunya usai. Sumpah demi apapun, rasanya Meliana ingin menemui Reno dan mempertanyakan tentang gosip tersebut. Dia tidak habis pikir kenapa putranya itu mau menggantikan posisi Geo padahal calon istri pria tersebut hanyalah seorang office girl yang bekerja di kantor mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD