Raya 8
Raya masih termenung duduk di tepi ranjang yang begitu besar, dihiasi dengan kelopak bunga segar. Dia tahu semua itu telah dipersiapkan secara matang oleh pihak hotel yang katanya atas perintah Geo.
Seharusnya dia duduk bersama Geo saling bermesraan dan mengungkapkan rasa sebagai pengantin baru, nyatanya apa? Kini dia justru duduk sendirian sedangkan Geo? Entah di mana kini pria itu berada dia tidak mendapatkan kabar lagi meskipun hanya sekedar tentang bagaimana kini keadaan pria itu.
Dan andai saja hari itu Raya tidak luluh karena ungkapan cinta dan lamaran dadakan dari Geo, tentunya hari ini dia masih berada di rumah bersenda gurau dengan adik-adik dan kedua orang tuanya. Bukannya duduk di sini mempertanyakan entah bagaimana kini hubungannya dan Reno, karena di mata Raya Reno itu merupakan seorang atasan yang sangat menyebalkan dan orang yang paling dia benci di dunia ini.
Reno itu merupakan pria yang sangat egois dan keras kepala, pria itu juga sering mengerjainya sehingga sering pulang larut malam. Padahal dia harus membeli obat untuk sang adik di apotek, nyatanya keterangan itu tidak mampu membuat Reno mau mendengarkan keinginannya. Meskipun hanya sedikit saja dan kini pria itu justru menikahinya, menggantikan Geo.
Itu artinya saat ini statusnya sebagai seorang istri dan hidupnya bergantung kepada Reno.
"Maaf saya membuatmu menunggu lama," ucap Reno ketika dia memasuki kamar hotel VIP tersebut. dia cukup puas dengan dekorasi yang diberikan oleh pihak hotel, tidak sia-sia dia menghamburkan uang untuk membayar semuanya karena apa yang ada di kamar tersebut sesuai dengan ekspektasinya selama ini.
Sepertinya dia juga akan memberikan tips lebih atas kerja keras staf hotel yang membuat hatinya senang malam ini. Memang tadinya Reno sempat kesal karena dia terpaksa menikah dengan Vika, tapi tidak masalah yang penting dia bisa mempersunting Raya.
Tinggal bagaimana caranya dia tetap bisa menyembunyikan pernikahan tersebut sampai Raya hamil sehingga tidak ada lagi alasan bagi kedua orang tuanya untuk meminta mereka berdua berpisah.
Bukankah selama ini Reno dituntut untuk segera menikahi Vika karena demi cucu atau penerus dari tahta mereka nantinya?
"Kita to the point saja, Pak. Sekarang aku mohon ceraikan aku. Aku tidak bisa hidup seperti ini dan sumpah demi apapun, aku tidak bisa menjalani rumah tangga yang penuh drama seperti saat ini."
"A-apa katamu? Cerai? rumah tangga penuh drama? Apa maksudmu, Raya, sedangkan aku melakukan ini demi menyelamatkan nama baik kedua orang tuamu dan aku juga sudah membayar seluruh tagihan wedding organizer termasuk pula dengan tagihan hotel ini. Kamu tahu berapa biaya yang saya keluarkan?" Reno mengeluarkan ponselnya. "Ini ada beberapa mutasi rekening, di sini tertulis secara keseluruhan uang yang aku keluarkan. Ini baru satu Bank, belum lagi bank yang lain untuk melunasi pembayaran wedding organizer yang merias rumahmu. Apakah kamu yakin ingin bercerai dan mengembalikan semuanya ketika saya menjatuhkan talak untukmu?"
Wajah Raya terangkat. "Apakah ini jebakan untukku dari kalian berdua?"
"Jebakan apa? Saya justru melakukan ini semata-mata untuk menyelamatkanmu. Saya merasa iba kamu dibuang begitu saja oleh sahabatku Geo. Seharusnya kamu berterima kasih bukannya malah menuntut perceraian. Seharusnya kamu menanyakan kepada saya apa yang harus kamu lakukan agar bisa melunasi seluruh hutang piutang yang begitu banyak ini."
"Pak, aku tidak pernah meminta Bapak untuk membayar semuanya. Terserah nantinya mau aku bayar dengan caraku sendiri, mau dituntut bahkan di penjara aku tidak peduli yang terpenting aku tidak terlibat pernikahan yang mengerikan seperti ini."
"Mengerikan seperti apa? Bukankah kamu mengenal saya dan saya juga tidak menuntut apapun kepadamu? Lalu kenapa kamu mengatakan pernikahan ini sangat menyeramkan?"
"Bapak jangan berpura-pura seperti itu. Aelama ini Bapak selalu menyusahkan aku, selalu!!"
"Raya cukup, kamu itu office girl di kantor. Tentu saja segala kebutuhan saya kamu yang menghandle dan bukankah itu merupakan sebuah kewajiban bagimu? Lalu kenapa kamu malah mengatakan saya ini selalu menyusahkanmu?"
"Pak aku mohon tolong katakan dengan jujur. Ada apa sebenarnya di balik ini semua, tidak mungkin tiba-tiba saja Pak Geo melamar aku. Tiba-tiba saja dia menghilang bak ditelan Bumi dengan tagihan yang membengkak seperti sekarang.
Sedangkan dalam kesepakatan kami pernikahan akan dilangsungkan secara sederhana. Memang ada resepsi, tapi tidak sampai ada penyewaan satu hotel berbintang 5 seperti ini. Tidak pernah ada wedding organizer yang merias begitu mewah bahkan tamu undangan pun tembus 1000 orang.
Padahal Pak Geo mengatakan undangan hanya sekitar 200 sampai 300 orang saja. Lalu ini semua datang dari mana? Konsep ini siapa yang menentukan?!" tuntut Raya bangkit dari tempatnya duduk. Matanya memanas bahkan kini ada buliran bening yang mengalir di pipinya.
Dia sangat yakin 100% semua ini bukanlah sebuah kebetulan apalagi kesalahan,tapi semua ini merupakan sebuah kesengajaan yang telah dirancang sematang mungkin.
"Terserah kamu mau menilai seperti apa." Reno melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya, ketika ditodong begitu banyak pertanyaan dari Ray. Karena memang semua ini adalah settingan darinya agar bisa menikahi wanita itu.
Tidak rela rasanya Raya yang selama ini dia cintai dalam diam, justru akan dinikahi oleh sahabatnya sendiri. Tentu saja Reno tidak rela hal tersebut terjadi karena selama ini dialah yang mencintai Raya. Seperti biasa, Reno tidak akan mau miliknya diambil alih oleh orang lain apalagi ini berhubungan dengan status seumur hidup.
Dia tidak bisa membayangkan Geo memiliki anak dari Raya dan bahagia selama-lamanya.
"Terserah kamu ingin menilai seperti apa, yang jelas di sini saya sudah menyampaikan kepadamu pernikahan ini berlangsung karena Geo yang pergi begitu saja tanpa pesan sama sekali. Ayahmu memohon agar saya menyelesaikan ini semua dan dia tidak terlibat hutang yang nyaris menyentuh angka 1 miliar rupiah. Dari mana kamu bisa membayar hal tersebut? Dipenjara pun kamu akan terkurung seumur hidup sedangkan adik-adikmu membutuhkan biaya dari hasil kerja kerasmu."
Raya menganggukan kepalanya cepat. "Jadi demikian rupanya cerita yang sesungguhnya? Oke, aku akan menerima semua itu dan sekarang tolong katakan apa yang harus aku lakukan agar bisa menebus semua uang tersebut, dan bisa lepas dari pernikahan ini?"
"Yang pertama." Reno duduk di ujung ranjang, menatap ke arah pintu balkon, tidak kepada Raya karena dia lemah ketika melihat wanita itu menangis. Memang ini sangat menyakitkan bagi Raya, tapi Reno lebih takut patah hati jadi biarlah wanita yang dicintainya itu menanggung rasa sakit dibandingkan dengan dirinya.
Kurang ajar memang, tapi begitulah Reno dia tidak ingin terluka sama sekali. Biarlah orang yang dicintainya makan hati asalkan dirinya tidak.
"Yang pertama kamu jalani saja rumah tangga ini sebagaimana yang saya inginkan. Yang kedua, kita harus memiliki anak agar orang tua saya berhenti menjodohkan dengan wanita gila itu."
"A- apa? Punya anak? Bapak tidak gila?" tanya Raya benar-benar tersentak mendengar penuturan Reno. Bisa-bisanya dengan entengnya pria itu mengatakan mereka harus memiliki anak, sedangkan pernikahan itu terjadi karena keterpaksaan.
Terjadi karena Raya tidak memiliki pilihan lain. Bahkan dia tidak diperbolehkan untuk memilih jalannya sendiri.
Semuanya ditentukan Reno secara keseluruhan.
" Sebenarnya saya dijodohkan, dengan seorang wanita yang bisa dikatakan lumayan tidak waras sehingga saya tidak memiliki pilihan selain menuruti keinginan kedua orang tua saya. Tapi saya bisa menolak ketika sudah memiliki anak dari wanita lain. Entah sebuah kebetulan atau apa, ketika saya mencari seorang wanita untuk melahirkan buah hati, pernikahanmu dan Geo gagal. Dia lari dari kenyataan.
Mungkin dia menuruti keinginan kedua orang tuanya untuk menikah dengan gadis yang telah dijodohkan dengannya sedari kecil dulu. Awalnya orang tua Geo mau mengalah dan mengikuti segala keinginan pria itu, tapi ternyata bisnis kedua orang tua Geo semakin hancur sehingga dia membutuhkan suntikan dana. Dan gadis yang akan dijodohkan dengannya inilah yang akan menjadi pendonor untuk perusahaan mereka."
Raya menautkan kedua alisnya, mendengar cerita dari Reno. Entah karangan atau tidak, tapi wanita itu bersikap seolah-olah percaya saja semua penuturannya karena tadi Raya mempertanyakan apa gerangan yang membuat Geo pergi. Reno mengatakan tidak tahu, sekarang pria itu dengan entengnya menyampaikan sebuah cerita yang lebih mirip dongeng sebelum tidur.
Begitu lancar dan fasih pria itu menyampaikan kepadanya sedangkan tadi pria itu selalu menghindar setiap kali dia mempertanyakan tentang keberadaan Geo. Semakin curiga saja Raya pada pria itu .
"Sebagai awal kamu dan saya akan tinggal di sebuah apartemen yang berada sangat dekat dengan kantor. Jadi kamu tidak perlu lagi menggunakan motor butut untuk bekerja. Dan selama kamu masih belum mau membuat kesepakatan baru dengan saya, maka kehidupanmu akan berjalan seperti biasanya. Tenang saja, saya tidak akan memaksa apapun. Hanya saja satu hal yang harus kamu ketahui, seandainya kamu tidak ingin menghasilkan buah hati dari pernikahan ini maka hutang tidak akan pernah dianggap lunas dan akan dicicil dari 80% dari gajimu. Dan jika seandainya kamu mau memiliki buah hati dari saya, maka hutang dianggap lunas dan kamu bebas terbang kemanapun kamu ingin pergi begitu anak kita lahir. Sekian dulu untuk malam ini selamat beristirahat istriku," tutur Reno, keluar dari kamar hotel tersebut.
Dia tidak ingin berlama-lama berada di samping Raya takutnya dia khilaf malah memaksa wanita itu untuk melakukan malam pertama dengannya.
Raya mendengus kesal, memejamkan matanya kuat dan memukul bantal yang tersusun rapi di sana. Dia juga melemparkan seluruh kelopak bunga mawar segar yang bertaburan di ranjang tersebut.
Raya merasa itu semua tidak pantas diberikan kepadanya karena pernikahannya dan Reno tidak didasari oleh cinta. Melainkan sebuah permainan yang tidak diketahui entah siapa yang menjadi pemimpin dan perancang permainan tersebut.