Bab 9

1352 Words
Raya 9 Ingin rasanya Reno berteriak sekeras yang dia mampu, melampiaskan rasa sakit dan kesal yang bercampur menjadi satu melihat respon yang diberikan gadis pujaannya. Tidak ada sedikitpun niat Raya untuk meliriknya apalagi menyetujui keinginannya untuk bekerja sama. Sedangkan selama ini Reno berusaha menolak banyak gadis yang mendekatinya. Namun Kenapa berbeda dari Raya? Gadis itu malah cenderung membenci dan enggan untuk berdekatan dengannya. Apakah selama ini caranya salah dalam mendekati gadis itu, padahal dia sudah susah payah mencari perhatian dan mencari begitu banyak waktu agar mereka bisa berduaan? Namun semuanya tidak cukup bagi Raya. Entah tidak cukup atau semua yang dilakukan Reno itu tidak benar sama sekali. "Tuhan ... apalagi yang harus aku lakukan untuk menaklukan dia? Serendah itukah aku di matanya sampai-sampai tidak memiliki kesempatan sedikitpun untuk mendekat apalagi memiliki hatinya?" keluh Reno menghabiskan tegukan terakhir wine yang ada di tangannya. Rasanya dia ingin menghabiskan satu botol lagi, tapi sudahlah. Dia tidak ingin mabuk malam ini. Dia tidak ingin kondisinya yang tak sadarkan diri malah menyakiti Raya nantinya. "Sialan, apalagi yang diinginkan nenek sihir ini," gerutunya ketika mendengar suara ponsel berdering menunjukkan nama sang ibu sebagai pemanggil. "Kamu di mana? Sekarang cepat pulang dan jelaskan kepada Mama apa yang kamu lakukan di acara pernikahan Geo?" Reno meringis mendengar suara omelan sang ibu. "Memangnya kenapa Ma? Tidak kah boleh aku menghadiri pernikahan sahabatku sendiri? Seperti yang Mama ketahui Geo itu memiliki peran besar di perusahaan." "Bukan itu masalahnya, kamu jangan mencoba-coba untuk menyembunyikan pernikahanmu dengan office girl itu. Mama sudah mengetahui semuanya, cepat pulang dan jelaskan apa maksud dan tujuanmu menikahi gadis Miskin itu." Panggilan berakhir, Reno hanya bisa membuka mulutnya tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun karena sang Ibu tak menerima segala penjelasan yang akan dia berikan. Semakin kesal sajalah Reno mendapati kenyataan tersebut. Bisa-bisanya sang Ibu menghubunginya dalam keadaan hati yang kacau seperti sekarang. Semakin memusingkan kepala Reno yang rasanya ingin pecah memikirkan Raya. Dia merasa dirinya jauh lebih dari segala-galanya dibandingkan dengan Geo, tapi Gadis itu malah bertekuk lutut kepada sahabatnya itu. "Haruskah aku membeli seluruh isi dunia agar kamu percaya kalau aku melakukan semua ini karena mencintaimu, Ray?" teriak Reno melampiaskan seluruh rasa kesalnya. Tidak peduli semua tatapan tamu yang ada di klub mengarah kepadanya, yang terpenting rasa sesak di dadanya berkurang dan dia bisa menarik nafas lega, bebannya sedikit terangkat karena teriakan barusan. "Mas kalau mau mencari keributan mending jangan di sini. Anda mengganggu kenyamanan para pengunjung lain," tegur salah satu waitress di klub tersebut. "Benarkah demikian? Mereka semua terganggu karena ulahku?" tanya Reno, dengan kedua alis terangkat. "Mohon maaf sebelumnya, Mas. Kami tahu siapa Mas, dan apa hubungannya Mas dengan pemilik klub ini. Tapi tolong dengan amat sangat jangan membuat keributan di sini. Hanya karena tidak enak kepada Mas sehingga kami kehilangan begitu banyak pelanggan tentunya tidak sebanding dengan kerugian yang akan dialami oleh klub ini. Jadi tolonglah dewasa sedikit dalam bersikap, jangan mentang-mentang club ini milik seseorang yang dekat, Mas bisa bertindak pula semena-mena tanpa ada aturan sama sekali." "Ya, ya, Reno bangkit dari tempatnya duduk. Beranjak pergi meninggalkan waiters klub tersebut. Dia tidak ingin memperpanjang masalah di sana yang ada nantinya dia tidak akan diizinkan lagi berkunjung. Kemana lagi nanti dia akan melampiaskan rasa rasa kesal, atau penatnya dalam bekerja. Tidak mabuk sebenarnya, tapi Reno mengetahui kalau dirinya kini di bawah pengaruh minuman keras sehingga dia mengendarai mobil dengan sangat perlahan. Seraya berpikir kemanakah dirinya kini akan pulang. Ke tempat raya yang kini berada di hotel atau ke rumah kedua orang tuanya yang kini sedang menunggu dirinya untuk menjelaskan apa yang terjadi di acara pernikahan Geo. Sudah ada pertanyaan tentang Geo, itu artinya kabar pernikahannya sudah sampai ke telinga kedua orang tuanya tersebut. Tinggal bagaimana caranya Reno menjelaskan hal semua hal itu tanpa harus menyeret Raya ke dalam masalah. Dia sadar kedua orang tuanya pasti akan ikut mengejar Raya karena sebentar lagi dia harus menikah dengan Vika. Sungguh pernikahan yang hanya mementingkan saham dan kerjasama perusahaan saja, tidak memikirkan bagaimana perasaannya yang selama ini sudah lelah di setir dan ditentukan jalan hidup. Reno akhirnya mematikan ponsel yang dia miliki ketika memutuskan untuk kembali ke hotel. Dia ingin melihat bagaimana keadaan Raya dan berharap gadis itu sudah memiliki jawaban atas kesepakatan yang baru saja dia tawarkan. Reno juga memiliki satu permintaan di dalam hatinya, semoga Raya tidak pernah mengetahui apa yang membuat Geo pergi dari acara pernikahannya. Tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti hal itu terbuka. Kalau boleh Reno meminta kenyataan itu boleh disampaikan kepada Raya, tapi setelah mereka memiliki buah hati dan dia berhasil menaklukkan gadis tersebut. Di kamar hotel sana Raya semakin pecah saja tangisnya. Beberapa saat yang lalu dia mendapatkan pesan singkat dari sang ayah, meminta tolong kepadanya agar menuruti saja seluruh keinginan Reno karena sang ayah menganggap Reno itu merupakan laki-laki yang bertanggung jawab dan baik. Buktinya mau menggantikan posisi Geo, baik sebagai pengantin pria pengganti, maupun membayar seluruh tagihan pernikahan. Wanita mana yang sanggup menerima pernikahan secara mendadak dengan laki-laki yang selama ini membuatnya kesal setengah mati? Tentu saja Raya merupakan salah satu gadis yang tidak pernah mau menerima hal tersebut. Namun panggilan masuk dari sang ayah mungkin bisa mengubah pola pikirnya. "Kamu sudah membaca seluruh pesan yang Ayah kirimkan, bukan? Jadi tolong bersikap baik kepada Pak Reno. Taklukan dia bahkan kamu bisa menguasai seluruh hartanya jika menerima dengan ikhlas pernikahan kalian. Apalagi kamu bisa menghadirkan buah hati untuknya. Ayah dan ibu bisa membayangkan kehidupan yang sangat layak di depan nanti untukmu dan adik-adikmu. Kami juga bisa melihat adik-adikmu tumbuh dengan baik, serta bersekolah di tempat yang layak . Serta bisa menggunakan ijazahnya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih darimu." "Yah …" "Tolonglah Raya, jangan pentingkan egomu. Ini merupakan kesempatan yang tidak bisa kamu sia-siakan, dan satu hal yang harus kamu ketahui besok pagi ibumu akan datang ke hotel untuk memeriksa apakah kamu sudah memberikan hak Pak Reno atau belum." "Yah, apa-apaan ini? Rasanya hal ini tidak perlu Ayah ucapkan kepadaku, itu merupakan hal sensitif dan pribadi. Sampai hati Ayah memaksaku melayani Pak Reno dan ingin pula memastikan apakah aku sudah melakukannya atau tidak. Berapa rupanya bayaran yang ditawarkan Pak Reno kepada Ayah, sampai-sampai rela berkata tidak baik kepada putri Ayah sendiri? Bukankah aku ini merupakan pelita yang berharga bagi Ayah, kenapa sekarang justru berbalik dan seakan memperjual belikan aku untuk kehidupan kalian!!" Cecar Raya, tidak terima karena merasa sang ayah sudah terlalu jauh melangkah dan tidak menghargainya sama sekali. Jika seandainya sang ibu yang mengucapkan kata-kata demikian mungkin Raya bisa sedikit menerima, meskipun tetap sakit hati mendengarnya. Namun ini sang ayah, seorang pria yang merupakan cinta pertamanya di dunia ini malah memaksanya untuk melayani Reno. Bahkan berambisi pula menguasai harta yang pria itu miliki. Saya mengakui jika menuruti keinginan Reno dia tidak akan lagi susah memikirkan obat untuk sang adik yang tidak akan pernah berhenti dikonsumsi setiap harinya. Dia juga bisa memberikan tempat tinggal yang layak sekaligus pendidikan yang terbaik. Namun sayangnya dia tidak menginginkan hal tersebut. "Ayah tahu yang diinginkan Pak Reno hanyalah anak dariku, setelah itu aku bebas menentukan hidupku sendiri mau bagaimana dan akan melakukan apapun. Dia tidak akan peduli jadi Ayah tahu kan, Apa maksudku?" "Tahu, Pak Reno juga sudah mengatakannya kepada kami. Kamu cukup menghadirkannya anak dan menentukan hidupmu, bukan? Untuk apa kamu bingung dan malah merasa takut dia akan meninggalkanmu? Cukup lahirkan anaknya dan katakan kepadanya sampai kapanpun kamu tidak akan pernah meninggalkannya dan memilih menjadi istrinya seumur hidupmu. Lakukan kalau memang kamu menyayangi kami semua!" Raya memejamkan matanya kuat, ingin rasanya dia mengumpat dan melemparkan ponsel tersebut ke lantai. Melampiaskan rasa sakit hatinya atas paksaan dan desakan yang dilakukan oleh sang ayah. Seberharga itukah bagi mereka semua harta dan kedudukan sampai-sampai menekannya seperti ini? Raya juga tidak habis pikir kenapa Reno bisa terlalu jauh mendekati kedua orang tuanya bahkan telah menjalin kesepakatan tanpa dia ketahui sama sekali. Adilkah hidup ini? Rasanya tidak. Raya tertawa di dalam tangisnya yang semakin menusuk ke relung hati. Meratapi sekaligus menertawakan nasibnya yang amat buruk karena ulah Geo, pria yang katanya telah jatuh cinta padanya pada pandangan pertama, sekaligus pria yang akan menjadi suaminya hingga maut memisahkan mereka berdua. Nyatanya tidak, pria itu malah menawarkan neraka dunia kepadanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD