Bab 10

1485 Words
Raya 10 "Mama sudah yakin kamu pasti akan pulang ke hotel ini untuk menemui wanita miskin itu." Meliana mendekati Reno yang kini sedang menunggu pintu lift terbuka pria itu benar-benar terkejut melihat keberadaan sang ibu di sana. Bisa-bisanya wanita yang melahirkannya ke dunia itu mengetahui di mana hotel tempat raya dan dirinya akan menginap. "Kamu jangan tanya kenapa dan mengapa Mama berada di sini jawabannya hanya satu, kamu tidak akan bisa membohongi seorang Meliana. Apapun yang kamu lakukan tidak akan pernah bisa luput dari laporan orang suruhan Mama. Kemanapun kamu akan menyembunyikan gadis miskin itu, tetap saja keberadaannya bisa Mama temukan. Meskipun kamu menyembunyikannya ke dalam lubang semut sekalipun, kekuatan seorang Meliana bisa mengendus hingga inti perut bumi. Kamu dengar ..." "Apa yang akan Mama inginkan dariku?" Reno berkacak pinggang mengintimidasi Meliana yang berjalan mendekat ke arahnya. Dia berusaha keras agar tidak lemah di depan wanita itu. Dia juga ingin melindungi Raya agar tidak menjadi sasaran empuk kemarahan sang Ibu. Reno sadar bahwasanya pernikahannya dan Raya akan menjadi permasalahan yang akan berakhir seperti bola panas, bergulir ke sana kemari menghancurkan apapun yang akan menghalanginya. "Ikut Mama pulang ke rumah atau orang suruhan Mama yang sedang berjaga di depan pintu kamar VIP Raya menerobos masuk dan menyakiti istrimu itu!!" ancam Meliana, dengan mata yang menyipit. Satu sudutnya bibirnya pun terangkat mengejek pergerakan Reno yang terkesan lambat dan lalai dalam menjaga istrinya. Padahal pria itu mengetahui Meliana tidak pernah menyukai Reno menjalin hubungan dengan wanita yang memiliki tahta rendah, tak sebanding dengan keluarga mereka. Bahkan tujuannya menikahkan Reno dengan Vika hanya untuk menaikkan saham perusahaan. Jika seandainya tidak demikian, Meliana juga tidak menginginkan Reno menikah dengan wanita ugal-ugalan seperti Vika. Disini bukannya Meliana tidak mengetahui bahwasanya sang calon menantu merupakan wanita yang dengan mudahnya berganti-ganti pasangan, tapi kerja sama bisnis lebih menggiurkan dibandingkan harga diri seorang wanita. Reno menggelengkan kepalanya, masih menolak keinginan sang Ibu berharap ada sedikit kelonggaran untuknya agar memiliki waktu berbicara bersama Raya, setelah itu bebas ibunya ingin mengajaknya pulang atau bagaimana Reno tidak masalah sama sekali. Asalkan kesepakatan antara dirinya dan Raya bisa terjalin dengan baik dan ada kesepakatan yang pasti agar dia tidak kehilangan Raya. "Aku akan mengikuti keinginan Mama setelah aku berbicara dengan istriku. Jadi Mama bisa pulang terlebih dahulu, nanti aku akan menyusul." "Tidak bisa, kamu ikut Mama terlebih dahulu atau Raya akan menghilang dari hadapanmu dan muka bumi ini. Seperti yang kamu ketahui Mama bisa melenyapkan manusia tanpa ada jejak sama sekali. Itupun kalau kamu tidak lupa pada sosok istri kedua ayahmu yang kini tinggal nama, tak ada seorangpun yang mengetahui di mana kini dia berada," bisik Meliana agar tidak ada yang mengetahui pembicaraannya dengan sang buah hati. Reno menghela nafas panjang, mengusap kasar wajahnya. Ingin rasanya dia memaki sang ibu yang selalu saja menyetir kehidupannya dan menggunakan penyakit yang wanita itu derita sebagai ancaman. Bukan hanya itu, Meliana juga suka menggunakan uang yang dia miliki untuk menghancurkan orang lain. Sebagai seorang anak, meskipun sifat dan perilaku Meliana sangat buruk tetap saja kemanapun Reno akan lari dan pergi, Meliana tetaplah wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Dia harus turut, tunduk, dan patuh atas semua permintaan wanita paruh baya tersebut. Reno berbalik dan kembali ke arah parkiran, diikuti Meliana dari belakang. "Sebelum aku pulang, tolong pastikan hotel ini steril dari orang suruhan Mama," ucap Reno sebelum masuk ke mobilnya. "Tentu saja, kamu tidak perlu khawatir karena seorang Meliana tidak pernah mengingkari janjinya." Meliana ikut masuk ke mobil Reno. Setelah sampai di mobil, barulah dia memerintahkan kepada orang suruhannya untuk pergi, tidak dulu mengusik Raya sampai dia dan Reno selesai berbicara. "Sekarang jelaskan apa maksudmu menggantikan Geo menjadi suami office girl miskin itu? Mama tidak ingin ada yang mengetahui pernikahanmu terjadi dan lebih buruknya lagi wanita itu seorang office girl, pembantu, wanita rendahan yang bekerja di perusahaan kita. Kamu bisa-bisanya …" "Ma, tolong jangan pernah merendahkan Raya di hadapanku! Jika seandainya memang Mama ingin pernikahanku dan Vika berjalan dengan baik!" Ancam Reno balik, ingin mengendalikan Meliana agar tidak mengusik kehidupannya lagi. "Ah, ini cukup menarik. Ancamanmu sangat-sangat menarik, jadi kamu tidak mempermasalahkan lagi pernikahan dengan Vika asalkan Mama tidak mengganggu istrimu, begitu?" "Ya, begitulah kira-kira," keluh Reno menyandarkan punggungnya di kursi. Tidak lagi memiliki pilihan lain untuk menyelamatkan rumah tangganya yang baru berusia beberapa jam, Reno tidak ingin Meliana menyakiti Raya karena di sini dialah yang salah dan egois. Ingin mendapatkan wanita itu. Bukan Raya yang bersikeras ingin menjadi istrinya sehingga Reno akan melakukan apapun agar tidak diminta bercerai dari Raya. "Kalau begitu kamu harus bersikap baik di depan calon mertuamu, usahakan seluruh saham dan rekan bisnis orang tua Vika bisa masuk perusahaan kita, naikkan saham perusahaan dua kali lipat dari sekarang. Sembunyikan terlebih dahulu pernikahanmu dari publik dan jadikan Vika satu-satunya istri di depan kolega bisnismu. Jika kamu berhasil meraih dua poin tadi, kamu bisa menceraikan Vika dan mempublikasikan hubunganmu dengan office girl kerendahan tersebut," tutur Meliana sebelum keluar dari mobil Reno. Rasanya tidak perlu mengajak Reno turun dan pulang, jika kesepakatan telah ditemukan. "Ingat, kamu Mama beri waktu 6 bulan untuk melakukannya. Jika seandainya belum sanggup, ceraikan Raya dan cari gadis lain yang setara dengan keluarga kita barulah kamu bisa bercerai dari Vika!" Menutup pintu mobil Reno dengan kasar. Meliana benar-benar pusing menghadapi Reno yang dianggap memiliki selera rendah, tidak tahu mana yang menguntungkan untuk perusahaan mereka.. Memukul setir mobil dengan kuat, Reno melampiaskan amarahnya kepada sang Ibu. Namun dia bisa bernapas sedikit lega, karena tidak ada perintah untuk menceraikan Raya dalam waktu dekat ini sehingga Reno bisa memutar arah mobilnya dan kembali ke hotel untuk menemui sang istri. Membicarakan kembali kesepakatan yang baru saja dia buat. Berharap Raya menerima dan bisa memulai kehidupan yang baru dengan gadis itu. "Kamu belum tidur?" tanya Reno begitu dia masuk ke kamar hotel, melihat Raya yang masih duduk di tempat tadi. Belum beranjak sama sekali, tapi dia bisa melihat kamar yang tadi ditinggalkan dalam keadaan rapi kini sangat berantakan. Barang-barang juga bertebaran di lantai seakan baru saja ada keributan besar di sana. Tidak perlu bertanya apa penyebabnya, Reno sudah mengetahui itu semua karena ulah Raya. Lihatlah kini riasan Wanita itu sudah tak berbentuk lagi karena ulahnya yang dari tadi mengusap kasar wajahnya untuk menghapus air mata yang tak kunjung berhenti. "Mana mungkin aku bisa tidur di bawah tekanan seperti sekarang. Kamu bisa-bisanya membujuk orang tuaku untuk memberikan begitu banyak kemewahan jika aku memberikanmu anak," jawab Raya, tanpa menatap Reno sama sekali. Rasanya dia benar-benar jijik melihat wajah atasannya tersebut. Biarlah tidak sopan, Raya tidak peduli sama sekali karena Reno dan keluarganya sudah amat sangat berlaku seenaknya saja kepadanya. "Saya tidak membuat kesepakatan apapun, hanya ayahmu saja yang berharap demikian. Jadi sebagai menantu tidak ada salahnya saya memberikan yang terbaik untuk mertua saya." "Dia bukan mertuamu dia merupakan ayah dan ibuku. Lupakan semua ini dan aku mohon potong saja gajiku 80% untuk menyicil segala hutang piutang ini. Tidak apa-apa, nantinya aku bisa kerja paruh waktu untuk membayar kehidupan kami sekaligus membeli obat untuk adikku." Raya menatap nanar pada Reno, dia juga beralih bersimpuh di hadapan pria itu. Memohon agar segera dibebaskan dari segala jerat hubungan yang kini terjalin di antara mereka berdua. "Tidak bisa, saya tidak akan pernah melepaskanmu sebelum saya memiliki anak." "Tapi kenapa? Apa untungnya kamu memiliki anak dari wanita rendahan sepertiku?" Wajah Raya terangkat. "Tidak ada, hanya saja saya ingin mendapatkan keuntungan dari segala kerugian yang telah saya alami." Melipat kedua tangannya di depan d**a. "Dan saya berubah pikiran. Kalau memang kamu mau lepas dari semua ini, kamu harus melunasinya saat ini juga, bagaimana?" Reno membungkukkan tubuhnya agar bisa melihat Raya dari dekat." "Jadi kamu ingin buah hati dariku kamu ingin anak dariku? Ingin penerus dariku?" Reno mengganggukkan kepalanya, meskipun dia tidak mengetahui apa maksud Raya mempertanyakan hal tersebut kepadanya. Gadis itu berusaha keras untuk berdiri mengabaikan segala kesedihan dan luka yang kini dia alami. Dia juga membayangkan kini Gio tengah mencibir dan menertawakannya atas kegagalan pernikahan mereka. Rasanya memang amat sakit, tapi inilah yang Raya butuhkan untuk mendorongnya agar mau melayani keinginan Reno. Perlahan Raya menarik turun resleting gaun pengantin yang dia kenakan sehingga teronggok di kedua kakinya. Menyisakan dua pakaian dalam yang masih menutupi tubuhnya. Reno gelagapan. Melihat gerakan Raya yang begitu perlahan, melangkah. Mendekat padanya agar lepas dari gaun pengantin. Lambat pula membuka seluruh pakaian yang tersisa, sehingga tak ada lagi penghalang bagi Reno untuk melihat setiap jengkal kulit mulus yang dia miliki. Reno mundur. Ketika Raya menyeret langkahnya, semakin mendekat. "Ayo lakukan, kalau memang anak yang kamu inginkan." Begitu nanar tatapan Raya kepada Reno. Menunjukkan betapa besar sakit dan luka yang kini menyiksanya. "Tak mau?" Raya tertawa. Berbalik membaringkan tubuh polosnya di ranjang. Membiarkan Reno melihatnya dan melakukan apapun yang pria itu inginkan. Raya tidak akan marah apalagi menolak. Dia akan pasrah karena Reno sama saja sudah membeli dirinya dari kedua orang tuanya. Mata Reno terpejam kuat. Melihat apa yang Raya lakukan. Tidak, bukan ini yang dia inginkan. Bukan begini caranya dia menguasai Raya secara utuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD