Lampu jalanan menyambut ketika mobil Tian berhenti di depan gedung apartemen tinggi yang gedung kacanya memantulkan cahaya kota. Lampu-lampu lobi terlihat hangat dari kejauhan. “Sudah sampai,” Tian berkata sambil mematikan mesin. Senyum hangatnya muncul seperti biasa, membuat Victoria terdiam sejenak. Dia hampir lupa betapa nyaman berada di dekat pria itu. Tian memiringkan tubuhnya sedikit. “Kau yakin tidak mau aku antar naik?” Victoria segera menggeleng. “Tidak usah. Aku ada janji bertemu temanku sebentar. Dia tinggal di area belakang. Aku cuma mampir restoran tadi karena lapar,” katanya seraya tersenyum kecil. Tian menatapnya sejenak, seakan ingin memastikan. “Baiklah. Tapi hati-hati, Vic.” Dia berpesan. Victoria membalas dengan senyum kecil. “Iya. Kamu juga hati-hati di jalan.” T

