Bab 7.

1198 Words
Sebelum asisten pribadinya Alex mempersilahkan tamu yang datang pengganggu itu, setelah Victoria tak lagi terlihat, seorang wanita masuk dengan langkah anggun tapi percaya diri. Alas stiletto nya menimbulkan bunyi yang khas di lantai marmer itu. “Sayang ….” Suaranya manis, nyaris dibuat-buat. “Kau sudah datang ke kantor sepagi ini. Kan jadi tak sempat sarapan, hm?” Di tangannya, sebuah tas kertas berlogo sebuah rumah makanan mahal tergantung ringan. Alex yang sudah kembali duduk di kursinya dengan tenang, menegakkan tubuhnya, menatap wanita itu sekilas tanpa benar benar menatap. “Rana,” ujarnya datar. Hanya satu kata, tapi cukup untuk menegaskan jarak di antara mereka. Rana Christy, wanita yang selalu tampil sempurna. Rambut panjangnya bergelombang halus, bibirnya merah muda berpadu dengan dress putih gading yang selutut. Dia menaruh kantong keras itu di atas meja Alex dengan senyum yang dia usahakan lembut, meski dia tahu tak akan pernah lagi mempan untuk Alex yang berubah menjadi pria sedingin kulkas empat pintu. “Aku mampir ke toko roti kesukaanmu. Kaj belum sarapan, kan?” Nada suaranya dia jaga agar tetap lembut, tapi sorot matanya menyimpan harapan, atau mungkin juga hanya sekadar pencitraan. Pria itu tak menjawab. Dia hanya menutup tablet di tangannya dan menatap pemandangan kota di balik dinding kaca kantornya. Tangannya bertaut di depan d**a, ekspresinya datar, sama sekali tak menunjukkan kehangatan barang sedikit pun. “Ini bahkan belum jam delapan,” katanya tenang tapi tetap tajam. “Kau datang bukan karena khawatir aku belum sarapan, kan?” Sindiran itu halus, Alex paham betul kedatangan Rana selalu dengan maksud. Rana terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana. “Kau terlalu curiga, Alex. Aku hanya ingin … melihatmu sebentar. Apa itu tidak boleh?” Dia bergerak mendekati Alex, tapi pria itu bergerak menjauh, menjaga jarak dari wanita itu tanpa kata. Tatapan Alex mengarah dingin padanya yang membuat Rana terdiam. Ada dingin yang berbeda di mata suaminya hari ini, dingin yang bukan karena marah, tapi karena sudah terlalu lama kehilangan rasa. Rana tahu itu, tapi dia menolak untuk menerima kenyataan itu. “Kalau ini tentang makan pagi,” ucap Alex akhirnya sambil mengambil berkas di meja, “biarkan staf yang mengantarnya lain kali. Aku tidak ingin orang berpikir direktur menerima tamu pribadi di jam kerja,” lanjutnya dengan nada datar. Nada itu membuat Rana mematung sesaat. Bibirnya menegang, tapi senyum tetap dipaksakan. “Baiklah,” katanya lirih, “aku cuma ingin berbuat sesuatu yang kecil untukmu. Ternyata, itu pun salah.” Dia menatap Alex sejenak, mencari sedikit celah empati yang dulu selalu dia dapatkan dengan mudah, tapi yang dia dapat hanyalah pantulan dingin dari mata pria yang dulu pernah dia kenal penuh kehangatan. Rana menarik napas panjang, dan menganggukkan kepalanya, paham kalau Alex belum bisa diajak bicara lagi. Dia lalu melangkah keluar, meninggalkan wangi parfumnya tertinggal di udara, aromanya lembut tapi hambar. Begitu pintu menutup, Alex menatapnya sebentar, sebelum berkata pelan pada dirinya sendiri, “Hal kecil memang tidak pernah cukup, Rana. Tidak dari sejak kejadian itu.” *** Lift berdenting saat pintunya terbuka di lantai tujuh. Suara keyboard, dering telepon, dan langkah kaki karyawan terdengar bersahut-sahutan di sepanjang lorong. Ruangan tim proyek Valendra Expansion itu sudah mulai hidup, dengan papan digital menampilkan jadwal dan laporan progres mingguan. Victoria melangkah keluar dengan langkah pasti. Penampilannya sederhana tapi berwibawa, rambut terikat rapi, dan tatapan mata yang fokus seperti biasa. Seketika, beberapa anggota tim yang melihatnya langsung berdiri atau melambai singkat. “Pagi, Kak Vic!” seru Diana, bagian desain, sambil menutup layar laptopnya cepat-cepat dan menghampiri Victoria. “Pagi, semuanya,” jawab Victoria datar tapi sopan, tanpa kehilangan sedikit pun ketenangan dalam suaranya. Dia lalu menatap layar besar di dinding ruangan yang menampilkan laporan anggaran. “Gimana bos baru, Kak?” Diana bertanya antusias. Victoria menatapnya dan menggeleng. “Nanti gosipnya, Di. Kita punya tugas yang harus selesai sore ini,” katanya tegas. Victoria mengedarkan pandangannya seolah memberikan peringatan untuk tidak bertanya macam-macam tentang bos baru yang membuat mereka penasaran. “Bagaimana progress perizinan vendor?” tanyanya cepat pada Lira, staf yang duduk paling dekat dengan pintu. “Masih menunggu revisi tanda tangan dari pihak finance, Kak,” jawab Lira tergesa. Victoria mengangguk pelan. Dia kemudian menatap ke arah Fina yang sedang memeriksa spreadsheet di komputernya. “Fina,” panggilnya lembut tapi tegas. Fina menoleh. “Ya, Kak?” “Segera buat laporan keuangan sementara untuk minggu ini. Masukkan juga transaksi tambahan yang aku kirim lewat email semalam. Kita harus presentasikan data pembelanjaan sebelum jam empat,” katanya. “Baik, Kak. Sekarang juga,” jawab Fina sambil berdiri, mencatat cepat di notepadnya. Victoria berjalan menuju mejanya yang terletak di sudut, ruangan kaca kecil dengan pintu geser, bukan kubikel biasa. Dari sana, dia bisa melihat seluruh timnya bekerja. Dia membuka laptop, lalu mulai memeriksa pesan dari pihak keuangan yang masih menunda pencairan dana. Sesekali, Victoria menghela napas dalam. Dia masih memikirkan pertemuannya dengan direktur baru tadi, pria yang ternyata adalah Alex Valendra. Tidak ada yang tahu bahwa pertemuan itu mengguncang pikirannya lebih dari yang dia perlihatkan. Di luar, timnya mulai bergerak cepat. Seperti biasa. Victoria percaya pada tim yang sudah bekerjasama dengannya dalam dua tahun belakangan dan menangani proyek besar dengan hasil yang memuaskan. “Pastikan semua data transaksi pribadi yang kupakai tercatat rapi,” kata Victoria dari balik kaca, nadanya tegas tapi tidak meninggi. “Baik, Kak,” jawab Fina tanpa menoleh. Victoria menatap layar laptopnya lama, sebelum berbisik pelan pada dirinya sendiri, “Kita tidak bisa menunggu mereka lagi. Kalau harus maju sendiri, ya kita maju.” Percuma saja bukan jika menunggu ACC yang mana salah satunya adalah pelaku yang menaruh dendam pada tim. Kesuksesan yang dibawakan Victoria memicu beberapa kegaduhan di perusahaan. Tak sedikit yang menuduh, membicarakannya, bahkan mengatainya sebagai simpanan bos. Victoria tak peduli, dia hanya peduli pada proyek yang tengah dia kerjakan. Ada tangung jawab besar di proyek itu maka Victoria harus menjaganya dengan baik sebab bos percaya padanya. Mengenai simpanan bos, Victoria memang terbilang dekat dengan direktur sebelumnya, Brian Valendra, siapa sangka kalau pria yang terbilang ramah pada karyawan itu akan pergi ke perusahaan cabang yang lebih memerlukannya. Memang sempat berpamitan, tapi tidak ada kabar apapun sebagai penggantinya yang ternyata saudaranya sendiri. “Dia lebih menyebalkan daripada Direktur Brian. Sialnya, kenapa aku harus berurusan lagi dengan pria itu? Ciuman sembarangan? Sialan kau, Vic!” Dia mendumel sambil mengerjakan tugasnya. Mencak mencak sendiri padahal diam-diam menikmati. “Dasar gila!” Rutuknya ketika benaknya mengingat bagaimana ciuman Alex lihai memainkan bibirnya. “Tian saja tak begitu.” Tanpa sadar dia membandingkannya dengan sang kekasih. Baru saja menyebut namanya, ponsel Victoria berbunyi, ada pesan masuk. Dia melihatnya sekilas lantas tersenyum dan mengambil ponselnya. [Tian: Nanti makan siang bersama, ya?] [Victoria: Oke. Tentu. Di luar?] [Tian: Boleh. Aku yang tentukan, ya. Kemarin aku nemu tempat yang bagus. Aku yakin cocok buatmu, Sayang.] Senyum Victoria mengembang membaca pesan itu. Walau hubungan tak mendapat restu, selama dia bisa bersama Tian semua akan baik-baik saja. Begitu pikir Victoria. [Victoria: Wah, aku penasaran seperti apa itu?] [Tian: Rahasia.] Pesannya disertai emoticon tutup mulut. Victoria terkekeh. [Tian: Kutunggu di tempat biasa. See u, Sayang. Selamat kerja. Semangat.] Senyumnya semakin mengambang saja. Pesan singkat seperti itu sudah cukup memberikan energi pada Victoria tanpa tahu ada seseorang yang tersenyum geli melihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD