Bab 8.

1229 Words
“Jangan terlalu kentara, Nona Proyek,” sindiran halus yang membuat Victoria seketika mengangkat wajahnya dan mendelik tajam. “Sialan.” Seketika saja dia mengumpat. “Apa kau?” Sarkas sekali dia membalas sapaan sosok yang sejak tadi memperhatikan dalam diam. Sosok tinggi dengan pakaian formal yang rapi itu mendekat. Di tangannya terdapat gelas kertas yang beraroma kopi. “Mau minta maaf telat info,” katanya meletakan gelas kertas itu di meja Victoria dengan gerakan sopan. Dia mendorong gelas itu dengan tangan kanan, tangan kirinya mengikuti di belakang tangan kanan. Victoria masih menatap pria itu tajam. Perawakan tinggi dengan wajah biasa saja tapi memiliki aura manis yang membuat lebah saja tergoda untuk hinggap. “Tumben.” Victoria tak melepaskan tatapannya dari pria itu meski tangannya mengambil kopi tersebut. Pria itu berdiri dengan tangan saling bertumpu di depan tubuhnya. Dia seperti dapat hukuman setelah mengakui kalau sudah berbuat salah. “Hm. Direktur Brian juga tidak memberikan perintah. Lagi pula, adiknya itu datang seperti hantu,” lapor pria itu, namanya Kaladin sering disapa Kala. Dia adalah asisten pribadinya Alex, sosok yang dihujani tatapan tajam oleh Victoria sebelum pergi dari ruangan sang bos tadi. Gaya laporannya juga sok akrab, seperti teman yang membawa kabar gosip. Kala mengatupkan mulutnya saat Victoria menatap tajam. Dia bersandar santai. “Seenggaknya kau kasih tau aku kalo hari ini ada bos baru. Kau tak tahu berapa mengenalkannya itu si bos,” katanya dengan amarah yang tertahan. Victoria masih mengendalikan suaranya agar gak menarik perhatian bawahannya yang sibuk, ada yang mengintip juga karena penasaran ada apa gerangan. Kedekatan Kala dengan Victoria itu bukan hal biasa, tapi sudah luar biasa sebab nyaris selalu terlihat bersama. Rumor tentang mereka bahkan merebak menjadi bumbu di kantor. Belum lagi cerita karangan tentang cinta segitiga antara bos, asisten dan koordinator proyek yang menjadi cerita paling menyebalkan bagi Victoria tapi dia juga memanfaatkan kedekatan itu. Ketikan di meja kerjanya membuat Victoria menatap Kala. “Hati-hati sama bos baru, Vic. Dia sepertinya mengincarmu,” katanya berbisik. Dahi Victoria mengerut mendengar apa yang dikatakan Kala. “Dan kau harus hati-hati kalau bos baru kita itu agak lain.” Kala menambahkan. “Ngomong yang bener, Kal. Gayanya udah kayak banci kau,” sembur Victoria kesal melihat gaya botie Kala yang disengaja itu. Kala tertawa, sebuah tawa maskulin yang menghipnotis kaum hawa. Buktinya Diana mesam mesem di kubikelnya bersama Lira. Dan secepat itu pula gaya Kala berubah menjadi sosok tegas layaknya kepercayaan orang atas. “Intinya, hati-hati sama Direktur Alex, Vic,” katanya mengulangi. Victoria menatapnya tapi satu notifikasi email yang masuk terlihat dari ekor matanya di layar laptop itu menarik perhatian. Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat sedikit. Victoria menatap layar laptopnya dengan fokus. Anggaran yang harusnya turun dua hari lalu masih tertahan. Dia mengetik cepat, menyiapkan laporan tambahan untuk diserahkan ke bagian keuangan siang nanti. Di luar kaca, timnya bergerak dengan ritme yang teratur. Dia sibuk membaca email masuk sampai tak mempedulikan Kala yang masih berdiri di tempatnya. Pria itu juga santai saja seakan hendak menyampaikan sesuatu lagi. “Tapi, kalau kau bisa menaklukannya, aku akan kasih mau hadiah,” katanya terdengar begitu jelas di telinga Victoria. Bola matanya bergerak lebih cepat daripada kepala untuk menatap Kala yang nyengir tanpa dosa. “Serius, Vic. Aku kasih hadiah kalo bisa naklumin bos baru.” Sebelum Victoria meleparkan kotak tisu di mejanya, Kala sudah lebih dulu kabur, bahkan menutup pintu geser ruangannya. “Beneran, Vic. Tapi, dia punya pawang.” Sekotak tisu itu menghantam kaca setelah Victoria melemparkannya sekuat tenaga tapi Kala sudah lebih dulu menghilang, bahkan dari lantai kantornya Victoria tapi tawa Kala terbayang di benaknya. “Sialan. Dia menyarankan aku jadi pelakor? Dasar gila!” Dia lantas komat kamit merapalkan sumpah serapahnya tanpa suara. Kaladin sialan. Kenapa dia berkata demikian padahal dia tahu kalau Victoria itu cinta mati pada Tian, pun sebaliknya. “Fin, masuklah. Bawa hasilnya,” perintah Victoria pada asistennya itu. Fina menurut, dia membawa laporannya. Victoria membukanya, melihat hasilnya dalam diam. “Pembayaran termin kedua masih dalam proses. Kami akan kirimkan dokumennya hari ini juga.” Fina melirik ke arah Victoria, dan wanita itu mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa. Semua terlihat profesional di luar, tapi di dalam d**a Victoria, sesuatu masih mengganjal. Bayangan wajah pria yang ditemuinya pagi tadi belum juga hilang. Tatapan tajam itu, nada suaranya yang dalam dan menekan. Alex Valendra. Nama yang bahkan kini melekat di papan ruang direksi di lantai sembilan. Lantai yang bahkan terbilang rendah daripada tingkat gedung yang memiliki lima belas lantai itu. Ruangan tim keuangan perusahaan saja ada di lantai sebelas. Sebelumnya, kantor direktur utama ada di lantai tiga belas. Dia meneguk kopi yang mulai dingin di gelas kertasnya, berusaha menepis perasaan tidak nyaman itu. Namun, suara notifikasi laptop memotong pikirannya. “Baiklah. Terima kasih, Fin. Kembalilah, lanjutkan pekerjaanmu,” katanya. Fina mengangguk lantas berbalik dan meninggalkan Victoria yang kembali menatap layar laptopnya. *Email baru: From - Alex Valendra. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard. Seketika udara di ruangan itu terasa lebih berat. Dia membuka pesan itu perlahan, menelan ludah sebelum membaca isi yang hanya terdiri dari dua kalimat pendek, [Naik ke ruang saya. Sekarang. Jangan bawa siapa pun. — A.V.] Victoria terpaku. Tidak ada salam, tidak ada konteks. Hanya perintah. Dia menutup layar laptopnya perlahan, mencoba menenangkan napasnya yang tiba-tiba memburu. “Ada apa lagi?” Pikirnya menerka. Tapi dia menarik napas, membuangnya perlahan. Dia bangun dari duduknya dan keluar dari ruangan. “Liona,” panggilnya pelan pada gadis yang mengisi posisi keuangan proyek itu sebelum pergi. Liona yang tengah mencatat laporan segera menoleh. “Ya, Kak Vic?” “Tolong lanjutkan laporan keuangan itu. Aku akan naik ke atas sebentar, ada panggilan,” katanya. “Baik, Kak. Ada yang bisa saya bantu untuk disampaikan ke finance?” “Tidak perlu. Aku akan tangani langsung,” jawabnya cepat, tapi suaranya terdengar datar. Victoria pun pergi dari sana di bawah tatapan ingin tahu timnya. Dia merapikan blazer-nya, menekan tombol lift dengan tangan yang sedikit bergetar. Begitu pintu terbuka, dia melangkah masuk sendirian. Pantulan dirinya di dinding logam memperlihatkan sosok wanita berwibawa, tapi di balik sorot matanya, ada sesuatu yang menegang. Saat lift bergerak naik, setiap angka yang menyala terasa seperti hitungan menuju sesuatu yang tidak pasti. Sembilan itu dekat. Pintu terbuka. Di balik pintu kaca besar bertuliskan Director, Alex Valendra, Victoria tahu, bukan hanya pekerjaannya yang sedang dipertaruhkan, tapi juga pertahanan dirinya sendiri. “Panggilan lagi?” Suara berat yang berasal dari belakang tubuh Victoria itu membuatnya menoleh. Aroma kopi hitam tercium nikmat. Dia adalah Bella, sekertaris direktur. Wanita cantik itu membawa nampan berisi kopi hitam yang pastinya pesanan sang bos. Tapi, raut muka Bella tampak aneh. “Kau kenapa?” Victoria memang susah akrab dengan Bella sama seperti Kaladin sebab dia sering kali dipanggil Brian sebelumnya. “Nitip ini buat Direktur, Kak Vic. Aku … mmm.” Victoria mengernyit hidung kala tercium bau tak sedap. Belum sempat dia sadar dengan aroma itu, Bella sudah memberikan nampan padanya. “Titip ya, Kak Vic, sekalian masuk. Aku ada —” Bella tak menyelesaikan kalimatnya sebab dia sudah berlari ke arah kamar mandi yang ada di lantai itu. Barulah Victoria paham kalau aroma tak sedap tadi itu berasal dari Bella. “Dasar gila.” Dia bersungut-sungut lalu menatap kopi di tangannya. “Aromanya tercampur dengan kopi tidak, ya? Kalau iya, apa mungkin bisa jadi sianida? Uuuh. Semoga saja.” Victoria membuang napasnya. Dia mengetuk pintu dengan setengah hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD