Mobil itu tidak berhenti di area apartemen Victoria. Justru berbelok ke kawasan yang jauh lebih ramai, lampu-lampu gedung tinggi, deretan valet, dan papan nama restoran yang terlalu dikenal untuk tidak disadari. Victoria menegakkan tubuhnya. “Alex,” katanya cepat, kali ini tanpa embel-embel formal, “aku nggak mau ke sini.” Mobil berhenti mulus di depan restoran elit itu. Seorang valet sudah bersiap. Alex mematikan mesin, sama sekali tidak terpengaruh nada protes di sampingnya. “Aku mau,” jawabnya santai, membuka sabuk pengamannya. “Turun.” “Aku capek. Dan ini mahal,” gumam Victoria kesal. “Aku nggak minta ditraktir.” Alex menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Siapa bilang ini soal traktiran?” Kalimat itu justru membuat Victoria semakin sebal. Dia mendecih, membuka pintu dengan gerak

