48

1307 Words

Mereka keluar dari restoran itu hampir bersamaan, meski Victoria berjalan lebih dulu. Udara malam menyambut dengan dingin tipis, lampu-lampu kota memantul di aspal yang masih basah sisa hujan sore. Victoria menarik napas panjang, seolah ingin membuang sisa sesak di dadanya. Alex tidak berjalan di sampingnya. Dia mengikuti dari belakang, menjaga jarak satu langkahnya cukup dekat untuk mengawasi, cukup jauh untuk tidak terasa menekan. Tatapannya tetap waspada, menyapu sekitar tanpa banyak bergerak. Kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang. Victoria berhenti di tepi trotoar, menoleh. “Aku bisa pulang sendiri.” Alex berhenti juga. “Tidak.” Nada suaranya datar, tanpa emosi, tanpa penjelasan. “Aku serius,” kata Victoria, mulai kesal. “Aku capek, tapi aku nggak selemah itu.” “Ak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD