Cahaya pagi menembus tirai tipis, hangat dan lembut. Victoria menggeliat pelan, menikmati sisa kantuk yang masih menggantung. Tidurnya terasa terlalu nyenyak. Nyenyak yang tidak biasa. Lalu, kesadaran datang perlahan. Ini bukan kamarnya. Mata Victoria terbuka sepenuhnya. Dia menegakkan tubuh setengah duduk, pandangannya berkeliling cepat. Dinding dengan warna netral yang dingin. Lemari besar dengan pintu geser. Jendela lebar menghadap kota. Semuanya terlalu rapi dan terlalu asing baginya. “Astaga,” gumamnya lirih. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ingatannya terputus-putus, mulai dari restoran, mobil, kelelahan yang menumpuk, lalu gelap. Tidak ada potongan lain yang jelas. Dengan napas tertahan, Victoria menyingkap selimut sedikit dan mengintip ke bawah. Pakaiannya masih utuh. Blusnya m

