Rana sibuk menata kotak-kotak makan siang di meja kecil di depan sofa. Gerakannya cekatan, seolah itu sudah rutinitas yang menyenangkan. Sementara itu, Alex duduk di sofa tunggal, dan Victoria memilih duduk di sofa panjang bersama Kalla. Begitu Kalla hendak bangkit, Victoria langsung mencekal tangannya. “Jangan ke mana-mana,” bisik Victoria singkat. Kalla melirik tangannya yang dicekal, lalu menatap wajah Victoria. “Aku sebenarnya—” “Duduk,” potong Victoria pelan tapi tegas. Alex melirik ke arah mereka. “Kalla, kamu bisa makan di luar.” Kalla membuka mulut, tapi Victoria lebih dulu bersuara. “Tidak usah. Dia temani aku.” Alex mengernyit. “Victoria—” “Sebentar saja,” balas Victoria datar, tanpa menoleh. Kalla mengangkat bahu kecil. “Nggak apa-apa, Pak. Saya juga belum lapar-lapar

