Rana tidak berhenti bicara. “Ngomong-ngomong soal Tian,” ujarnya sambil memainkan sendok kecil di tangannya, “dia sibuk sekali, ya, akhir-akhir ini?” Victoria mengunyah lebih lama dari perlu. Dia mengangguk singkat. “Iya.” “Kerjaannya memang menuntut,” lanjut Rana. “Tapi kalian kelihatan baik-baik saja? Aku suka cara dia memberimu perhatian, Vic. Tidak seperti suamiku,” katanya dengan senyum masam di akhir. Alex tetap diam, tidak peduli. “Iya,” ulang Victoria, suaranya tetap datar. Rana tersenyum. “Aku selalu pikir kamu dan Tian itu pasangan yang pas, dewasa, dan tenang.” Kata-kata itu seharusnya menenangkan. Nyatanya, pikiran Victoria justru melayang ke arah yang sama sekali berbeda. Pada malam itu. Pada sentuhan itu. Dan pada dekapan. Malam saat bagaimana Alex begitu dekat, terlal

