80

1329 Words

Sore itu apartemen Alex tidak terasa sunyi seperti biasanya. Suara tawa kecil terdengar dari ruang tengah. Bukan keras, bukan heboh, lebih seperti tawa yang lahir karena sudah terlalu lelah untuk bersedih. Bena duduk lesehan di karpet, stik game di tangan. “Aku bersumpah, ini terakhir. Habis ini aku kalah, aku traktir kopi.” Victoria menurut di sofa, kaki ditekuk, selimut tipis masih menyampir di bahunya. “Kau bilang ‘terakhir’ dari tadi.” Dia meledek “Strategi psikologis,” jawab Bena santai. “Bohong,” Victoria nyengir tipis. Pintu apartemen terbuka. Alex masuk lebih dulu, diikuti Kalla. Jas Alex masih rapi, ekspresinya lelah. Begitu melihat pemandangan di depannya, Bena dan Victoria tertawa kecil, game menyala di layar TV, dia berhenti sejenak. “Kita ganggu?” gumam Kalla. Alex

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD