Piring di hadapan Bena sudah kosong sejak beberapa menit lalu. Dia meletakkannya ke wastafel, lalu duduk di sofa di mana Victoria berada, kali ini tidak untuk makan, tapi memperhatikan. Victoria masih di tempat yang sama. Duduk menyamping di sofa, selimut tipis menutupi sebagian tubuhnya. Wajahnya pucat. Sesekali keningnya berkerut, bibirnya terkatup rapat seperti menahan sesuatu yang tidak ingin dia suarakan. Bena menyipitkan mata. “Vic,” panggilnya pelan. “Kau sakit?” Victoria menggeleng, tapi gerakannya terlalu lambat. “Nggak. Cuma nggak enak badan,” jawabnya jujur. Memang badannya masih terasa pegal, dan area tertentunya sakit. Alex yang sejak tadi duduk tak jauh dari Victoria langsung menegakkan tubuh. Tatapannya turun pada Victoria, tajam, penuh perhatian yang tidak dia sembunyik

