Stella dan Alena merupakan adik dan kakak, yang telah lama terpisah. Itu terjadi, karena sang ayah selalu melakukan tindak kekerasan kepada Stella. Setiap ayahnya ada masalah, pasti dilampiaskan kepada dirinya. Karena Stella bukan anak kandung, melainkan anak angkat. Namun, Stella dan Alena memiliki ibu yang sama.
Stella yang selalu saja disalahkan dan dipukuli oleh ayahnya, merasa lelah menghadapi penyiksaan tersebut.
Puncaknya, ada seorang wanita paruh baya mengajak Stella merantau ke Solo. Untuk bekerja sebagai pelayan cafe dengan iming-iming gaji yang tinggi.
Tapi, nyatanya, Alena justru di jual kepada p****************g. Bernama Niko Haidan. Seorang pengusaha sukses yang membayar dengan harga sangat tinggi, atas kegadisan Stella. Dan dari sana kisah kelam Stella dimulai.
Bekerja sebagai wanita bayaran. Memenuhi hasrat pria yang kesepian dengan bayaran yang cukup mahal. Dan dari sanalah Stella dan Yudi bertemu. Berawal dari hubungan antara pela'nggan dan pemberi jasa, beralih ke teman tinggal bersama, dan berujung pada salah satu penyebab kematian Sandara. Wanita yang berstatus sebagai istri Yudi Fernando.
Dan demi memenuhi keinginan terakhir Sandara, agar Stella menyembunyikan Arjuna. Ia rela dipenjara atas tuduhan membuang putranya Yudi yang baru saja dilahirkan oleh Sandara. Padahal Arjuna diserahkan kepada Shelina, yang notabenenya adalah sahabat dekat dari Sandara, sekaligus mantan kekasih Yudi sendiri. (Baca nanti, ya. Di Bukan Salah Cinta. Tapi mau aku revisi dulu.)
"Stella …! Kamu mengenal Alena?" tanya Yudi. Seraya berlari menyusul langkah Stella.
"Dia adikku." Stella menghentikan langkahnya. "Tunggu! Kamu mengenal adikku?" Kedua alisnya nyaris saja bertaut.
Yudi mengangguk. "Dia anak angkat Shelina."
"A-apa?"
"Alena anak angkat Shelina, Stell. Entah bagaimana caranya mereka berdua bisa bertemu." Yudi meneruskan langkahnya. Menuju ke mobil untuk menyusul Alena, yang telah terlebih dahulu berada di mobil. Dengan Arjuna di dalam gendongannya.
Stella menyusul langkah Yudi. "Bagaimana bisa, Mas? Mereka berdua bisa saling mengenal dan Shelina bisa menjadi ibu angkatnya Alena?" Meraih lengan baju Yudi.
Banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Stella kepada Yudi. Bertahun-tahun berpisah dengan Alena, tentu saja ada banyak hal yang terlewatkan. Apalagi kini adiknya itu ada di Jakarta, datang bersama Yudi dan menjadi anak angkat Shelina.
"Kita bicarakan ini di apartemen saja, Stell. Kamu dan Nando tunggu aku disana!" ucap Yudi. Menunjuk Nando yang mulai mendekat kepada mereka semua.
"Tapi, Mas …" sela Stella.
"Ikuti saja apa perkataanku. Karena aku lihat, Alena tidak nyaman dan tidak ingin bertemu denganmu. Jadi, biarkan aku berbicara dengannya. Mewakili kamu untuk bertanya, bagaimana bisa dia tinggal bersama Shelina. Walaupun aku sudah tahu sedikit informasi tersebut dari Arjuna," terang Yudi.
Mengulas senyum kepada putra tunggalnya.
Arjuna ikut mengangguk. Walaupun ia belum terlalu paham pembahasan orang dewasa tersebut. Yang jelas, ada namanya yang disebutkan. Membuatnya mengangguk begitu saja.
Stella menggelengkan kepalanya. "Aku ingin sekarang, Mas."
"Nanti atau tidak sama sekali!" Yudi menegaskan. Dengan suara yang datar. Namun, penuh dengan penekanan.
"Baiklah, Mas," lirih Stella. Perlahan melepaskan lengan baju Yudi dari genggamannya.
Pria itu mengangguk. "Nan, bawa dia ke apartemen. Dan tolong urus segala kebutuhannya. Karena untuk sementara waktu Stella akan tinggal disana. Sebagai penebus kesalahan yang telah aku lakukan di masa lalu," ucapnya. Sebelum masuk ke mobil dan menyerahkan Arjuna pada Alena.
Nando mengangguk. Mengerti dan menyanggupi perintah dari Yudi.
"Ayo!" ajaknya pada Stella. Gadis itu masih saja menatap kepada mobi Yudi, yang mulai menjauhi mereka.
Ada yang berbeda dengan perjalanan pulang mereka kali ini. Alena yang biasanya banyak bicara dan selalu saja bergurau dengan Arjuna, kini hanya diam membisu. Menatap lurus pada jalan yang mereka lalui.
Perubahan Alena membuat Arjuna ikut merasakan kegalauan yang dialami oleh kakak angkatnya itu. Tidak ingin mengganggu, membuat Arjuna ikut diam selama perjalanan.
Namun, begitu mereka sampai di rumah, Arjuna langsung menarik tangan Yudi.. Menuntun sang ayah untuk duduk dan berucap.
"Ayah …, kak Alena kenapa jadi murung begitu?" Menunjuk Alena, yang menaiki anak tangga.
Gadis itu masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Pikiran Alena menerawang ke depan. Kembali ke masa lalunya yang begitu pahit. Tepatnya saat sang ibu berpulang dan disusul oleh sang ayah dalam jarak waktu yang begitu dekat.
"Ayah tidak tahu, Sayang. Akan tetapi, ayah akan mencari tahu dan akan berusaha untuk menghiburnya." Yudi mengusap pucuk kepala Arjuna.
Arjuna menganggukkan kepalanya. "Terimakasih, Ayah." Mengulas senyum dan memeluk sang ayah.
Yudi membalas pelukan putranya. Mengecup lama pucuk kepala Arjuna. Mengalirkan kasih sayang yang begitu besar untuk jagoan kecilnya itu. Anugerah terindah yang diberikan oleh Tuhan. sebagai penghubung antara ia dan Sandara, Istri yang amat dicintai. Namun, saat Yudi sadar dan cinta untuk istrinya, Sandara malah pergi untuk selamanya.
"Aku tahu dan sadar bahwasanya aku adalah orang luar bagimu. Namun, kedekatanmu dan Arjuna mendorongku untuk mencari tahu apa yang membuatmu murung seperti saat ini," ucap Yudi, berpura-pura seakan tidak tahu Alena murung setelah bertemu dengan Stella.
Pria itu berjalan mendekati Alena yang duduk di tepi kolam renang.
Setengah jam yang lalu gadis itu duduk di sana untuk mengusir rasa sesak di dadanya. Setelah bertemu dengan kakak perempuan yang begitu ia hormati. Sekaligus penyebab kematian kedua orang tuanya.
"Dia kakakku, sekaligus penyebab kematian kedua orang tuaku," lirih Alena. Ia memaksakan diri untuk menelan gumpalan pahit di pangkal tenggorokannya.
Yudi tersentak. Sangat terkejut atas jawaban singkat yang diucapkan oleh Alena padanya. Namun, ia masih bisa mengendalikan diri agar tidak mendesak dengan rentetan pertanyaan, yang telah tersusun rapi di otaknya.
Gadis itu perlahan menoleh. "Dia pergi dari rumah setelah beradu argumen dengan ayahku. Satu bulan kemudian ibuku terkena serangan jantung, mendengar dia menjajakan diri pada pria hidung be'lang," ungkap Alena. Dengan tatapan nanar padanya.
Dari tatapan Alena, Yudi bisa melihat banyak luka dan air mata yang telah ia lalui.
Alena mengusap kasar air matanya. "..., ditinggal pergi oleh wanita yang begitu dicintai, ayahku mengakhiri hidupnya. Semenjak itu aku hidup sendiri. Menjalani hidup di bawah cibiran orang-orang karena ulah Stella." Berusaha menenangkan hatinya sendiri.
Walaupun kenyataannya, di dalam hatinya Alena sudah hancur dan mengutuk kebodohan Stella. Dengan mudahnya menjual harga diri demi sejumlah uang. Hal yang sangat miris. Sekaligus membuat Alena membenarkan apa yang dilakukan oleh sang ayah semasa hidupnya terhadap Stella. Memukul dan mengumpat gadis itu dengan kata-kata yang amat tajam.
Sebagai salah satu pria yang ikut menjadi pria hi'dung belang, pemakai jasa Stella untuk memuaskan hasratnya di ranjang, Yudi mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Tidak ingin salah bicara, karena ia yakin Stella melakukannya bukan atas kemauan sendiri.
Yudi diam bukan berarti tidak peduli dengan masa lalu Stella dan Alena. Melainkan ingin menghargai privasi gadis.
Walaupun demikian, Yudi tetap berusaha mengusir kegalauan Alena. Dengan cara membawa gadis dua puluh tahun itu kedalam pelukannya.