Sosok Stella

1720 Words
Pagi ini, Alena bangun lebih cepat dari biasanya. Ia ingin lebih dekat lagi dengan Yudi Fernando. Sang duda tampan, yang telah membuat Alena terpesona. Setelah membersihkan tubuhnya, Alena pergi ke dapur untuk membantu memasak. Ia ingin tau makanan apa yang di sukai oleh Yudi. Di dapur, sudah ada asisten rumah tangga yang sedang memasak, “Bu ... Lena ingin membantu Ibu memasak, boleh nggak, Bu?” Alena memasang wajah memelas, kepada wanita paruh baya yang ada di hadapannya. “Boleh kok, Non.” Wanita paruh baya itu menggeser tubuhnya agar Alena bisa melihat dengan jelas apa yang sedang ia masak. “ Nona bantu saya potong kentangnya, ya!” Wanita itu menyerahkan beberapa buah kentang dan sebuah pisau kepada Alena. Alena mengambil pisau tersebut, dan mulai mengupas kentang tersebut. “Bu ... jangan panggil Nona, Ibu panggil Alena saja! Dan izinkan Lena, memanggil Ibu dengan sebutan 'ibu', bukan Bibik.” “Baik lah, No ... eh, Alena.” Wanita paruh baya itu tersenyum kikuk kepada Alena. “Jangan sungkan begitu, Bu!” Alena mengalihkan pandangannya kepada wanita itu, “Bunda selalu mengajarkan tidak boleh membedakan status orang lain. Karena dimata Tuhan, kita semua sama.” kembali melanjutkan pekerjaannya. “Oh ya, Bu. Om Yudi suka makan apa saja?” “Tuan menyukai makanan yang berkuah, Lena. Bahkan, untuk makan nasi goreng pun, tuan pasti menambahkan kuah sup sebagai pendamping.” Alena mengangguk-angguk, “Jadi, kentang ini, untuk membuat sup ya, Bu?” Alena mencuci kentang yang telah selesai ia kupas. “Ia, Lena. Ibu perhatikan, dari caramu memasak, sepertinya kamu sudah terbiasa di dapur.” “Iya, Bu. Bunda yang mengajarkannya kepada Lena. Kata bunda, percuma menjadi wanita, jika tidak pandai memasak. Setidaknya harus bisa memasak air.” “Haha. Kamu benar juga, Lena.” Yanti, asisten rumah tangga paruh baya itu, terkekeh geli mendengar guyonan Alena. Kehadiran Alena di dapur membuat suasana dapur menjadi hidup. Ditambah lagi, Alena adalah gadis yang sangat ceria. Membuat siapapun didekatnya, akan selalu tertawa. Karena guyonan yang ia ucapkan. Saat Yanti memasak sup ayam, Alena memasak nasi goreng, dan telur dadar sebagai pelengkap. Memasak di dapur membuat waktu berjalan sangat cepat. Setelah semua masakan selesai, Alena mulai menata makanan tersebut di meja makan. “Kak Alena!” Arjuna memeluk kaki Alena. “Pagi sayang ....” Alena berjongkok untuk memeluk Arjuna. “Kamu semakin tampan dan wangi, sayang." Alena mencium pipi chubby Arjuna. “Iya dong ... Juna kan udah mandi Kakak. Kakak masak apa?” “Kakak bikinin kamu nasi goreng kesukaan kamu sayang, kita tunggu kakek, nenek, dan ayah kamu dulu ya!” Alena mengangkat Arjuna, dan mendudukkan Juna di atas kursi yang ada di sana. “Kita tinggal menunggu ayah Kak, kata ayah, tadi malam nenek dan kakek berangkat ke Singapura. Ada keluarga ayah yang meninggal, jadi nenek dan kakek akan berada di sana selama satu minggu.” Alena mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah, kalau begitu, kamu tunggu disini! Kakak akan panggil ayah kamu.” Alena mengusap kepala Arjuna, dan meninggalkan bocah itu di ruang makan. Alena lansung menuju ke kamar Arjuna untuk memanggil Yudi. Karena ayah, dan anak itu tidur di kamar yang sama. Saat Alena ingin mengetuk pintu, Alena mendengar suara Yudi yang sedang berbicara dengan seseorang. Membuat Alena penasaran, dan mendekatkan telinganya ke pintu kamar yang tidak tertutup rapat. “Baiklah, siang ini aku akan menjemput wanita itu. Aku tidak ingin, kasus ini di perpanjang. Karena aku sudah menemukan putraku. Aku ingin dia di bebaskan, karena ini semua mungkin bukan salahnya. Saat menjemputnya nanti, aku akan meminta maaf atas kesalah pahaman yang ada.” Suara Yudi semakin mendekat, “Jika semuanya sudah selesai, kamu segera hubungi aku.” Yudi menutup panggilan dari ponselnya dan membuka pintu kamar tersebut. Terlalu asyik mendengar pembicaraan Yudi, membuat Alena tidak menyadari, duda tampan tersebut telah berdiri tepat disampingnya. Yudi hanya menggelengkan kepalanya, “Kamu menguping pembicaraan Om, atau mengintip Om, Alena?” Suara bariton Yudi mengagetkan Alena. Gadis itu menelan salivanya dengan susah payah, ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena, setiap ia berdekatan dengan Yudi, lidahnya terasa kelu, dan tubuhnya langsung berubah menjadi agar-agar. Apalagi ia kedapatan sedang menguping di depan pintu kamar. Membuat Alena ingin terbang saja, ke atas langit yang paling tinggi. Agar ia bisa menghilang dari Yudi. “Om, Alena hanya ingin memanggil Om. Sarapan sudah selesai Om.” Alena memamerkan deretan gigi putihnya kepada Yudi. Yudi tersenyum kepada Alena, “Ayo, kita sarapan!” sebelum turun dari tangga, Yudi mengelus pucuk kepala Alena. Yudi cukup senang dengan keberadaan Alena disana, karena ia bisa merasakan kehadiran seseorang keponakan. Karena, kedua adiknya ikut dengan suami mereka masing-masing. Membuat Yudi, sangat jarang bertemu dengan keponakannya. Saat Yudi menyayangi Alena sebagai keponakan. Berbanding terbalik dengan Alena. Gadis itu benar-benar telah jatuh cinta kepada Yudi. Saat Yudi mengusap kepalanya, membuat hati Alena berbunga-bunga, gadis itu tidak pernah berhenti untuk mengulum senyum. Sambil mengikuti langkah kaki Yudi dari belakang. Om. Kamu sudah membuaku tergila-gila. Aku akan berjuang untuk mendapatkan cinta dari Om. Tunggu saja! Selesai sarapan pagi, Yudi mengajak Arjuna dan Alena keluar. Untuk mengisi waktu weekend mereka. Tempat pertama yang dipilih oleh Arjuna adalah, kebun binatang. Arjuna yang belum pernah mengunjungi tempat tersebut, membuat ia sangat antusias. Bocah laki-laki itu, berlarian kesana kemari. Ia juga tidak pernah berhenti bertanya, tentang semua hewan yang ia temui. Saat Yudi fokus memperhatikan gerak-gerik putranya, Alena sibuk memperhatikan ekspresi wajah Yudi. Wajah yang beberapa hari ini, selalu terbayang di dalam ingatan Alena. Setelah lelah berlari kesana-kemari, akhirnya Arjuna tertidur di dalam gendongan Yudi. “Len, Arjuna sudah tidur, apa sebaiknya kita pulang? Atau masih ada tempat yang ingin kamu kunjungi?” Alena menghentikan langkahnya, “Tidak Om! Lebih baik kita pulang saja, aku ingin membuatkan makan siang yang spesial untuk Om.” “Baiklah, ayo kita pulang!” Yudi menggandeng tangan Alena. Membuat Alena tersipu malu. Dalam hitungan detik, wajah Alena yang putih mulus, sudah memerah seperti kepiting rebus. Sesampainya di parkiran, Alena langsung masuk kedalam mobil, dan Yudi menyerahkan Arjuna kepada Alena. Agar ia bisa fokus dalam menyetir . Sebelum Yudi menyalakan mesin mobil, ponsel yang ada di dalam saku celana Yudi berbunyi nyaring. Sebuah panggilan masuk kedalam ponsel tersebut. Yudi kembali mematikan mesin mobil, dan mengangkat panggilan tersebut. “Ada apa, Nan?” Yudi melirik Alena, dan Arjuna yang sedang duduk di sampingnya. Yudi berpikir sejenak, “Baiklah. Aku segera kesana! Nando, kamu harus bisa menahan dia sampai aku datang. Kamu paham, Nan?” Yudi kembali menyalakan mesin mobil, “Terimakasih sebelumnya.” Ia langsung mengakhiri panggilan yang sedang berlangsung. Alena yang sudah penasaran dari tadi pagi, berusaha keras untuk menahan rasa keingintahuan yang sedang bersarang di hatinya. Hingga membuat gadis itu, terlihat seperti orang yang sedang berpikir sangat keras. Di tambah lagi, jalan yang mereka lewati, bukan jalan menuju ke rumah Yudi. Membuat kening Alena, semakin berkerut dalam. Yudi menoleh sekilas kepada Alena, “Kita mampir ke lapas sebentar ya, Len. Om ingin bertemu dengan seseorang.” “Ba ... baik Om.” Alena yang sedang melamun, terkejut mendengar suara bariton Yudi. Setelah cukup lama, akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah tahanan wanita. Membuat Alena semakin penasaran, siapa orang yang akan ditemui oleh Yudi. “Kamu, dan Arjuna tetap disini ya! Jangan kemana-mana!” Yudi mengusap rambut Arjuna, sebelum ia turun dari mobil. Alena mengangguk kecil, untuk menyetujui permintaan Yudi. Dari dalam mobil, Alena bisa melihat Yudi menjabat tangan seorang pria. Di sebelah pria tersebut, ada seorang wanita cantik yang membawa sebuah tas yang cukup besar ditangannya. Alena menyipitkan matanya, ia ingin melihat dengan jelas wajah wanita itu. Wajah yang tidak terlalu asing bagi Alena. “Kak Stella, apa itu kamu kak?” gumam Alena. Mata Alena membesar, saat melihat wanita itu memeluk tubuh Yudi. Membuat Alena tidak mampu lagi menahan rasa penasaran, sekaligus rasa cemburu yang bergabung menjadi satu. Alena langsung keluar dari mobil, dan menggendong Arjuna. Sebelum sampai ketempat Yudi, Alena membangunkan Arjuna terlebih dahulu. Agar ia memiliki alasan untuk mendekati Yudi. “Jun ... Juna ... ayo bangun, Sayang!” Alena menepuk-nepuk pipi Arjuna perlahan. Merasakan pipinya ditepuk, Arjuna mengerjapkan matanya berkali-kali. “Kita dimana, Kak?” ucap Juna, saat ia melihat tempat yang sangat asing baginya. “Kakak juga tidak tahu, Jun.” Alena mempercepat langkahnya, agar ia bisa melepaskan pelukan wanita itu dari Yudi. “Itu Ayah kamu, Juna.” Alena menurunkan Arjuna dari gendongannya, dan menunjuk Yudi yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Anak laki-laki itu langsung berlari kearah Yudi, “Ayah ....” dan memeluk kaki ayahnya. Kedatangan Arjuna, membuat wanita yang sedang memeluk Yudi, langsung melepaskan pelukannya. “Siapa ini, Mas?” tanya wanita itu. “Ini putra ku, Stel? Yang tadi aku ceritakan. Namanya, Arjuna!” Yudi menggendong Arjuna, “Dia putra ku, dan Sandara. Bayi Sandara, yang dulu kamu serahkan kepada Shelina.” “Aku tidak menyangka, waktu berlalu dengan sangat cepat. Aku masih belum percaya, dengan apa yang aku alami, Mas.” Stella mengelus pipi Arjuna. Dari mata Arjuna, Stella bisa melihat sosok Sandara berada di sana. Sosok seorang wanita yang kuat, dan selalu sabar menghadapi penghianatan yang ia lakukan. “Aku bisa melihat Sandara di matanya.” Ucap Stella. “Kamu benar, Stel. Dengan melihat mata Arjuna, aku bisa mengobati rasa rinduku kepada Sandara.” Tanpa mampu ia tahan, bulir bening mulai keluar disudut mata Yudi. Membuat Arjuna merasa heran, “Ayah ... kenapa Ayah menangis?” tangan kecil Arjuna menghapus air mata yang mengalir di pipi Yudi. “Ayah tidak apa-apa, Sayang. Ayah hanya merindukan ibumu.” Yudi mengulas senyum di bibirnya. Arjuna langsung memeluk leher Yudi, “Ayah jangan bersedih lagi, Ayah harus bisa mengikhlaskan kepergian ibu. Ayah masih memiliki Juna, dan kak Alena yang sangat mencintai Ayah.” Arjuna menunjuk kepada Alena, yang berada tidak jauh dari mereka. Membuat Yudi mengikuti telunjuk Arjuna. Begitupun dengan Stella dan Nando, pengacara Yudi. Stella terkejut, saat matanya bertemu pandang dengan Alena. Stella bisa melihat aura kemarahan dari wajah Alena. Mata gadis itu sudah memerah, dan air mata mulai mengalir begitu saja. Bibir Alena bergetar, menahan tangis yang telah siap meledak. Alena membalikkan badannya, “Om. Alena tunggu di mobil saja!” ucap Alena sebelum meninggalkan Yudi, Stella, dan Nando. Stella menutup kedua matanya, bayangan saat ayahnya memukul tubuhnya langsung terbayang di pelupuk mata Stella. Rasa bersalah langsung menyelimuti dirinya. “Alen ...” Stella memanggil Alena dan mengejar langkah adiknya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD