Alena tahu malam ini Yudi mengajaknya keluar untuk makan malam untuk bertemu dengan Stella. Walaupun begitu, ia cukup bahagia dengan ajakan tersebut.. Karena baginya berada di samping Yudi adalah hak yang paling membahagiakan saat ini.
Oleh karena itu, Alena ingin tampil beda malam ini. Biasanya ia tampil seadanya dengan blouse dan celana jeans atau kaos dan Jogger.
Untuk malam ini, Alena tampil spesial dengan mini dress brokat selutut, berlengan panjang. Akan tetapi, memiliki potongan sabrina, sehingga membuat bahu mulusnya terekspos. Untuk rambut, ia membiarkan rambut hitam bergelombang sebahunya tergerai.
Tidak lupa Alena memasang jepitan di sisi kepala bagian kiri. Untuk menunjang penampilannya, gadis itu sedikit memoleskan make up pada wajahnya yang cantik. Semakin menambah kecantikan yang ia miliki.
Ketika Alena selesai, ia langsung keluar dari kamar. Menyusul Yudi yang telah menanti di teras rumah.
"Om, kita berangkat sekarang?" sapa Alena. Begitu ia berdiri persis dihadapan Yudi, yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Mendengar ajakan Alena, Yudi mengangkat wajahnya. Ia langsung terpesona melihat penampilan gadis dua puluh tahun tersebut. Sangat cantik dan begitu anggun dipandang mata.
"Om …"ucap Alena. Seraya melambaikan tangannya ke hadapan wajah Yudi. Karena pria itu bukannya menjawab, tapi malah tertegun melihat penampilannya.
Yudi mengerjap. Sebelum ia kembali memandangi penampilan Alena malam ini. Sangat berbeda dari biasanya. Karena gadis itu kini tampak seperti bidadari yang baru saja turun dari langit.
"Ayo, Om!" ajak Alena. Untuk yang kesekian kalinya.
"Ah, ya. Ayo!" Yudi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.. Bisa-bisanya ia terpesona melihat penampilan Alena. Padahal biasanya tidak pernah sedikitpun memperhatikan gadis itu.
Selama perjalanan menuju ke sebuah restoran, tempat mereka berjanji untuk bertemu dengan Stella, Alena tidak pernah berhenti mengulas senyum. Karena ia sering menangkap basah Yudi yang mencuri pandang padanya.
Siapa coba yang tidak salah tingkah dilirik oleh pria tampan seperti Yudi Fernando. Meskipun duda dan berusia tiga puluh enam tahun, tidak melunturkan ketampanan dan kharisma yang dimiliki.
"Kamu sudah siap, Len?" tanya Yudi. Saat mobil mereka berhenti di depan sebuah restoran cepat saji.
Alena mengangguk cepat. Walaupun sebenarnya ia enggan bertemu dengan Stella, akan tetapi demi menuruti keinginan Yudi akan dituruti. Termasuk mendengarkan penjelasan dari Stella, yang tak akan mengubah apapun. Karena orang tuanya sudah berpulang untuk selamanya.
"Alen!" seru Stella. Wanita itu langsung memeluk Alena dengan erat. Menuntaskan rasa rindu yang telah bergelayut di hatinya.
Alena tidak merespon apalagi membalas pelukan Stella. Ia malah melepaskan diri dari kakaknya itu.
"Aku tidak bisa berlama-lama disini. Karena tadi aku mengatakan kepada Arjuna hanya pergi sebentar saja. Jadi tolong, katakan apa yang ingin dikatakan!" ungkap Alena.
Gadis itu langsung duduk di samping Yudi, yang telah lebih dulu duduk. Pria itu tampak sedang memesan makanan untuk mereka bertiga. Karena kini ia sedang menuliskan sesuatu pada kertas.
Stella hanya bisa bersabar dengan sikap Alena. Karena ia sadar diri kesalahan yang dilakukan sudah terlalu banyak dan mungkin saja Tuhan tak lagi mau memberi ampunan.
"Apa kabarmu, Alen?" tanya Stella. Seraya mengusap lengannya sendiri. Merasa gamang berhadapan dengan Alena saat ini. Padahal dulu mereka berdua sangat dekat.
Alena menarik nafasnya dalam-dalam. "Seperti yang kamu lihat. Aku sudah jauh lebih baik daripada yang dulu. Tepatnya saat ibu mendapat kabar apa yang kamu lakukan di Solo. Menjual diri pada pria dan menjajakan tu'buhmu demi sejumlah uang," sindirnya. Tanpa memikirkan perasaan Stella yang akan tersinggung karena ucapannya.
Saat Alena berucap, bukan hanya Stella yang merasa tersinggung. Yudi pun merasakan hal yang sama. Itu karena ia adalah salah satu pria yang memakai jasa Stella.. Bahkan karena kehadiran wanita itu, Yudi harus kehilangan Sandara untuk selamanya.
"Ehem, sebaiknya aku mencari tempat lain untuk duduk. Sepertinya kalian berdua akan membicarakan hal yang sangat pribadi."
Tanpa persetujuan dari Stella maupun Alena, Yudi mencari tempat lain untuk duduk dan makan malam. Seraya menunggu Stella dan Alena selesai berbicara. Syukur-syukur mereka berdua bisa kembali akur seperti dulu.
Melihat Yudi berpindah ke tempat lain, Alena semakin mengutuk Stella. Dalam pikirannya Yudi pergi karena masalah masa lalu Stella yang begitu mengerikan. Padahal pria itu pergi karena takut kelepasan tentang apa yang terjadi antara ia dan Stella.
Yudi beranjak ke meja lain, dimanfaatkan oleh Stella untuk duduk di samping Alena. Menggenggam tangan adiknya itu dan berkata.
"Alen, percayalah padaku … ini bukan mauku. Aku dijebak dan terpaksa melakukannya." Stella menjelaskan. Tentang masa lalunya yang kelam.
tidak pernah terpikirkan oleh Stella, wanita paruh baya yang begitu baik dan menampungnya selama hidup di Solo, justru menjualnya.
Setahu Stella, ia diminta datang ke sebuah cafe. Disana gadis itu diminta untuk menjadi seorang pramusaji. Menyajikan minuman dan cemilan untuk pengunjung. Namun, tidak pernah terfikir oleh Stella, cafe yang dimaksud adalah tempat orang-orang menghibur diri. Dengan menenggak minuman keras dan menari di atas lantai dansa.
Disana Stella diperkenalkan dengan seorang pria, yang memintanya masuk ke sebuah ruangan VIP. Memaksanya untuk melayani hasrat haram pria tersebut. Stella menolak hal tersebut. Akan tetapi, pria itu terus memaksa dengan bantuan wanita paruh baya, yang membawa Stella ke Solo.
Dari sana, Stella kehilangan kegadisan dengan bayaran yang begitu fantastis. Membuat wanita paruh baya tersebut ketagihan dan terus menerus menjual Stella di cafe tersebut.
Hingga Stella bertemu dengan Yudi, yang membuatnya terlepas dari tempat yang begitu mengerikan tersebut. Karena terkadang ia mendapatkan pelangg'an yang begitu kasar dan menyiksanya dalam berhubungan sek'sual.
Alena menepis tangan Stella. "Tidak peduli bagaimana pekerjaan harammu dimulai. Karena bagiku kau menikmati pekerjaan tersebut. Seandainya kau menolak pekerjaan ini, kau bisa pergi dan lari. Akan tetapi, kenyataannya kau menikmati pekerjaan tersebut, bukan?" Kedua matanya menyipit.
Stella meneguk ludahnya. Tatapan tajam dan sindiran Alena tepat mengenai hatinya. Benar yang dikatakan oleh Alena. Apa salahnya dulu ia lari dari dunia gelap tersebut.
Tapi, gadis itu dulu malah menikmati hasil dari pekerjaan haram tersebut.
"Maafkan aku, Alen," lirih Stella. Kepalanya tertunduk.
"Ck, tidak ada gunanya meminta maaf padaku! Kenapa? Karena itu semua tidak akan mengubah keadaan. Seharusnya kau melakukan ini beberapa tahun yang lalu, agar ibu dan ayah tetap hidup hingga detik ini. Dan aku tidak hidup luntang lantung di jalanan!" sergah Alena.
Kenangan masa lalu yang begitu buruk berputar di kepalanya. Alena masih mengingat dengan jelas bagaimana dulu berebut tempat tidur dengan anak jalanan yang lain. Bahkan terkadang ia harus tidur di emperan toko tanpa alas sama sekali.
Semenjak ayahnya masuk rumah sakit, satu persatu harta yang dimiliki harus dijual untuk membayar biaya rumah sakit sang ayah. Hingga pria paruh baya itu meninggal dunia, tidak ada lagi sepeserpun harta yang tertinggal. Disaat Alena kecil berjuang untuk kesembuhan sang ayah, di kota Stella sibuk menghamburkan uang dari hasil menjual di'ri. Tentu saja Alena sangat membenci kakaknya itu.
Stella berlutut di hadapan Alena. "Maafkan Aku, Alen. Sungguh aku menyesali atas semua dosa yang aku perbuat. Aku mohon padamu, saat ini tidak ada lagi keluarga yang aku miliki. Kecuali kamu. Aku berjanji akan melakukan apa saja asalkan kamu memaafkan aku."
"Tinggalkan aku dan jangan lagi muncul di hadapanku. Percayalah, dengan begitu aku akan memaafkanmu." Langsung bangkit dari tempat duduknya.
Alena mengedarkan pandangannya ke seluruh restoran. Namun, ia tidak menemukan keberadaan Yudi. Seingatnya pria itu duduk tidak jauh dari tempatnya saat ini.
Bukan Stella namanya, jika ia menyerah begitu saja. Tanpa memperdulikan orang-orang disekitar, Stella memeluk kedua kaki Alena. Seraya menangis dan memohon agar adiknya itu memaafkannya.
Keras Stella lebih keras pula Alena. Ia pun ikut tak peduli dengan orang-orang yang mulai melihat ke arah mereka berdua.
Dengan satu kali dorongan, Alena mendorong Stella hingga terhempas di atas kerasnya lantai restoran. Dan gadis itu pun langsung pergi begitu saja. Walaupun ia tidak tahu kemana arah dan tujuannya saat ini. Dua hari tinggal bersama Yudi, belum bisa membuatnya ingat di mana alamat pria itu.
Alena berlari tanpa arah. Kemana saja. Asalkan ada jalan untuknya menjauh dari Stella.
"Alen … Alen …!" seru Stella. Seraya bangkit dan merapikan penampilannya.
Namun, saat ia ingin mengejar Alena, Yudi datang dan menahan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Yudi. Pria itu baru saja datang dari kamar mandi. Sehingga Alena tidak melihat keberadaannya.
Stella mengusap kasar air matanya. "Alena lari, Mas. Karena aku memaksanya untuk memberikan maaf padaku."
"A-apa?" pekik Yudi. Langsung beranjak keluar dari restoran. Berharap masih menemukan Alena.
Stella menyusul. Cukup terkejut dengan respon Yudi. "Ada apa, Mas? Kenapa kamu terlihat panik seperti ini?" Mensejajarkan langkahnya dengan Yudi.
"Di mana dia?" gumam Yudi. Mengabaikan Stella, yang mengekor di belakangnya.
Melihat Yudi yang semakin panik, Stella meraih pergelangan tangan pria itu. "Ada apa, Mas?"
Langkah Yudi berhenti. "Alena baru dua hari disini. Itu Pun dia tidak pernah keluar dari rumah. Karena selama ini Alena tinggal di Bali bersama Shelina dan Rendi." Mengusap wajahnya dengan kasar.
Yudi benar-benar frustasi. Alena tidak ada di manapun. Bisa dipastikan gadis itu akan hilang, seandainya ia pergi terlalu jauh.
"Apa, Mas? Alena baru dua hari disini?" Stella mulai panik.
Seandainya ia tahu Alena baru dua hari di Jakarta, tentu saja berbagai macam cara dilakukan untuk menahan langkah adiknya itu.
Yudi mengangguk. Mata tajamnya masih mencari melihat ke berbagai arah. Berharap Alena kembali.
"Mas, ini tidak bisa dibiarkan. Alena bisa hilang, Mas! Ayo kita cari dia!" rengek Stella. Menggoyangkan tangan Yudi.
"Ayo!" ajak Yudi. Menarik tangan Stella menuju ke parkiran.
Mereka berdua mulai mencari keberadaan Alena. Stella juga rela turun naik mobil untuk menanyakan keberadaan adiknya pada setiap orang yang lewat.
Sedangkan Yudi, mencoba menghubungi Rendi untuk meminta nomor ponsel dan foto Alena. Karena ia tidak memiliki apapun untuk mempermudah pencarian.
Shelina dan Rendi yang dalam perjalanan pulang ke Indonesia, tentu saja tidak mengaktifkan ponsel mereka berdua. Sebelum pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan selamat di bandara Soekarno Hatta.
Disaat Yudi mencoba menghubungi Rendi, Alena juga sedang berusaha menghubungi Shelina. Untuk menanyakan di mana alamat rumah Yudi. Karena ia sudah kehilangan jejak untuk pulang.
"Bunda … Alen takut, Bun," gumam Alena. Ia duduk di sebuah halte, untuk beristirahat dan menghubungi Shelina. Seingatnya, ketika pergi tadi, tidak ada halte bus yang dilewati. Kini ia justru menemukan halte bus. Dari sana Alena sadar sudah salah mencari jalan untuk pulang.
"Permisi, apakah aku boleh meminjam ponselmu? Ponselku tertinggal di kantor, dan ban mobilku bocor," ucap seorang pria. Sedikit membungkukkan tubuhnya di depan Alena.
Gadis itu meneguk ludahnya. Semakin ketakutan atas keberadaan pria asing tersebut. "Ti-tidak! Aku tidak bisa meminjamkannya padamu. Bundaku pernah berkata, jangan percaya begitu saja dengan orang asing. Apalagi di kota besar seperti kota ini." Menggenggam erat ponselnya.
Alih-alih tersinggung, pria itu justru mengulas senyum dan jongkok di hadapan Alena. "Perkenalkan aku Riswan Adijaya. Kamu bisa memanggilku Iwan." Mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
Alena menggeleng cepat. Sebagai tanda menolak keras berkenalan dengan pria tampan bernama Iwan tersebut.
"Aku tahu kamu tidak bisa percaya dengan orang baru. Namun, percayalah. Aku ini orang baik. Seandainya kamu tidak percaya, kamu bisa menahan dompetku selagi aku meminjam ponselmu untuk menghubungi rumah. Agar aku bisa pulang dan beristirahat," terang Iwan. Seraya menyerahkan dompetnya pada Alena.
Gadis itu menimbang sejenak. Apakah ia harus menolong atau tidak. Sejenak ia menimbang dampak baik dan buruknya hal tersebut.
Hingga akhirnya Alena setuju, karena ada dua orang wanita datang dan bergabung bersama mereka.
Namun, sebelum ia menyerahkan ponsel pada Iwan, Alena ingin mengajukan penawaran.
"Baik, aku akan meminjamkan ponselku padamu. Akan tetapi, begitu mobilmu selesai diperbaiki kamu harus mengantarkan aku pulang ke rumah." Alena menaikkan kedua alisnya.
"Setuju!" sahut Iwan. Kembali mengulurkan tangannya pada Alena. Meminta ponsel gadis itu.
Sebenarnya masih ada sedikit keraguan di hati Alena. Namun, tidak ada salahnya mencoba untuk menolong Iwan. Berharap pria benar-benar orang baik dan bersedia untuk menolongnya.
Hampir satu jam menunggu, akhirnya ada sebuah mobil mewah terparkir di hadapan Alena dan Iwan. Setelah pria itu mengabarkan mobilnya mengalami bocor ban.
"Ayo ikut aku! Aku akan mengantarmu pulang ke rumahmu." Menunjuk mobil mewah tersebut.
Alena mengangguk cepat. Ia langsung berdiri dan menyusui langkah Iwan masuk ke mobil.. Setelah supir yang membawa mobil tersebut keluar dan menyerahkan kuncinya pada Iwan.
"Sekarang katakan di mana rumahmu!" ucap Iwan. Setelah menyalakan mesin mobil.
"Aku tidak tahu," cicit Alena. Tanpa rasa bersalah sama sekali.
Mata Iwan membesar. "A-apa?" pekiknya.
"Aku tidak tahu di mana rumahku. Karena selama ini aku tinggal di Bali dan tinggal di sini baru dua hari ini," ungkap Alena. Seraya mengusap tengkuknya sendiri. Merinding melihat tatapan horor Iwan padanya.