Leon berdiri di depan jendela, terlihat kesal juga gusar. Kali ini bukan karena sikap Sera dan kegagalannya untuk mempermalukan Sera, melainkan karena esok dia harus menghadapi Jarvis Jackson.
Dia berada dalam masalah besar. Jika dia maju satu langkah, dia akan mendapatkan masalah tapi jika dia tidak melakukan apapun, dia pun akan mendapatkan masalah.
Dia harus menggagalkan pinangan pria itu. Tapi bagaimana caranya?
Dia tidak bisa membiarkan Sera menikah dengan Jarvis karena posisinya akan terancam. Tapi dia tahu, menolak permintaan pria itu akan menimbulkan masalah besar.
Leon mengusap wajah kasar, dia berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan sama sekali. Sepertinya dia harus membicarakan hal ini pada kedua orang tuanya.
Leon keluar dari ruangannya. Dia pergi ke ruangan Sera. Pintu diketuk dengan perlahan, dan Sera masih di sanaaq saat dia melangkah masuk.
“Ada apa, Leon? Kenapa kau terlihat gelisah seperti itu?”
“Bereskan barang-barangmu. Kita pulang sekarang!” ucapnya tanpa basa-basi.
“Kenapa harus pulang sekarang? Apa ada hal penting?”
“Sera, kenapa kau tidak memberitahu sebelumnya kalau Jarvis Jackson akan datang besok untuk melamarmu? Kenapa kau baru memberitahu sekarang?”
“Aku minta maaf, Leon. Aku lupa mengatakannya,” Sera pura-pura bersalah.
Leon menatapnya dengan dingin. Dia tahu, Sera hanya berbohong.
“Seharusnya aku mengatakan ini tadi pagi tapi aku benar-benar lupa. Dan seharusnya tidak jadi masalah, kan?” dia menunjukkan senyumannya, “Kau pasti bisa menghadapi pria itu, dan membantuku menolak lamarannya.”
“Bukannya aku tidak mampu, Sera. Tapi kita tahu siapa pria itu. Menyinggungnya sama saja dengan menuang api ke atas bara.”
“Jadi kau takut dengannya, Leon? Kau takut dengan laki-laki cacat seperti dirinya?”
Leon terdiam. Ucapan itu seolah-olah sedang meremehkan dirinya.
“Leon, aku percaya padamu. Sebab itu aku berani menemuinya kemarin. Bukankah kau selalu berkata kalau kau mencintaiku? Dan aku rasa besok adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan betapa besar cintamu padaku.”
“Seharusnya kau tahu, tidak semudah yang kau katakan. Sekarang kita pulang, kita bicarakan hal ini pada Daddy. Aku pasti akan membantumu menolak lamarannya karena kau hanya boleh menjadi milikku.”
Sera tersenyum dingin, inilah yang ingin dia dengar. Dia berdiri, menghampiri Leon dan memperlihatkan senyum manisnya.
“Aku tahu kau pasti akan menyelamatkan aku dari tangan pria itu. Tapi sepertinya aku tidak bisa pulang denganmu.”
“Kenapa?” rahangnya mengeras, “Apa ada butik baru yang buka lagi?”
“Bukan, Leon. Aku ada janji penting yang tidak bisa aku batalkan.”
“Janji penting apa dan dengan siapa?” dia terdengar kesal, “Di saat seperti ini, tidak seharusnya kau bermain-main, Sera!”
“Aku tidak bermain-main, Leon. Seharusnya tanpa aku pun, kau bisa menyelesaikan permasalahan ini. Kau pasti bisa membuat rencana bagus dengan Daddy untuk menolak pinangan pria itu secara baik-baik. Aku yakin kau tidak akan kalah darinya!”
Leon mengepalkan tangan. Ucapan itu seolah menyinggung harga dirinya. Dia tahu, kalau dia tidak bisa melakukannya maka dia akan malu.
“Ayolah, aku yakin kau dan Daddy pasti bisa, tanpa aku sekalipun,” senyuman manis penuh intrik kembali terukir di wajah.
Dan Leon, tak dapat menjawab. Sera seperti menantangnya, seolah ingin mencari tahu apakah dia mampu dan berani menghadapi Jarvis Jackson atau tidak.
“Baiklah, aku akan berusaha.”
“Aku tahu kau mampu,” Sera berjinjit, mencium pipinya meski dia muak.
Leon tak berdaya, dia harus menghadapi pria itu mau tidak mau. Dan dia akan menunjukkan pada Jarvis, jika pria itu tidak akan bisa memiliki Sera begitu saja.
Leon tidak bertanya lagi ke mana Sera akan pergi, dia memilih pulang sendiri. Dan dia yakin ayahnya belum tahu kalau besok Jarvis akan datang.
Kebetulan ayahnya memang ada di rumah. Baru pulang dari kantor, menikmati segelas teh di ruang keluarga.
“Kenapa kau sudah pulang? Mana Sera?” Tanya ayahnya.
“Dia bilang ada urusan, dan aku sengaja pulang terlebih dahulu karena ada yang ingin aku bicarakan dengan Daddy.”
“Apa lagi? Apa Sera membuat masalah saat rapat?”
“Tidak!” Leon duduk di dekat ayahnya, “Apa Daddy tahu? Besok Jarvis akan datang untuk melamar Sera.”
“Apa?” ayahnya terkejut, “Besok dia akan datang?”
“Daddy tahu?”
“Tidak!” ayahnya menggeleng. Sera memang mengatakan bahwa Jarvis akan datang, tapi dia tidak memberitahu kalau pria itu akan datang besok.
“Sera baru saja mengatakan padaku kalau pria itu akan datang untuk melamarnya.”
“Oh, begitu cepat,” ayahnya terlihat santai dan mengangguk
“Dad, kenapa kau tidak terkejut sama sekali?”
“Leon, bukannya tidak terkejut. Tapi Sera telah menemui pria itu, tidak menutup kemungkinan dia akan melamar Sera. Aku hanya tidak menduga dia akan datang secepat itu.”
“Apa itu berarti Daddy akan mengizinkan mereka menikah?”
“Tidak seperti itu. Terus terang saja, Daddy tidak suka Sera menikah dengan pria itu. Kita semua tahu siapa dirinya.”
“Kalau begitu, Daddy harus membantu aku menolak lamarannya. Aku mencintai Sera, Dad. Dan aku tidak rela dia menjadi milik pria itu!”
“Bagus. Tekadmu aku suka. Kau harus menunjukkan tekadmu pada Jarvis Jackson kalau kau tidak akan melepaskan Sera. Daddy ingin melihat kesungguhanmu, apakah kau benar-benar menginginkan Sera atau tidak?!”
“Jadi Daddy ingin aku yang menghadapi pria itu sendirian?”
“Ya,” ucapannya tegas, matanya menatap anak angkatnya itu, “Bukankah sebentar lagi pertunangan kalian akan diumumkan? Jadi buktikanlah terlebih dahulu, bahwa kau yang pantas bersama Sera, bukan pria itu. Dengan begitu aku akan rela menyerahkan Sera.”
Satu tangan mengepal tanpa dilihat oleh ayahnya. Ayah dan anak sama saja, melemparkan masalah itu padanya dengan alasan ingin melihat ketulusannya.
Sungguh konyol. Tapi dia tak berdaya, karena kalau dia masih menginginkan apa yang dimiliki oleh keluarga itu maka dia harus tetap mendapatkan Sera. Dan menyingkirkan siapapun yang akan menghalangi langkahnya termasuk melawan Jarvis Jackson.
Karena dia harus membuktikan pada ayahnya, maka dia menerima tantangan itu.
Tidak masalah, nanti setelah dia mendapatkan semuanya, mereka akan menangis. Dan dia pastikan akan menikmati setiap detik kemenangannya dari hasil kerja keras dan kesabarannya. Meski, semua tidak berjalan sesuai rencana karena tidak seharusnya Sera pergi menemui pria itu.
Tapi, tanpa dia tahu Sera kembali menemui Jarvis. Pria itu telah menunggunya di restoran dan begitu melihat Jarvis, Sera bergegas menghampiri.
Sera tersenyum, pria itu memang boleh cacat tapi dia memiliki kekuasaan dan Leon, dia tak sabar ingin melihat bagaimana cara pria itu menghadapi laki-laki yang tidak pantas dia lawan seperti Jarvis.