Bab 30. Sedikit Bukti

1128 Words
Leon pergi ke ruangan Sera untuk memastikan apakah gadis itu sudah datang atau belum. Tapi ruangannya kosong. Dia sudah bertanya pada sekretarisnya dan wanita itu berkata, Sera belum datang. Bagus. Memang itu yang dia inginkan. Dengan begini dia bisa pergi dengan leluasa. Tanpa perlu diketahui oleh Sera. Biarkan Gadis itu dalam kebodohannya, dia pasti akan menyesal karena bermain-main dan tidak serius dalam mengurus perusahaan. “Aku ada urusan penting,” ucapnya pada sekretarisnya, “Jika Sera datang dan mencariku, katakan padanya aku sedang meninjau proyek.” “Baik, Sir.” “Jangan lupa, awasi dia baik-baik agar tidak membuat kesalahan.” Sekretarisnya mengangguk, mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Leon. Pria itu pergi, tidak sabar untuk menemui kekasihnya. Dia tak tahu kalau Sera sudah menunggunya sedari tadi. Dia berada di sebuah cafe yang ada di seberang kantor. Sera menyamar supaya tidak ada yang bisa mengenalnya termasuk Leon. Ini mungkin akan menjadi bukti pertama yang dia dapatkan, atas kebohongan Leon selama ini. Dan dia yakin bukti lain akan segera menyusul. Sera menurunkan topinya saat melihat Leon keluar dari kantor. Dia menunduk, tapi sedikit mengintip. Leon berdiri di depan lobby, melihat jam dari pergelangan tangan lalu mengambil ponsel karena Alexa menghubunginya. “Leon, kau jadi datang menjemputku dan mengajakku makan siang, kan?” “Tentu saja. Persiapkan dirimu, sebentar lagi aku sampai.” Alexa tersenyum, “Aku sangat lega gadis egois itu tidak menahanmu. Terus terang aku benci setiap kali kau tak bisa menemuiku gara-gara dirinya.” “Dia tidak tahu, jadi kau tak perlu cemas!” “Syukurlah,” dia tampak lega, “Aku yakin kau tidak boleh datang jika dia tahu.” “Kau tidak perlu khawatir. Aku punya banyak cara untuk menipunya. Bertahun-tahun aku menipu mereka, kau tahu sampai sekarang mereka tidak tahu karena begitu mempercayaiku,” Leon masuk ke dalam mobilnya, dia tidak berpaling sehingga tidak menyadari kalau Sera mulai mengikuti. Dia membawa mobilnya dengan pelan, menjaga jarak cukup jauh supaya tidak dicurigai oleh Leon. Leon pergi ke rumah sakit terlebih dahulu untuk menjemput Alexa. Leon masuk ke dalam sebuah ruangan, ruangan yang paling mahal di rumah sakit itu. Dan Sera, dia bersembunyi di balik lorong. Apakah kekasih Leon dirawat di sana? Dan apakah seluruh biayanya dibayar oleh Leon? Dia harus mencari tahu, bisa saja Leon menyelewengkan uang perusahaan tanpa diketahui oleh siapapun. Selama ini dia memegang kendali penuh. Dia mendapatkan kepercayaan yang begitu besar dari ayahnya sehingga apapun yang dilakukan olehnya tidak dipermasalahkan. Suara langkah kaki terdengar. Sera buru-buru merapat dan mencari tempat aman. Suara Leon yang berbincang dengan seorang wanita terdengar samar. “Tadinya aku sangat takut, Gadis sialan itu akan mengacaukan makan siang kita,” ucap Alexa. Dia masih membahas itu karena dia masih menyimpan dendam dan amarah. “Sudah aku katakan dia tidak tahu,” Leon menggenggam tangannya, “Jangan bahas dia lagi. Aku muak. Aku hanya ingin ada kau dan aku, tidak ada dirinya!” Alexa tersenyum, memeluk lengan Leon. Dia memang sengaja supaya Leon semakin membenci Sera. Sera dapat mendengar semua yang mereka bicarakan. Gadis sialan yang mereka maksud pasti dirinya. Seharusnya dia tidak perlu terkejut lagi karena begitu dia bangkit dari kematian, dia sudah tahu kalau semua yang ditunjukkan oleh Leon hanyalah palsu. Tapi mendengar secara langsung dia dianggap sebagai gadis sialan, dan mendengar dari mulut Leon kalau dia muak dengannya, rasanya benar-benar menyakitkan. Dulu, dia memang selalu menahan Leon saat pria itu ingin pergi. Dan terkadang dia merengek agar Leon membawanya serta karena dia ingin tahu semua yang dilakukan oleh Leon di luar sana dan dia pun ingin selalu menghabiskan waktunya dengan Leon. Leon selalu bersabar dan tidak pernah marah padanya. Dia kira semua kesabaran itu karena Leon begitu mencintai dirinya. Tapi sekarang akhirnya terjawab kalau semua itu bukan cinta, melainkan basa-basi semata agar dia tidak marah. Rupanya dibalik sikap Leon yang selalu sabar tersimpan perasaan muak. Sera tertawa pelan, merasa dirinya begitu bodoh. Dia juga malu karena dulu terlalu berlebihan. Tapi semua itu dia lakukan karena dia pikir Leon benar-benar mencintainya. Dan sekarang, dia justru merasa apa yang dia lakukan dulu begitu menggelikan. “Tidak heran kalau dia begitu membencimu, Sera,” ucapnya Lirih Tak ingin terlalu lama tenggelam dalam kebodohannya, Sera kembali mengikuti mereka. Ini adalah kesempatan yang tak boleh dia lewatkan apalagi dia tidak tahu kapan lagi bisa bertemu dengan kedua penghianat itu. Leon dan kekasihnya pergi ke kasir. Apa yang dia inginkan terwujud, dia mendapatkan jawabannya siapa yang membayar biaya rumah sakit. Dia melihat Leon mengeluarkan kartunya lalu memberikannya pada kasir. Wanita yang ada di sampingnya itu memeluk lengan Leon sambil tersenyum seolah-olah dia sedang memanfaatkan Leon karena uang yang dia miliki. Dia tak menyangka Leon pandai bermain trik. Dia yakin biaya rumah sakit tidaklah kecil tapi kenapa tidak terdeteksi oleh ayahnya? Kalau ayahnya tahu, ayahnya pasti akan mengintrogasi Leon. Tapi sampai sekarang keadaan baik-baik saja. Saat Leon dan kekasihnya telah selesai membayar dan pergi, Sera buru-buru menghampiri kasir. “Kedua orang yang tadi, siapa yang sakit?” dia pura-pura tidak tahu. “Nona Alexa, setiap minggu dia datang untuk cuci darah.” “Cuci darah?” matanya terbelalak. Pantas saja Leon ingin mengambil ginjalnya. “Benar, itu memang rutinitas yang selalu dijalani oleh Nona Alexa. Dia sangat beruntung mendapatkan kekasih yang begitu menyayangi dirinya.” “Kau benar,” serah tersenyum hambar, “Bolehkah aku melihat tagihan?” “Nona, ini privasi,” perawat itu menolaknya. “Aku sahabat baik mereka, dan aku berniat menggalang dana untuk biaya operasi Alexa atau setidaknya meringankan beban kekasihnya.” “Nona sangat baik,” selembar kertas dikeluarkan, Bil tagihan yang baru saja dibayar oleh Leon. Sera mengambilnya dengan terburu-buru, kedua matanya terbelalak ketika melihat jumlah uang yang dikeluarkan oleh Leon setiap minggunya. Gila, benar-benar gila. Pertanyaan itu kembali muncul. Bagaimana bisa uang yang begitu besar tidak terdeteksi sama sekali? Tanpa banyak bertanya, Sera memfoto Bill tagihan itu lalu mengembalikannya. Itu sudah cukup menjadi bukti kalau Leon menggunakan uang perusahaan untuk membiayai kekasih gelapnya. Nanti, dia akan mencari tahu lebih jauh. Setelah mengucapkan terima kasih, Sera bergegas. Dia harus mendapatkan bukti kebersamaan Leon dengan kekasihnya itu. Dia harus mengambil foto yang jelas, agar semua orang melihat perselingkuhan mereka. Sera berlari menuruni anak tangga, karena Leon dan kekasihnya sudah tidak terlihat lagi. Mereka berada di dalam lift, dan mungkin saja sudah pergi. “Sial, jangan sampai kehilangan jejak!” ucapnya. Setiap lantai yang dia turuni diperiksa dengan baik, tapi Leon dan Alexa tidak ada. Sera mencari di setiap lantai, dia merasa sudah kehilangan mereka. Sial, padahal dia belum mengambil foto mereka. Kenapa dia begitu ceroboh menghilangkan kesempatannya begitu saja? Dia kembali berlari menuruni anak tangga. Apapun yang terjadi, dia harus menemukan Leon dan Alexa. Dia turun ke lantai terakhir, dan pada saat yang bersamaan, Leon dan Alexa keluar dari lift yang letaknya berada tidak jauh dari tangga itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD