Mobil berhenti, Sera turun terlebih dahulu. Dia tidak menunggu, karena biasanya dia akan menunggu Leon membukakan pintu dan memberikan tangan padanya.
Tapi kali ini, Sera sudah melangkah pergi. Wajahnya terangkat, menunjukkan kepemilikan dari tempat itu. Kali ini, dia tidak akan membiarkan Leon berkuasa lagi.
“Sera, Kenapa kau tidak menungguku?” Leon mengejar lalu berjalan di sisinya, “Kenapa begitu terburu-buru?”
“Aku tidak ingin membuang waktu, Leon,” Sera hanya melirik, “Apa kau sudah menyiapkan sebuah posisi untukku?”
“Tentu saja,” Leon melingkarkan tangannya ke pinggang Sera, tapi Gadis itu langsung menepisnya.
“Jangan salah paham,” Sera menatapnya dan tersenyum tipis, “Aku tidak suka ada yang melihat.”
“Sera, tidak biasanya kau seperti ini. Apa masih marah?”
“Bagaimana menurutmu?” senyumannya kembali merekah, “Sekarang katakan, posisi apa yang akan kau berikan nanti?”
“Menjadi sekretarisku, tentu saja. Dengan begitu aku bisa mengajarimu dengan baik.”
“Sekretaris?” Sera tertawa hambar, “Perusahaan ini milik ayahku. Kau menjadi direktur, dan aku hanya sebagai sekretaris. Apakah kau pikir ini adil?”
Sera berbicara sedikit keras, agar para karyawan mendengar. Dan, mereka menjadi pusat perhatian dalam sekejap.
Tatapan Leon menggelap. Ekspresi wajahnya berubah. Apa Sera sedang mempermalukan dirinya?
“Jadi kau menginginkan posisiku? Kau ingin menjadi direktur?” hatinya panas, menahan amarah.
“Bukankah itu memang posisi yang seharusnya aku dapatkan?” dia kembali melirik ke arah Leon, puas melihat ekspresi wajahnya.
“Aku, Sera Broklyn, dan aku harus mendapatkan posisi yang pantas di perusaan ini,” dia berjalan sedikit cepat, lalu berhenti di hadapan Leon.
Langkah pria itu pun berhenti. Matanya menatap Sera dengan dingin.
“Aduh, apa kau marah?” Sera menepuk d**a pria itu, “Aku hanya bercanda saja, Leon. Jangan terlalu serius seperti itu.”
“Hanya... Bercanda?” suaranya rendah, penuh amarah. Sera mempermainkan dirinya, ingin mempermalukannya.
“Tentu saja aku hanya bercanda. Mana mungkin aku mengambil posisimu. Aku kan belum bisa, dan aku tidak akan melakukan hal itu. Aku akan mulai dari bawah, menjadi karyawan biasa dulu. Dan,” Sera kembali menepuk d**a pria itu, “Nikmatilah posisimu dengan baik.”
Dia tersenyum, sebelum melangkah pergi. Kedua tangan Leon mengepal ke samping, semakin ke sini, semakin terlihat jelas kalau Sera sengaja melakukan hal itu.
Sera mendekati seorang karyawan, berbicara dengannya. Dia melihat ke arah Leon, dan tersenyum manis sebelum akhirnya dia pergi mengikuti karyawan itu.
Apa sebenarnya yang sedang direncanakan oleh Sera? Terkadang dia kembali seperti Sera, dan terkadang dia seperti orang lain, sengaja ingin mempermalukannya dirinya.
Leon memijit pelipis. Lupakan saja. Sera pasti ingin melakukan sesuatu yang baru. Bukankah dia selalu seperti itu?
Dia kembali melangkah menuju ruangannya. Lebih baik dia memastikan semua rencananya agar berjalan dengan lancar.
Sera diantar masuk ke dalam sebuah ruangan yang dipersiapkan khusus untuknya. Ruangan itu tidak terlalu besar, tapi sangat cukup untuknya. Dia merasa tenang di sana, dan Leon tidak akan tahu maksudnya.
Kursinya cukup empuk, dia suka. Walaupun tidak seempuk kursi yang diduduki oleh Leon. Tapi, akan dia ambil nanti.
Sebelum memulai pekerjaannya, Sera menata barang-barangnya terlebih dahulu. Ponselnya bergetar saat itu, dan tanpa membuang waktu Sera segera menjawabnya walaupun itu telepon dari nomor yang tak dia kenal.
“Halo,” dia menjawab dengan suara lembut.
Hening untuk beberapa saat, tidak ada yang menjawab. Dia sedikit bingung, dan menatap ponselnya.
“Kalau tidak menjawab maka akan aku matikan.”
“Begitu sinis, Nona Broklyn,” suara yang berat, tidak asing di telinganya.
“Tuan Jackson?” suaranya hampir tenggelam, “Ba-bagaimana kau bisa tahu nomor ponselku?”
“Sudah aku katakan padamu, Sera. Aku tahu semua tentangmu.”
Sera tertawa pelan, “Baiklah, aku melupakan hal itu. Maaf. Tapi Tuan Jackson menghubungiku tidak tanpa tujuan, kan?”
“Jarvis saja. Panggil namaku secara langsung, Sera!”
“Hm,” Sera menggulung rambutnya dengan jari dan bersandar di kursi. Meski pria itu tidak berada di hadapannya, tapi dia dapat merasakan tekanan itu dan gugup.
“Jadi, kenapa menghubungiku? Apa mau mengajakmu pergi?” dia hanya berbasa-basi saja, tidak berharap apa-apa.
“Katakan, ke mana kau mau pergi? Kemanapun, aku akan membawamu!”
“Kau terlalu berlebihan, Jarvis. Aku hanya ingin makan siang, agar kita berdua saling mengenal dengan baik. Tapi jika kau tidak memiliki waktu, itu tidak masalah bagiku.”
“Kalau begitu bersiaplah,” ucap Jarvis tanpa ragu, “Aku akan segera menjemputmu dan katakan kau berada di mana?”
“Aku berada di perusahaan ayahku, datanglah. Aku tunggu!” Sera tersenyum, meski Jarvis tidak bisa melihatnya.
Dulu, dia yang selalu mengejar, dia yang selalu berusaha melakukan yang terbaik. Tapi sekarang, dia akan membiarkan Jarvis yang memanjakannya.
Setelah berbicara dengan pria itu, Sera memutar kursinya. Menikmati waktunya, sedikit demi sedikit, dia akan mengubah segalanya. Dan di hari ulang tahunnya, hari di mana dia hancur, akan dia jadikan hari bahagia, dan Leon yang akan hancur karena rencana busuknya itu tidak akan pernah berjalan.
Pintu ruangan terbuka secara tiba-tiba, Sera terkejut dan menegakkan duduknya. Ekspresi wajahnya langsung berubah saat Leon melangkah masuk.
“Bagaimana dengan ruangan ini? Apa kau suka?” Leon melihat sekitar, pura-pura peduli.
Sera berdiri, menghampiri pria itu lalu memeluknya.
“Tentu saja. Meski tidak besar tapi ini cukup nyaman bagiku.”
“Bagus. Kalau kau tidak suka, aku akan memerintahkan seseorang untuk menyiapkan ruangan lain,” Leon membalas pelukannya. Lihatlah, Sera hanya berakting saja untuk membuatnya kesal padahal Ia tetaplah Sera yang manja.
“Tidak perlu, ini sudah cukup. Katakan, apa hanya ini tujuanmu mencariku?”
“Tidak. Besok ada rapat para petinggi, aku harap kau bisa hadir.”
“Rapat?”
“Ya. Kau bisa hadir, kan?”
“Tentu saja,” Sera tersenyum. Ini adalah kesempatannya. Dia harus menunjukkan pada para petinggi itu bahwa dialah yang akan melanjutkan bisnis itu, bukan Leon.
“Bagus!” Leon pun tersenyum. Karena dia juga memiliki rencana. Akan dia permalukan Sera nanti, agar gadis itu berhenti bermain-main, kembali menjadi putri yang tidak perlu mengurusi perusahaan.
Apa Sera pikir dia bersedia mengajarinya?
Sera adalah orang yang harus dia singkirkan, dan tak akan dia biarkan Sera belajar sedikit pun, selain mempermalukannya.
“Baiklah,” Sera melepaskan pelukannya, “Aku ada janji siang ini, boleh aku pergi kan?”
“Janji?” kedua matanya menyipit, “Dengan siapa?”
“Dengan teman,” dusta Sera, “Ada butik baru, jadi kami ingin pergi ke sana.”
Leon tersenyum. Gadis manja yang sok ingin bekerja. Pada akhirnya tidak tahan dengan godaan sebuah butik baru.
“Pergilah, nikmati waktumu,” kebetulan, dia juga ada urusan karena dia pun harus pergi.
Meski Gadis itu berada di perusahaan, tidak akan menghalanginya untuk menemui Alexa, kekasihnya yang sudah menunggu.