Bab 35. Berkat Kau

1053 Words
Peluru sudah habis. Tapi tangan Sera gemetar hebat, dan wajahnya pucat. Semua suara terdengar jauh. Bahkan panggilan Jarvis seolah tak terdengar baginya. Air matanya masih mengalir, tatapannya hanya fokus ke depan seolah para penjahat itu masih berada di sana. “Sera,” Jarvis memegangi tangannya, dan mengambil senjata apinya dengan perlahan. “Tenanglah, sudah berakhir. Tak ada yang perlu kau takutkan lagi.” “Me-mereka,” suaranya lirih, “Mereka ingin membunuhmu, Jarvis. Mereka ingin membunuhmu.” “Jangan takut,” Jarvis menariknya ke dalam pelukan, mengusap punggungnya dengan lembut, “Kau telah mengalahkan mereka dan menyelamatkan nyawaku. Terima kasih.” Meski bukan Sera yang membunuh para penjahat itu. Tapi dia berkata seperti itu untuk menenangkan Sera agar dia tidak takut lagi. “A-aku yang?” Sera menghapus air mata, menatap pria itu. “Ya. Berkat kau, aku selamat sekarang.” “Syukurlah,” Sera memeluknya dengan erat, “Aku bersyukur kau masih hidup, tidak mati di depan mataku.” “Kau?” Jarvis memeluknya erat. Tak menyangka gadis itu akan setakut itu dan peduli dengan nyawanya. Dia membiarkan Sera menumpahkan emosinya. Membiarkan gadis itu menangis. Ketika asisten dan sopir pribadinya telah kembali, Jarvis mengangkat tangannya, meminta mereka untuk tidak mengatakan apapun. Para musuh itu telah diselesaikan, dan anak buah yang lain pun telah dipanggil untuk membereskan semua kekacauan itu. “Semua sudah baik-baik saja,” Jarvis kembali menenangkannya. Sera melepaskan pelukan, air matanya dihapus dengan terburu-buru setelah menyadari keberadaan sopir pribadi Jarvis yang sudah berada dalam. “Maaf, aku?” “Tidak apa-apa. Kita pergi sekarang. Sisanya akan dibereskan asistenku.” Sera mengangguk. Dia duduk dengan tegak dan berusaha menenangkan diri. Kedua tangan masih gemetar di atas pangkuan. Kejadian itu mengguncang mentalnya yang masih lemah. Dia tahu harus semakin kuat lagi agar dapat melawan Leon. Dia tak boleh terus seperti itu, karena kelemahannya telah membunuhnya waktu itu sehingga dia tak bisa menyelamatkan kedua orang tuanya. Jarvis memegang tangannya, melihat pergelangan tangannya. “Baik-baik saja, kan?” dia hanya memastikan apakah tangan Sera terluka atau tidak. Sera mengangguk dan tersenyum tipis. Rasa sakit itu tidak boleh membuatnya lemah dan cengeng. “Jalan, antar Sera pulang terlebih dahulu!” Mobil berjalan pergi. Meninggalkan asisten Jarvis yang akan membereskan semua kekacauan itu. Entah siapa yang menyerang secara diam-diam, tapi siapapun itu tidak akan luput. Keadaan kembali tenang. Mereka kembali ke jalanan ramai. Sera menenangkan diri supaya kedua orang tuanya tidak curiga terutama Leon. Dan ketika mereka sudah dekat dengan rumahnya, Sera meminta Jarvis untuk menghentikan mobil. “Kenapa kau ingin turun di sini? Bukankah sedikit lagi sampai?” tanya Jarvis padanya. “Kau tahu? Kedua orang tuaku sudah melarang untuk tidak menemuimu lagi. Aku tidak mau, mereka melihat kita bersama.” Jarvis tersenyum dingin, “Sepertinya mereka membenciku, Sera.” “Tolong jangan salah paham, mereka bukan membencimu. Karena waktu itu mereka telah menolak lamaranmu, jadi mereka tidak ingin aku dekat denganmu.” “Baiklah. Aku tidak mempermasalahkannya,” Jarvis menggenggam tangannya sebelum Sera keluar dari mobil, “Yang penting kau tidak membenciku. Itu sudah cukup.” Sera tersenyum lembut, setelah ketegangan yang menakutkan dia lewati. “Pria yang aku pilih, bagaimana aku membencinya? Aku tidak akan memilihmu menjadi suamiku seandainya aku membencimu.” Tiba-tiba Jarvis menarik tangannya. Wajah mereka bertemu, dan Sera dapat merasakan hangat hembusan nafas pria itu “Kau,” Jarvis memegangi dagunya, “Telah menunjukkan sesuatu yang luar biasa malam ini. Rupanya rumor yang aku dengar tentang dirimu tidak benar.” “Rumor itu tidak salah, Jarvis. Aku memang lemah dan bodoh. Tapi sekarang, aku akan menyingkirkan semua rumor buruk itu dan menjadi Sera yang baru agar kau tidak kecewa.” Jarvis tersenyum tipis, “Itulah yang sangat ingin aku dengar. Dan kau telah membuktikan padaku, kalau kau pantas menjadi istriku.” Jarvis mencium bibirnya, lembut dan tidak seperti biasanya. Tidak akan dia lepaskan, padahal dia menginginkan Sera hanya karena dia pikir gadis itu dapat dia kendalikan dengan mudah, dan akan lebih patuh dengannya. Tapi semakin mengenalnya, semakin membuatnya tertarik. Dan sekarang dia memandang Gadis itu dengan cara yang berbeda. Jarvis mengusap wajahnya, “Pulanglah, jangan sampai membuat kedua orang tuamu khawatir.” “Terima kasih, Jarvis. Malam ini aku telah melewatkan hal tak terduga tapi menyenangkan.” “Aku suka kau menyukai tantangan. Lain kali, aku akan mengajarimu cara menembak yang benar.” “Itu terdengar lebih baik, terima kasih,” Sera mengambil tasnya, dan keluar dari mobil. Dia melambaikan tangan pada pria itu sebelum mobilnya pergi. Sera berjalan pelan, menuju rumahnya yang sudah tidak jauh lagi. Perasaannya tenang, dan damai. Dia menikmati angin malam yang berhembus, menikmati kesendirian itu. Rasanya sudah sangat lama, tidak merasakan ketenangan seperti itu. Langkahnya terhenti setelah berada di depan pagar. Dia menatap rumahnya sejenak. Musuhnya ada di dalam, dapat menikamnya sewaktu-waktu. Kedua orang tuanya, kali ini dia pasti menyelamatkan mereka dari kematian. Sera menghela nafas sebelum melangkah masuk. Dan begitu dia membuka pintu rumah, Leon yang sudah menunggunya sedari tadi langsung menghampirinya dengan wajah cemas. “Kenapa kau baru kembali, Sera?!” suaranya berat, matanya menatap penuh amarah. “Aku... aku terlalu lama berada di butik sampai lupa dengan waktu, maaf,” dustanya. “Kau lihat ini jam berapa?!” Leon sedikit membentak, “Bisakah tidak kekanak-kanakan dan membuat kami cemas?” “Tolong jangan marah, Leon. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir.” Leon menghela nafas kasar, “Kalau terjadi sesuatu padamu, akulah yang akan disalahkan. Aku harap kau mengerti dan tidak bersikap kekanak-kanakan lagi.” “Maaf,” Sera memeluknya, “Aku benar-benar minta maaf,” dia pura-pura merasa bersalah dan Leon pun berpura-pura khawatir. Dia justru berharap terjadi hal buruk dengan Sera yang dapat merenggut nyawanya. Dengan demikian dia tidak perlu bersusah payah menyingkirkan Sera. Dan secara tak langsung dia yang akan mewarisi seluruh kekayaan yang dimiliki oleh keluarga itu. Tapi sayangnya, keberuntungan masih berpihak padanya. “Baiklah, lain kali jangan kau ulangi.” “Aku berjanji padamu,” Sera tersenyum dingin. Tunggu saja, dia sangat menantikan Jarvis menjebak pria itu dan membuka kejahatannya. “Pergilah beristirahat. Mulai besok, kemanapun kau pergi, kau harus bilang padaku.” “Tentu,” Sera mengangguk dan bersikap patuh. Tapi dia sadar, masih satu hal yang belum bisa dia lakukan sampai sekarang yaitu menyadap ponsel Leon. Sepertinya dia harus meminta bantuan ibunya. Mungkin besok, dan dia harus berhasil melakukannya supaya semakin banyak bukti yang dia dapatkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD