13. HILANGNYA SI PENGGANGGU

1701 Words
Lily menuruni tangga dengan penampilan yang segar dan bersiap untuk pergi bekerja. Sebelum berangkat ia pergi bekerja, ia ikut bergabung dengan yang lain untuk sarapan. Didapati semua anggota keluarga sudah ada di meja makan. Namun ada yang beda, Axel tidak ada di sana. “Sejak tadi pagi orang itu nggak kelihatan, bahkan sekarang juga nggak ada,” pikir Lily. “Pagi sayang,” sapa Grace. “Morning Ly,” itu sapaan dari Leo. “Pagi Pa, Ma.” Jawab Lily. Jasmine asik menikmati toats dengan selai blueberry kesukaannya sejak dulu. Sedangkan Lily malah bingung harus sarapan apa. “Mau sarapan apa Ly? Ada nasi goreng sama roti, kamu pilih yang mana?” “Roti saja Ma,” jawab Lily. Sambil menikmati roti selai kacang, Lily diam tanpa mengatakan apa-apa. Terkadang ia juga masih canggung berhadapan dengan Leo padahal pria itu bersikap sangat hangat kepada ia dan adiknya. “Mas Axel nggak sarapan, Ma?” tanya Jasmine. “Axel sedang keluar kota,” sahut Leo. “Kerja Pa?” Leo mengangguk. “Iya sedang ada pekerjaan ke Jogja selama tiga hari.” Hati Lily bersorak senang karena si pengganggu tidak ada di rumah. Setidaknya emosi Lily akan stabil karena Axel tidak ada di rumah. “Wah rumah jadi sepi karena nggak ada yang berdebat lagi,” sindir Jasmine sambil melirik Lily. Lily yang sedang menikmati sarapannya langsung mendelik adiknya. Walaupun tidak menyebutkan nama, tentu saja maksud dari Jasmine adalah dirinya. “Memang siapa yang suka berdebat?” tanya Grace. Jasmine mengedikkan dagunya ke arah Lily. “Siapa lagi kalau bukan Kak Lily sama Mas Axel.” “Jasmine apaan sih,” protes Lily kesal. “Sudah jangan ribut. Lily jangan terlalu lama, nanti kamu telat. Jasmine juga, ini sudah waktunya berangkat.” Ucap Grace pada kedua putrinya. Lily lemparkan pandangan ke luar mobil, tubuhnya bersandar dan pikirannya mendadak membayangkan apa saja yang terjadi terakhir ini. Pernikahan Mamanya, pindah rumah, sikap saudara tirinya yang bikin ia pusing dan sekarang ia harus pergi diantar oleh supir. Tidak pernah ia banyangkan hidupnya berubah sederastis ini. Bukan tidak bersyukur dan bukan juga ia bahagia memiliki ayah tiri yang tajirnya tidak perlu diragukan. Tapi Lily lebih nyaman dengan hidupnya yang dulu. Sederhana tapi penuh ketenangan. “Kenapa melamun Non?” tanya Soni, supir baru Lily yang umurnya diperkirakan empat puluh tahun. Lamunan Lily buyar karena suara dari pria yang ada di depannya. “Eh? Bapak ngomong apa?” “Jangan panggil Bapak tapi Mang Soni saja, Non.” “Iya deh Mang. Tadi Mamang ngomong apa?” Sesekali Soni melirik Lily melalui kaca sepion mobil. “Kenapa Non Lily bengong? Beberapa hari sejak saya mulai mengantar Non Lily, jarang sekali lihat Non senyum. Raut wajahnya sedih terus, ada masalah ya Non?” Lily tidak menyangka kalau supir yang sudah bekerja selama tiga hari mengantar dan menjemputnya, memperhatikan raut wajahnya setiap hari. Tidak Lily pungkiri karena yang diucapkan Soni benar adanya. “Saya nggak ada masalah kok, Mang. Cuma capek sama kerjaan, kadang bikin jenuh.” “Semangat ya Non. Jaman sekarang susah cari kerja. Saya sendiri sudah cari kerja sana sini tapi nggak nemu. Beruntung ada Mbok Nanik yang kasih kabar kalau Bapak Leo butuh supir untuk putrinya.” “Mamang dulu kerja apa kalau boleh tahu?” “Dulu saya penjaga villa sekaligus supir trevel, Non. Tapi yang punya villa pecat saya karena saya lihat dia ngajak perempuan sedangkan statusnya sudah menikah. Mungkin takut kali ya saya lapor sama istrinya makanya saya dipecat,” kenang Soni. “Ya ampun, kasian banget sih Mang. Tapi Mamang niat kasih tahu istrinya?” “Gimana ya Non, serba salah sih. Kalau saya diam saya kasihan sama istrinya soalnya bukan hanya sekali saya liat dia bawa perempuan. Saya juga kerja di sana karena istrinya dan saya seperti punya hutang budi. Tapi kalau saya lapor, rumah tangga mereka bisa hancur karena istrinya tahu.” “Terus?” tanya Lily antusias. “Akhirnya saya kasih tahu.” “Istrinya marah dong?” Soni menggeleng. “Dia malah minta maaf ke saya karena membuat saya kehilangan pekerjaan. Istrinya cerita ke saya kalau sebenarnya dia tahu suaminya selingkuh tapi diam saja.” “Jangan bilang istrinya berlindung dibalik kata ‘cinta’? Kenapa harus bertahan padahal sudah di khianati ya Pak.” “Entahlah Non, saya juga kurang paham sama pemikirannya,” sahut Soni. “Semoga Non Lily sama Non Jasmine bisa bertemu dengan laki-laki yang baik, setia sampai maut memisahkan.” “Amin Pak.” *** Lily meregangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah melayani banyak nasabah. Beberapa menit lagi menuju waktu istirahat dan beruntung tidak terlihat lagi antrian nasabah yang akan melakukan transaksi. Namun ada yang membuat pandangan Lily terpaku pada sosok wanita yang sedang berada di layanan customer service. Sosok yang mengingatkan Lily pada seseorang. “Sudah berapa lama gue nggak liat mukanya. Eh tiba-tiba nongol di sini,” gumam Lily. Ia berusaha menghindar, tidak berniat untuk bertatap muka dengan wanita itu. Bukan sebuah hal yang membanggakan bertemu dengan orang yang sudah merenggut kebahagiaannya. “Gue nggak iri sama hidup dia, tapi gue benci karena dia menyakiti keluarga gue,” batin Lily kesal. Tidak lama, Lily melihat jam tangan yang melingkar di tangannya yang ternyata sudah menunjukkan jam makan siang. Ia beranjak dari duduknya untuk pergi menemui Nadine untuk makan siang bersama. “Kenapa muka lo lecek kayak uang abis diremes?” tanya Nadine sambil memasukkan satu suap gado-gado ke dalam mulutnya. “Cepek, Nad,” sahut Lily lemah. Alis Nadine tertaut, aneh melihat Lily yang tidak seperti biasa. “Capek kerjaan? Tumben ngeluh soal kerjaan. Atau elo capek ribut sama saudara tiri lo?” Lily menegung es jeruk pesanannya, bahkan nasi campur yang dipesan baru masuk ke mulutnya beberapa suap saja. “Axel lagi nggak di rumah jadi beberapa hari ke depan hidup gue tenteram.” “Terus lo capek kenapa?” “Capek aja sama rutinitas yang gue jalani. Pengen sekali-kali liburan tanpa memikirkan beban kerja bahkan beban hidup.” “Eh kan besok hari sabtu, mau pergi nggak?” ajak Nadine antusias. “Pergi ke mana?” “Ke mall? Nonton? Shopping? Main timezone atau ke salon?” Lily berpikir sejenak. Semua yang disodorkan Nadine sangat menggiurkan tapi apa ia bisa pergi tanpa supir. Atau bisa keluar rumah seharian? “Ah kenapa gue jadi kayak anak pingitan sih? Sejak kapan hidup gue merasa terkurung begini. Asli ini yang lebay bukan Papa Leo tapi gue yang lebay karena nggak terbiasa,” pikir Lily. Nadine menjentikkan jarinya di kening Lily hingga membuat temannya itu meringis kesakitan. “Ditanya malah bengong.” Lily mengusap keningnya yang terasa pedih. “Sakit tahu!” protes Lily. “Gue bukan bengong tapi lagi mikir mau jawab apa.” “Ya udah nggak usah dipikirin sekarang, nanti juga bisa kali.” “Ck! Iyeiye bawel banget sih.” *** Setelah menyelesaikan ritual malam ini yaitu mandi dan makan malam, kini Lily bisa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lelah setelah bekerja, tapi senang karena besok libur dan ia akan pergi bersama Nadine. Ia juga senang karena bisa pergi tanpa perlu diantar oleh supir. Bahagia yang berlipat-lipat bagi seorang Lily yang sangat menyukai kebebasan. “Untung sama Papa Leo nggak kaku banget kayak si Axel jadi negosiasi nggak harus dipenuhi dengan drama,” ucap Lily. Jari lentiknya sibuk memainkan game candy crush kesukaannya dikala santai. Tapi akhir-akhir ini, ia sering mengabaikan game tersebut akibat sibuk menata kamar setelah pindahan. Saat asik menikmati permainan, tiba-tiba ponselnya berdering menampilkan nomor yang tidak dikenal. “Siapa nih telpon malam-malam?” tanya Lily pada dirinya sendiri. “Halo,” jawab gadis itu pada di penelepon. “Lo lagi dimana?” Alis Lily mengernyit heran. “Ini siapa? Kok baru telpon udah nanya dimana.” “Ini gue, Axel masa nggak ingat suara gue?” Sekatika gadis itu memutar bola matanya saat tahu dengan siapa ia berbicara. “Tau nomor gue darimana?” “Dari Mama, kenapa? Kok kayaknya elo keberatan gue telepon?” “Bukan begitu, gue cuma mau tau aja. Ada apa?” “Gue minta tolong dong, lo pergi ke kamar gue dan hidupin leptop yang ada di meja kerja. Gue mau TeamViewer dari sini karena ada kerjaan gue di sana dan gue lupa bawa leptop itu.” “Iya tunggu, gue ke sana sekarang.” “Buruan ya.” “Ck, kaki gue udah melangkah jadi elo nyuruh gue lari?” “Ih sensi banget sih, baru juga minta tolong sekali.” Tidak lama, Lily sampai di kamar Axel dan menuruti semua yang diminta oleh pria itu. “Udah bisa kan? Gue tutup teleponnya ya.” “Eh tunggu dulu, jangan ditinggal.” “Kenapa?” “Nanti gue butuh bantuan lagi jadi mending diem di kamar gue dulu.” “Tapi gue ngantuk, Axel,” protes Lily. “Ya untuk kali ini gue boleh baring di tempat tidur gue. Leptopnya taruh di sana dan lo bisa sambil rebahan.” “Ish lo ini minta tolongnya banyak banget.” “Astaga Lily, gue cuma minta lo tunggu sebentar.” “Iyaiya, buruan deh.” Dengan ponsel dalam keadaan menyala, Lily merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Axel. Aroma dari pria itu tercium pada seprai yang membalut tempat tidur ini, tapi jelas bukan aroma tidak sedap tapi aroma maskulin khas laki-laki. “Ly, lo jangan molor.” “Iya gue masih melek.” “Coba lo buka laci meja kerja gue dan ambil map yang ada ditumpukan paling atas.” Lily menurut saja, tanpa melakukan protes. “Udah, terus apa lagi?” “Foto berkas itu dan kirim ke gue. Leptopnya bisa lo matiin dan lo udah bisa tidur dengan nyenyak.” “Akhirnya. Elo sendiri nggak tidur?” “Gue masih lembur sama Keenan mana bisa tidur.” “Oh ya udah, selamat lembur.” “Makasih Lilyput cantik dan juga menyebalkan,” ucap Axel di akhir panggilan. “Ih, dasar nyebelin.” Lily segera mengirimkan foto berkas yang diminta Axel. Setelah selesai ia langsung kembali ke kamarnya karena sudah merasakan kantuk. “Kasian banget jam segini belum bisa istirahat. Ah namanya juga seorang pengusaha, pebisnis ya harus siap dengan risikonya,” gumam Lily kemudian perlahan menutup mata. ~ ~ ~ --to be continue-- *HeyRan*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD