9. PERHATIAN DAN PENYESUAIAN

2096 Words
Axel sedang menunggu Lily di dalam mobil yang sudah menyala. Beberapa kali ia melirik jam tangan untuk memastikan kalau belum terlalu siang. Ia tidak mau terlambat sampai di kantor karena terjebak macet. “Nggak ada yang ketinggalan kan?” tanya Axel begitu Lily masuk ke dalam mobil dengan tampilan cantik mengenakan seragam kerja. Lily menoleh sekilas ke arah Axel. “Nggak kok,” jawabnya datar. Jujur saja mood-nya agak kurang bagus saat dipaksa oleh Axel ikut mobil pria tersebut. Bukan tidak tahu terima kasih, tapi mengingat hubungannya mereka tidak terlalu baik atau pun dekat rasanya Lily ingin mengurangi interaksi dengan Axel. “Kenapa mukanya lecek begitu? Lo nggak suka berangkat kerja bareng gue?” tanya Axel curiga. “Nggak, biasa aja kok. Siapa juga sih bilang nggak suka, demen banget menyimpulkan sendiri.” Lily lebih memilih untuk menahan emosi, ia tidak mau pagi harinya diisi dengan perdebatan bersama Axel. “Astaga, lo pagi-pagi sarapan roti kan? Kenapa sekarang kayak ngeluarin petasan?” Lily mengatur napasnya pelan, sebisa mungkin tidak terpancing dengan ulah pria di sampingnya. “Axel, tolong dong jangan mancing keributan pagi-pagi. Lo tahu nggak kalau pagi mood udah rusák, seharian bakalan nggak semangat ngapa-ngapain.” Walaupun berusaha menahan emosi dan amarah, nyatanya Axel terlalu peka untuk Lily bohongi. “Siapa sih yang mau merusak mood lo. Gue juga ogah banget buang tenaga pagi-pagi. Debat sama lo nggak penting,” ujarnya santai. “Ya udah, kalau nggak mau buang-buang tenaga mending kita nggak usah ngomong.” Sahut Lily sebal. Akhirnya sepanjang perjalanan menuju tempat Lily bekerja, keduanya hanya diam. Lily membuang muka ke arah luar jendela sedangkan Axel fokus mengemudi. Namun sesekali Axel menoleh ke samping, ingin tahu apa yang dilakukan Lily walaupun ia hanya mendapati adik tirinya diam saja. “Tolong berhenti di dekat pohon itu saja,” ucap Lily sambil menunjuk tempat yang dimaksud. “Kenapa begitu?” tanya Axel penasaran. “Gue nggak mau terjadi kehebohan karena mobil mewah ini.” “Memang kenapa? Apanya yang salah?” “Salah sih nggak tapi karena mereka tahunya Lilyana Denira nggak punya mobil dan kemana-mana naik kendaraan umum atau jalan kali lalu tiba-tiba diantar mobil mewah bisa treveling pikiran mereka, dikira gue punya sugar daddy.” “Sebegitu pentingnya pendapat orang lain?” “Penting nggak penting karena hidup berdampingan dengan orang dengan berbagai sifat harus siap dengan setiap pendapat mereka. Syukur-syukur kalau dinilai baik, kalau buruk yang ada malah kepikiran dan bikin stres.” “Kalau udah tahu bisa bikin stres, ya nggak usah peduli pendapat orang. Beres kan?” ucap Axel santai. Lily memutar bola matanya. Bicara dengan pria di sebelahnya memang tidak akan ada ujungnya. Dan pada akhirnya ia kalah dari mulut pria yang ternyata banyak bicara. Bukannya berhenti di tempat yang dimaksud oleh Lily, Axel justru memberhentikan mobilnya tepat di depan gedung tempat Lily bekerja. Seolah tidak peduli dengan permintaan sang adik. “Kok lo nyebelin sih?” protes Lily. “Udah turun, jangan protes. Kalau gue bilang antar ke kantor ya harus di sana nggak ada tawar menawar lagi.” Tidak ada yang bisa Lily lakukan selain mendengus kesal. Ia tidak bisa membela diri karena memang ia hanya menumpang walaupun kenyataannya sudah menolak dan pria ini ngotot mau mengantar dengan alasan permintaan ayahnya. “Makasih,” ucap Lily ketus yang turun dari mobil tanpa mau menatap Axel. “Eh nggak usah merengut begitu. Udah jelék makin jelék!” Teriak Axel yang ingin menggoda adik tirinya. Lily menoleh ke arah mobil yang kaca jendelanya terbuka, “Berisik!” semburnya. Sudut bibir Axel terangkat melihat tingkah Lily yang kesal kepadanya. “Gue udah bilang, hidup lo nggak akan tenang, Lily. Lumayanlah lo jadi hiburan buat gue walaupun lo itu cewek menyebalkan.” “Lily!” Suara dari pria yang Lily kenal membuatnya berbalik badan, “Pak Hery?” “Pagi..” sapa pria itu. “Pagi Pak,” sahut Lily canggung. “Pagi sekali sudah sampai kantor?” “Iya, Pak. Maklum kan sekarang hari senin jadi biasanya memang datang lebih pagi.” Tangan Hery terangkat untuk membenahi anak rambut yang terlihat mengganggu wajah Lily, “Maaf, saya bantu rapikan.” Lily hanya bisa diam, berdoa dalam hatinya agar adegan ini tidak ada yang melihat. Apalagi jika teman kerjanya tahu, ini akan menjadi berita menghebohkan dan ia tidak siap akan hal itu. Peraturan melarang pegawai menjalin hubungan tidak terkecuali Hery yang merupakan kepala cabang. Tapi entah kenapa pria ini masih saja suka kelewat batas memperlakukannya dan ini membuat Lily tidak nyaman. Ditempat lain, Axel ternyata belum meninggalkan pelataran parkir tempat Lily bekerja. Ia memperhatikan dari jauh interaksi adiknya dengan seorang pria yang Axel yakini adalah teman kerja Lily. Ia mengangguk paham akan situasi saat ini. “Oh jadi ini alasannya dia nggak mau kalau gue antar sampai depan kantor? Ternyata Lilyput sudah punya pacar?” gumam Axel penasaran. “Laku juga ternyata, gue kira cupu.” *** “Pagi Pak Axel,” sapa Andin begitu melihat Axel datang dengan gagahnya. “Pagi, Andin tolong buatkan saya kopi.” “Baik, Pak.” “Anda sedikit terlambat. Apa terjebak macet?” Keenan sudah stand bay di ruangan Axel. Axel mendaratkan bokongnya di kuris kerja. “Tadi tunggu Jasmine berangkat ke sekolah dulu, setelahnya aku harus antar Lily ke tempat kerjanya.” “Kenapa tidak dengan supir saja?” “Ya mumpung searah, ya sudah aku antar saja.” Keenan tersenyum, “Sejak kapan anda peduli dengan hal-hal seperti itu? Apa karena…” “Jangan tersenyum dan jangan salah paham, ini semua permintaan Papa,” jawab Axel cepat hingga asisten pribadinya tidak bisa melanjutkan ucapannya. Keenan menggaruk daun telinganya karena takut. “Baiklah, saya percaya. Oh iya, jam sepuluh anda harus bertemu dengan Tuan Matsumoto setelah itu penandatanganan perjanjian dengan Tuan Abizar.” “Baik, lakukan sesuai jadwal dan kalau bisa aku mau pulang tepat waktu.” “Ada apa?” “Aku harus menjemput Lilyput. Kalau Papa tahu dia pulang sendiri, matilah aku.” “Dijemput supir saja.” “Pak Jajang sudah sama Jasmine, anak itu ada les sampai malam. Kalau Pak Kunco sedang izin pulang kampung,” sahut Axel, lalu ia melirik Keenan yang tengah berdiri di hadapannya. “Ada ide lain?” “Biarkan saja Lily pulang sendiri. Lagi pula rasanya dia wanita yang mandiri. Tapi kalau anda tega sih.” “Mauku begitu tapi kalau Papa tahu dia pulang sendiri bagaimana?” “Papa anda tidak akan tahu kalau tidak diberi tahu.” Axel mengangguk setuju, ia juga tidak mau terlalu sering berinteraksi dengan adik tirinya karena sikap Lily selalu saja membuat jengkel dirinya. “Baiklah, toh dia sudah punya pacar yang bisa nganterin pulang,” Axel membatin. *** “Lily, pulang kerja bisa ikut aku pergi kan?” tanya Nika pada Lily saat gadis itu sedang siap-siap untuk bekerja. “Hah? Ada apa Mbak?” Lily nampak terkejut. “Ih kamu lupa ya, mulai besok aku kan udah mulai cuti. Jadi aku mau ajak kamu dan Nadine makan. Sebelum resmi menyandang status emak-emak, aku mau pergi sama kalian berdua. Nanti sudah ada baby bakalan susah pergi sama kalian.” “Astaga, aku lupa Mbak. Maaf ya, lagi banyak pikiran nih,” ucap Lily tidak enak. “Ih masih muda juga kok banyak pikiran. Kalau aku banyak pikiran masih cocok, Ly,” sindir Nika. “Jangan begitu, Mbak. Aku jadi merasa bersalah, ayo pulang kerja kita pergi.” Lily nampak semangat. “Eh suami Mbak gimana?” “Udah dapat izin, nanti aku dijemput di tempat makan.” “Oke siap, deh. Kabarin aja kalau udah jam pulang.” “Oke cantik,” sahut Nika sambil mengusap pipi mulus Lily. Lily, Nadine dan Nika memilih untuk pergi ke restoran steak terkenal sebagai tempat makan dan lokasinya juga tidak jauh dari tempat kerja mereka. Tempat ini juga sudah menjadi langganan ketiganya. Mereka begitu menikmati makanan masing-masing sambil membahas berbagai hal mengenai pekerjaan dan proses persalinan Nika yang akan dilakukan seminggu lagi dengan cara SC. “Ly, gimana rasanya tinggal di rumah mewah bokap tiri lo?” tanya Nadine. “Biasa aja kok,” sahut Lily sambil mengunyah daging steak. “Biasa gimana? Masa rumah orang kaya nggak ada yang bikin lo tertarik bilang ‘wow’? “Ya gimana mau bilang wow, gue tinggal di sana baru dua hari, Din.” “Kayaknya kamu nggak nyaman ya, Ly?” “Kok Mbak bisa nebak kayak gitu?” “Kelihatan kok, muka kamu nggak ada happy-nya.” “Tahu nih, pasti gara-gara kakak tirinya.” Nika menatap curiga pada Lily, “Ada apa dengan kakak tiri kamu?” Lily mendengus kesal karena Nadine menyinggung Axel di hadapan Nika. Padahal ia malas membahas soal keluarga tirinya karena rasanya tidak sopan. Tapi mau tidak mau ia harus jujur sama ibu hamil ini, siapa tahu Nika bisa memberikan penenang untuk hati Lily yang tengah gundah. “Dia nyebelin Mbak, suka ganggu aku. Aku jadi nggak betah tinggal di sana.” “Tuh kan bener, Mbak. Dia ada masalah sama kakak tirinya dan pasti nggak bisa tenang tinggal di sana.” Nadine mengeluarkan tawa liciknya untuk menakut-nakuti Lily. Mata Lily mendelik ke arah Nadine, menyesal ia menceritakan soal hubungannya dengan Axel kepada temannya itu. “Dia jahat sama kamu?” tanya Nika hati-hati. Lily menggeleng cepat, “Nggak kok, Mbak. Jangan dengerin Nadine, lambenya tuh nggak bisa dijaga.” “Tadi kamu bilang kalau kakak tiri kamu nyebelin.” “Iya, itu bener tapi bukan berarti Axel jahat.” “Oh namanya Axel. Terus-terus?” “Sikapnya nggak ramah, nyebelin, dingin pula. Dia itu suka ngancem aku kalau bikin hidup aku nggak tenang di rumah itu,” jelas Lily dengan air muka sedih. Nika mengangguk paham, “Mungkin dia belum siap kalau di rumahnya ada orang baru, Ly. Kamu jangan salah paham sama sikap orang yang baru kamu kenal.” “Tapi kayaknya Axel takut kalau warisan bokapnya dibagi ke Lily dan Jasmine, makanya sikapnya begitu, Mbak.” “Huss, kamu ini jangan mikir aneh-aneh. Bukannya bikin teman tenang, ini malah jadi kompor.” “Iya nih, Nadine emang pikirannya negatif terus,” cibir Lily. “Ih santai kali. Aku kan cuma nebak aja,” jawab Nadine santai. “Wajar sekali kalau sikap kakak tiri kamu begitu, Ly. Bayangkan saja tiba-tiba ada orang asing masuk ke dalam hidupnya dan tinggal bersama. Belum terlalu mengenal tapi langsung malah keluarga.” Lily mendesah pelan. “Iya juga sih, Mbak. Makanya aku nggak bilang dia jahat. Cukup baik kok peduli sama aku dan Jasmine. Bahkan dia minta aku sama Jasmine jangan pergi sendiri dan tadi aku diantar sama dia ke kantor. Mbak Nika benar, sepertinya kami berdua masih perlu penyesuaian sebagai saudara.” “Eh serius diantar Axel? Kok nggak bilang sih?” sambar Nadine. “Nadine!” Seru Lily kesal. “Astaga, maaf.” Nika kembali menatap Lily yang duduk di sebelahnya sambil mengelus perutnya yang terasa begah. “Berarti kakak tiri kamu kategori pria baik, Ly.” “Tapi Mbak, jujur saja aku lebih senang tinggal di kos. Kalau tinggal di rumah itu aku kurang bisa menyesuaikan. Rumahnya besar tapi yang tinggal di sana sedikit. Apalagi Mama dan Papaku lagi ke luar negeri dan aku cuma sama Jasmine di rumah. Dan kata asistennya Axel, dia itu lebih sering ke luar kota. Buat apa rumah besar kalau penghuninya pada sibuk di luar.” “Sabar saja, Ly. Semua butuh penyesuaian baik kamu maupun kakak tiri kamu. Saling belajar untuk menerima kehadiran satu sama lain. Aku yakin kalian bisa jadi saudara yang akur kok. Kamu kan biasa tinggal sendiri, harusnya rumah besar itu nggak jadi masalah entah ramai atau sepi.” “Tuh dengerin nasihat Mbak Nika calon mama muda.” Bibir Lily mengerucut, mendengar ocehan Nadine. “Iya Mbak, aku masih belajar. Tapi kalau ke depan masih tidak ada perubahan dengan sikap Axel, kayaknya aku balik kos aja daripada tiap hari ketemu terus berantem.” “Itu terserah kamu, Ly. Kalau memang tidak bisa ditahan, kamu bisa memilih jalan yang tepat menurut kamu.” Sepanjang perjalanan pulang naik angkutan umum, Lily terus memikirkan ucapan Nika. Ia harusnya bisa bersikap dewasa mengenai pernikahan Grace dan keadaan dimana ia memiliki saudara tiri. Ia harus bisa bersabar menghadapi Axel yang baru beberapa hari ia kenal dan bisa saja sikapnya akan berubah seiring waktu mereka menjadi keluarga. “Sabar saja, siapa tahu bulan depan gue ketemu jodoh dan nikah. Bisa langsung keluar dari rumah itu,” pikirnya. “Aihh, gue mikir apa sih. Kalau gue nikah, pisah sama Mama dan Jasmine dong, belum rela ih,” batin Lily kembali. ~ ~ ~ --to be continue-- *HeyRan*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD