19. RATU DEDEMIT

2039 Words
Grace sedang sibuk menyiapkan sarapan bersama dengan Mbok Nanik. Rutinitas yang selalu membuat wanita itu terlihat bahagia. Berada di rumah, melayani suami serta anak-anaknya. Sungguh kehidupan yang sudah lama Grace tinggalkan dan kini Leo benar-benar memberikannya kebahagiaan yang utuh. “Selamat pagi, Ma.” Sapa Lily yang sudah dalam keadaan siap dengan seragam kerjanya. Grace memeluk anaknya lembut, “Pagi sayang, sarapan dulu.” Lily kemudian duduk di tempat biasa. “Yang lain belum datang ya?” “Belum sayang, tadi Papa sempat olahraga jadi sekarang masih mandi. Jasmine dan Axel sepertinya sebentar lagi datang.” Grace menghidangkan bubur ayam sebagai menu sarapan pagi ini untuk keluarganya. “Semoga kamu suka ya.” “Suka kok Ma, apapun yang Mama buat aku suka.” “Bisa saja kalau muji ya,” ucap Grace. “Wajah kamu kenapa pucat sayang?” Tangan gadis itu meraba wajahnya yang dikatakan pucat. Padahal ia menggunakan make up walaupun tipis tapi ia yakin kalau wajahnya terlihat lebih segar. “Masa sih Ma? Aku pakai make up kok, mungkin perasaan Mama aja.” Grace menarik kursi yang ada di sebelah Lily. Tangannya perlahan terangkat, mengusap wajah putrinya. “Mata kamu sedikit berangkat, Ly. Apa kamu capek karena semalam lembur?” “Mungkin saja Ma, tapi aku nggak apa-apa kok. Mama nggak perlu khawatir, hal seperti ini biasa bagi Lily. Nanti malam aku pakai kompres mata biar bengkaknya berkurang.” “Ly, Mama tahu kamu pekerja keras tapi jangan terlalu ngoyo, yang ada kamu sakit. Lagi pula beban kita tidak terlalu berat seperti dulu, Papa Leo nggak akan membiarkan kamu bekerja keras karena uang.” Tidak ingin membuat Grace khawatir, Lily melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang ibu. “Ma, aku baik-baik aja kok. Tapi pesan Mama pasti akan selalu aku ingat. Soal Papa Leo, aku bersyukur kalau Mama memiliki pasangan yang baik tapi bagaimanapun juga aku nggak mau dianggap memanfaatkan semua yang dikasih Papa Leo. Aku akan menerima sesuai dengan porsinya, aku nggak mau maruk Ma.” “Iya sayang, Mama tahu jawaban kamu pasti seperti itu. Tapi jangan marah ya kalau Mama cerewet. Selama ini kamu terbiasa hidup tanpa Mama jadi kamu pasti merasa sedikit terkekang.” Lily mengurai pelukannya. “Nggak kok, walaupun selama ini kita jauhan tapi Mama kan selalu telpon aku buat ngingetin semua hal jadi sama saja bagi aku. Yang beda adalah, sekarang setiap hari aku bisa menikmati masakan Mama.” Grace menjawil hidup Lily karena gemas. “Sekarang Mama tahu kalau kamu doyan makan.” “Bagus dong, daripada anak Mama susah makan.” “Pagi-pagi sudah ada yang mesra,” ucap Leo yang baru bergabung ke meja makan. “Ada apa, kok wajahnya pada semringah?” “Nggak kok Pa, ini rahasia perempuan,” sahut Grace. “Selamat pagi semuanya,” sapa Jasmine yang menyusul setelah Leo. “Pagi sayang, sarapan dulu.” “Siap Ma.” Jasmine melirik Lily, seperti ingin memastikan kalau kakaknya dalam keadaan baik setelah kejadian semalam. Ia ingin bertanya tapi tentu tidak mungkin dilakukan di hadapan ayah dan ibunya. Sesuai janjinya dengan Axel, ia harus menjaga rahasia mengenai apa yang menimpa Lily. “Axel mana?” tanya Leo. “Mungkin sebentar lagi,” sahut Grace. “Jangan marah lagi kalau Axel telat sarapan, Pa.” “Nah panjang umur banget Mas Axel, setelah diomongin langsung muncul.” Celetuk Jasmine yang melihat kemunculan Axel. Pria itu berjalan ke arah meja makan dengan tampilan rapi dan tentunya bisa membuat para wanita menjerit karena ketampanannya. Tapi ada yang sedikit ganjal, Axel memegang lehernya, seperti sedang tidak nyaman. “Pagi Axel, sarapan dulu.” Axel mengangguk, “Iya,” sahutnya singkat. Axel menoleh ke arah depan, tepat dimana Lily sedang duduk. Keduanya nampak canggung padahal sejak semalam mereka bersama-sama. Tapi sekarang Axel dan Lily justru bingung harus bersikap bagaimana. Grace melirik Lily dan Axel bergantian, sikap aneh keduanya membuat wanita itu ceriga. “Kalian nggak lagi berantem kan?” “Siapa Ma?” tanya Leo. “Axel dan Lily, Pa. Liat deh, mereka berdua sikapnya aneh, saling lirik tapi mukanya datang.” Lily dan Axel langsung bereaksi mendengar kecurigaan Grace. “Kami berdua baik-baik aja kok, kan sudah biasa aku sama Axel irit ngomong.” “Iya Ma, lagi pula aku malas banyak omong sama Lily nanti ujung-ujungnya ribut.” “Sudah jangan dilanjutkan, sebaiknya kita sarapan dulu. Bubur buatan Mama enak, sayang kalau dilewatkan,” ucap Leo. Axel dan Lily tidak menjawab, keduanya fokus sama mangkuk yang berisikan bubur ayam yang aromanya menggugah selera. Lily melirik Axel diam-diam, pria itu masih memegang lehernya sejak tadi. “Jangan-jangan si engsel pintu sakit leher karena posisi tidur yang salah,” batin Lily. “Kamu kenapa, Axel?” tanya Grace. “Sakit leher?” Axel terkesiap, dengan cepat ia menyingkirkan tangannya yang sejak tadi mengusap-ngusap lehernya. “Nggak kok, kebiasaan.” “Papa perhatikan dari tadi, duduk kamu juga kurang nyaman. Kenapa?” Melalui sudut matanya, Axel mengintip bagaimana reaksi Lily saat ini. “Kayaknya salah posisi tidur Pa jadi pinggang agak kurang nyaman.” “Tidur saja bisa salah, gimana sih kamu ini,” sindir Leo. Suasana kembali hening, semua fokus menghabiskan semangkuk bubur ayam. Lily menatap Axel dan ternyata pria itu juga menatapnya. Perasaan bersalah kembali menyelimuti Lily dan ia berjanji akan menebus semuanya kepada Axel. “Mau bareng sama gue?” tanya Axel ketika keduanya keluar bersamaan dari pintu rumah. Lily menoleh ke samping tepat Axel berjalan mengimbangi langkahnya. “Nggak kok, gue bisa sendiri.” “Lo baik-baik aja kan?” tanya Axel kembali. “Harusnya gue yang nanya begitu. Gimana pinggang sama leher lo? Pasti sakit dan nggak nyaman kan?” “Lumayan sih tapi nanti juga hilang, santai.” Jawabnya dengan gaya khasnya yang cool. “Syukurlah kalau begitu, setidaknya rasa bersalah gue sedikit berkurang,” ucap Lily pelan. “Yang terpenting lo nggak apa-apa, itu sudah buat gue lega,” sahut Axel kemudian berjalan menuju mobilnya. Lily merasakan kehangatan pada dadanya saat mendengar ucapan penuh perhatian dari Axel. Ia tidak menyangka, dibalik sikapnya yang terkadang dingin dan menyebalkan, ada sisi hangat yang jarang ditunjukkan pria itu. “Aneh, dia memang sedikit aneh,” gumam Lily. *** Setelah beres dengan dandanan dan pakaian yang sebelumnya sedikit berantakan, kini Lily sudah bersiap untuk ke counter miliknya. Ia berusaha melupakan apa yang terjadi kemarin, ia harus menjadi Lily yang kuat dan tanggung di hadapan salah satu karyawan di sana. “Pagi Ly,” sapa Doni. “Pagi Don,” sapa Lily dengan penuh semangat. Ia melirik Mega yang tengah duduk santai seolah tidak peduli dengan kedatangan Lily. “Semangat sekali, pasti semalam lo tidur nyenyak ya?” Tiba-tiba Mega tertawa kecil, lebih tepatnya menunjukkan senyum remeh ketika mendengar ucapan Doni. “Kenapa Me?” tanya Doni. Mega tersenyum kembali. “Nggak kok, gue ingat sesuatu jadi ketawa.” “Oh gue kira pertanyaan gue lucu.” “Gue emang mimpi indah semalam, efeknya bahkan sampai sekarang,” sahut Lily penuh penekanan dengan tatapan tajam ke arah Mega. “Lo bisa tertawa senang sekarang. Lo kira gue nggak tau kalau kejadian kemarin akal-akalan lo aja.” Batin Lily dengan perasaan marah. *** Mulut Nadine terbuka lebar saat Lily mengatakan kalau kemarin ia mengalami hal tidak mengenakkan. “Kenapa bisa terkunci di kamar mandi?” “Lo dengar baik-baik cerita gue ya karena gue nggak ngulang cerita menyeramkan ini.” Nadine mengangguk patuh. “Ayo buruan, keburu jam istirahat habis.” “Gue pulang paling akhir, dan saat gue beres-beres ponsel gue bunyi. Ada nomor baru yang kirim pesan dan itu atas nama lo.” “Hah? Nomor baru atas nama gue?” Lily mengangguk, “Iya dan gue mikir emang lo lagi ganti nomor, pokoknya gue mikir pendek deh. Di pesan itu tertulis kalau lo di toilet dekat basement dan lo lagi bocor, butuh pembalut. Karena gue kepikiran ya gue langsung aja ke sana. Pas masuk dan manggil lo, eh tiba-tiba pintunya terkunci.” “Masa sih Ly? Kok cerita lo serem banget.” “Masa gue bohong,” Lily menunjukkan pesan yang dimaksud. “Nih liat sendiri kalau lo nggak percaya.” Nadine menerima ponsel tersebut dan membacanya dengan seksama. Bulu kuduknya merinding, membayangkan kalau yang mengirim pesan itu adalah penghuni gedung tempat mereka bekerja. “Kok serem sih? Jangan bilang kalau gedung ini ada penghuninya. Lagian siapa juga yang pakai kamar mandi dekat basement kecuali kepepet.” “Ya bodohnya gue nggak mikir sejauh itu. Tapi please jangan berpikir konyol, mana ada hantu main hp terus kirim pesan ke gue.” “Kali aja ada, Ly. Lo ih nggak percaya banget kalau gue kasih tahu.” Lily menggeleng heran. “Nad, ketakutan lo berlebihan. Yang ada makhluk astral itu si Mega. Dedemit itu yang kunci gue di kamar mandi.” “Hah?” Bola mata Nadine hampir keluar karena terkejut. “Serius?” “Iya karena saat di basement, gue sempat liat dia sepintas. Tapi karena gue mikirin lo, ya udah gue nggak ambil pusing.” “Ih, kok Mega keterlaluan banget sih. Lo harus laporin dia, tindakan dia itu kriminal tau.” “Nggak, gue nggak mau melakukan itu. Biarin aja dia senang karena merasa berhasil buat mental gue down, sayangnya gue masih kuat, masih tangguh buat ngelawan dedemit itu. Gue pingsan bukan takut terkunci tapi karena gelap. Lo tahu kan gue takut gelap.” “Bagus, gue setuju. Dan lo tenang aja, gue akan bantu awasin ratu demit itu. Gue yakin dia ngelakui itu karena nggak suka Pak Hery deketin elo.” “Tapi kalau begini ceritanya, gue semakin senang bikin si Mega panas. Awas aja, gue bakalan bikin dia cemburu sampai ke ubun-ubun.” “Tapi lo harus tetap hati-hati, jangan sampai dia melakukan hal yang lebih serem dari yang kemarin.” “Tenang, gue akan lebih awas sekarang. Manusia model si Mega itu, kudu dibalas tapi harus dengan cara yang elegan,” ucap Lily. “ “Nah gue mau nanya, kenapa Axel tahu lo terkunci di sana?” Lily mengatakan yang sebenarnya soal Axel serta hal apa yang pria itu lakukan secara diam-diam. Ternyata bukan hanya dirinya saja yang bereaksi terkejut, Nadine tidak kalah kaget dengan cerita Lily soal Axel. “Serius?” Nadine menoleh ke segala arah, mencari keberadaan Toni di sekitar mereka. “Dimana dia sekarang?” Lily mengangkat bahunya. “Entahlah, aku juga belum tahu yang mana orangnya.” “Tapi baik banget ya bokap sama Axel, dia benar-benar jaga anggota keluarganya.” “Iya dan gue agak menyesal berpikir buruk sama engsel pintu.” “Ya elah, udah baik masih aja dipanggil engsel pintu.” Lily tertawa, “Gimana dong, jadi kebiasaan gue.” “Ya syukurlah kalau lo ada yang jaga. Semoga nggak ada hal buruk yang menimpa lo lagi.” “Amin, makasih Nad.” Lily sedang mencuci tangan sebelum pulang. Saat ia masuk ke dalam toilet, ternyata ada Mega di sana sedang membetulkan riasan wajahnya. Lily malas sekali berdua dengan gadis itu tapi ia juga tidak akan menunjukkan rasa takut kepada rekan kerjanya itu. “Mbak Mega nggak ada niat kunci aku lagi?” tanya Lily santai dengan pandangan ke arah cermin wastafel. Mega menoleh. “Lo ngomong sama gue?” “Iya dong, masa sama dedemit?” “Terus maksud pertanyaan lo apa?” Lily mengeringkan tangannya pada mesin hand dryer, pandangannya lalu mengarah ke Mega. “Aku tahu semuanya Mbak, aku bisa saja mengatakan sama atasan kalau kemarin Mbak Mega yang menjebak aku dengan pura-pura kirim pesan atas nama Nadine. Cara Mbak Mega kampungan, terlalu mudah dibaca.” Mega menatap Lily dengan tatapan kesal, seperti siap untuk meledak karena emosi. “Bagus kalau lo tahu pelakunya itu gue. Lain kali jangan coba-coba cari kesempatan buat deketin Pak Hery atau gue bisa melakukan hal yang lebih.” Seringai menantang terlihat di wajah Lily. “Lakukan Mbak, dengan mudah juga aku akan buat Mbak Mega didepak dari tempat ini.” Ucap Lily lalu meninggalkan Mega. Kedua tangan Mega mengepal, kukunya memutih karena menahan emosi. “Sialán, awas saja.” Di luar, Lily tersenyum senang karena bisa membuat Mega kesal. Batinnya terpuaskan karena bisa membuat Mega terpojok. “Jangan kira gue lemah, Mbak Mega salah cari musuh,” ucap Lily. ~ ~ ~ --to be continue-- *HeyRan* ---------- Happy reading :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD