Terjebak Alkohol

1091 Words
“Aku bilang, bukan urusanmu!” sentak Alina, kemarahannya yang terpendam, yang sebelumnya hanya ditujukan pada Raka dan Citra, kini berbalik menyerang Gibran. Dia adalah satu-satunya manusia yang berada di depannya. Ia mencoba menggeser bahu, mendorong bahunya melewati lengan Gibran, meski tidak menyentuh, telah memberi batas. Bau parfum mahal yang dingin dari tubuh Gibran menusuk indranya, mengingatkannya bahwa pria ini bukan hanya dokter profesional, melainkan juga bagian dari dunia elite yang kini sedang mencoba ia hindari. Gibran menarik lengannya ke samping, tetapi tetap berdiri diam, posturnya yang besar menutupi cahaya dari lampu di atas. Dia membiarkan Alina mencoba melewatinya, seolah menguji apakah Alina benar-benar bisa lepas dari dirinya. “Baiklah. Anggap saja aku mengkhawatirkan properti apartemen. Karena suaramu mengganggu. Karena jika kau benar-benar berdarah dan jatuh pingsan di jalanan, itu akan menjadi masalah,” ujar Gibran, nadanya kembali datar dan dingin, memasang wajah seorang dokter yang harus bersikap logis. Alina tertawa. Suara tawa itu mengejek, penuh kesakitan dan histeris, terdengar asing dan tajam memecah keheningan karpet mewah. “Masalah? Kau takut pada masalah, Dokter Mahesa? Benar. Kau selalu takut pada hal itu,” balas Alina, matanya yang sembab menatap Gibran. Ia tahu siapa Gibran Mahesa. Cinta pertama yang pernah membuatnya begitu bodoh di masa SMA. Pria yang menolaknya, bukan karena Alina tidak cukup baik, tetapi karena Gibran saat itu telah terikat pada tanggung jawab keluarganya. “Kau tidak berubah, Gibran,” bisik Alina, “Selalu berlindung di balik tembok tanggung jawab. Sepuluh tahun lalu, aku bodoh karena mempercayai bahwa kau menolakku demi masa depanku. Tapi kau menolakku karena kau tidak bisa menerima sesuatu yang berpotensi menjadi masalah. Dan aku—aku hanya ingin menjadi sama seperti sekarang. Jadi, biarkan aku pergi. Pergilah ke istrimu yang sempurna itu.” Ucapan ‘istrimu yang sempurna’ itu menampar Gibran. Matanya sedikit melebar, seperti Alina baru saja melontarkan fakta telanjang tentang kehidupannya yang diatur. Gibran Mahesa memalingkan wajah, hanya sedetik. Tetapi di jeda sesaat itu, Alina melihatnya. Rasa sesak yang tidak dapat ia pahami dari seorang pria yang tampaknya memiliki segalanya karier, nama baik, dan istri yang elegan, Soraya Adnan, yang namanya sering menghiasi daftar nama sosialita Jakarta. “Aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu hancur malam ini,” Gibran mengakui, suaranya sedikit lebih keras, “Aku tahu kau punya pacar, aku lihat kalian sering keluar masuk bersama. Raka, bukan? Aku dengar namanya dari Santi. Jika dia yang melakukan ini padamu—” “Dia adalah pacarku yang tidur dengan sahabatku. Sempurna, bukan?” Alina menyelesaikan kalimat Gibran dengan nada yang tajam. Dia menyadari ia seharusnya tidak mengucapkan hal itu. Itu terlalu blak-blakan. Ekspresi Gibran berubah lagi. Wajahnya mengeras, penuh simpati, tetapi juga, entah bagaimana, terlihat terluka. Mungkin karena Raka dan Alina telah berbagi unit yang sekarang ia tinggali di sebelahnya. “Aku minta maaf,” kata Gibran, suara pelannya kini tulus. Alina tidak ingin permintaan maaf itu. Dia tidak menginginkan empati Gibran. “Aku tidak butuh maafmu,” katanya, matanya berkilat liar mencari pintu lift yang tertutup di belakang Gibran. “Aku butuh melarikan diri. Dan aku harus melarikan diri sekarang.” “Kau mau lari ke mana? Dalam kondisi seperti ini, Alina, kau butuh istirahat. Atau setidaknya, seseorang yang benar-benar bisa menjagamu,” Gibran menahan. Kata-katanya lembut, tetapi aksinya tetap menahan. Seseorang yang menjagaku. Hal itu terasa begitu menyakitkan. Jika dia benar-benar menginginkan itu sepuluh tahun yang lalu, ia harusnya memilih Alina, bukan nama keluarga Mahesa. “Teman-temanku menungguku. Di bar. Aku akan pergi dan mabuk, Gibran. Aku akan lupa bahwa Raka ada, bahwa Citra ada, dan yang terpenting, aku akan lupa bahwa aku pernah berharap cinta pertama akan kembali menjadi pahlawanku,” sembur Alina, amarahnya sekarang mencapai puncak yang memuakkan. Gibran tersentak mendengar kata ‘bar’ dan ‘mabuk’. Seorang wanita sukses yang berada di ambang kehancuran. Itu tidak sesuai dengan citra yang harus ia pertahankan, citra yang harus Alina pertahankan. “Itu adalah keputusan yang buruk. Alkohol bukanlah solusi,” Gibran bersikeras, kembali ke mode profesional. “Dan pernikahan tanpa cinta adalah solusi yang baik?” Alina menantang balik, mendorong jarum ke tempat yang paling sakit. Tiba-tiba, Gibran Mahesa melunak. Postur tegangnya sedikit runtuh. Untuk pertama kalinya, Alina melihat sedikit celah pada tembok kokoh yang ia bangun di sekelilingnya selama sepuluh tahun ini. Gibran melihat ke arah unitnya, unit 16A, lalu kembali ke Alina, di ambang pintu unit 16B. “Terserah padamu. Tapi kau harus janji kau akan baik-baik saja,” Gibran menghela napas panjang. Dia minggir, perlahan membuka jalan menuju lift. Kini, jalur pelarian terbuka. Alina tidak menunggu. Dia berlari. Langkahnya cepat dan tegang di atas karpet. Dia menekan tombol lift berkali-kali, tidak sabar menunggu kedatangannya. Saat pintu lift terbuka, Alina masuk tanpa melihat ke belakang. Ia menekan tombol lobi dengan cepat. Gibran masih berdiri di pintu unitnya. Diam. Menyaksikan. Matanya yang gelap memancarkan percampuran rumit antara kekhawatiran dan kenangan lama. Saat pintu lift hampir tertutup, Alina menatap wajahnya untuk terakhir kali. Ada luka yang menganga di hati Alina, luka baru dan lama, tetapi setidaknya, dia sudah lolos dari sesuatu yang mematikan ini. Namun, sebelum pandangannya terputus sepenuhnya oleh dinding baja, Gibran membuka mulutnya. Ia tidak meneriakkan perintah, atau nasihat. “Aku tidak tahu apa yang sedang kau cari di luar sana, Alina. Tapi hati-hati. Terkadang, pelarian adalah jebakan yang lebih berbahaya daripada apa pun yang sedang kau hindari.” Pintu lift tertutup. Alina tersandar di dinding logam dingin itu, terengah-engah. Pelarian. Hanya itu yang ia pedulikan. Dia akan pergi ke Senopati. Dia akan menjadi sama seperti sekarang. Dia akan tenggelam dalam kebisingan dan melupakan wajah Gibran Mahesa yang menatapnya dengan rasa bersalah yang dalam. Apartemen SCBD Residence yang tenang dan mewah ini terasa seperti penjara emosional. Tapi begitu lift mencapai lobi, begitu pintu kaca besar terbuka ke hiruk pikuk Jakarta di malam hari, Alina menarik napas pertama yang dalam. Ke mana perginya mobil Raka? Dia tidak melihatnya. Mungkin Raka sudah kabur membawa Citra ke suatu tempat, memulai cerita baru mereka. Bagus. Sekarang gilirannya. Alina menyewa taksi online yang cepat tiba. Begitu ia menyebutkan destinasi—Whisper’s Corner, Senopati semuanya terasa lebih nyata, lebih berisiko. Duduk di kursi belakang taksi, memandangi lampu-lampu Jakarta yang melaju kencang, ia merasakan alkohol dan adrenaline yang ia paksa tahan kini berteriak-teriak. Pesta. Melupakan. Trouble. Itu adalah rencana yang bodoh, tetapi ia tidak peduli. Dia sudah kehilangan segalanya. Setengah jam kemudian, taksi berhenti di depan bar Whisper’s Corner yang remang-remang, megah, dan bergetar karena musik house yang keras. Santi sudah menunggunya di pintu masuk. Melihat Alina, Santi bergegas mendekat, mata sahabatnya itu memancarkan kekhawatiran. Santi menatap balutan luka di tangan Alina, lalu menatap matanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD