Kejutan Yang Terbalik
Bab 1
Bab 1
“Selesaikan peninjauan berkas Nyonya Lee dalam dua jam. Aku perlu mempercepat keberangkatan paling lambat pukul empat sore ini.”
Keputusan untuk memotong perjalanan dinas dua hari di Singapura memang gila, berisiko mengacaukan jadwal pertemuan dengan para pemegang saham kawasan Asia. Namun, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, bagi Alina, angka-angka dan laba perusahaan raksasa yang ia audit terasa tidak lebih penting dari tanggal 28 September.
Hari ulang tahun Raka Sanjaya.
Kesempurnaan adalah mantra hidup Alina. Sebagai Auditor Senior di firma Big Four, hidupnya adalah tatanan rapi yang disusun dari kertas kerja dan jadwal terperinci. Tatanan itu juga ia terapkan dalam kehidupan asmara, tiga tahun berpacaran dengan Raka Sanjaya, seorang Eksekutif Marketing yang setampan bintang iklan, adalah mahakarya terbesarnya.
Alina dan Raka adalah pasangan yang tidak pernah gagal menghadiri acara penting, tidak pernah absen mengucapkan kalimat mesra di media sosial, dan tidak pernah sekali pun menghadapi rumor negatif.
Alina selalu yakin, Raka adalah cinta terakhir. Di mana ia akan menggantungkan semua impian dan kelelahan kerja kerasnya.
“Kejutan paling penting membutuhkan persiapan yang paling teliti,” bisik Alina pada dirinya sendiri, menyentuh kotak velvet yang tersimpan aman di tas tangan Hermes-nya. Di dalamnya terbaring jam tangan chronograph edisi terbatas yang Raka idam-idamkan.
Di bawah tatapan takjub stafnya yang merasa harus tunduk pada kecepatan geraknya, Alina berhasil mengubah empat jam menjadi dua jam. Penerbangan sore itu membawanya menembus awan Jakarta, mengembalikan dirinya ke jantung beton yang berdenyut.
Begitu menginjakkan kaki di Bandara Soekarno-Hatta, sensasi jet lag segera diusir oleh lonjakan adrenalin.
“Pak, Senopati Residence. Lewat tol saja,” perintahnya kepada pengemudi taksi online, menoleh ke kursi belakang untuk melihat tote bag putih berlogo toko kue mahal yang ia pesan seminggu sebelumnya.
“Wajah Anda terlihat sangat gembira, Bu. Pulang disambut pasangan, ya?” tanya sopir itu ramah.
Alina tersenyum—senyum yang langka, tulus, dan sedikit rahasia. “Ya, hari ini adalah kejutan yang sangat spesial. Saya harap Raka menyukainya.”
Sopir itu mengangguk, melihat sekilas raut kebahagiaan wanita muda yang tampak selalu tegang itu. "Pasti suka, Bu. Semangat sekali Ibu mempersiapkan ini."
Oh, dia pasti akan suka. Alina membatin, jari-jarinya menari di layar ponsel untuk mengecek aplikasi pesan.
Pukul 19.30 WIB, "Tolong tidur juga, Sayang. Besok kamu harus segar untuk meeting pagi."
Pesa Raka membalas satu jam yang lalu dengan pesan singkat, disertai emoji ciuman, "Oke, sayang. Mimpi indah. Miss you."
Raka pasti ada di apartemen mereka, sendirian, mungkin baru selesai makan malam atau sedang menonton siaran ulang Liga Primer Inggris, menunggu pagi hari yang tenang.
Alina memanfaatkan perjalanan ini untuk berubah dari seorang auditor berjas formal menjadi seorang kekasih yang penuh kejutan. Di kursi belakang, ia berganti gaun, menghapus jejak jet lag dengan sedikit bedak, dan memulaskan lipstik merah anggur kesukaan Raka.
“Tidak mungkin aku merayakan ulang tahun Raka hanya melalui panggilan video,” pikirnya, merasakan sedikit geli karena berhasil melanggar aturan kerjanya sendiri demi cinta.
Lima belas menit kemudian, mobil berhenti di depan lobi mewah apartemen mereka di kawasan Jakarta Selatan. Alina melangkah keluar, menyembunyikan kotak kue yang didominasi cokelat gelap dan berlapis emas.
“Selamat malam, Nona Alina,” sapa Resepsionis. “Kami kira Anda masih di luar negeri.”
“Aku kembali lebih cepat,” jawab Alina cepat. Ia mengangguk kepada petugas keamanan yang membukakan pintu lift khusus pribadinya.
Di dalam lift, diiringi musik jazz instrument yang menenangkan, Alina menarik napas dalam-dalam. Jantungnya berdebar, bukan karena kelelahan, melainkan karena antisipasi yang membakar. Ia mengeluarkan kartu akses dan memasukkannya ke slot, menuju lantai dua puluh lima, tempat segala kesempurnaan menunggu.
Pintu lift terbuka. Koridor yang luas dan hening, disinari cahaya lembut, menyambutnya. Unit 2507, apartemen mereka, berjarak hanya beberapa langkah.
Ia memperlambat langkah. Kotak kue ia pegang dengan hati-hati. Ia ingin masuk tanpa suara, berdiri di ambang pintu kamar tidur mereka, dan menyaksikan ekspresi Raka ketika terbangun di tengah malam dan mendapati ia ada di sana.
Malam ini haruslah sebuah cerita untuk diingat seumur hidup. Sebuah bukti bahwa bahkan di tengah hiruk pikuk Jakarta dan tekanan karier yang tinggi, ia mampu mengutamakan cinta mereka.
Di depan pintu baja gelap unit 2507, Alina menggeser kartu aksesnya. Bunyi 'beep' pendek yang pelan terasa sangat memuaskan di telinganya. Raka pasti tidur pulas, tidak menyadari hadiah terbaik dari ulang tahunnya baru saja tiba.
Alina menarik napas panjang. Tangan kirinya memegang kenop pintu yang dingin. Ini dia. Momen kejutan itu.
Dia menekan gagang pintu ke bawah. Saat pintu berderit terbuka, yang pertama menyambutnya bukanlah aroma masakan yang sudah dingin atau bahkan aroma lilin aromaterapi kesukaan mereka. Itu adalah aroma yang tajam, asing, dan terasa begitu mendesak—aroma keringat, parfum murah yang bukan miliknya, dan udara panas yang aneh.
Alina mengerutkan kening, rasa gembiranya tertelan keanehan mendadak. Ia melangkah ke dalam, ruang tamu yang seharusnya gelap kini diterangi oleh lampu remang-remang dari koridor menuju kamar tidur utama. Dan kemudian, dia melihat sesuatu.
Sepasang sepatu hak tinggi berwarna merah, milik Citra Kirana, sahabat karibnya sejak masa kuliah, tergeletak miring dan terburu-buru di depan pintu kamar tidur mereka.
Alina merasa dingin merayapi punggungnya, memadamkan api antisipasi yang sempat berkobar. Itu hanyalah sepatu. Mungkin Citra mampir sebentar. Tetapi kenapa lampunya redup? Dan kenapa—
Jantungnya berdebar-debar , menabrak tulang rusuknya. Dari balik pintu yang sedikit terbuka itu, ia mendengar suara. Bukan suara Raka sedang menonton TV. Bukan suara desahan musik.
Itu adalah desahan. Diredam oleh dinding kamar tidur kedap suara, tetapi tetap saja—desahan itu adalah suara yang sangat jelas.
Tangannya yang memegang kotak kue tiba-tiba gemetar hebat. Gaun merah anggurnya terasa seperti baju besi yang terlalu berat. Ia mengambil satu langkah maju, berusaha menepis pikirannyaa sendiri, memohon pada semesta agar matanya berbohong, agar telinganya berdusta.
Lalu suara itu muncul lagi, kali ini lebih keras, lebih jelas, disusul bisikan maskulin yang ia kenali dengan setiap serat nadinya, bisikan Raka.
“Ya, Sayang. Lebih dalam lagi.”
Dan kemudian, Alina Prameswari yang sempurna, wanita yang sangat terorganisir, berdiri di tengah pintu apartemen yang ia yakini sebagai istana kebahagiaannya, menyadari bahwa ia tidak membawa hadiah kejutan. Ia membawa tiket masuk ke dalam nerakanya sendiri.
Dia tidak bisa bernapas. Semua skenario yang telah ia susun rapi selama dua minggu terakhir untuk kejutan ini, runtuh.
Kotak kue itu jatuh dari tangannya yang kaku. Dentuman kecil itu mungkin diredam oleh musik di dalam sana, tetapi bagi Alina, suara jatuhnya kotak kue cokelat itu sama dahsyatnya dengan ledakan bom.
Ini tidak mungkin.
Dia memaksakan pandangannya ke ambang pintu kamar yang sedikit terbuka. Dua bayangan bergerak, satu laki-laki, satu perempuan.
Itu adalah Raka. Dan wanita itu adalah— sahabatnya
Sebuah kalung perak melingkari leher wanita itu. Kalung itu, ia tahu, adalah hadiah ulang tahunnya yang tahun lalu dari Alina sendiri.
Paru-paru Alina terbakar. Darahnya mendingin, tetapi wajahnya membeku sempurna. Matanya hanya terpaku pada celah pintu, tempat kehidupan perfect yang ia bangun hancur berkeping-keping.
Dan kemudian, hal yang paling ditakutinya terjadi. Suara tawa pelan yang nakal, suara tawa Citra Kirana, menggema sesaat sebelum keheningan mencekik kembali menyelimuti.
Alina menghela napas yang begitu berat hingga terasa menyakitkan di tenggorokannya, mengangkat tangannya yang gemetar, dan tanpa berpikir, tanpa dialog, dia membuka pintu itu selebar-lebarnya, membuat bayangan dua insan yang terjerat di dalamnya langsung menatap cahaya.
“Aku….”