Bab 2
“Aku… kira kalian akan mengirim pesan jika ada pre-party mendadak?”
Suara Alina bukan pertanyaan. Nada bicara yang ia gunakan saat sedang menghancurkan neraca keuangan perusahaan korup. Dingin juga mematikan.
Kejutan. Itu kata yang ia inginkan, dan sialnya, ia mendapatkannya.
Di ambang pintu yang baru ia buka, berdiri sosok Raka, setengah telanjang, matanya melebar tak percaya seolah baru saja melihat hantu. Di belakangnya, Citra Kirana, sahabat Alina yang wajahnya kini pucat pasi, sedang berusaha menarik seprai satin untuk menutupi tubuhnya yang terbuka. Kalung perak itu, hadiah Alina, melingkar kontras di leher Citra.
Keheningan yang mencekik menyergap, tebal, berat, dan dipenuhi oleh aroma pengkhianatan yang memuakkan.
Raka yang pertama bereaksi, melompat turun dari ranjang, gerakannya kikuk dan penuh dengan kepanikan. “Alina! Astaga, kau pulang! Aku… kau bilang masih di Singapura.”
“Oh, ya,” Alina mengangguk perlahan, mempertahankan senyum kaku yang lebih menyerupai kedutan nyeri. “Aku memang harus di Singapura. Tapi aku memutuskan untuk pulang lebih cepat. Ada jam tangan baru yang kubawa untukmu. Untuk hadiah ulang tahunmu. Sebuah surprise untukmu, Raka.”
Dia melangkah maju, kakinya melangkahi remahan kue cokelat dan serpihan emas yang kini menyatu di karpet beludru. Matanya tidak beralih dari Raka. Raka, kekasih yang seharusnya sempurna, yang kini berdiri canggung, rasa takut mengalahkan pesonanya yang biasa memabukkan.
“Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Sayang,” Raka mencoba mendekat, tangannya terentang dalam gerakan membela diri yang dangkal. “Kami… ini hanya…”
“Hanya apa?” sela Alina, suaranya naik sedikit, tetapi kendali tetap ada di tangannya. Dia menoleh ke belakang. Matanya kini terkunci pada Citra. Wanita yang telah ia percaya dengan setiap rahasia dan setiap kelemahannya.
Citra menunduk. Ia tidak sanggup bertemu tatap dengan Alina.
“Kau,” Alina berbisik pada Citra, “Kau? Selama ini?”
Citra tersentak, wajahnya merah. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, air mata yang tampak disesali, tetapi bukan karena pengkhianatan itu, melainkan karena Citra tertangkap.
“Alina, maafkan aku,” isak Citra. “Ini salah paham. Kami… ini hanya terjadi satu kali.”
Alina tertawa. Tawa itu kering dan menyerupai pecahan kaca yang beradu di udara dingin. Dia menunjuk ke tempat tidur yang berantakan, ke sepatu hak merah yang kini tampak seperti monumen dosa di ambang pintu.
“Satu kali, Citra? Kau rela menelanjangi dirimu sendiri, tepat di hari ulang tahun kekasih sahabatmu sendiri, dan di atas ranjang yang kami beli bersama? Kau merayakan hari spesialnya? Di apartemen ini?”
Tawa Alina menghilang, digantikan oleh perasaan emosi yang tak tertahankan. Rasa sakit yang seharusnya membuatnya berteriak justru membuatnya terdiam. Sebagai auditor, ia terbiasa memproses fakta. Dan faktanya kehidupannya yang sempurna adalah sebuah kebohongan yang rapi.
Raka mendekat, berhasil meraih pergelangan tangan Alina. Kehangatan kulitnya terasa menjijikkan.
“Alina, aku tahu aku salah. Ini semua salahku,” kata Raka cepat, berusaha mengarahkan pandangan Alina kembali kepadanya, jauh dari Citra yang masih meringkuk ketakutan. “Tapi aku mabuk. Kau jauh. Kami bertengkar, kau tahu? Jarak membuatku…”
Alina menarik tangannya, seolah Raka baru saja menyentuhnya dengan api. Wajahnya, yang sebelumnya hanya kaku, kini diwarnai amarah yang perlahan membara. Amarah yang sangat tenang.
“Kau bertengkar denganku?” ulang Alina. “Tentu, kita bertengkar. Pertengkaran normal. Tapi kau menggunakan sahabatku sebagai peredam amarah? Aku mengira aku tahu kau, Raka. Aku pikir tiga tahun adalah waktu yang cukup bagiku untuk mengenal karaktermu.”
Dia melihat sekeliling. Apartemen mereka, dengan langit-langit tinggi dan pemandangan Jakarta yang gemerlap, terasa asing dan penuh jebakan.
“Kalian menyukai drama?” Alina mengambil remote TV, yang dilempar Raka dengan gugup, “Baiklah. Karena ini hari ulang tahunmu, aku akan memberikan satu hal lagi yang kau sukai.”
Dia menyalakannya. Layar televisi besar menyala, menerangi sudut ruangan yang remang-remang dengan cahaya biru yang brutal. Alina tidak tahu saluran apa yang sedang diputar.
Raka panik. “Alina, matikan itu! Mari kita bicara baik-baik. Tolong. Kita bisa perbaiki ini.”
“Perbaiki?” Alina tersenyum miring. “Apa yang harus diperbaiki? Kau tidur dengan Citra. Citra yang memberitahuku bahwa kau terlalu keras kepala. Citra yang kubawa saat kita memilih sofa ini! Dan Citra yang kini kau tiduri di atas sofa ini setiap kali aku bepergian dinas?”
Air mata Alina tidak jatuh. Itu adalah tanda yang lebih mengkhawatirkan daripada ratapan keras. Otaknya menolak untuk merasakan, sibuk melindungi dirinya dari kejutan yang begitu merusak.
“Tidak, Sayang. Tidak di sofa,” Raka tergagap. “Hanya… hari ini.”
Alina memejamkan mata sejenak, mengambil napas dalam-dalam. Ketika ia membukanya lagi, ia hanya melihat Raka dan Citra sebagai dua orang asing yang perlu disingkirkan dari tatanan hidupnya.
“Aku sudah memesan penerbangan darurat dari Singapura untuk memberimu kejutan,” kata Alina pelan. “Aku membawa kue dan hadiah yang kau inginkan.” Ia menghela nafas, “Aku lelah, Raka. Aku butuh tidur.”
Raka mendekat lagi, “Tolong, Sayang. Jangan lakukan ini. Aku cinta kamu. Aku hanya… melakukan kesalahan bodoh.”
Alina menoleh ke arah Citra, yang sekarang sudah sepenuhnya terbungkus seprai dan tampak kecil serta menyedihkan.
“Kau. Bangun. Kenakan pakaianmu. Dan keluar dari sini.” Perintah Alina tajam, diarahkan pada Citra.
Citra tersentak. Ia menatap Raka, meminta bantuan. Raka hanya berdiri, lumpuh di bawah tatapan dingin Alina.
“Alina, jangan libatkan Citra. Biarkan dia pergi. Kita yang akan menyelesaikan masalah kita,” Raka memohon.
“Tidak ada ‘kita’, Raka,” ucap Alina, langkahnya kembali ke arah Raka. Matanya bergerak cepat. Dia menunjuk pintu.
“Aku ingin kau dan sampah ini—” Alina menunjuk Citra dengan dagunya— “keluar dari apartemenku. Sekarang.”
“Apartemen kita, Alina. Kita sewa bersama!” balas Raka, nada paniknya berubah menjadi sedikit marah.
Alina mengulurkan tangannya, tepat di depan wajah Raka, mengisyaratkan Raka untuk diam. Lalu dia mengangkat tangan kanannya ke udara, merobek gaun mahal yang ia kenakan untuk Raka. Ia tidak memedulikan resleting yang robek atau bahannya yang koyak.
Ia berjalan menuju meja samping yang terletak di dekat jendela, tempat dompet Raka dan kuncinya biasa diletakkan.
“Ambil dompetmu,” perintah Alina. “Ambil ponselmu. Dan ambil kunci cadangan apartemenmu.”
“Apa maksudmu, Alina?” Raka menyentakkan napas.
“Aku lelah bepergian jauh, Raka. Aku butuh tempat yang bersih, damai, dan bebas dari parasit.” Alina mengambil kunci Raka, menariknya dari gantungan. Kunci itu dingin di telapak tangannya.
“Kau pikir aku akan tidur di tempat ini setelah apa yang kau lakukan?” tanya Alina. “Tidak. Aku yang akan tinggal di sini. Aku yang membayar biaya renovasi dapur tahun lalu, dan deposit apartemen enam bulan di awal.”
“Aku punya hak, Alina! Kita bertunangan!”