Bab 5

1019 Words
Beberapa hari kemudian. "Maaf, Rani, kamu tau sendiri peraturan di sini kan? Saya hanya bisa memberikan pinjaman maksimal 10 juta untuk setiap karyawan." Indira menolak pengajuan pinjaman Rani dengan halus, dia kembali menjelaskan peraturan kerja di tempatnya. "Baik, Bu, saya mengerti. Maaf sudah mengganggu waktunya." Rani berjalan dengan gontai, keluar dari ruangan Indira. Pikirannya kacau, dia bingung harus minta tolong pada siapa lagi. Tiba-tiba saja, bruk. "Maaf, maaf ya? aku nggak sengaja," ujar Rani menundukkan kepala, berulang kali minta maaf. Dia mengambil beberapa map yang jatuh ke lantai. "Nggak papa, kamu sakit ya? wajah kamu kok kelihatan pucat?" "Nggak kok, nih map kamu. Aku balik kerja dulu ya?" Rani menyerahkan beberapa map yang tadi diambilnya, dia segera pergi dari tempat itu begitu menyadari orang yang ditabraknya adalah Angga. Setelah kejadian malam itu, Rani berusaha keras menghindari Angga. Dia tidak mau jika dianggap memberi harapan, karena terus merespon sikapnya. Vita mengantar Rani sampai di depan pintu kontrakan, dia merasa khawatir. Seharian ini wajah Rani terlihat murung dan dia lebih banyak melamun di tempat kerja. "Ada masalah apa?" Vita menarik tangan Rani yang hendak masuk ke dalam. Alih-alih menjawab pertanyaan Vita, Rani langsung memeluknya. Vita mengelus punggung sahabatnya, berharap bisa sedikit memberikan rasa tenang. Dia tahu beban yang sedang dialami Rani, akan tetapi dia juga tak bisa berbuat apa-apa. "Aku harus bagaimana? Tadi aku coba pinjam ke Bu Indira, tapi Beliau menolaknya. Aku bingung mau cari pinjaman ke mana lagi." "Apa kita coba minta bantuan Angga? siapa tahu dia bisa bantu kamu." "Nggak usah, aku nggak mau jadi beban untuknya. Nanti aku coba pikirkan cara yang lain saja." Sudah berulang kali Vita menyuruhnya minta bantuan ke Angga, tapi Rani selalu menolak. Rani berpikir, jika dia selalu menerima bantuan Angga, akan semakin sulit Rani menolak perasaannya. "Sudah malam, aku pulang dulu ya, jangan terlalu dipikirkan. Nanti aku coba cari cara yang lain, atau nanti coba aku bujuk Bu Indira." Rani tersenyum mendengar ide konyol Vita, dia kemudian menutup pintu dan masuk ke dalam kamar. Dia merebahkan badannya yang terasa lelah ke tempat tidur. Tangannya meraba tas yang ada di atas meja samping tempat tidur, mengambil ponsel butut yang setia menemani hari-harinya. Rani mulai membuka layar ponselnya, tertera tiga kali panggilan tak terjawab dari Angga. Dia membuka galeri ponselnya, mulai menscrol beberapa foto, terlihat di sana foto tiga remaja yang sedang tertawa bahagia, foto itu diambil empat bulan setelah Rani di terima kerja di butik Indira. Dia ikut tersenyum melihat fotonya, ketiga remaja itu tertawa lepas, seolah tak ada beban di hidupnya. "Seharusnya aku tak masuk ke hidupmu dan menjadi beban untuk kalian." Batinnya sedih. Rani menangis, memandangi foto mereka bertiga. Dia merasa jadi manusia tak berguna, selalu menyusahkan teman-temannya. Dia menghapus air mata di pipinya, mencoba memejamkan mata berharap rasa kantuk segera datang, tiba-tiba saja perutnya berbunyi karena lapar. Rani mengelus perutnya yang keroncongan, kemudian bangun dari tempat tidurnya menuju dapur, membuka laci mencari-cari sebungkus mie instan. Tapi sayangnya persediaan mie instan di lacinya sedang habis. "Ya ampun, pas sekali kesialan di hidupku." Rani ngedumel, masuk kembali ke dalam kamar, mengambil jaket dan dompetnya. Dia keluar, berdiri di teras depan kontrakan, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, bingung mau cari makan apa. Entah kenapa, tiba-tiba seperti ada yang menggerakkan hatinya, menyuruh Rani makan di warung nasi goreng sebrang jalan besar yang sedikit jauh dari tempatnya. Karena sudah malam dan tidak ada ojek, Rani memutuskan untuk jalan kaki hitung-hitung sekalian olah raga. Ternyata jalanan masih sangat ramai, banyak kendaraan berlalu lalang. Rani jarang sekali keluar malam, kalau tidak kepepet seperti ini. Sebenarnya kontrakan Rani tidak terlalu jauh dari jalan raya, tapi Rani adalah tipe orang rumahan yang jarang ke luar kalau tidak ada perlu, bisa dihitung dengan jari berapa kali Rani pergi jalan-jalan. "Bang, nasi goreng pedas ama teh hangat satu ya." "Baik, Neng." Terlihat warung masih ramai pengunjung, Rani memilih tempat paling pojok. Dia tidak terlalu suka keramaian, banyak pemuda yang datang bersama pasangannya. Sepuluh menit kemudian pesanan pun datang lengkap beserta minumannya. Rani segera memakan nasi goreng itu dengan lahap, keadaan di warung itu semakin malam semakin ramai. Waktu di ponselnya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, setelah membayar Rani segera pulang karena takut kemalaman. Karena kurang hati-hati saat menyebrang jalan, hampir saja Rani tertabrak sebuah mobil. Dia jatuh terduduk di aspal karena kaget, bola matanya bergetar kalut, memandang ngeri mobil yang ada di depannya. Seorang pria muda dan tampan keluar dari dalam mobil. "Maaf ya, apa ada yang luka?" tanyanya sambil membantu Rani berdiri. "Nggak ada kok, seharusnya saya yang minta maaf, tadi saya kurang berhati-hati saat menyebrang." Rani memandang pria itu dengan tatapan kagum, belum pernah dia melihat pria yang menawan seperti dia. Pria itu mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang untuk di berikan pada Rani, tapi dia menolaknya. "Nggak usah, Pak, saya tidak apa-apa kok." "Kalau begitu saya antar pulang ya? rumah kamu di mana?" tawar pria itu. "Enggak usah repot-repot, pak. Rumah saya sudah dekat, kalau begitu saya permisi dulu, sekali lagi maaf, Pak." Setelah meminta maaf, Rani segera menyebrang jalan dan pulang. Jalan menuju kontrakan Rani cukup sepi karena harus melewati gang kecil, hanya terlihat beberapa bapak-bapak yang masih berjaga di pos ronda. Begitu sampai, Rani segera masuk dan membersihkan diri. Terlintas bayangan pria tadi saat Rani membasuh mukanya, tiba-tiba saja jantung Rani berdetak cepat. Dia mengelus dadanya, "Astaga jantungku, bodohnya aku, kenapa tidak tanya nama dan nomor teleponnya." Rani memukul jidatnya sendiri, begitu menyadari kebodohannya. "Semoga saja lain kali bisa bertemu si tampan lagi, amin," ucapnya, tersenyum pada diri sendiri. Dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Bayangan kejadian tadi terus berputar di otaknya, "Ya Tuhan, apa aku jatuh cinta padanya?" tanyanya pada diri sendiri, menatap langit-langit kamar. Rani merasa heran, saat Angga menyatakan cinta, hatinya tidak merasakan getaran apapun. Tapi ketika bertemu pria tadi, entah kenapa hatinya terasa berbeda, bahkan bayangan pria tadi seperti terus mengikutinya. Karena kesal bayangan itu selalu muncul, membuatnya tak bisa tidur, Rani menutupi mukanya dengan bantal. Tapi semakin di usir bayangan itu malah semakin muncul membuatnya bingung. "Arrrgghhhh ...," teriaknya karena kesal. Setengah jam kemudian akhirnya Rani bisa tidur, setelah puas mengomel tak jelas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD