Hari ini, adalah hari yang mendebarkan bagi Rey, untuk pertama kalinya dia akan membawa Bianca ke rumah, mengenalkannya dengan Indira.
Entah sudah berapa kali matanya melirik jam di pergelangan tangan, berharap waktu berjalan dengan cepat. Dia sudah tak sabar untuk menjemput Bianca, dan membawanya pulang ke rumah untuk dikenalkan dengan mamanya.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Rey segera menuju ke mobilnya.
"Ternyata sudah pulang semua, baguslah," gumamnya tersenyum, melihat para pegawai sudah pulang.
Rey menarik nafas dalam-dalam sebelum menjalankan mobilnya, dia merasa grogi, khawatir Indira tidak akan setuju dengan pilihannya. Dia menggelengkan kepalanya, membuang jauh-jauh pikiran bodohnya.
Dia tersentak kaget, saat melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul tujuh. Rey segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, menyalip beberapa mobil yang ada di depannya.
Akhirnya, sepuluh menit kemudian Rey sampai di tempat kerja Bianca. Tepat disaat Rey menghentikan mobilnya, Bianca juga keluar bersama beberapa temannya.
"Aku duluan ya say, pacarku sudah nungguin tuh." Bianca menunjuk ke arah mobil Rey, pamit pada ketiga temanya, mereka bertiga hanya mengangguk dan tersenyum.
Rey yang melihat Bianca mendekat, segera turun dan membuka pintu untuknya.
Mereka bertiga kaget dan mulai berbisik, "Eh lihat, dia sudah dapat mangsa baru lagi, padahal baru kemarin dia putus sama keponakan si bos."
"Iya, benar-benar berbahaya, dasar wanita ular. Tampangnya saja cantik, tapi hatinya busuk."
"Mau-maunya sih tuh cowok dimanfaatin sama dia, palingan sebulan lagi juga diputusin." Timpal teman Bianca yang lain.
Mereka tidak tahu saja, hubungan Rey dan Bianca sudah berjalan beberapa tahun.
Sekilas Rey melihat beberapa teman Bianca bisik-bisik sekaligus memandangnya jijik, tapi dia tak mau ambil pusing dan masuk ke dalam mobil kembali.
Rey menjalankan mobilnya menuju rumah dengan kecepatan sedang, Rey fokus menyetir sedangkan Bianca sibuk dengan ponselnya.
Setelah sampai di depan rumah, Rey menarik tangan Bianca untuk mengajaknya masuk.
"Aku pulang," ucap Rey, langsung masuk ke dalam rumah yang kebetulan pintunya terbuka.
Indira yang memang sedang menunggu kedatangan mereka, langsung menyambutnya.
"Kenalin, Ma, ini teman aku, namanya Bianca."
"Nama yang cantik, secantik orangnya. Ayo kita langsung ke ruang makan, sekalian ngobrol di sana." Terlihat sekali raut bahagia di wajah Indira.
"Ayo, Sayang, jangan sungkan anggap saja rumah sendiri." Indira menambahkan beberapa lauk kepiring Bianca.
Bianca yang mendengar ucapan Indira hanya tersenyum canggung, menoleh ke arah Rey.
"Ngomong-ngomong, kapan kalian akan menikah?"
"Uhuk ... uhuk ...." Seketika Bianca tersedak mendengar pertanyaan Indira, nyaris saja, nasi yang sedang dikunyah olehnya berhamburan keluar.
Rey yang panik, segera menyodorkan segelas air putih untuk Bianca.
Dia meminum air itu sampai tandas, kemudian menatap dengan kesal ke arah Rey, meminta penjelasan dari ucapan mamanya.
"Sudahlah, Ma, jangan bahas masalah itu dulu. Kita kan lagi makan, nggak ...,"
"Pokoknya! Mama ingin kalian segera menikah, kamu setuju kan, Sayang?" potong Indira cepat, meminta persetujuan Bianca.
"I_iya, Tante."
"Tuh lihat, Rey, Bianca saja sudah setuju. Apalagi yang kamu tunggu?"
Rey jadi serba salah, "Duh, kenapa sih, Mama harus ngomongin masalah ini. Sebentar lagi pasti akan terjadi perang dunia" pikirnya.
Setelah makan malam, Rey ijin mengantarkan Bianca pulang, karena hari sudah larut, ditambah lagi raut kesal di wajah Bianca membuat perasaanya jadi tidak enak.
"Kamu bilang ini hanya makan malam biasa, tapi kenapa harus ngomongin masalah pernikahan? kamu tau kan? aku belum siap untuk menikah saat ini!" Cerocos Bianca saat di mobil.
Mendengar ucapan Bianca, Rey segera menghentikan mobilnya, menangkup wajah kekasihnya, memandang lekat kedua mata indahnya dan mulai mengecup bibir sexy favoritnya.
Rey melepas kecupannya, "Maafkan Mama, Sayang, nanti aku akan bicara dengannya."
Kemudian kembali mengecup bibir Bianca, kecupan-kecupan ringan itu berubah menjadi lumatan ganas dari keduanya. Entah siapa yang memulai, kini keduanya sudah di kendalikan oleh nafsu. Bahkan posisi Bianca sudah berada di atas tubuh Rey, dia mulai membuka kancing bajunya satu persatu, tapi, tiba-tiba saja Rey mendorong tubuhnya menjauh, kemudian keluar dari mobil.
Bianca yang menerima penolakan dari Rey menjadi sedikit kecewa, belum pernah dia merasa di permalukan seperti ini, biasanya para laki-laki yang mengemis untuk bisa tidur dengannya, akan tetapi, kali ini Sang Kekasih dengan terang-terangan menolaknya.
Merasa gejolak di dalam dirinya mereda, Rey segera masuk ke dalam mobil.
"Maaf ya, Sayang, belum saatnya kita melakukan hal itu. Aku ingin melakukannya, saat kita sudah sah dimata Agama dan Negara. " Rey mengecup kening Bianca, dan merapikan bajunya kembali.
"Iya, aku tau. Ya sudah, anterin aku pulang sekarang," ucapnya jutek, mulai memejamkan matanya pura-pura tertidur. Dia malas jika harus berbicara lagi dengan Rey, moodnya memburuk sejak makan malam, ditambah lagi penolakan dari Rey barusan.
Mengetahui kekecewaan yang di rasakan kekasihnya, Rey hanya diam dan menuruti perintah Bianca, dia tidak mau menambah buruk keadaan hatinya. Sesekali dia menoleh kesamping, tersenyum melihat Bianca yang sedang memejamkan mata, dia tau jika kekasihnya hanya pura-pura tidur untuk menghindarinya.
"Tuan Putri, anda sudah sampai. Silakan buka mata anda, waktu untuk pura-pura tidur sudah habis."
"Ya, aku sudah tau." Saat akan membuka pintu Rey menarik tangannya, dan memeluk Bianca.
"Sayang, sudah ya marahnya, aku benar-benar minta maaf atas sikap Mama tadi. Aku nggak akan lepasin pelukan ini, sampai kamu mau maafin aku." Rey semakin memperkuat pelukannya, dia tidak mau hanya karena kesalahan mamanya, Bianca pergi meninggalkan dirinya.
"Ok, kali ini aku maafin tapi jangan bahas lagi masalah pernikahan di depanku, kamu tau kan? aku belum siap untuk menikah."
Mendengar jawaban Bianca, Rey tersenyum, melepas pelukannya kemudian mencium kening kekasihnya. Bianca balas mengecup bibir Rey sekilas, memeluknya sebentar kemudian keluar dari mobil.
Setelah mengantar Bianca pulang, dia menjalankan mobilnya menuju sebuah tempat. Sampailah dia di depan sebuah taman yang cukup sepi, hanya ditemani penerangan seadanya. Dia keluar dan duduk di bagian depan mobilnya, memandang ke arah langit.
"Apa kamu melihatku sekarang? Kenapa kamu pergi secepat ini dan melimpahkan semuanya padaku? Apa kamu tau? Mama sangat cerewet padaku, terus-menerus menyuruhku menikah. Kakak dan Ayah pasti senang 'kan, tidak perlu mendengar ocehan Mama?" tanyanya pada hamparan bintang di langit, memandangnya seolah langit akan memberikan jawaban untuknya.
Puas memandangi bintang, Rey memutuskan untuk pulang, dia tidak mau mamanya jadi cemas karena menunggunya. Setelah kepergian Ayah dan Kakaknya, hanya Indira satu-satunya keluarga yang dimiliki Rey sekarang, sehingga Rey tidak bisa menolak keinginan mamanya apalagi sampai membuatnya sedih.
Tepat pukul sebelas malam Rey sampai di rumah, dia melihat ruang tamu dan ruang makan, ternyata sudah kosong, menandakan Mbok Jah dan Mamanya sudah tidur. Kemudian dia memutuskan untuk membersihkan diri dan istirahat, karena hari sudah larut.