Siapa yang Main Gila?

1756 Words
Nomor siapa ini? Aku mencoba menelponnya beberapa kali, tersambung tapi tak diangkat. Akhirnya aku membalasnya. [Assalamu’alaikum. Di rumah itu banyak menantu lainnya, aku hanya pergi selama beberapa hari saja, tidak bermaksud apa-apa. Ini siapa? Bagi yang membaca wa ini jika anda kenal dengan menantu mama saya lainnya tolong sampaikan. Coba beli kaca paling besar sebesar-besarnya dan berkacalah di sana sepuas-puasnya.] send. Hatiku yang sejak beberapa hari yang lalu ditumbuhi berbagai macam bunga, kini berganti dengan rasa kesal karena menerima wa barusan. Tiba-tiba kepikiran Mama, aku langsung meneleponnya. “Halo, Za. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsala. Ma ... Maaf, ya. Karena Neza sama Mas Aji memutuskan nginep di hotel selama seminggu, Mama jadi beres-beres rumah sendirian.” Terdengar suara Mama tertawa lirih. “Kamu, ada-ada saja. Mama udah biasa, Za. Sebelum ada kamu juga Mama seperti ini.” “Aku nggak enak, Ma. Aku pulang sekarang ya naik gokar aja, biar nanti aku wa Mas Aji nggak usah lagi jemput ke hotel.” “Bareng sama Aji aja, Za. Eh gimana? Lancar nggak bulan madu dadakannya, harusnya nanti langsung dapet cucu dong Mama.” Aku tersenyum mendengar Mama mengatakan itu. “Do’ain aja ya, Ma.” “Aamiin, ya udah, Mama lagi siram bunga, nih. Mama tutup ya teleponnya, pulangnya sama Aji aja.” “Ya, udah kalau gitu, Ma. Pekerjaan rumah hari ini jangan dikerjain ya, Ma.” “Loh, kenapa?” “Biar, Neza aja nanti sepulang dari sini. Udah berapa hari Mama kerjain semuanya sendiri soalnya. Aku takut Mama kecape’an.” “Ya ampun, Za. Kamu sebegitunya khawatir sama Mama. Tenang aja, InshaAllah Mama baik-baik aja. Mama itu badannya malah sakit semua kalau nggak ngapa-ngapain di rumah. Mama tutup teleponnya, ya. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam.” Aku meletakkan ponsel di nakas dan kembali menyusun pakaian, tapi sungguh pikiranku terus tertuju pada Mama. Apa aku pulang saja? ** “Makasih ya, Pak!” Aku menyodorkan uang pada sopir taksi OL yang baru saja kutumpangi. Menggeret koper menuju gerbang masuk ke rumah. “Pak!” Panggilku pada security yang menunggu di pos depan rumah. “Oh, Mbak Neza.” Segera ia membukakan pintunya. “Udah pulang, Mbak?” tanynya saat aku memasuki halaman setelah pintu gerbang dibuka. “Alhamdulillah sudah, Pak. Mari, aku masuk dulu ya, Pak.” “Iya, Mbak.” Aku berjalan menuju rumah besar berwarna putih di depan sana. Sampai di teras kubuka pintu yang memang jarang sekali di kunci dari dalam. Aku masuk dan langsung naik ke lantai atas untuk meletakkan koper, setelahnya turun mencari Mama. Kucari kesetiap sudut rumah, tapi tak ada, akhirnya aku menemukan Mama di taman belakang dekat dengan kolam ikan. Nampak Mama menyapu di sana. “Assalamu’alaikum, Ma.” Mama menoleh dan senyumlah langsung merekah melihat kedatanganku. “Ya Allah, Za za, udah dibilang bareng sama Aji aja pulangnya.” Aku mendekat dan menyalaminya. “Sampai lupa jawab salam, Wa’alaikumsalam.” Kami berpelukan sebentar, setelah itu aku membantu Mama membereskan rumah. Kata Mama, supaya tidak terlalu lelah, mengepel rumah ini bertahap. Jika hari ini membersihkan lantai 3, besok latai 2 dan lusa baru lantai dasar. Mama selalu seperti itu dan mulai saat ini sepertinya aku akan menurutinya. [Assalamu’alaikum. Mas nggak usah jemput ke hotel, ya. Aku dah pulang ke rumah, tadi naik taksi OL.] Bunyi pesanku siang ini, tapi hingga hampir pukul 12 siang Mas Aji tidak membuka wa ku. “Kenapa, Za?” tanya Mama saat melintas di dapur. Beliau menghampiriku yang sedang duduk di kursi meja makan. “Oh, ini Ma. Aku wa Mas Aji nggak di bales-bales.” “Mungkin sibuk. Kamu sekali-kali datang aja ke kantornya, Za. Sambil bawain makan siang. Tadi mama dah masak semur ayam. Aji suka banget loh itu.” “Wah, bener juga ya, Ma. Tapi, apa nggak apa-apa Mama aku tinggal sendirian di rumah?” “Nggak apa-apa lah, Mama mau baca majalah aja di kamar sambil minum teh hijau abis salat zuhur nanti.” “Ya, udah aku siap-siap ya, Ma.” “Oke.” Aku langsung mencari kotak makanan dan mengisi kotak itu dengan nasi, semur ayam dan gorengan tempe serta tahu, setelahnya langsung naik ke atas untuk berganti baju. ** Sedikit tergesa aku memasuki lift menuju lantai atas di mana letak kantor Mas Aji dan Mas Hersa berada. Jam satu siang, semoga Mas Aji belum makan siang. Aku membenahi hijabku yang sedikit berantakan, lalu saat pintu lift akan tertutup sempurna masuk dua orang yang sepertinya juga pekerja di kantor ini. laki-laki dan perempuan. “Eh, lu tau nggak sih kalau Pak Hersa itu denger-denger ada main sama iparnya sendiri.” Aku melongo mendengar apa yang mereka katakan. “Iya, aku pernah mergokin mereka jalan berdua. Meskipun pake kaca mata, masih bisa aku mengenalinya.” ‘Astaqfirullah, apakah yang mereka maksud, Mas Hersa kakak iparku? Lalu siapa yang mereka sebut ipar itu? Mbak Rima atau Mbak Kartika?’ Aku diam saja, masih mendengarkan. “Itulah kalau serumah, gabung sama para ipar, apalagi bukan muhrimnya. Bukan apa-apa, takutnya ya kehasut bisikan setan. Mungkin suaminya tidak sebaik Pak Hersa, ya nggak sih? Kalau suaminya baik nggak mungkin dia pindah ke lain hati.” Aku meremas tanganku sendiri. “Menurutku sih, dua duanya nggak bisa jaga diri, nggak bisa jaga hati. Coba kalau mereka bisa menerima kekurangan pasangan masing-masing pasti perselingkuhan ini tidak akan terjadi.” Sadar akan keberadaanku, salah satu orang itu merapat ke tubuh temannya dan berbisik. “Hus, ada orang di belakang kita ternyata.” “Untung nggak kenal.” Lalu mereka cekikikan. Pintu lift terbuka, kami bertiga keluar lift secara bersamaan. otakku masih menduga-duga, siapa yang dimaksud kedua orang itu barusan. Apa mereka menyebar fitnah, tapi apa untungnya? Mereka juga tidak mengenalku. Aku memasuki sebuah ruangan. Begitu banyak pekerja yang nampak sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Kucari ruangan manager 2 dan bicara dengan sekertarisnya sesaat, setelahnya memasuki ruangan. Melihatku datang Mas Aji tersenyum semringah. “Loh, Yang kamu kok tumben ke sini?” Ia berdiri saat aku mendekat, lalu memeluk sesaat. “Bawain kamu ini, Mas.” Aku mengulurkan bekal. “Waw, istimewa sekali hari ini.” Aku duduk di hadapannya, segera Mas Aji membuka kotak makan yang aku bawakan dan langsung melahapnya. “Kamu belum makan, Mas?” “Kebetulan belum dan laper banget ini.” Aku tersenyum. Rasanya ingin sekali aku tanyakan perihal yang baru saja aku dengar di dalam lift tadi, tapi rasanya kok kurang sopan kalau nanyanya di sini. “Ruangan Mas Hersa mana, Mas?” tanyaku penasaran. “Mas Herja di ujung sana, ruangan Manager 1. Kenapa, Yang?” “Nggak apa-apa, pensaran aja.” “Oh, kirain ada perlu apa.” Mas Aji kembali asik melahap makananya. Ah, aku benci dengan rasa penasaran ini. Kenapa aku harus mendengar semua itu tadi! ** Sampai di rumah rasa penasaran itu masih saja menghentak-hentak di dalam d**a. Saat makan malam, aku malah sibuk memperhatikan Mas Hersa, Mbak Rima serta Mbak Kartika. Hatiku masih bertanya-tanya, siapa yang jadi selingkuhan Mas Hersa di antara mereka berdua. Mas Rima nampak asik menyuapi Fiona makan, sementara Mbak Kartika, beberapa kali mengambilkan Mas Gio lauk dan nasih tambahan. Tak ada kejanggalan sama sekali di sini. Mas Hersa juga nampak telaten beberapa kali memotong-motong ayam goreng milik Ferel. “Yang, kamu nggak makan?” tanya Mas Aji, karena aku belum menaruh apapun dalam piring. “Makan, Mas.” Aku berdiri dan menyentong nasi, lalu meletakkannya ke piringku. Aku menyuap nasi sesendok demi sesendok ke mulut. “Yang.” “Ehh, kenapa kah Mas?” tanyaku bingung karena sepertinya semua orang sedang memperhatikanku. “Kamu kenapa?” “Ya, nggak apa-apa, Mas. Aku makan seperti biasa.” “Kamu puasa mutih?” Dahiku berkerut mendengar pertanyaan Mas Aji. “Maksudnya?” “Kamu cuma makan nasi putih aja, Yang.” Mas Aji menunjuk piringku. Astaghfirullah .... Aku mengulum bibirku sendiri sambil pura-pura tersenyum manis. “Aku ... aku diet, Mas. Coba makan nasi aja, nggak pake apa-apa.” “Oh.” Mas Aji mengangguk beberapa kali, kemudian yang lain kembali makan. “Kalau diet, coba makan buah aja kalau malem, Za. Tapi menurutku kamu udah ideal, loh!” Mbak Kartika bersuara. “Diet-diet nanti sakit baru tahu rasa,” ketus Mas Gio. “Udah, udah. Kok malah ribut. Ayo makan lagi.” Mama menengahi. “Mami, Papi, lusa aku ada ikut perkemahan di sekolah, boleh ya.” Acio mohon ijin untuk ikut berkemah lusa. “Berapa lama?” tanya Mas Tama. “Tiga hari, Pi.” “Boleh, asal Papi mau jenguk kamu setiap malam ke lapangan itu,” ujar Mbak Rima. “Gimana, Pi?” Acio memelas. “Udahlah, Tam. Bolehin aja, kasihan. Nanti jenguk dia setiap abis Isya.” “Ya udah. Boleh.” “Yee... makasih Papi. Mami dan Nenek ...” Acio nampak bahagia. Setelah itu semua menyelesaikan untuk menghambiskan makanannya. Malamnya, sungguh aku merasa kehausan. Air minum dalam gelas yang biasa tersedia di meja sudah kutenggak, tapi rasanya masih haus sekali. Aku memakai hijab instanku, lalu keluar kamar. Beberapa kali aku menguap karena mata masih terasa berat. Satu persatu kaki menuruni anak tangga menuju lantai dasar, lalu saat sampai di lantai 2 samar-samar aku mendengar suara, seperti dua orang yang sedang berbincang. Aku yang hendak menuruni anak tangga menuju lantai dasar mengurungkan niat, lalu menuju ruangan sumber suara. Kamar tamu paling ujung yang jarang dimasuki keluarga di sini. Kini aku sudah ada di depan ruangan itu. Semua lampu padam, sehingga gelap. Hanya ada penerangan lampu remang-remang yang berasal dari luar yang masuk lewat pentilasi jendela. Aku menajamkan pendengaran, lalu melangkah lebih mendekat. “Sampai kapan kita akan seperti ini, Mas?” “Aku juga tidak tahu, Sayang.” Jantungku berdetak, aku ingat gosip yang disampaikan 2 orang dalam lift tadi saat aku hendak ke kantor Mas Aji. Aku memberanikan diri lebih mendekat, lalu mengintip lewat pintu yang sedikit terbuka. Sayang hanya gelap, hanya terlihat bayangan mereka berdiri dengan jarak yang sangat dekat. “Kamu mencintaiku kan, Mas?” “Sangat. Lebih dari apa pun itu.” Lalu sepertinya mereka melakukan sesuatu karena kepala mereka bergerak-gerak. “Aku sudah tidak tahan dengan sikap suamiku yang ketus dan kasar, aku selalu cemburu melihatmu memperlakukan istrimu dengan lembut dan penuh kasih sayang.” “Jika bisa ingin kulakukan itu setiap saat padamu, Sayang." Lalu tubuh mereka bergerak beriringan sampai-sampai ambruk ke ranjang. Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. Siapa di dalam sana, apa Mas Hersa? Atau Mas Gio, bisa jadi Mas Tama? Brakkk! Aku menabrak meja yang membuat Vas bunga jatuh dan pecah. Mataku membulat, tubuhku gemetar. Aku mundur beberapa langkah. ‘Ya Allah, bagaimana ini ya Allah .... ‘
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD