Setelah menjawab ketus Mbak Aulia aku kembali makan seolah tak terjadi apa-apa. Mbak Kartika menunjukkan jempol tangannya di bawah meja, tapi wajahnya menunduk, tidak menoleh ke arahku. Jujur, setelahnya aku menyesal karena bersikap seperti di depan Mama, rasanya kurang sopan. Selesai makam aku membereskan meja, seperti biasa mencuci piring dan kali ini dibantu Mama.
“Za.”
“Iya, Ma?”
Mama mendekat, mengusap bahuku perlahan.
“Mama harap semua baik-baik saja, ya.”
“Maaf soal tadi.”
Mama tersenyum samar. “Nggak apa-apa, mungkin kamu lelah selalu dipojokkan. Semoga Allah mengganti lelahmu dengan lillah dan surga ya, Za.”
“Aamiin .... “
Kemudian Mama berlalu menuju ke kamarnya. Aku duduk di meja makan seorang diri setelah mencuci tangan, merenungi apa yang barusan terjadi. Mungkin lain kali jika di depan Mama aku bisa lebih hati-hati bersikap. Kulirik jam di dinding, jam menunjukkan pukul 20.30 malam. Aku memutuskan naik ke lantai atas untuk ke kamar. Sampai di kamar aku kembali merenung. Rumah sebesar ini tapi sepi. Setiap kamar ada TV masing-masing. Kumpul hanya saat makan malam saja. Siang sepi, semua orang bekerja, anak-anak dititipkan ke yayasan. Mama, dia sendirian.
“Assalamua’alaikum, Yang.” Mas Aji pulang.
“Wa’alaikumsalam, Mas.”
Aku berdiri menyambutnya pulang dengan muka masam. Ingat cerita Mbak Kartika, membuatku kesal melihat wajah suamiku sendiri. Kenapa dia tidak pernah cerita apa-apa soal itu padaku?
“Yang, kamu kenapa?” tanyanya sambil melepas dasi yang meliliti kerah.
“Nggak apa-apa.”
Aku meletakkan tas di atas meja kerjanya dan berbaring di ranjang. Kupunggungi ia karena dalam hati rasa kesal masih berjejal.
“Muka kamu nggak gitu kalau semua baik-baik aja.”
Ia mendekat, duduk di sisi ranjang sambil mengusap kepala.
“Mandi sana gih, Mas biar seger.” Aku beralasan, supaya dia segera pergi dari hadapan.
“Ya udah, Mas mandi dulu ya, tapi janji nanti setelah Mas mandi dan salat Isya kamu bicara sama Mas kenapa.”
“Emm,” sahutku singkat.
Mas Aji beranjak dan masuk ke kamar mandi. Aku bersiap akan menanyakan perilhal masa lalunya dan Mbak Aulia.
‘Jangan-jangan dia telat nikah karena nggak bisa move on juga dari wanita itu. Ah, bukankah hal yang wajar kalau laki-laki menikah di atas umur 25 tahunan. Mas Aji baru 28 tahun, rasanya tidak terlalu tua untuk ukuran menikah bagi laki-laki, apalagi di jaman sekarang. Sepertinya Mbak Aulia selesai sekolah SMA langsung menika, mengingat kini Ferel umurnya sudah 8 tahunan.’
Aku meremas kepala, pusing sendiri memikirkannya.
Mas Aji keluar kamar mandi, berdiri di depan lemari dan memakai pakaian. Celana pendek selutut warna hijau lumut dengan kaus oblong berwarna putih, ia mengenakan sarung dan peci, lalu bersiap untuk salat Isya.
‘Semoga Mas Aji nanti jujur jika aku bertanya perihal Mbak Aulia. Sungguh aku penasaran dengan hubungan mereka berdua. Siapkan hati Za, siapkan hatimu untuk mendengar kebenarannya.’
Ia telah selesai. Melipat sajadah dan melepas sarungnya. Duduk di dekatku, kembali mengusap pucuk kepala.
“Ayo bicara.” Aku menurut.
Duduk bersila, sambil mengumpulkan keberanian untuk bertanya.
“Kenapa? Ngomong aja, Yang.”
“Mas.”
“Em?”
Dia menghentikan aktifitas tangannya yang sibuk dengan rambutku, lalu fokus menatap lekat mataku.
“Aku mau nanya, tapi kamu jangan tersinggung, ya?”
“Soal apa?”
“Soal masa lalu kamu.”
“Nanya aja, Mas nggak akan marah.”
Ada senyum tipis terselip di bibirnya yang penuh.
“Apa hubungan Mas dan Mbak Aulia di masa lalu?”
Dia terdiam, mengalihkan pandangan. Duduknya yang awalnya mengarah padaku, kini menyamping menatap dinding kamar.
“Teman, Yang.”
“Yakin?”
Kini ia menoleh. “Kamu nggak percaya?”
“Soalnya ada yang bilang kalian sempat dekat saat SMA.”
“Kami teman sekelas, Yang. Udahlah, jangan dipermasalahin.”
“Dia pernah suka kan sama Mas?”
“Za.”
Mas Aji menatap, menggenggam kedua telapak tanganku, dan sedikit menunduk untuk menatap ke dalam bola mataku.
“Itu hanya masa lalu, Mas anggap dia hanya teman, tidak lebih. Demi Allah, Yang.”
“Bagaimana dengan dia?” tanyaku dengan alis yang saling bertaut.
Mas Aji menarik napas berat. “Dia sudah menikah dengan Mas Hersa, masalahnya di mana?”
“Kenapa dia sering ganggu aku di rumah ini, apa dia tidak suka Mas menikahiku?”
“Za, jangan berpikir hal sejauh itu. Kalau pun benar biar saja, yang penting kita bahagia. Anggap dia tidak ada, ya .... “
Mas Hada membingkai pipiku dengan sebelah tangannya.
“Aku nggak tenang, Mas.”
“Mau pindah?”
“Tapi, Mama?”
Mas Hada terseyum samar. “Mas sudah memikirkan hal ini jauh sebelum hari ini, Yang. Tapi, Mas ragu. Mama dan Papa membuat rumah sebesar ini supaya anak-anaknya tidak jauh dari mereka. Tidak ada yang mengira kalau Papa pergi lebih dulu. Mama terbiasa mandiri, tidak pernah punya pembantu di rumah ini, kecuali setelah melahirkan, baru Mama dan Papa panggil orang untuk mengambil pekerjaan rumah.”
“Rumah sebesar ini apa Mama nggak capek ngurusnya sendiri, Mas?”
“Mama itu hobinya bersih-bersih, tanem bunga, masak karena itu Mama merasa tak membutuhkan pembantu. Itulah semenjak ada kamu Mama bahagia banget. Selain punya teman berbagi, punya teman bersih-bersih juga.”
Aku tertawa. “Bagaimana kalau Mama kita ajak pindah dari rumah ini, Mas?”
“Tidak akan berhasil, karena bagi Mama, di rumah ini beliau masih merasakan sosok Papa. Disetiap sudut rumah ini mengandung kenangan yang tidak bisa Mama lupakan. Memang siapa sih yang bilang?”
Aku diam, karena sudah berjanji tidak akan mengatakannya pada Mas Aji kalau Mbak Kartika yang cerita semua.
“Nggak mau bilang?” tanyanya, aku menggeleng. “Ya udah, pesan Mas jangan terlalu percaya sama omongan orang yang belum tentu benar.”
“Iya, terus mengenai Mbak Rima dia juga kayaknya nggak suka sama aku, Mas.”
“Mbak Rima, dia saudara ipar yang paling lama Mas kenal di rumah ini. dia memang galak, tapi kalau dah kenal dia baik, Za. Coba kamu melakukan pendekatan secara perlahan. Mas berani jamin, dia paling baik diantara yang lainnya.”
“Masak sih?”
“Suatu saat kamu akan paham setelah lama tinggal di sini. Karena kamu ngambek, Mas mau ajak kamu ke suatu tempat.”
“Ke mana?” tanyaku dengan bibir mengerucut kesal.
Mas Aji mendekat, lalu berbisik.
“Kita nginep di hotel yuk satu minggu, biar bebas nggak ada yang ganggu.” Aku masih diam dengan wajah tak bersahabat. “Nggak mau?” tanyanya karena melihat wajahku masih datar.
“Nggak,”
“Loh kenapa?”
Aku diam cukup lama, lalu menjawab “Nggak ....
nolak!”
Langsung saja Mas Aji tertawa, sembari mengacak pucuk kepalaku gemas. Akhirnya malam itu kami memutuskan tinggal selama seminggu di hotel untuk melakukan bulan madu dadakan yang sering tertunda.
**
Selama tinggal di hotel rasanya sangat berbeda. Mas Aji memperlakukanku bak ratu. Setiap hari kerjaanku hanya menunggu dia pulang bekerja. tidak pernah cuci piring karena selalu makan di luar. Baju di laundry, sapu-sapu kamar juga pihak hotel. Aku hanya bertugas melayaninya malam sebagai istri untuk memupuk rasa cinta kami supaya semakin kuat dan tinggi.
“Kamu tahu apa bedanya maling sama kamu?” tanya Mas Aji malam itu berbaring di pangkuanku.
Kami duduk lesehan di balkon sambil memakan buah anggur dan minum jus. Di dekatku ada meja berkaki rendah berukuran sedang, bertaplak meja putih yang disekitarnya terdapat lilin dan bunga-bunga yang sudah di susun sedemikian rupa hingga terlihat sangat indah. Ada juga lampu led warna warni yang menambah manisnya suasana.
“Tega banget, samain aku sama maling.” Aku pura-pura merajuk.
“Jawab dulu, tahu apa nggak?” tanyanya seraya tersenyum, tangannya ter-ulur terus mengelus-elus pipiku.
“Nggak.”
“Jadi kalau maling mencuri harta dan benda, kalau kamu mencuri rasa cinta.”
“Dih, gombal!”
Aku mencubit kecil pinggangnya yang membuat Mas Aji tertawa.
“Yang.”
“Em.”
“Maaf ya belum bisa bikin kamu senyaman ini di rumah.”
“Iya, nggak apa-apa aku ngerti kok, Mas.”
“InshaAllah suatu saat, setelah Mama siap meninggalkan rumah itu. Kita akan pindah dari sana. Mas paham, sebenarnya nggak baik juga dalam satu rumah di pimpin banyak kepala keluarga.”
“Lagi pula jujur, sebagai perempuan aku nggak nyaman satu atap sama saudara-saudara kamu yang laki-laki kesemuanya itu, Mas. kami kan bukan muhrim, takut ada hasutan setan. Sama kayak kamu dan Mbak Aulia, nggak bagus satu atap!”
Aku menarik-narik hidungnya geram.
“Mulai deh, bisa nggak sih nggak usah bahas dia. Manisnya malam ini jadi berkurang. Udah bersama dengan orang yang manis, suasana juga asik, jangan dirusak dengan hal semacam itu.”
“Abis akunya masih sebel pas tahu kalau kalian dulu .... “
Mas Aji langsung membungkam mulutku yang membuat mataku terpejam. Setelah cukup lama menarik wajahnya dari wajahku dan berkata.
“Sekali lagi bilang gitu, Mas bikin sampe nggak bisa napas,” ancamnya.
“Coba aja.” Aku menantang.
“Ye, nantangin ya!”
Mas Aji menggelitik pinggang. Entah sampai pukul berapa kami bercanda. Menghabiskan malam berdua. Bahagia, hanya kata itu yang pantas tersemat. Waktu yang sangat jarang bisa kami lalui bersama. Me time berdua, bercanda, saling melempar pujian dan kata-kata mesra Setelahnya kami masuk ke dalam untuk menuntaskan semuanya. Hampir satu minggu di hotel ini benar-benar menjadi pengalaman yang tidak akan pernah bisa aku lupakan. Indah, manis dan bahagia.
**
Aku sedang menyusun pakaian dalam koper. Nanti malam kami akan cek out dari hotel ini. Kalau tidak memikirkan Mama, mungkin aku tak mau lagi balik ke rumah itu. Rumah yang besar, tapi angker di dalamnya, banyak hantu bergentayangan. Hantu berwujud manusia. Bukan wajahnya yang bikin jantungan, tapi sikapnya yang sering cari masalah. Saat sedang asik berkemas gawai berbunyi. Aku yang sedang duduk di lantai membereskan pakaian berdiri mendekati nakas, lalu mengambil ponsel di sana. Ada w******p dari nomor yang tidak kukenal. Dia mengirim beberapa foto. Ternyata foto Mama sedang mencuci tumpukan piring, menyapu dan mengepel rumah. Tertulis keterangan di sana.
{Kalian enak-enakan di hotel berdua. Lihat ini Mama! Dasar menantu tak tau diri!}