Difitnah dan Adu Domba

1420 Words
"Kamu pasti lupa siram bunganya, dasar!" Mbak Aulia mendorong sebelah bahuku dengan mata melotot seakan ingin menelanku hidup-hidup. "Mi, sudahlah!" Mas Tama menarik lengan istrinya. "Jangan melebihi batas, Mbak!" Mas Aji menyembunyikanku ke belakang tubuhnya. "Belain aja terus, Ji. Makin besar kepala dia!" Kini Mbak Aulia menunjuk wajahku. "Dia perlu dikasih pengertian biar besok-besok nggak sembrono, sampe lupa sama pesan Mama." "Sudahlah, manusiawi banget kan salah? Ji ajak istrimu masuk!" perintah Mas Hersa. "Kamu kenapa sih Mas belain dia mulu. Istri kamu itu aku!" teriak Mbak Aulia. "Bunda, jangan marah-marah." Ferel memeluk ibunya. "Kenapa sih semenjak ada Neza di sini selalu saja ada masalah." Mas Gio bersuara. "Maksud Mas apa bilang seperti itu?" Mas Aji tak terima. Melihat itu Mbak Kartika berdiri mendekati suaminya. Ia berusaha menenangkan, memberi beberapa pengertian sambil terus mengusap bahu saudara ke 3 dari suamiku itu. "Kamu ngomong dong, jangan diem!" Aku tersentak Mas Aji membentak. "Mas, kamu nggak percaya sama aku? Demi Allah aku siram bunganya kemaren."Aku melepaskan tanganku yang sejak tadi berpegangan pada lengannya. "Nah, ngomong gitu. Apa susahnya sih? Kamu mau dipojokkan mereka terus?"Sepertinya Mas Aji benar-benar marah terlihat dari sorot matanya yang tajam dan nada suaranya yang meninggi. Aku menarik diri, menjauh dari dia dan mendekati Mama. "Ma, Neza udah siram bunganya kemaren sore. Neza juga nggak tahu kenapa tanaman yang sangat indah itu bisa layu." Mama berdiri dan membawa serta pot bunga itu masuk ke rumah tanpa mengatakan apapun. Apa Mama marah padaku? Atau benci, atau kecewa. Ah entahlah. Aku mengusap ujung mata kembali mendekati semua orang. "Aku berani bersumpah demi Allah, kemarin semua bunga sudah kusirami. Logikanya kenapa hanya bunga mawar putih yang layu, sedangkan bunga lain nampak segar? Bukan aku berburuk sangka, siapa tahu di rumah ini ada yang sengaja ingin membuat Mama membenciku." Aku memberanikan diri untuk berspekulasi tentang perasaanku sendiri. "Oh, kamu coba memfitnah sekarang?" Mbak Rima masih nampak murka. "Aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan seperti kalian, apa salah? Manusia berhak kan mengeluarkan pendapatnya, Mbak?" "Alah, paling juga kamu mau lempar batu sembunyi tangan!" "Kita masuk aja. Nanti bisa terlambat pergi bekerja." Mas Tama menarik paksa Mbak Rima masuk ke rumah. "Kita juga, Bund. Udah jam berapa ini." Mas Hersa melakukan hal yang sama disusul yang lainnya masuk ke rumah. Aku masih di sini bersama Mas Aji. Aku menunduk, memijat kening sambil menahan tangis. Melihat itu Mas Aji menarik tanganku sampai aku berbalik ke arahnya, lalu memegang kedua bahuku dengan tangannya. "Maaf, suara Mas sempat meninggi. Tujuannya supaya kamu berani bersuara, Yang. Jangan diem aja. Mas nggak bisa jaga kamu 24 jam. Kalau kamu benar, jangan diem seolah-olah kamu salah. Ngomong aja, nggak apa-apa. Sekali lagi maaf ya. Yang tadi dah bagus." Aku mengangguk, kini benar-benar tak bisa membendung air mata. Pertama kalinya Mas Aji meninggikan suaranya padaku. Mungkin dia perlu melakukan ini untuk melatihku, menggemblengku menjadi pribadi yang lebih kuat dan berani. Aku hanya tidak terbiasa, kedua orang tuaku selalu memperlakukanku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Mungkin benar, aku perlu belajar menjadi pribadi yang lebih tegas dan berani agar tak diinjak-injak orang lain. Siangnya Tok!tok! "Ma, makan siang dulu, Yuk!" ajakku karena sejak pagi Mama belum keluar kamar. Aku sudah membawakan makanan untuk Mama. "Nanti aja, Za. Mama belum lapar," sahutnya dari dalam sana. Suaranya seperti biasa, tak ada kemarahan di dalamnya. "Nanti Mama sakit, Ma. Ini Neza dah bawain makanan untuk Mama." "Buka pintunya, Ma. Sebentar saja. Neza hanya mau meletakkan makanan ini." "Mama lagi ingin sendiri, Za. Letakkan lewat lubang itu saja, ya! Terimakasih." Aku melirik pintu bagian bawah yang terdapat lubang berbentuk persegi 4. Kata Mas Aji, dulu Mama sempat memelihara kucing dan lubang itu dibuat supaya kucing bisa masuk saat pintu kamar terkunci. Aku berjongkok, lalu memasukkan piring lewat sana, selanjutnya duduk di samping pintu memeluk lutut, menyandarkan punggungku pada dinding. "Ma, Neza nunggu di sini sampai Mama selesai makan. Supaya piringnya bisa langsung Neza cuci." Hening. Tidak berapa lama terdengar Mama mendekati pintu. Lalu suara sendok yang beradu dengan piring. Aku tersenyum kecil. Sepertinya Mama makan duduk di balik pintu ini. "Ma .... " "Em." "Maaf, ya." "Nggak apa-apa. Usia tanaman itu juga sudah tua, Za. Dulu, Mama itu selalu gagal menanam bunga, jadi Papa ajarkan menanam bunga mawar putih ini. Bayangan dia memberi pupuk dan tersenyum saat menanam bunga ini masih tajam diingatan Mama. Setiap kali bunganya mekar dia akan memanggil Mama."Terdengar Mama terisak. "Ma ... Maaf, ya. Mama jangan nangis. Neza ikut sedih. Tapi demi Tuhan, Neza sudah menyiramnya kemarin." Tenggorokanku tercekat. "Sepertinya Mama terlalu cengeng ya, Za. Mama percaya sama kamu, Za. Jangan merasa bersalah lagi, ya!" "Nggak kok, Ma. Itu bukti bahwa cinta Mama masih tertanam kuat di dalam hati. Aku ingin cintaku pada Mas Aji seperti cinta Mama sama Papa." "Ah, kamu bisa saja." Mama tertawa lirih, tapi aku yakin hatinya perih. Lalu Mama kembali melanjutkan makan, sementara aku mengusap ujung mata, menunggu Mama selesai makan. Tak bisa kubayangkan kalau Mama tanpa kami di sini. Benar saja, hanya aku temannya. Selama ini Mama pasti memendam semua sendiri. Kesepian. Tak ada teman berbagi, suka maupun duka. Beruntung kedua orang tuaku masih utuh di Magelang sana. Semoga mereka sehat dan dipanjangkan umurnya. Aamiin .... ***SM*** Aku berada dalam mobil bersama Mbak Kartika sore ini. Dia memintaku menemaninya ke salon. Rambutnya kini sudah berubah hitam, tapi kalau kena sinar jadi biru. Ajaib, aku tak pernah mengecat rambutku seperti itu. Dia sempat menawarkan, tapi aku menolak. Aku memilih menunggunya sambil membaca majalah. "Za." "Iya, Mbak?" "Ada yang perlu kamu tahu." "Soal apa?" "Aulia." Aku mengalihkan pandangan. Tiba-tiba mood hatiku memburuk mendengar namanya. Kenapa dia terlihat sangat tidak menyukaiku? "Kenapa dengan Mbak Aulia?" tanyaku tanpa menoleh ke arah Mbak Kartika yang masih sibuk menyetir mobilnya. "Dia sepertinya ingin kamu nggak betah di rumah." Reflek aku menoleh. "Masa sih, Mbak? Salah aku apa?" "Jangan jantungan, ya!" "Aku dengar dia punya masa lalu sama Aji. Aulia teman satu kelas Aji." "Ha? Maksud Mbak, mereka pernah punya hubungan?" Mbak Aulia mengendikkan bahu. "Dulu, Aulia sering datang ke rumah. Saat masih jaman sekolah. Mungkin maksudnya mau ngedeketin Aji, tapi yang naksir malah Mas Hersa. Aku yakin, dia mengenal Aji lebih dalam dari pada kamu." Hatiku terbakar mendengarnya. Wajar saja dia tak suka denganku. "Diam-diam aku sering perhatiin dia mandangin Aji. Padahal Aji sudah jaga jarak sama dia. Coba kamu perhatikan, Aji nggak pernah tegur dia lebih dulu. Beda dengan aku dan Mbak Rima. Dasar si Aulia saja yang masih susah move on. Padahal Aji dah ada kamu dan dia dah ada Mas Hersa bahkan mereka dah punya buah hati." Aku meremas tali tas yang melintang di tubuhku. "Saranku, mulai sekarang kamu lebih hati-hati. Aku yakin Aji nggak mungkin terpikat sama dia. Tapi dia pasti berusaha melakukan banyak cara untuk memisahkan kalian dan bikin masalah. Karena apa? Karena dia nggak rela Aji sama perempuan lain selain dia." Aku diam saja. Pasti wajahku sudah merah karena menahan marah. Nanti malam aku akan menanyakan hal ini sama Mas Aji. Kenapa dia tidak pernah bicara apa-apa padaku soal ini. "Kalau aku tanya Mas Aji enak nggak Mbak?" Aku coba meminta pendapat. "Tanya aja, tapi jangan bawa-bawa nama aku ya. Aku takut Aji ngambek sama aku. Pesan aku buat kamu. Ngadepin Aulia harus santuy. Kamu jangan diem, biar nggak makin diinjek-injek. Bila perlu tunjukkan kalau kamu dan Aji itu bahagia, juga tidak terpengaruh sama sikap dia, apapun yang bakal dia lakukan ke kamu nantinya." "Iya, Mbak. Makasih ya infonya." "Sama-sama. Makasih loh dah ditemenin ke salon." "Sama-sama, Mbak." Malamnya semua kumpul di meja makan seperti biasa. Bersyukur Mama sudah lebih baik sekarang. Mas Aji beljm datang, katanya pulang malam, termasuk Mas Hersa karena mereka berada di satu kantor yang sama. "Mana Ferel, Li?" tanya Mama kepada Mbak Aulia. "Ada di kamar, Ma. Tadi sore dia sudah makan di kantor sebelum kami pulang." "Oh, iya." Semua makan dengan khusyuk. Aku enggan menatap wajah Mbak Aulia, semenjak mendengar cerita Mbak Kartika tadi aku jadi muak melihat wajahnya. "Tempenya kurang garing. Kamu nggak tahu Mama nggak suka tempe kurang garing seperti ini." Dia mulai buat masalah. "Enak kok," sahut Mama singkat. Aku meletakkan sendok ke piring dan manatap Mbak Aulia yang tersenyum tipis setelah mencoba membuat masalah denganku. "Besok-besok Mbak aja yang masak. Ajarin aku masak yang bener. Jangan protes aja, Mbak." Semua menatapku tidak percaya. Untuk pertama kalinya aku menjawab dengan ketus kata-katanya. Mbak Aulia balas menatapku dengan tatapan kebencian. Dia pikir aku akan sabar terus menerus. Oh kali ini tidak, mulai saat ini aku akan menjadi Neza yang kuat. Tidak akan kubiarkan siapapun mencoba menumbangkanku dan membuatku tersiksa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD