"Kamu harusnya banyak makan buah," ucap petugas TU setelah membaca surat dokter yang aku berikan. Petugas perempuan itu menatapku dengan senyuman geli yang terulas di bibir.
Entah mengapa aku merasa ia menertawakan ku. Apakah ada yang salah denganku?
"Maaf Bu, bisa saya minta lagi suratnya." Aku penasaran dan meminta kembali kertas yang tadi aku berikan.
Ia tersenyum lalu memberikan surat dokter milikku yang sejak tadi ada di tangannya. Aku memang belum membaca sejak Om Yogi berikan kemarin. Aku menerima dan segera aku baca. SIALAN! Tertulis aku sakit Hemoroid atau ambeien. Terjadi pembesaran darah di bagian anuss. Ah, rasanya pulang sekolah nanti enak banget kalau bisa marah-marah sama seseorang. Aku mengembalikan surat pada Ibu TU, dengan segera ia terima. Darahku seolah mendidih, ah kenapa sih si Om itu? apa dia emang mau aku mau?
"Enggak usah malu itu normal kok. Semua sudah diurus ya, silahkan ke aula utama. Hari ini ada acara penutupan untuk mahasiswa baru. Ketinggalan nanti." katanya, kini coba bersikap biasa saja. Mungkin agar aku tak merasa malu lagi tapi, jelas sudah terlambat. Aku sudah malu sekali.
"Maaf Bu, aula ada di mana ya?" tanyaku, aku harus segera pergi dari sana sebelum situasi tak enak itu berlangsung lebih lama lagi.
"Kamu ke lantai bawah lagi, terus ke kanan terus saja dia ada paling ujung."
"Terima kasih," ucapku lalu dengan segera berjalan menuju aula utama.
Sepanjang jalan ke tak berhenti aku maki si Om dalam hati. Bisa-bisanya dia tuliskan sakit wasir sebagai penyakit yang aku alami selama tak mengikuti kegiatan Maba? Memang enggak ada penyakit lain yang lebih baik? Magh, Tipes, atau apa saja asal bukan penyakit memalukan seperti ini. aish! sebel!
Aku mengikuti apa yang dikatakan Ibu tata usaha tadi. berjalan ke arah kanan setelah turun dari tangga. Sampai di akhir aku menemukan aula yang dimaksud. Dengan dekorasi mewah, lalu kursi dengan tema biru dan perak, langit-langit ruangan entah terbuat dari apa. Namun, terdapat gambar awan di sana, cantik sekali. aku berjalan masuk dan duduk di kursi paling belakang. Bisa terlihat para mahasiswi di sini begitu ambisius. Semua sibuk berebut menjadi yang terdepan, sementara aku malah memilih kursi paling belakang.
Rasanya murid di sini tak terlalu banyak. Tak banyak mahasiswa baru. Mungkin masyarakat lebih menyukai jurusan Umun seperti bisnis, akuntansi atau IT. Pun jika seni mungkin mereka lebih tertarik dengan universitas negeri? Valerie sepertinya hanya dibuat untuk kalangan atas.
Seorang guru naik ke atas panggung. Ia memperkenalkan diri sebagai guru tari Pak Joko namanya. Jujur, wajah dan nama Pak Joko tak cocok untuk menjadi guru tari.
"Dipersilahkan untuk ketua yayasan Valeri memberikannya ucapan penutup."
Aku bisa melihat Om Yogi berdiri, ia segera berjalan menuju tengah panggung. Tunggu ... Jadi dia pemilik yayasan?! Wah luar biasa! Si om yang super nyebelin itu ketua yayasan. Kayanya sebelum kehidupan ini aku itu menyelamatkan kerajaan deh. Bisa hoki banget dapat suami tuan muda bertahta gini. Ingin tepuk tangan, bersorak atas nasib baik yang aku alami.
Itu ketua yayasan, katanya masih single loh.
Beneran?
Iya masih muda banget, keren udah jadi ketua yayasan. Mana ganteng pula.
Suara-suara gadis-gadis bercicit nyaring sekali. Single?! Ya, ya, ya, belum tau saja mereka siapa istri om ganteng yang mereka bicarakan.
"Saya Yogi Majendra Finanda. Ketua yayasan Valerie. Tidak banyak yang bisa saya ucap. Selain terima kasih untuk kelancaran kegiatan ini. Untuk tahun ini akan ada kegiatan pertukaran pelajar dengan universitas seni dan musik Korea. Para peserta adalah 30 orang mahasiswa terbaik, mereka yang berada di semester satu dan empat."
Cara dia ngomong sok keren, sumpah enggak ada senyum dengan nada ucap yang dipatah patah. Ngerti banget buat anak gadis menjerit. Ckckck, Om Yogi inget istri om di sini! Yuhu!
"Sudah gitu aja. Untuk hal lain kalian bisa tanya ke Pak Joko atau Pak Ahbi. Se—lamat pagi." Om lalu mengangguk dan berjalan turun dari panggung.
Semua bertepuk tangan termasuk pada gadis yang bukan cuma bertepuk tangan tapi juga menabur pujian untuk si Om judes. Belum tau aja mereka gimana nyebelinnya si Ketua yayasan yang mereka puja-puji itu. Belum tau rasanya di fitnah sakit wasir, jadi masih terbuai. Coba kalau merasa rasakan di fitnah sakit wasir? Apa masih bisa bibir mereka puja-puji Om setinggi langit gini?
Acara belum berakhir, aku sudah mengantuk..di sebelahku anak perempuan duduk terlihat bersemangat sekali. Andai aku punya setengah saja semangat yang dia punya.
"Hai aku Reya."
Ya, aku sapa dia daripada aku ngantuk. Lebih baik cari teman ngobrol. Saat ini di atas panggung masih menampilkan peragaan busana yang dibuat oleh mahasiswa di sini. Bagus, serius. Cuma aku saja yang enggak tahan kantuk.
"Hai aku Eri," ia ulurkan tangan segera aku jabat.
Aku dan Eri bercakap-cakap singkat. Lalu ia kembali fokus menatap panggung. Acara selesai di akhiri dengan pesan yang disampaikan salah satu kating kalau kamu harus mengecek kelas dari website Kampus. Karena, semua telah diatur olek Kaprodi.
(Ketua Program Studi.)
Lalu aku jurusan apa? Di universitas ini aku jurusan apa? Luar biasa aku mahasiswi yang enggak tau apa jurusan yang aku ambil.
Aku melangkah ke luar saat satu persatu mahasiswa beranjak. Sepertinya mereka pulang, aku memutuskan berjalan-jalan sejenak mengeksplor lokasi baru. Bangunan universitas ini benar-benar luar bias meski tak terlalu besar seperti kampus belakang.
***
Malam hari aku membaca beberapa buku yang diberikan Om Yogi. Sejarah musik, musik 60, 70, 80qn, seni puisi dan musik, sejarah musik nasional dan internasional. Rasanya baru kali ini aku merindukan belajar matematika dan juga fisika. Jelas dari semua buka ini aku masuk jurusan musik entak musik apa yang akan aku pelajari.
Pintu terbuka, pukul delapan malam dan Om baru pulang.
"Udah makan kamu?"
"Waalaikumsslam." Aku ucapkan jawaban salam untuk dia yang lupa mengucapkan.
Sedikit malu ia menunduk. "Assalamualaikum," ucapnya kemudian.
"Waalaikumsslam, sudah Om. Aku juga udah masak buat Om. Cuma nasi goreng sih, aku enggak tau om suka masakan apa. Aku cuma tau, kalau nasi goreng itu makanan kesukaan seluruh rakyat."
Ia melipat kemejanya, lalu melangkah ke dapur. Om Yogi cuci tangan sebelum makan. Lalu duduk di meja makan, sepertinya si Om lapar."
Wah, jadi ingat perlakuan dia tadi siang. "Om," panggilku.
Ia menatap tanpa mengatakan apapun.
"Kenapa Om tulis aku sakit ambeien?"
Ia nyaris tertawa, namun berusaha membuat dirinya nampak keren. Sialan memang, seharian si Om bikin aku mengumpulkan dosa kerena terus saja maki-maki dia dalam hati.
Satu menit sudah dia tahan tawa, dan coba kendalikan diri lihat aku yang sama sekali tak tersenyum.
"Cuma itu yang ada dalam pikiran saya."
"Om! Penyakit tuh banyak. Flu, demam berdarah, tipes. Ini malah Wasir! Mukaku emang keliatan kaya orang ambeien?!"
Sialan dari tadi dia bener-bener nahan ketawa. Lebih sialan lagi si Om makin ganteng kalau nahan senyuman. Gigi om rapih seperti kampus meong, kulit putih dan mata sipit. Aish, kaya oppa-oppa sayang bukan dari Korea.
"Cuma itu yang ada dalam pikiran saya." Ia jawab singkat.
"Dari sekian banyak penyakit?!"
Ia mengangguk. "Bisa enggak kamu jangan panggil saya Om?"
"Kenapa enggak boleh panggil Om?" tanyaku heran, kan dia om-om?
"Saya enggak setua itu."
"Terus Om mau aku panggil sayang?"
Ia menatapku sesaat lalu teguk air dalam gelas. "Boleh, kalau kamu enggak keberatan."
"Sayangnya aku keberatan 'Om'."
Aku tekankan kata Om agar ia makin kesal. Ia mendecih kesal, lalu memutar bola matanya. setidaknya aku telah membalas kesalku karena ia telah membuat aku malu seharian.
***
.
.
.
.
si Om iseng banget ya masa dibilang ambeien? wkekwkk
.
.
.
.
.
.
Halo aku kembali dengan cerita ini semoga tidak membosankan ya kak bunda. Happy reading...
Seperti biasa ya kak. Kalau mau tau up atau nggak tinggalkan komen aja. Kalau aku balas berarti aku habis Update ya..
(◍•ᴗ•◍)❤