6. Valerie || Sayang?!

1369 Words
Malam hari tak bisa tidur karena memikirkan bagaimana besok aku akan mulai menjadi mahasiswi. Besok hari pertama menjadi MaBa (mahasiswa baru). Ya, senang juga akhirnya impianku terwujud, menjadi seorang mahasiswi. Aku telah mempersiapkan semua aku rapikan di dalam tas cantik berwarna abu-abu pemberian nenek mertuaku. Nenek mertua begitu perhatian dan cermat memilih model terkini. Salut juga dengan seleranya yang kekinian di usianya yang sudah tak muda lagi. Saat itu pintu diketuk segera aku buka melihat Om Yogi berdiri di depan pintu, kemudian berjalan mendekat membawa sebuah tas laptop berwarna peach. "Ini buat kamu. Semua sudah ada di sana juga website kampus. Besok kegiatan terakhir Maba. Bilang saja kami baru sehat, di dalam tas laptop sudah saya siapkan surat keterangan dokter. Ngerti?" ia menjelaskan. Aku anggukan kepala mengetik dengan jelas semua yang ia katakan. "Good, sampai ketemu besok. Sekarang istirahat, enggak lucu kalau kamu pingsan di tengah upacara besok," ujarnya sambil lalu. Emang Om Yogi itu nyebelin banget. Enggak lucu kalau aku pingsan? Siapa juga yang mau pingsan? Enggak lah aku ini strong! Akan aku pastikan besok aku baik-baik saja. Yang pasti aku bakal banyak makan buat sarapan besok. Aku rebah setelah dihampiri si Om. Lalu meletakan tas laptop di dekat tas yang akan aku gunakan. Aku juga telah menggantung kemeja putih dan bawahan rok rampel selutut yang besok akan aku kenakan. Keren juga seragam kampus ini. Aku sudah bersiap pagi ini, aku dipindahkan ke universitas musik dan seni Valerie. Yang aku ketahui menurut mesin pencarian adalah salah satu universitas negeri yang berdiri sejak enam tahun belakangan. Universitas ini sudah dua tahun ini bekerja sama dengan universitas seni lain di Korea dan Amerika. Enggak bisa kebayang gimana multitalenta anak-anak yang kuliah di sana. Terus aku? Enggak ada yang bisa aku banggakan. Nyanyi pas-pasan meski enggak fals tetap saja standar, main musik? Aku bisa main gitar. Itu juga cuma kunci dasar G, Em, C, D rata-rata lagu pakai kunci itu. Itu yang buat bahuku terkulai lemas. Berharap masuk universitas biasa jurusan akuntansi. Aku enggak muluk-muluk, serius. Jadi SPG atau kasir juga enggak apa-apa yang penting punya penghasilan untuk bantu nenek dan ayah. Memang ini berkah, dapat suami kaya raya bayangan hidup berfoya-foya. Namun, entahlah ... Setelah rapi aku melangkah ke luar apartemen. Pagi tadi ia sudah berangkat lebih dulu. Rajin sekali ... Aku berangkat pukul tujuh, di jadwal yang aku lihat kegiatan hari ini. Semua telah siap, kemeja yang aku kenakan bagus sekali, dengan huruf V sebagai logo yang dibordir dengan benang emas, lalu di antara huruf V terdapat simbol kunci G berwarna perak. Yang jelas ini memang kampus kelas atas. Lalu bukan karena Om Yogi aku enggak mungkin ada di sini. Aku telah sampai di depan apartemen. Dan tak tau siapa yang akan mengantar hari ini. Seseorang berdiri di depan mobil yang terparkir tak jauh. Pria paruh baya berusia sekitar lima puluh tahun berjalan mendekat ketika melihatku. Aku rasa ini yang dimaksud Om Yogi. "Non Reya?" tanya pria itu. "Iya pak," jawabku sopan. "Tunggu sini ya Non bapak putar mobil dulu." "Nggak usah Pak, aku ikut bapak aja." Mana bisa aku bertindak tidak sopan dengan membiarkan Pak sopir itu berjalan dan aku menunggu? Aku berjalan mengikuti bapak sopir. Setelah kami sampai di depan mobil, ia berjalan menuju mobil dan membukakan pintu. Aku masuk dan duduk menunggu mobil itu melaju segera ke sekolah. Baru kali ini aku diperlakukan seperti ini. Rasanya seperti anak-anak keluarga kaya si sinetron. Juga sangat penasaran seperti apa kampus yang katanya bertaraf internasional yang akan menjadi tempatku mengenyam pendidikan nanti. Jalanan pagi ini cukup padat karena berangkat di waktu orang-orang berangkat bekerja. Mobil terus melaju sementara aku fokus pada lagu yang kudengar melalui earphone. Tak lama setelah sekitar lima belas menit mobil masuk ke sebuah halaman yang luas, setelah melalui lintasan berhias bebungaan di kanan dan kiri terlihat gedung universitas berdiri dengan nuansa klasik. Bibirku terbuka selama aku menatap keindahan kampus itu aku tak bisa membayangkan berapa kocek yang harus mereka keluarkan untuk biaya kuliah ku. "Silahkan Non. Nanti Bapak jemput non lagi ya." Ia lalu memberikan kartu nama. Namanya Ahyat. "Nanti telepon saja ya Non." "Terima kasih ya Pak Ahyat." "Sama-sama Non." Aku masih berdiri beberapa detik setelah Pak Hayat berlalu. Gedung universitas ini benar-benar mewah, aku sedikit mundur dan bisa melihat gedung dengan konsep modern ada di belakangnya. Gugup aku meremas tas yang aku genggam, lalu sedikit merapikan tas bawaan. Kini aku membayangkan mahasiswa dan mahasiswi seperti apa yang ada di sini. Okay! aku minder! Berjalan masuk ke dalam seraya mengedarkan pandangan. Jujur, aku senang membayangkan berada di sini, tapi ... Lebih baik jika semua temanku adalah teman yang sekelas dan sederajat denganku. Aku takut tak bisa memenuhi standar sosial pertemanan di kampus ini. Sampai sejauh ini semua masih tampak normal. Tunggu ... Aku harus kemana? Aku tak tau aku kemana dan melakukan apa, sama sekali tanpa keterangan yang diberikan Om Yogi. Berjalan di lorong dengan linglung seraya menatap betapa luas gedung ini. Benar-benar membuatku bingung pada akhirnya. "Kamu sudah datang?" Aku bergegas menoleh mendengar suara panggilan yang familiar, Om Yogi ... Ia berdiri gagah dengan kemeja hitam yang tadi ia kenakan, yang lebih membuatnya semakin luar biasa adalah kacamatanya, dia keren. Iya, suami siapa dulu? "Iya?" Om Yogi berjalan mendekat, menatap dengan senyum. Benar-benar dia pasti dosen incaran mahasiswi kampus deh. "Ke ruang TU ada di lantai dua, lalu ke kanan dia ada di paling ujung, konfirmasi kedatangan dan kasih apa yang saya bilang kemarin. Terus ke lapangan, kita akan ada pengumuman dan upacara akhir masa MaBa." Aku mengangguk, lalu bergerak untuk melakukan instruksi yang diberikan oleh Om Yogi. "Pak Yogi!" Teriakan yang bergema di lorong sekolah. Suara berat yang sepertinya kukenal. Tedi? Tunggu enggak mungkin kan itu suara Tedi? Aku menoleh ke arah suara. Benar! Itu Tedi! Aku melihatnya berjalan cepat. Tapi, tunggu Pak Yogi? Jangan bilang jika yang dimaksud adalah— Kini si senyum kotak itu berdiri di depan Om Yogi. Menyerahkan sebuah buku, ia tak menatapku aku tau ia tak akan menyangka jika aku berada di sini. Si bodoh ini bahkan mengucek mata untuk memastikan jika ini benar aku. Senyum kotak ciri khasnya terlihat ketika ia benar-benar melihat ku. "Tedi Si Butar Butar!" sapaku. Nama aslinya bukan Tedi Butar Butar, aku hanya suka godain Tedi dengan nama itu. Karena dulu dia sempat pacaran dengan gadis bermarga Butar Butar. Sapaan membuat si jangkung itu menoleh. Tapi, kembali mengalihkan wajah lalu ia menatap sekali lagi. Bibirnya terbuka sementara aku buat senyum semenyebalkan mungkin. Sahabatku itu berjalan cepat kami berpelukan kegirangan. "Reya!!! Yaasss sayang!! Gue kangen Lo sumpah!" katanya senang. Jangan heran jika anak bodoh ini memanggilku sayang. Kami sering melakukannya di sekolah saat sekolah menengah pertama. Hingga penjuru sekolah mengira aku dan Tedi berpacaran. Nyatanya? Enggak sekali tidak, itu hanya ungkapan tanpa makna. Dan aku senang melakukan karena Tedi populer; aku juga kok sedikit populer. Jadi, dengan cara itu membuat orang yang menyukai kami berdua menjadi kesal dan menjaga jarak. Sudah aku bilang m buat orang kesal itu menyenangkan. Kami cuma enggak mau pacaran saja. "Heh, stop! Gue mau ke TU buat lapor," kataku lalu melepas pelukan kami. "Ayo gue anterin gue juga mau ada urusan ke arah TU. Pak Yogi maaf, saya mau antar teman saya dulu ya Pak." Sial! Aku lupa! Di sini ada suamiku dan aku malah asik berpelukan ala Teletubbies?! juga dipanggil sayang?! Aku menoleh dan rasanya si Om? Ia terlihat tenang tapi, melirikku dan aku tak tau apa artinya. Sungguh ia sulit di tebak. Mungkin karena kami belum dekat. Namun, ia terlihat tak masalah dengan yang aku lakukan bersama Tedi tadi. "Kami permisi O—ah Pak Yogi," pamitku lalu berlalu bersama Tedi. Bagus! hidupku bagus sekali, suamiku adalah guruku. Luar biasa Reya! Luar biasa hidupmu memang penuh drama. *** . . . . . Assalamualaikum Kakak bunda, kali ini aku akan ngetik dengan Full POV 1 ya berbeda saat ngetik Istri Kontrakku Gendut. Semoga enggak bosan ya membaca cerita ini. Namanya sama Yogi.. sebenarnya ini kebiasaan dari paltform sebelah.aku sudah punya tokoh2 yang aku pakai dia dia aja. Waktu di sana aku enggak bisa ngetik kalau ganti pameran. ಥ╭╮ಥ Mudah2han cerita baru nanti aku bisa ganti nama. Dan cerita ini enggak ada hubungannya dengan semua cerita yang lain ya kakak bunda... Terima kasih sudah mau membaca ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD