Membosankan berada di rumah ini, sudah pukul satu siang dan orang yang membersihkan rumah telah pergi sejak lima belas menit yang lalu. Berjalan ke dapur aku coba cari sesuatu untuk dimakan. Di dalam kulkas aku menemukan banyak makanan beku. Apa Om Yogi makan ini semua? Makanan ini memang berupa lauk. Namun, tetap saja ini makanan beku pasti banyak mengandung pengawet. Mungkin ini jadi alasan nenek ingin cepat buat si Om menikah. Agar ada yang bisa mengurus hidupnya dengan baik. Wah, Om Yogi bener-bener beruntung punya istri yang bisa masak kaya aku.
Lalu sekarang aku harus makan apa? Ingat kalau dalam perjalanan tadi aku melihat supermarket, apa aku harus ke sana dan membeli bahan makanan untuk di masak? Buat makan sama Om juga nanti.
Menimbang sejenak dan aku putuskan akan memasak untuk makan malam. Kembali berjalan ke kamar dan mengambil dompet milikku. Lalu berjalan keluar menuju supermarket yang dekat dari sini.
Setelah keluar melewati dua gedung ke arah kanan. Sekitar sepuluh menit aku telah sampai di supermarket. Segera memilih beberapa sayur yang akan dibuat tumis, juga telur yang akan menjadi lauk. Aku juga membeli sepotong roti rasa sarikaya. Rasanya itu baik untuk meredakan perutku yang keroncongan, bisa aku makan salam perjalanan pulang nanti. Aku berbelanja tak banyak karena juga merasa harus menghemat uang selama di sini. Hanya uang gaji sisa bulan lalu yang aku jadikan pegangan selama hidup di sini. Aku tak ingin juga meminta pada Om meski sempat terlintas itu. Aku harus punya harga diri. Ayah dan Nenek juga tak mengajarkan aku untuk meminta. Aku harus mandiri.
Segera melangkah pulang, suasana cukup lengang siang ini jam dua sudah lewat jam makan siang. Matahari bersinar cukup terik meski tiupan angin terasa dingin. Jajaran gedung terbentang, orang terlihat lalu lalang dengan semua kegiatan mereka sendiri. Semua terlihat tergesa, aku kangen nenek dan pasar di mana semua akan berteriak dan saling menyapa. Di sini terasa asing, bahkan pada orang yang mereka katakan adalah suamiku. Aku harap ini hanya perasaanku saja dan kami akan bisa lebih dekat dan akrab.
Titik ini aku Reya merasa kesepian ... Aku suka sendiri tapi enggak suka merasa kesepian. Ah sialan!
Kembali ke apartemen, segera akan aku mulai kegiatan di dapur. Diawali dengan memakai epron, lalu mencuci semua sayuran yang telah aku beli tadi. Selanjutnya , aku buat bumbu tumis, di kulkas tadi, aku sama sekali tak melihat ada bahan mentah. Padahal itu sangat bagus dan sehat jika memasak sendiri.
Setelah membuat bumbu aku membuat bumbu omelette pedas. Aku suka membuat telur dadar dengan potongan cabai rawit. Semua sudah siap untukku dan Om Yogi.
***
Menonton televisi setelah hari mulai sore. Tak tau apa yang harus aku lakukan lagi. Tadi, aku membereskan pakaian dan beberapa barang yang memang disiapkan untukku. Buku, skin care, peralatan mandi, semua ada di koper. Nenek benar-benar baik dan memperhatikan kebutuhan cucu mantunya. Semua bermerk yang jelas aku tak bisa membelinya dulu. Sekarang semua terpajang di meja rias kamar yang aku tempati. Reya, Reya ckckck kastaku sepertinya naik beberapa derajat setelah ini.
"Lagi ngapain kamu?" Tanya seseorang, aku menoleh melihat Om Yogi. Ia berdiri di belakang sofa yang aku duduki lalu melangkah ke kamar setelah sapaan singkat tadi.
"Aku? Nonton" jawabku singkat, sebal juga kenapa harus bertanya padahal ia lihat sendiri. "Om Anda udah makan?"
"Kamu sudah makan? Biar saya siapkan makanan," ucapnya sambil berjalan ke luar kamar setelah meletakkan tas miliknya. Ia lalu melepas jas yang dikenakan, menggantung di dekat pintu masuk, kemudian menggulung lengan kemejanya.
"Om Yogi, aku udah masak buat Om."
Ia menatap dengan terkejut. "Udah masak?"
Anggukan menjadi jawabanku, lalu berdiri dan berjalan ke dapur. Aku tau ia mengikuti, lalu berdiri di depan kompor menatap sayur yang mulai aku panaskan. Ia terdiam sesaat lalu duduk di kursi makan. Tak ada reaksi yang berarti om cuma duduk diam dan menopang dagu dengan tangan.
"Tunggu dulu Om, biar aku panasin ya, sebentar."
Ia hanya diam dan mengangguk pelan mengikuti apa yang aku minta. Sebenarnya saat ini merasa aku canggung sekali. Tinggal bersama suami yang jelas tak aku kenal, bahkan kami tak saling mengenal, lalu bagaimana harus bersikap satu sama lain?
"Kamu udah siapkan perlengkapan kuliah besok?" tanyanya.
Aku menoleh melihat ia sibuk dengan ponsel di genggaman. "Aku sudah periksa dan siapin semua Om. Apa, bisa Om tunjukin bus apa yang bisa aku naiki dari sini ke kampus?" tanyaku seraya memindahkan tumisan ke mangkuk lalu berjalan meletakkan ke meja.
Tak ada jawaban dia masih diam. Sebal juga di acuhkan begini.
Setelah semua siap aku beranjak, lalu duduk dan kami kini duduk berhadapan. Sambil menunggu jawaban tentang bagaimana caraku ke universitas esok. Kalau dia diam bagusnya aku naik ojek online saja.
"Besok ada supir yang mengantarkan," jawabnya setelah sekian lama diam.
Aku bertanya sudah lebih dari tiga menit yang lalu. Sebel enggak sih? Seolah menunggu kepastian dari pacar.
"Rey apa aku boleh makan ini?" Ia bertanya seraya menyendok sup ke mangkuknya.
Bagus memang kelakuan si Om. Dia makan dulu baru ijin makan sup. "Silahkan." Tetap aku menjawab mempersilahkan.
Ia mulai menyantap sup, aku menatap sesekali menunggu pendapat tentang masakanku.
"Om enak enggak?" tanyaku.
Ia mengangguk, lalu kembali menikmati santap malamnya. Kali ini mungkin saja pendapatku salah ternyata ia cukup baik dan ramah. Meski awalnya bersikap dingin dan menyebalkan. Katanya kesan pertama memang sering kali menipumu.
Kami menikmati santapan malam dengan obrolan singkat sampai akhirnya hanya denting sendok dan piring yang terdengar selama kegiatan makan malam.
"Makan, yang banyak. Saya enggak mau dimarahi nenek karena kamu kurang makan," ketusnya.
Aku mengangguk, sejujurnya aku ingin bertanya. Apa hanya karena nenek sakit maka ia menerima pernikahan aneh ini? Mungkin jaman Siti Nurbaya ini hal bisa terjadi. Namun, pada saat seperti ini? Bahkan Puteri dari negara Jepang memilih jodohnya sendiri.
"Dan berhenti panggil saya Om," tegasnya lalu menyudahi kegiatan makan malam kami. "Tidur sana. Biar saya yang bersihkan meja."
Aku menggeleng tentu saja aku ini 'kan istrinya Om. Ya, meski dia enggak mau dipanggil Om. "Om istirahat aja. Biar aku yang bersihkan. Lagian kan aku istrinya Om." Aku menatapnya sambil berkedip beberapa kali.
Si Om menatapku sepertinya dia jijik dengan apa yang aku lakukan barusan. Bodo amat sih ya, aku juga cuma iseng. "Saya mau bersihkan meja. karena, berterima kasih kamu mau memasak makan malam untuk saya."
Om Yogi ucapkan semua dengan lembut. Buat aku mengangguk seolah tersihir. Kagum juga kalau enggak judes gini si Om keliatan manis.
***
.
.
.