Aku terlambat bangun karena begadang mengerjakan tugas. Segera bersiap, memakai pakaian, tak perlu berdandan, cukup menyemprotkan minyak wangi. Setelah selesai, aku ambil tas milikku dan segera berlari ke luar. Di kursi meja makan aku melihat Pak Guru sudah rapi di meja makan. Dengan hidangan yang tersaji. Ia memasak sarapan? Nasi goreng, omelette, sosis dan nugget goreng. Ada juga s**u cokelat dan secangkir kopi jelas itu untuknya. Segera aku hampiri ia yang kini duduk rapi mengenakan kemeja abu-abu, seraya membaca laporan. Keren .., pantas mahasiswa klepek-klepek sama si Om. Eh, Pak Guru.
"Maaf ya Pak Guru, aku telat bangun," ucapku sambil membungkuk, lalu duduk di sampingnya.
"Enggak masalah, mungkin kamu terlalu capek karena tugas semalam. Aku berangkat duluan enggak usah bersih-bersih dan segera berangkat setelah sarapan. Biar nanti si mbok yang membersihkan semua." Ia bergegas meletakan piring miliknya ke mesin pencuci piring lalu berjalan keluar, sebelum berjalan ke luar tangannya mengusap kepalaku.
"Hati-hati Pak!"
Ia lambaikan tangan tanpa menoleh, lalu menghilang dari pandangan. Aku segera menyantap sarapan buatannya. Lumayan juga, meski kurang asin sedikit tapi, kemampuan memasaknya oke.
Dan begitulah hampir seperti itu selama ini, ia berangkat terlebih dulu. Lalu aku akan berangkat beberapa menit setelahnya.
***
Melangkah di lorong sekolah setelah pelajaran bisnis industri seni. Kali ini masih tentang Korea, membahas betapa pada pemudi pemuda di sana begitu kompetitif dalam meraih mimpi menjadi seorang idol. Yang mereka lakukan bukan sekadar berlatih tapi, juga tetap menjaga prestasi akademik untuk menunjang penilaian dalam audisi. Banyak hal yang harus diperhatikan termasuk rekam jejak, perbuatan buruk sedikit saja bisa membuat netizen marah dan hancurkan karir. Betapa mereka menjaga image diri. Hal-hal yang seperti itu membuat jalan menuju kesuksesan begitu berat. Hingga yang terjadi adalah banyak di antaranya mengalami depresi lalu melakukan bunuh diri.
Ada bagusnya memang membuat para pelaku kejahatan jera. Meski kadang berlebihan, apalagi untuk mereka yang melakukan kenakalan masa muda. Ya setidaknya, tidak seperti masyarakat negara berbunga ini. Bisa-bisanya pelaku kejahatan se**ksual yang melakukan kejahatan pada anak dibawah umur mendapat puja puji dan diarak layaknya pemenang? Entahlah, bagiku itu tak elok sama sekali. Pernahkah terpikir kalau hal seperti itu buat mereka merasa bisa diampuni lalu mungkin saja melakukan kesalahan yang sama? Manusia memang bisa berubah hanya saja. Hukuman sosial juga harus diberikan agar tak ada pelaku-pelaku selanjutnya.
Lorong kali ini terasa sedikit sepi. Apa mungkin banyak yang sudah pulang? Padahal ini masih siang?
"Reya!" Salah seorang siswi berparas cantik dengan tubuh tak terlalu tinggi berlari menghampiri. Ia sedikit tersengal ketika sampai dekat denganku. Aku ingat dia yang menari bersama Jimmy.
"Ah, halo," sapa ku sopan.
"Hai, gue Arin. Gue disuruh manggil Lo ... ayo kita ditunggu di studio utama." Arin menggandeng tanganku lalu kami bersama berlari menuju studio utama.
"Aku ya?"
"Iya ayo buruan!"
Kami berjalan bersama, lebih tepatnya dengan setengah berlari. Jarak studio utama tak terlalu jauh. Kami sampai dan aku lihat di sana sudah ada ada beberapa murid lain. Tedi bahkan kini menatapku terkejut, Jimmy yang juga tersenyum manis, juga satu siswi lain di sisi Tedi. Di sana juga ada guru lain, ada Pak Ahbi guru tari modern, Pak Joko, juga Pak Guru yang juga suamiku.
Aku meliriknya sekilas, ia bisa bersikap sangat wajar. Seolah sama sekali tak saling mengenal, sementara jantungku mulai berdebar hanya dengan menatapnya. Ini akibat ia tidur di sampingku semalam, aku memerhatikan wajahnya semalam ketika terbangun, lentik bulu matanya, ditambah bagaimana ia bisa bersikap begitu keren dan buat anak gadis menjerit.
"Kuki belum datang?" tanya Pak Joko seraya melirik ke semua ruangan.
"Biar saya cari Pak," ucapku lalu segera bangkit dari kursi untuk segera mencarinya. Aku melangkah belum terlalu jauh. Tedi menahan dengan memegangi tanganku.
"Biar saya saja Pak." Si bodoh ini malah nawarin diri buat cari Kuki.
"Enggak perlu gue di sini."
Itu dia yang dicari, berjalan dengan cuek menuju tengah ruangan yang hampir terisi semua. Kuki menarik tanganku, ke tengah ruangan. Aku setengah menolak hanya saja tenaganya terlalu kuat untuk aku lawan. Kami melewati Tedi yang memegangi tanganku yang lain.
"Awas Lo buat temen gue kenapa-napa," ancam Tedi.
Kulirik sahabatku itu, tak ingin membuat situasi semakin tak baik. Kuki diam ia hanya tersenyum di sudut bibirnya.
"Ini seperti cinta segitiga Reya, Kuki, Tedi. Sekalian kalian main drama di depan sini." Pak Ahbi mengomentari adegan di antara kami, dan itu membuatku malu.
Kutarik tanganku dari Kuki dan duduk bersama yang lain. Sedangkan Kuki berjalan mengikuti lalu duduk di sampingku, lalu Tedi kembali ke tempatnya.
"Baiklah kita mulai pertemuan kali ini." Pak Ahbi berucap setelah kami semua duduk di kursi masing-masing. "Silahkan Pak Yogi." Ia mempersilahkan Pak Guru untuk berbicara.
"Baiklah, aku akan katakan dengan jelas dan langsung saja." Suamiku berdiri, lalu merapikan kacamata yang ia kenakan sambil berjalan ke tengah ruangan. Kini ia berdiri di antara kami semua.
"Seperti biasa setiap tahunnya kami akan mengirimkan siswa untuk pertukaran pelajar ke negaranya lain, dan kali ini tujuannya adalah Korea. Untuk penilaian kali ini adalah, mereka yang mendapat nilai A dalam penilaian ujian praktek menari, drama, musik dan vokal. Tentu saja saat ini semua yang berada di sini adalah siswa yang mendapat nilai A. Tak seperti tahun kemarin kami akan melakukan pemilihan secara ketat berdasarkan tes bertahap. Namun tahun ini penilaiannya berbeda setelah semua dosen dan perangkat kampus mengadakan rapat." Jelas Pak Guru.
Ke Korea? Wah! Takdir macam apa ini? Harusnya aku tak mendapat nilai A! Bagaimana kalau aku malah akan mempermalukan kampus sebagai mahasiswi yang tak berbakat?
"Maaf Pak!" Aku mengangkat tangan.
"Ada apa?" Sahut Pak Joko.
"Saya rasa Saya tak cukup kemampuan. Maksudnya saya siswa baru, dan-"
"Lalu kamu menyerah mendapat kesempatan bagus hanya karena kau murid baru dan merasa belum memiliki kemampuan yang cukup?" Ketus Om Yogi yang kini menatapku dengan tatapan kesal dan dingin. Sumpah aku enggak suka di perlakukan kaya gitu.
"Bukan, seperti itu."
"Lalu?" tanyanya.
"Aku merasa kemampuanku tak cukup baik. Aku takut kalau-"
"Baiklah, kalau begitu lebih baik tinggalkan kampus ini. Tujuan kamu berada di sini memang untuk belajar dan bukan untuk berkompetisi. Mahasiswi yang tak kompetitif memang tak baik mengikuti kesempatan ini. Meskipun jelas kegiatan ini sangat baik memupuk kemampuan dan kemampuanmu, satu kampus mungkin akan iri melihat kamu jadi salah satu peserta. Namun, kau sama sekali tak merasa beruntung karena itu."
Aku tak tau ada apa dengannya? Tapi apa perlu sekeras ini padaku? Di depan mahasiswa lain? Menyakitkan sekali.
"Maafkan aku," ucapku seraya membungkuk lalu kembali duduk.
Sesaat kemudian seseorang menarik tanganku ke luar dari ruangan itu. Siapa lagi kalau bukan, Kuki. Tangannya mencengkram kuat pada pergelangan tangan kananku. Berulang kali ku coba lepaskan tapi sama sekali tak bisa lepas.
Kami berjalan melewati lorong yang sepi karena tadi bel untuk latihan sudah berbunyi. Sudah pasti seluruh siswa berada di kelas saat ini. Langkanya menuju tangga ke atas. Sungguh apa yang ia lakukan menyakitkan.
"Kuki tangan gue sakit," lirihku.
Ia seperti tersadar, lalu melepas perlahan. Aku mengaduh seraya memerhatikan pergelangan tanganku yang merah.
"Maafin gue," ucapnya sambil melihat pergelangan tanganku. Aku bisa melihat jika ia benar merasa bersalah. "Ayo kita ke UKS."
"Enggak, gue mau balik aja ke ruangan," tegasku.
"Lo enggak marah? Pak Yogi tadi ngehina Lo, Rey?"
"Kuki, Apa yang Pak Yogi bilang itu sebenarnya adalah kenyataan. Gue memang pengecut, gue harusnya enggak kaya gitu. Sementara orang berebut untuk bisa terpilih. Gue malah jadi pengecut. Kadang kita memang harus di tampar buat sadar. Dan itu yang coba Pak Yogi lakuin."
Sejujurnya jauh di lubuk hati ku menerima perkataan Pak Guru. Namun, hatiku terluka karena dia yang mengucapkan dengan nada marah. Mungkin lebih baik jika pak Joko atau Pak Ahbi yang mengatakan semua itu tadi.
"Gue enggak bisa menerima siapapun yang bilang hal sekadar itu ke lo."
"Lo? Kenapa gitu? Kenapa enggak bisa terima?"
"Karena Lo milik gue. Enggak ada satu orang pun yang bisa nyakitin Lo. Enggak ada." Kuki berucap tegas seraya menatapku.
Sialan memang kenapa ketemu cowok kaya gini pas udah nikah?!
Aku mendengkus heran juga dengan apa yang terlontar dari bibir Kuki. Aku harus sadar diri jadi aku putuskan tak mau peduli. Dan kembali' melangkah kembali, sebelum Kuki menarik tanganku lagi.
"Lo dengar kan Rey? Freya Anggun Kinanti! lo—" tatapannya tajam dan serius, jujur aku jadi takut. "Milik gue, milik Kuntara Kiandra Arsen."
Kakiku seolah tak mau bergerak, aku ingin berlari tapi terlalu takut. Kenapa mendadak jadi takut? Apa yang dibilang Kuki barusan terdengar justru seperti sebuah ancaman. Ah sial! Aku ini kenapa pengecut! Aku takut jika dihardik, aku akan menangis jika dibentak, aku akan ketakutan jika diancam. Meski aku terlihat berani menghadapi apapun. Sebenarnya aku pengecut. Aku menang gadis bodoh dan pengecut. Akhirnya aku berkahir berjongkok dan menangis.
"Kenapa? Tangan Lo masih sakit?"
"Lo nakutin gue!" makiku sambil terus menangis dan terisak.
Andai aku bisa bersikap berani memaki Kuki yang terdengar mengancam tadi, lalu dengan keras memukul tubuh nya keras-keras karena menakutkan tadi. Sayang itu saat ini bukan aku! Menyebalkan Reya Lo kenapa sih?!
"Reya!"
Suara bariton itu?
"Tedi?"
"Lo ngapain?!" teriaknya lalu mendorong Kuki.
Aku menahan Tae, memegangi kemejanya. "Dia enggak ngapa-ngapain."
Tedi menatapku mencari pembenaran di sana. Ia lalu membawaku keluar berjalan menuju ruang kesehatan.
"Kenapa Lo masih saja cengeng sih?" tanyanya lembut seraya mengusap pucuk kepalaku.
Aku tak menjawab dan masih meneteskan air mata. Kami melangkah perlahan, sesekali aku bisa mendengar Tedi menghela napas. Aku tau ia benar-benar marah sama Kuki. Tapi, Kuki memang tak melakukan apapun. Aku bisa marah dan kasar pada orang yang tak aku kenal. Tapi, akan jadi lemah jika yang melakukan itu adalah orang yang memiliki tempat penting di hatiku. Jadi, apa Kuki sudah mendapatkan tempat penting itu?
"Dia enggak ngapa-ngapain Ted. Gue cuma kaget aja."
"Dia bilang sesuatu?"
Kuanggukan kepala. "Dia bilang gue miliknya."
"Gue bakal jagain Lo, Lo enggak usah takut mengerti?"
Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk. Kudengar derap kaki seseorang yang berlari dari arah tangga menuju ruang. Kesehatan. Seseorang muncul dari sana, Pak Guru. Ia. Menatapku dan Tedi, lalu melangkah mendekat.
"Tedi, masuk ke Ruangan lagi. Ada yang perlu saya bicarakan sama Reya."
Tedi menatapku seolah bertanya apa ini tak masalah?
Aku mengangguk. "Enggak apa-apa."
Setelahnya, Tedi berjalan pergi meninggalkan aku dan Pak Guru. Aku dan Pak guru berjalan menuju ruang kesehatan. Selama perjalanan ia hanya diam. Kenapa diam? Katanya mau bicara? Setelah sampai lalu aku duduk di tempat tidur. Sementara Pak Guru mengambil segelas air. Lalu kembali dan memberikan segelas air padaku. Ia mengambil kursi, kemudian duduk di sana. Kami berhadapan.
"Kenapa kamu menangis? Karena saya marahin kamu tadi?"tanyanya.
"Enggak."
"Lalu?"
"Enggak apa-apa Pak," jawabku tak mungkin aku menceritakan tentang Kuki saat ini.
Pak Guru menggerakkan kepala, seolah kesal dan marah. "Katakan apapun yang terjadi sama kamu mengerti?"
"Iya Pak."
"Istirahat, aku akan minta kamu segera di jemput Pak Ahyat."
"Enggak perlu, aku akan ngelanjutin kelas setelah lebih baik."
Kulihat senyuman di wajahnya. "Baguslah, saya akan ke kelas lagi hmm? Kita bahas semua setelah pulang oke?"
"Oke Pak."
Pak guru lalu berjalan ke luar dari ruang kesehatan.
***
.
.
.
Reya enaknya. Sama siapa?