13. Tuan Putri

959 Words
Hari ini lelah, diomeli Om Yogi, di ancam si Kuki lalu merasa tak berguna karena terpilih menjadi mahasiswi pilihan untuk program pertukaran tanpa kemampuan. Bisa-bisanya aku dapat bulai A kemarin? Langkahku lunglai menuju taman belakang kampus. Memilih duduk di bangku kayu, menatap ke gedung sekolah. Dari sini ruang ketua yayasan terlihat. Ruang dimana suamiku menghabiskan waktu selama di sekolah. Aku penasaran seperti apa ruangannya? Berada di belakang gedung, terlihat pintu masuk dengan kaca hitam, dengan pintu yang tertutup. Ia pasti ada di dalam, mobilnya masih terlihat di parkiran utama saat aku melangkah ke sini tadi. Sebenarnya sikap Suamiku sulit sekali diterka. Ada kalanya aku merasa ia peduli tapi, ada kalanya ia tak mau peduli dan cuek sekali. Buat aku bimbang haruskah meletakan hati padanya? Aku taku terluka, dan merasa di permainkan nantinya. Tak mau terluka, sakit hati dan lain sebagainya. Aku vokal dan keras di luar saat bersama kalangan yang tak pernah ada dalam hati dan pikiran. Namun, ketika aku berada bersama orang yang telah singgah di hati atau pikiranku, aku merasa pantas untuk bergantung. Lalu yang terjadi? Lemah sendiri, dibentak nangis; saat dimarahi nangis; diacuhkan over thinking. Bingung sama diri sendiri, maunya apa? Kupejamkan mata seraya menutup mata. Hari tadi mendung, sekarang matahari terik sekali. Masih ada waktu empat puluh menit sebelum kelas terakhir. Lagu yang belakangan aku sukai Shawn Mendes- If I Can't Have You. Meski tak ada hubungannya dengan kisah hidupnya. Namun, aku suka buat aku bersemangat dengan tempo nada yang cepat dan lagu yang ceria. Aku membuka mata sejenak, menatap ke ruangan suamiku ada seorang anak yang masuk ke ruangan. Eri? Aku ingat dia gadis yang aku temui duduk di sampingku pada saat pertemuan terakhir para maba. Aku kembali memejamkan mata. Rasa kantuk perlahan menyerang. Perlahan terasa semakin gelap. Aku membuka mata melihat Kuki yang berdiri di hadapanku. "Apa?" tanyaku sambil melepaskan earphone. "Tidur aja, gue berdiri di sini biar Lo enggak kena sinar matahari. Sinar ultraviolet itu enggak bagus buat kulit." Aku berdiri tak ingin membahas apapun dengannya. Sungguh, aku takut berpaling sementara aku telah terikat. Kuki posesif dan itu pesonanya! Sebagai gadis yang selama hidupnya belum pernah berpacaran sepertiku perlakuan Kuki luar biasa buat baper semesta jomblowati. Meski bagiku ada sisi menakutkan seolah akan terkurung. Ia berlari cepat lalu berdiri di depanku. "Maaf, hmm? Lo mau kan maafin gue?" Lembut .., hardikan dan kata-kata penuh penekanan yang siang tadi buat aku ketakutan lenyap. Di ganti tutur lembut. Tedi tak salah, Kuki playboy cap buaya. "Misi." "Gue di akan ikuti Lo terus sampai Lo maafin gue." Aku menatap, lalu ia tersenyum dengan senyum layaknya Kelinci yang menggemaskan. Sialan! "Gue maafin. Sekarang minggir, gue masih ada kelas. Kuki membungkuk lalu memutar tangan mempersilahkan aku lewat. "Silahkan Tuan Putri ." "Hmm, makasih," ketusku sambil berjalan cepat. Aku bisa mendengar Kuki terkekeh. Lalu langkah kakinya terdengar cepat, ia kini ada di sampingku. "Jangan judes." "Kenapa?" Lagu kujawab sejudes mungkin. "Cewek judes itu makin manis bikin penasaran." "Sialan!" "Eh, Tuan Putri kok gitu?" "Emang Lo Sialan!" Aku marah bukan karena tak suka. Sialan, si sialan ini buat ada letupan kecil di hatiku. Aku marah karena ingin ia goda lagi. Sialan!! Aargh! Freya sadar! Mugkin ini yang namanya kalau kesemsem bikin jadi tak tau diri. Bahaya! Kuki memang berbahaya. "Gue ke kelas ya, Tuan Putri. Everything means nothing if i Can't Have You." Ia berjalan sambil menyanyikan salah satu yang saat ini aku sukai. Ada letupan kecil saat aku dengar ia menyanyikan itu, suara Kuki bagus aku suka, suaranya. Setelah selesai kelas aku segera kembali ke apartemen. Sudah pukul enam sore aku bergegas membersihkan diri, lalu memasak makan malam untuk aku dan si Om. Selesai memasak aku duduk di sofa ruang tengah menunggunya. Sudah pukul delapan, dan ia belum kembali. Aku ingin menghubungi, sialnya kami sama sekali belum bertukar nomer ponsel satu sama lain. Aku sendiri menyaksikan siaran televisi seraya menyantap makan malam buatanku. Hanya ayam goreng dengan tumis buncis. Setelahnya tak ada yang aku kerjakan karena tak ada tugas atau laporan yang harus dikerjakan. Aku mengantuk .... Reya, bangun. Suara yang familiar, kubuka mata. Melihat suamiku, yang baru saja kembali. Segera duduk dan menyadarkan diri. "Kenapa tidur di sini?" Ia bertanya dengan nada suara dingin. Ada apa? Ia memalingkan wajah lalu membuka dasi yang ia kenakan. "Bukannya saya udah bilang kamu untuk enggak nunggu? Pindah ke kamar sana." Ada sedikit sakit, andai dia tau kalau aku di sini menunggunya. "Hmm, Om udah makan?" Ia melirik, sepertinya ia marah karena aku masih saja memanggilnya Om. "Saya udah bilang enggak suka dipanggil Om. Meski panggilan Pak Guru itu juga mengganggu." "Terus saya harus panggil dengan apa? Kakak, Abang, Oppa?" Ia hela napas. "Terserah kamu. Ke kamar sana. Saya capek." "Maaf saya buat Anda capek." Aku berjalan dengan kesal menuju ke kamar. Apa yang salah dengan aku? Seharusnya, kalau memang pernikahan ini mengganggu bisa saja ia tolak. Kenapa haris menerima jika cuma buat dia kesal dan marah? Lalu melampiaskan amarah padaku? Dia bisa bilang ke nenek, atau paman Jun. Kenapa harus marah? Aku kesal, dan sakit hati. Tidur lagi rasanya lebih baik, dibandingkan mikirin si sialan itu. Ya daripada sakit hati dan tak bisa menikmati hidup karena hidup dalam rasa dengki karena suami yang dijodohkan. Lebih baik pejamkan mata, besok aku masih kuliah. Akan butuh tenaga ekstra untuk menghadapi si menyebalkan itu. Pagi aku telah siap untuk menyiapkan sarapan. Apartemen ini sepi, tak ada suara apapun. Bahkan pintu kamar si dingin yang menyebalkan itu terbuka lebar. Sepertinya ia ingin menunjukkan kalau ia sudah berangkat pagi-pagi sekali. Baguslah, aku jadi tak perlu bertemu dengannya. Aku menuju dapur, di meja makan ada roti bakar dengan s**u cokelat. Baik juga dia siapkan sarapan untukku. Ada sebuah note dengan tulisan 'sorry'. Sejujurnya, ini terkesan tak ikhlas sih. Tapi, ya sudah lah. Aku terima maafnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD