14. Mi rebus || Menjauhlah!

1827 Words
Pulang kuliah aku tak segera kembali ke apartemen. Tedi mengajak berjalan-jalan untuk membeli beberapa barang yang mungkin aku butuhkan. Kami juga membicarakan bidang apa yang bisa aku kembangkan selain bernyanyi. Aku bisa bermain gitar dan Tedi menyarankan untuk membeli gitar. Ia berharap ada hal lain yang bisa membuat nilaiku lebih baik. Ya, maksudnya aku memang bodoh sekali dibanyak kelas. Jika aku tak ada perbaikan tak ada yang akan merekomendasikanku untuk mendapatkan pekerjaan di sini, apalagi Korea dan Amerika. Rasanya, aku memang tak punya darah seni sama sekali. Ya, sepertinya besok aku akan menghubungi ayah dan meminta uang tambahan, karena uang tabunganku tak cukup untuk itu. Aku harus belajar dengan lebih baik. Setidaknya, ketika lulus nanti aku bisa bekerja dan tak bergantung dengan orang lain meskipun ia adalah suamiku sendiri. Tedi tak mengantar sampai ke apartemen. Aku membiarkan ia pulang lebih dulu, lalu aku meminta Pak Ahyat menjemput. Tak ingin Tedi tau apa yang terjadi padaku atau siapa suamiku. Setidaknya untuk saat ini. Tak mungkin aku terus menyembunyikan rahasia ini darinya. Ia sangat mengenalku ia akan dengan mudah mengetahui jika aku menyembunyikan sesuatu. Kini aku sampai di lorong menuju apartemen. Kenapa waktu rasanya berlalu begitu cepat? Aku malas melangkah masuk ke dalam rumah. Karena jika masuk ke sana aku akhirnya harus mengingat kejadian malam tadi. Aku memperlambat langkah masuk tapi, tetap saja terasa cepat sekali. Kini aku di depan pintu masuk, lalu menekan kode pintu dan mendorong pintu, pada akhirnya kulakukan, berjalan masuk kemudian. Lampu sudah menyala, Si Om pasti sudah pulang. Aku ingin memanggilnya Pak Dosen, hanya saja dia terlalu manis dibanding dosen lain di kampus. Pak Guru jadi pilihan panggilan kesayangan. Ya, aku ingin ia jadi guru untukku bukan hanya di kampus tapi, juga hidupku. Walaupun, panggilan Om menurutku yang tetap yang paling enak didengar. "Kamu sudah pulang?" tanya si pemilik rumah ketika aku sampai di ruang tengah. "Pak Guru sudah pulang?" Ini pertama kalinya ia tiba di apartemen terlebih dahulu. Biasanya, aku yang selalu tiba pertama kali. Kulihat ia mengangguk, menatapku seraya melepas kacamata yang ia kenakan. "Segera ganti pakaian aku akan masak mi rebus pedas. Ini enak banget lho, aku tambah sosis, eggroll, telur dan keju." Nada bicaranya lebih ramah dan menyenangkan, mungkin ia merasa bersalah? Karena bersikap kasar kemarin? Aku melangkah dengan segera ke kamar dan bergegas membersihkan diri juga berganti pakaian. Aku tak ingin membuat mi rebus itu lama menunggu. Aku benar-benar bergegas hanya karena semangkuk mi rebus. Menurutku mi instan tak pernah mengecewakan memang dan aku tak akan mengecewakan mereka. Setelah berganti pakaian aku berjalan ke luar. Di meja makan Pak Guru telah menunggu. Ia mengenakan sweater abu-abu juga celana tidur berwarna hitam dengan motif abstrak. Ia telah menyiapkan semua di atas meja makan. Aku duduk dan suamiku itu mulai memasukkan mi dan segala pelengkapnya. Ia tak bertanya atau membicarakan apapun hanya diam dan memasak. Sejujurnya ini baik, aku memang tak bisa di tanya saat sedang kesal atau marah jika ditanya bukan mendapat jawaban aku akan menangis. Cengeng? Memang ... Aku tak tau mengapa seperti ini. Mencoba kuat berkali-kali tapi tetap saja jadi si cengeng. Walaupun selalu tak bisa menerima cemoohan cengeng, tapi itu kenyataan pahit yang memang terjadi. Reya cengeng ... Aish! "Pak Guru, maaf aku pulang terlambat. Tadi, aku sama Tedi mampir sebentar ke mall dekat kampus. Kami beli perlengkapan yang dibutuhkan di kampus." "Oke, enggak masalah," jawabnya sambil mengaduk mi instan lalu memasukkan keju di atasnya dan menutup agar keju meleleh sempurna. "Coba sini saya lihat hape kamu," pintanya. Aku mengambil ponsel di kantung celanaku dan memberikan padanya. Ia menerima, lalu mengarahkan kembali padaku, memintaku membuka kunci ponsel. "Kodenya." Aku membuka kode ponsel milikku. Pak Guru mengetik sesuatu, lalu menghubungi ponselnya sendiri. Aku melihat ia menatap layar ponselnya dan segera mematikan panggilan setelah layar menyala. Tak lama lalu mengembalikan padaku. Pak Guru menyimpan nomer ponselnya di ponselku. Ini sepertinya salah satu hal penting yang aku lewatkan. Bagaimana bisa aku dan ia telah tinggal lama tapi, baru saling bertukar nomer ponsel sekarang? Bisa-bisanya hal sebodoh ini terjadi. "Ini nomor saya. Kamu enggak pernah bertanya. Dan saya baru sadar kalau saya enggak punya nomor kamu. Hari ini saya penasaran kenapa kamu belum juga pulang. Saya tau kita memang masih dalam hubungan yang canggung dan terasa seperti orang asing. Tapi, saya ingin kamu—" ucapannya terhenti ia menatapku. "Mulai sekarang menghubungi setiap pulang terlambat. Saya enggak akan ngelarang kamu kalau memang harus ke luar untuk mencari kebutuhan kampus atau hal-hal mengenai kuliahmu. Hanya, kamu juga harus mengerti, kalau kamu itu adalah tanggung jawab saya sekarang ini." Ia berbicara dengan menatapku terus menatap tanpa jeda. Serius dan khawatir aku bisa merasakan itu. Ini pertama kalinya. "Iya, maaf ya Pak Guru." Aku merasa benar-benar bersalah kali ini. Ya kami memang dalam hubungan canggung. Tapi bukan tanpa rasa, untukku ia telah menjadi sedikit berarti sebagai laki-laki, meski aku mungkin berarti dalam pandangan lain. sebagai murid atau adik? "Saya memang akan bicara apapun yang saya rasa itu penting. Saya harap kamu bisa mengerti kalau itu memang sifat saya. Saya bertindak di kampus juga sebagai dosen. Bukan suamimu." Aku mengangguk, aku harap aku tak sering menangis karena perannya sebagai dosen. "Ini." Ia memberikan sebuah kartu kredit dan ATM. "Pakai ini sesuai kebutuhan. Saya tau ini terlambat, maaf. Gunakan ini untuk berbelanja, uang kuliah, dan membeli kebutuhan. Kode PINnya tanggal ulang tahunmu." "Tapi—" "Saya suami kamu dan itu termasuk hakmu sebagai istri saya. Enggak ada tapi." Ia lalu memberikan mi ke dalam mangkukku. "Terima kasih Pak Guru." Ia mengangguk lalu tersenyum setelahnya kami makan bersama dan saat ini seharusnya aku menceritakan apa yang terjadi di kampus kemarin dan apa yang dilakukan Kuki. Aku telah berjanji tapi akan menceritakan apapun. Hanya saja, aku benar-benar tak ingin bicara apapun saat ini. "Hari ini Saya enggak sibuk jadi pulang lebih cepat. Mengurus beberapa keperluan untuk showcase mahasiswa semester enam cukup melelahkan." Ia bercerita lalu tersenyum dan menatapku. Aahhhhhh jantungku!!! Terserang!! Aish! Pak Guru! aku enggak kuat kalau dia tersenyum kaya itu. Aku coba tak menatap dengan mengalihkan perhatian pada ramen di hadapanku. "Aku menangis bukan karena ucapan Pak Guru. Aku tau yang Pak guru bilang itu benar, bahwa ke Korea adalah kesempatan langka. Tapi, saat anda mengatakan itu dengan nada tinggi. Seolah ada pecahan kaca yang menghujam perasaanku. Lalu—" Aku terdiam menatap dirinya yang juga menatapku sambil menunggu dalam diam. "Juga waktu itu Kuki, menekankan dengan keras dan berkata—" "Berkata apa?" Apa aku harus membahas Kuki saat ini? Rasanya itu tak terlalu penting. Si dingin itu pasti hanya bermain-main. Aku tak bisa melibatkan Pak Guru dalam urusan sepele seperti ini. "Ah bukan apa-apa." *** Hari Minggu, saat yang tepat mencari gitar. Suasana di jalanan mendung dengan embusan angin karena memasuki musim hujan. Hembusan anginnya bahkan terasa hingga kulitku yang berlapis jaket denim yang aku gunakan. Apa udara di sini lebih dingin daripada Bandung? Kenapa aku merasa dingin? Pagi ini aku ke pusat kota di antar si pria seputih salju yang adalah suamiku. Karena hari ini ia ada pertemuan perusahaan lalu akan berangkat ke Korea untuk mengurus masalah perusahaan sekaligus tentang pertukaran pelajar, yang akan dilaksanakan beberapa bulan lagi. Aku akan jadi bagian didalamnya meski rasa tak percaya diri terus mengusik. Om Yogi bahkan memberikan uang jajan yang menurutku luar biasa banyaknya dua puluh juta dalam ATM dan juga kartu kredit yang entah berapa limitnya. Aah, ingin beli sweater untuk nenek. Kemarin malam aku menghubungi Tedi. mengajaknya pergi untuk menemaniku mencari Gitar yang cocok untuk aku gunakan di kampus. Hanya saja, ia bilang jika hari ini harus mengerjakan tugas kelompok dan tak bisa mengantarku. Baiklah, itu tak masalah. Aku menatap sekitar melihat gedung kampus yang nampak ujung gedungnya. Ini toko yang tak jauh berada dari kampus Pak Ahyat bilang mahasiswa dan mahasiswi kampus selalu membeli alat musik di sini. Saat itu seseorang menyentuh bahuku. "Lo?" Aku menatap seseorang di sampingku mengenakan jaket denim, celana jeans hitam dan sneaker putih, Kuki .... Aku berjalan cepat menghindar tak ingin bersamanya, sungguh. Ia berlari mengejar. aku bisa mendengar langkahnya. Benar saja, sedetik kemudian ia berada tepat di hadapanku. "Reya, kenapa? Ada apa? Kenapa Lo ngehindarin gue?" tanyanya seraya memegangi pergelangan tanganku. Aku bisa melihat gelang buatanku masih melingkar di pergelangan tangannya. "Maaf, bisa lo lepaskan tangan gue?" Ia melepas tapi masih berdiri menghalangi. "Gue minta maaf. Tuan Putri gue akan bersikap baik sama Lo. Hmm?" Padaku? Berarti dia bersikap baik itu hanya pada orang tertentu? Iya memang aku tau dia hanya diam di kelas. Tapi, tak tau kalau ia ternyata bersikap kasar pada semua orang. "Terserah," sahutku singkat. "Lo mau beli sesuatu?" Ia bertanya sambil terus mengikuti. "Gue enggak mau dekat-dekat Lo. Sorry, mending Lo minggir dari hadapan gue." "Reya, please jangan ngehindar apalagi ngejauh emang apa salah gue?" Aku tak ingin menerima apa yang aku rasa bahwa Kuki berucap terasa tulus. Tak peduli, aku melangkah menjauh tanpa menatapnya. Berjalan menyusuri pertokoan yang berada di sana. Cukup ramai, aku harap bisa cepat menemukan gitar yang aku inginkan. Menyusuri pertokoan dengan tak nyaman karena Kuki yang terus saja mengikuti. Ia hanya diam dan mengikuti dari belakang. Aku rasa jika aku terus bersikap baik ia akan semakin mengejarku. Aku juga tak tau alasan apa yang membuat si sialan ini terus menempel padaku seperti magnet. Argh! "Lo mau apa sih?!" tanyaku kesal sambil menoleh ke belakang. "Lo orang yang gue suka. Jadi, gue bakal jagain Lo. Silakan lanjutkan kegiatan Anda, Tuan Putri. Gue—" Ia tersenyum seraya menepuk dadanya. "Akan jagain Lo, dengan sangat-sangat baik." "Aish apa sih?!" Argh, kepalaku rasanya berputar menghadapi si bodoh, sialan! Argh Kuki gila! Siapapun, tolong buat dia menjauh! Baiklah aku tak akan peduli. Silahkan mengikuti aku akan menganggap ia adalah semut, angin, debu atau semacamnya. Kulangkahkan kaki dengan cepat, karena kesal tentu saja. Bruk! "Maaf," ucapku. Aku menabrak seseorang tanpa sengaja, membuatku jatuh terduduk. Kuki membantuku berdiri, ia khawatir. Sementara aku sibuk meminta maaf, karena sepertinya aku memang berjalan tak benar. "Lo enggak apa-apa?" Ia kemudian menatap laki-laki yang menabrakku. "JALAN YANG BENAR!" Makinya pada seseorang yang jelas lebih tua darinya itu. Aku mendorongnya ke belakang, lalu membungkuk meminta maaf. "Maafin saya ya Pak." "Jalan yang benar," ucap pria itu seperti sebuah sindiran pada Kuki. Aku bisa mendengar deru napas cepat Kuki. Ia marah, aku meliriknya napasnya tersengal rahangnya mengeras, dan tangannya yang mengepal. Aku tak suka itu. "Gue takut dibentak, takut di hardik, gue bakal nangis kalau orang yang gue kenal ngelakuin itu. Gue enggak mau dekat-dekat sama Lo, gue—" Ku tatap wajahnya, kini ia melunak sudut-sudut alisnya bertaut memperhatikan aku dengan baik. "Gue enggak bisa dekat sama lo. Gue benci orang pemarah, karena bakal buat gue sering nangis. Jadi, gue harap Lo menjauh Kuki." *** . . assalamualaikum kakak bunda Terima kasih main membaca cerita ini..maaf aku lagi kurang enak.badan jadi kemungkinan akan jarang update. cidera punggung kambuh jadi ga bisa duduk lama-lama. doain aku cepat sehat dan bisa lanjutkan cerita ini dan up lebih sering yaa ~(つˆДˆ)つ。☆ terima kasih
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD