15. Gitar| Cireng isi ayam pedas

1751 Words
Aku pikir Kuki akan pergi setelah diminta menjauh. Nyatanya? Sudah lebih dari dua puluh menit dan masih terus mengikuti. Sedari tadi aku bersikap seolah ia tak ada. Tapi, lama-kelamaan ini menjadi menyebalkan. Aku menghentikan langkah, membalik tubuhku melihatnya yang seolah tak melihatku. "Sampai kapan Lo bakal ngikutin gue kaya gitu" "Gue?" tanyanya seraya menunjuk dirinya sendiri. "Ngikutin Lo? Gue cuma jalan ngikutin langkah gue sendiri." Terserah apa yang ia katakan. Aku segera melanjutkan pencarianku lalu menemukan sebuah toko alat musik. Toko ini terlihat klasik, terlihat cantik sekali sekali. Ada seorang paman yang sibuk menata beberapa biola. Terlihat dari kaca jendela. Aku memutuskan untuk segera masuk ke dalam. "Permisi," sapaku dijawab anggukan dan senyuman paman pemilik toko yang segera berjalan menghampiri. "Halo," sapanya ramah. "Cari apa Mbak? Ada yang bisa dibantu?" "Gitar, apa Bapak punya gitar yang cocok untukku. Juga Pak ... Hmm, yang harganya bersahabat cocok sama kantong mahasiswi miskin kaya saya," kekehku. Sang paman terkekeh, "Mbak bisa menemukannya tentu. saya menjual gitar baru dan juga lama. Banyak sekali pilihannya di sini." "Lo cari gitar?" tanya Kuki, yang tak aku pedulikan. "Temanmu bertanya tuh," ucap sang paman seraya menunjuk Kuki dengan gerakan matanya. "Teman? Enggak ada siapapun di sini selain aku dan bapak," kataku sambil mengarahkan pandangan ke sekitar toko. Seolah tak ada siapapun di sana. Si menyebalkan itu berkacak pinggang dan menghembuskan napas kasar dari bibirnya yang mengerucut. Aku bisa melihat dari sebuah cermin yang berada di hadapanku. Paman itu terkekeh melihat kelakuan kami berdua. Memang apa lucunya? "Aku akan menjual gitar kalau kalian berbaikan. Memangnya kenapa berantem? Pacarmu itu selingkuh ya sama perempuan lain?" tanya sang paman bahkan ia terkekeh riang sekali. "Apa pacar?! Pak saya bukan pacarnya," tolakku mentah-mentah tentu saja. Pacar? Sama cowok menyebalkan ini? "Iya Pak, saya minta maaf tapi saya butuh waktu sebentar untuk bicara sama pacar saya ini. Bukan masalah selingkuh, semua cuma karena salah paham." Kuki menjelaskan dengan wajah yang menyebalkan. Sialan memang! Ia lalu menarik tanganku dan berjalan ke luar. Aku mengikutinya terpaksa, karena salah paham ini sudah keterlaluan. Bisa-bisanya dia bicara seperti itu di depan orang lain. "Apa maksud lo sih?" tanyaku kesal. "Pacar apa?" "Lo cari gitar kan?" tanyanya tanpa mempedulikan apa yang aku tanya barusan. "Iya!" jawabku ketus. "Lihat! Lo bilang, Lo enggak bisa kalau dengar orang ngomong keras ke Lo. Tapi, lihat Lo sendiri ngomong keras dan ketus ke gue." Baiklah kini ia membalikkan semua pernyataan yang aku ucapkan padanya. Iya memang begitu sih seharusnya. Kalau kau tak suka diperlakukan tak baik maka, jangan memperlakukan orang lain seenak jidat. "Dengerin, gue punya dua gitar yang jarang dipakai. Lo bisa pakai dulu, atau lo bisa bayarin gitar gue. Kalau lo ngerasa kalau pakai gitar punya gue bikin harga diri Lo jatuh." jelasnya. Sejujurnya ini tawaran menarik. Tapi ... "Oke, berapa harganya?" Oke demi harga lebih murah apapun harus aku lakukan. Lagipula aku tak ingin menyusahkan si Om dengan banyak memakai uang pemberiannya. Aku rasanya juga harus memenuhi kebutuhan di rumah kan dengan uang itu? "Ayo kita ke rumah gue," ajak Kuki. "Ke rumah Lo, ngapain?" tanyaku curiga. "Lo mikir apa? Pasti mikir aneh-aneh. Ya, ke rumah gue kita lihat gitar. Motor gue ada di kampus. Ayo!" Ia lalu berjalan mendahuluiku. Aku berjalan mengikuti dari belakang. Menuju parkiran motor, Kuki sesekali berhenti memastikan apa aku masih mengikuti. Kami sampai di parkiran, dan kini berada di depan motor matic merah milik Kuki. Ia lalu menatapku. "Gue nggak punya helm satu lagi." Ia lalu memakaikan helm miliknya padaku. "Lo aja yang pake." "Helmnya cuma satu. Ini buat Tuan Putri, supaya keselamatannya lebih terjamin. Kita lewat jalan tikus. Jadi enggak akan ketemu polisi." Ia lalu merapikan helm. Aku bisa melihat senyumnya menunjukkan susunan gigi layaknya kelinci. Ah, mleyot saudara hati hamba. Inget Freya Lo tuh punya suami!! Kami menuju rumahnya. Melewati jalan perumahan di belakang kampus. Kuki pandai mencari jalan, sepertinya ia memang sering melewati arena ini. Dan kini aku telah sampai setelah memberi seseorang menyambut. Buat aku terpaku di depan rumah. Aku menatap Tante Melati, ibu Tedi. Sungguh aku lupa kalau Tante Melati adalah ibu tiri Kuki. Ia tersenyum ramah dan mempersilahkan aku masuk. "Temenin dulu ya Tant. Aku rapiin kamar dulu." Kuki masuk berlari menuju kamarnya. "Kinan, kenapa diam di sana?" tanyanya ramah. "Ayo masuk sini." "Iya Tante." Sementara itu Kuki telah berjalan masuk terlebih dulu. Aku diminta menunggu sampai ia selesai membereskan kamar. Sementara aku berjalan mengikuti langkah Tante Mel. Kami ke dapur, Tante Mel mengambil minuman kaleng dari lemari pendingin dan memberikan padaku. "Terima kasih Tant," ucapku. "Tedi ke kampus dia ada tugas." "Iya Tante tadi Tedi kasih tau aku. Lama enggak ketemu, Tante sehat?" "Sehat. Ayah sama nenek sehat kan?" "Alhamdulillah sehat semua Tante." "Ini pertama kalinya Kuki bawa teman ke rumah. Tante kaget juga ternyata temannya Kuki itu kamu Kinan." Sampai sekarang hanya bibi yang memanggilku Kinan yang lain memanggilku Freya atau Reya. "Hehehe, iya Tante sebenarnya enggak terlalu akrab juga sih." Ucapku lagi, aku tak ingin Tante Mel salah paham tentang hubunganku dengan anak tirinya. "Tapi selama ini. Ini pertama kali dalam hidup Tante Si Kuki bawa teman ke rumah. Selama ini enggak ada teman Kuki datang. Kalau Tedi memang sering bawa teman ke rumah. Senang juga dengar Kuki minta Tante temani kamu." Berarti selama ini hubungan mereka tak baik? sedikit keterlaluan kalau ia terus diam ke Tante Mel seperti itu. Tante Mel itu sangat baik, ramah juga cantik. terbukti ia sukses membuat anak setampan Tedi. Aku akui Tedi ganteng, dan itu jadi alasan ia jadi incaran banyak gadis sekolah dulu. Mungkin juga sampai sekarang. "Berteman yang akur ya sama Kuki. Dia itu baik sebenarnya. hanya saja kalau sama Tante ya gitu sepertinya dia belum bisa menerima kepergian ibunya. Dia itu emang keliatan gitu padahal aslinya baik dan penyayang banget." Aku bisa melihat Bibi yang sedih, ia tulus menyayangi Kuki. Hanya aku rasa ada jarak di antara keduanya dan butuh waktu untuk meruntuhkan tembok keras kepala si keras kepala itu. "Ayo," ajakan Kuki menghentikan keheningan di ruangan, Tante Mel menatapku dengan gembira rasanya ia senang mendengar nada bicara Kuki yang ramah dan menyenangkan. Aku senang bisa datang kemari, bukan karena Kuki atau gitar itu. Tapi, senyum Tante Mel yang membuatku turut bersyukur. Guratan wajahnya menunjukkan ia tak terlalu pandai menghadapi sikap dingin Kuki. Tante Mel adalah orang yang bersemangat dan selalu tersenyum, sama seperti Tedi mereka orang yang menyenangkan. Maka, melihatnya larut dan bersedih membuatku sedikit terluka. Aku ingin mereka bahagia seperti saat kami di kampung dulu. Aku melangkahkan kaki menuju kamar Kuki. Terlihat kamar yang cukup rapi. Sepertinya ia bekerja keras untuk merapikan semua ini. Kamar dengan nuansa biru gelap, dengan furnitur putih membuat nuansanya tak terlalu suram. Ruangan ini cukup besar, sebuah tempat tidur single bed di sudut kanan, di sebelahnya ada lima gitar dan sebuah keyboard yang berjajar rapi, lalu meja belajar di sudut kiri juga lemari pakaian. Ada lemari kaca berisi beberapa piala dan mendali. Lemari kaca itu menarik perhatian ku, aku berjalan mendekat semua adalah milik si tuan menyebalkan. Piagam, mendali juga Piala dari segala bidang. Dia pintar sekali ternyata. "Pilih gitar yang Lo mau, kecuali yang hitam, juga merah," katanya sambil menunjuk gitar yang ia maksud. Aku lalu menatap Gitar yang kini salah satunya berada di pelukan Kuki yang sedang memetik gitar. Ia memainkan gitar elektrik berwarna hitam yang tadi ia tunjuk. Gitar tua dengan desain kayu sederhana menarik perhatianku. "Yang ini boleh?" tanyaku sembari mengambilnya dan memetiknya sedikit. "Ah itu hadiah dari almarhum Mama." Ucapnya sedih tapi, berusaha tersenyum. "Maaf," ucapku lalu mengembalikan kembali ke tempatnya. "Kalian sama-sama orang yang spesial. Kalau lo mau itu boleh buat Lo. Ya kalau Lo mau." Tidak, tentu saja aku tak akan mengambilnya. Dengan memilih gitar ini sama saja aku mengambil kenangan indah Kuki bersama ibunya. Aku tak tau bagaimana rasanya ditinggal oleh ibu. Hanya saja aku tak pernah melihat ibuku dan itu menyakitkan. "Enggak, gue pilih yan ini" ucapku mengambil gitar akustik yang lain yang ada di sebelah gitar yang aku pegang tadi. "Beneran kalau Lo mau gitar itu. Gue bakal kasih ke lo," ucapnya lagi. "Gue mau ini. Lagian gue mungkin tau rasanya ditinggal ibu. Lo pikir gue tega ngambil ini? Itu sama saja gue ngerebut separuh kenangan lo sama mendiang mama lo." Jelasku seraya menyetel gitar yang kupegang. Kuki tersenyum, "Rey, lo tau apa alasan gue suka sama lo?" "Enggak, dan gue ... enggak ingin tau." Sejujurnya aku penasaran. Tapi, aku takut jika aku terpikat pada alasannya lalu jatuh hati. Itu karena aku sering kali plin-plan. Sifatku memang buruk, cengeng, plin-plan, tak ada yang bisa dibanggakan! "Kenapa?" Ia bertanya bingung. Aku terdiam mencari jawaban yang tepat untukku menolaknya. Andai aku bisa mengatakan jika aku telah menikah. Mungkin bisa jika itu bukan Om Yogi, guru dan juga ketua yayasan kampus. "Apapun alasan Lo, gue enggak punya alasan untuk nerima lo." "Selalu ada alasan, kecuali kalau lo sudah menikah." Iya! Itu alasannya!! Argh! Ingin sekali aku mengiyakan apa yang diucapkannya. "Anggap aja begitu." "Enggak mungkin." Kekeh Kuki. "Tanya Tedi atau Tante Mel, gue udah dinikahkan secara adat sejak gue kecil," sahutku. Kuki menatap dengan serius sesaat, tapi kemudian ia terkekeh. "Lo pikir gue percaya? Pernikahan kaya gitu mungkin diadakan cuma sebagai tradisi. Enggak seharusnya dianggap sungguhan, Tuan Putri," ucapnya lalu mengacak rambutku. Kinan, Tante bawakan makanan kesukaan kamu, nih. Ada cireng isi ayam pedes nih. Makanlah sama Kuki ya. Suara Tante Mel terdengar dari balik pintu. Aku bisa melihat Kuki tak senang. Tapi, siapa perduli? Ini demi cireng isi ayam pedas! Aku segera bangkit dan membuka pintu lalu menerima pemberian Tante Mel. "Makan ini, Kinan belum makan kan?" "Waaah, enak banget nih makasih ya Tante," ucapku. Tante Mel mengacak rambutku, "habiskan, kalau kurang boleh ke dapur dan meminta lagi." "Oke siap." jawabku setelahnya Tante Mel kemabli turun ke bawah. Aku kembali dan duduk, lalu mulai menyantap cireng isi ayam buatan Tante Mel. Ah, lama sekali rasanya aku enggaktak menikmatinya. "Lo mau?" tawarku. "Lo bertingkah seolah ini rumah lo?" Tanyanya kesal. "Lo marah?" Tanyaku dengan mulut penuh cireng. Lalu entah bagaimana, saat ini jemari Kuki berada di sudut bibirku. "Kenapa berantakan banget sih makannya." Ucapnya, ia menunjukkan jarinya terlihat sisa saos yang ia bersihkan dari sudut bibir ku. Sial! Sial! Sial! Tuhan, kenapa jantungku deg-degan?! *** Aku berjalan masuk ke dalan apartemen. Setelah beberapa jam di rumah Kuki. Hari ini aku sendirian karena Om banyak urusan. Aku berjalan malas masuk ke dalam ruangan yang gelap. Lampu segera menyala ketika aku masuk. "Reya?" *** . . . assalamualaikum terima kasih Untuk semua doa dari teman-teman kakak dan bunda ?? semoga kkta sehat selalu ya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD