Kedatangan tamu dari alam ghaib

1249 Words
Semua orang baru saja memulai jam kerja dengan khusyuk saat suara teriakan menggema terdengar dari luar, bahkan keriuhan pun tak terhindarkan. Dua orang satpam sudah berusaha menghalangi wanita berbaju kurang bahan itu, ia memberontak ingin masuk kedalam ruangan khusus karyawan. Melihat tidak ada yang mampu menahan perempuan bar-bar itu, akhirnya satpam melepaskannya. Namun tak henti untuk mengikuti kemana wanita itu akan pergi. Sebenarnya ini bukan pertama kali kantor ini kedatangan tamu yang entah datang dari mana, tapi untuk sebagian pekerja sudah tahu alasan kenapa wanita-wanita ini datang. Satpam itu meringis melihat kelakuan wanita jadi-jadian ini, belum lagi ketika dia mendobrak pintu ruangan para pekerja khusus. Dan disitulah semua mata tertuju pada kehadiran mereka yang mengusik ketenangan jiwa Susi, belum selesai ia mengerjakan laporan dan masalah gelar dari pak boss. Sekarang datang lagi satu siluman yang merusak harinya, dengan langkah santai. Perempuan dua puluh tujuh itu mendekati wanita yang menatapnya angkuh -plus satpam perusahaan yang menelan ludah karena melihat raut wajah ibu pertiwi dikantor ini sudah seperti macan betina. Bagaikan diedit dan dibuat-buat, langkah Susi seperti slowmotion melintasi jalan yang memang tidak lebar itu. Menggulung tangan kemejanya hingga ke siku, membuka kancing baju bagian atasnya hingga menampakkan betapa mulusnya d**a gadis itu. Menarik ikat rambutnya yang panjang, lalu mengibaskan rambut indah itu bak model iklan shampoo terkenal. Susi tersenyum sinis memandang perempuan tengil didepannya dengan tatapan cemooh. Setelah berdiri dihadapan wanita dengan lipstik tebal merah terang itu, Susi melipat kedua tangannya. Menaikkan alis sebelah, menelisik penampilan orang itu dari atas hingga kebawah dan kembali melihat wajah wanita itu -yang entah siapanya. "Jadi nona, apa yang membuatmu berteriak disaat semua orang tengah fokus bekerja hingga menghebohkan orang-orang untuk menatap dirimu yang aneh?" Tanya Susi sarkasme, sungguh ia muak berhadapan dengan para gadis dari alam lain seperti ini. Kalau saja bukan menjadi tugasnya, Susi tidak mau menghadapi satupun dari mereka. "Siapa lo? Gue mau ketemu Ari. Dia harus tanggung jawab karena gue hamil." Ruangan mendadak senyap, seperti akan ada petir menyambar tubuh gadis malang itu. Ia berhadapan dengan ratu kegelapan, Susi memandang sinis wajah dempul itu tanpa terusik ataupun prihatin. Malahan semakin menampilkan wajah jijik. "Oh. Jadi lo hamil anak boss gue gitu? Asal lo tahu ya, cewek yang ngaku hamil anak boss gue bukan cuma lo doang. BUKAN PERTAMA KALI, lo tuh udah kesekian kali saking banyaknya." Masih dengan gaya angkuh dan santainya, tatapan Susi sangat mengintimidasi lawan bicaranya. Itulah sosok perempuan konyol itu jika dihadapkan pada situasi seperti ini, ia menjelma jadi orang yang berbeda. "Beraninya lo ngomong gitu, asal lo tau Ari itu cowok pertama yang nyentuh gue!" Rani dan Winda juga semua karyawan diruangan ini menatap ngeri wanita berambut rebonding kasar itu, bagaimana bisa boss mereka tidak memilih teman kencan semalam. Winda bahkan menelan ludah yang terasa kesat. "Kira-kira, kali ini mbak Susi bakal ngapain ya Ran?" Rani menggeleng tak mau menyimpulkan atau menebak apapun, Susi bisa bertindak diluar dugaan. "No comment Win, tapi yang jelas tuh cewek beneran cari mati." Winda meringis membayangkan gadis yang datang minggu lalu, Susi bahkan menarik rambut palsunya hingga lepas. Tapi bukan itu saja, baju wanita itu bahkan sampai robek akibat keganasan Susi. "Lo cewek kesebelas, dalam kurun waktu sebulan yang bilang begitu. Gak ada alasan lain yang bisa bikin gue ngasih jalan ke lo buat ketemu boss gitu? Sampe congek gue denger itu mulu alasannya." Wanita berparas bak pempek yang baluri tepung itu menggeram kesal, sudahlah datang kesini dihalang sampai diusir satpam. Ini lagi siapa? Apa gak bisa ya dia semudah penggoda dalam novel lainnya yang diberi akses bebas keluar masuk ruangan boss besar. Sialan! Gerakan yang tiba-tiba itu membuat semua orang tercengang sekaligus terkejut luar biasa, wanita itu mencengkram rambut Susi hingga kepalanya tertunduk kebawah. Bahkan Susi yang tidak siap pun harus menerima jambakan kasar juga menyakitkan itu, namun dengan cepat ia membalas tarikan rambut itu dengan meraih baju perempuan itu hingga terdengar suara robekan yang cukup keras. Namun tak henti disana, Susi berusaha melepaskan cengkraman itu dengan mencubit keras pinggang wanita yang sudah lancang merusak rambut indahnya. Dengan sekali cubit yang kecil menggunakan kuku, memutar sedikit cubitannya perempuan itu mengaduh hingga melepaskan rambut Susi. Lengah dengan mengusap pinggangnya yang dicubit oleh Susi, perempuan itu kembali terduduk akibat tamparan Susi yang begitu kuat. Bahkan satpam yang berdiri disana pun ikut memegangi pipi mereka seolah ikut merasakan nyeri. Begitu juga karyawan lainnya yang kembali duduk fokus bekerja, tidak mau menatap terlalu lama atau sebentar lagi akan ada gempa bumi mendadak. "LO?! BERANINYA NAMPAR GUE, SIALAN p*****r MURAHAN. GAK SUDI GUE DISENTUH CEWEK MURAHAN KAYAK LO SIALAN." Teriak perempuan itu marah, bahkan mencoba berdiri untuk membalas Susi. Namun kalah cepat karena Susi lebih dulu menariknya keluar, bahkan menyeret kasar penuh amarah. Habis sudah sikap lembut dan humoris yang dimiliki Susi kalau begini, keadaan bisa merubah seseorang dan itu benar adanya. Tanpa butuh waktu lama, tubuh kurus itu sudah terlempar kedepan halaman kantor. Sejauh itu Susi mampu menyeret wanita malang yang berani mengusik penampilan rapi Susi. Dengan nafas yang ngos-ngosan Susi kembali menatap jengah perempuan itu. Berdecih hingga menampilkan wajah jijik. "Sekali lagi gue lihat lo berani dateng kesini, gue sendiri yang bakal buat rambut lo botak." Susi memperlihatkan runtuhan rambutnya dengan tatapan bak psikopat, hingga wanita itu meringis. Sakit, tentu saja. Baru kali ini ia diperlakukan seperti anak kucing yang berani mencuri ikan, bahkan lebih kejam. Susi meninggalkan orang itu diluar dengan teriakan yang menggema. Melintasi dua satpam yang menunggu semburan untuk mereka. "Lain kali kalo ada tamu dari alam ghaib kayak tadi, jangan disuruh masuk pak. Gak kasian apa lihat saya dianiaya mulu." Susi mendengus mengatakannya, namun tidak ada kemarahan saat mengatakan itu. Ia mengerti tugas satpam, itu hanya sebatas peringatan. Lagi pula ini bukan pertama kalikan? Kepalanya terasa nyeri karena jambakan jalang tadi, ia merasa sedikit pening namun berusaha tampil se-sehat mungkin. Ruangan yang ramai mendadak hening ketika menyadari kehadiran Susi ditengah mereka, tidak ada tatapan mencemooh ataupun mengatai atas sikap Susi barusan. Malah mereka semakin kagum dengan segala tanggung jawab Susi disini. Winda yang membawa batu es juga salep untuk memar segera mendekati Susi yang bersandar dipintu. Menenangkan detak jantungnya yang luar biasa menegangkan, tangannya bahkan ikut gemetar. "Sini mbak, biar winda bantuin ngoles salepnya." Tawar Winda yang membuka tutup obat itu dengan pelan, Susi belum bisa bersuara lagi. Lama-lama mentalnya down kalau harus berhadapan dengan cewek bar-bar kayak tadi seumur hidup. Nama Susi Aryanti sangat terkenal dikantor, maupun diperusahaan lain. Bukan karena ia sekretaris seorang Ari Setiawan saja, namun ya tahu sendirilah gosip mode on beb. Ia tak meringis sedikit pun saat Winda mengoleskan obat kewajah nya yang sedikit memar, bahkan Susi memejamkan matanya. "Gue tadi malu-maluin gak sih Win?" Tanya Susi pelan. Winda menggeleng cepat, baginya sikap Susi tadi sangatlah elegan. Berhadapan dengan orang seperti itu hanyalah bersikap tenang, tapi kalau sudah disentuh beda urusannya. "Mbak selalu keren, serius! Aku sama Rani aja kagum sama mbak tadi." "Masa sih? Gue berasa jadi artis dadakan tau gak, gara-gara boss kampret nih. Gak bosen apa ya main cewek titisan dakjal kayak tadi. Heran gue." Winda tertawa, menutup salepnya dan menempelkan ice pack untuk kepala Susi. Kemudian membantu gadis itu berdiri, menuntunnyan kembali kebilik. "Mbak Susi keren!" Rani mengatakannya sambil tersenyum polos, mengacungkan kedua jempolnya. Dibalas Susi dengan memutar kedua bola matanya tapi tak urung untuk tersenyum juga. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan setiap kejadiannya. Bahkan ia berdecak melihat bagaimana Susi melawan, namun ia juga harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD