Senja sudah hampir berlalu, dan hampir semua orang yang bekerja diperusahaan Ari telah pulang. Hanya ada beberapa yang belum selesai dari pekerjaan mereka memilih untuk istirahat sejenak, termasuk Susi yang baru saja selesai mengetik ulang laporannya. Mengecek ulang apakah ada gelar yang terbalik, atau kurang huruf dibagian nama perusahaan. Mata hitamnya begitu fokus sampai tak bisa merasakan kehadiran orang lain didekatnya.
"Kamu belum pulang Sus?" Suara bariton Ari mengalun ditelinga Susi, membuat gadis itu mengernyitkan alis mengangkat kepalanya untuk melihat wajah si orang -yang bertanya.
"Sebentar lagi pak, masih mau ngecek ulang. Gak mau ambil resiko lembur tanpa gaji kalo salah ngetik gelar." Sindiran Susi yang tak mendapat respon Ari, bahkan pria itu tak terlihat terusik. Ia memasukkan tangannya kesaku celana, menyandar didinding bilik Susi.
"Kepala kamu gimana? Masih sakit?"
Susi merengut mendengarnya, pertanyaan macam apa itu. Sudah jelas bengkak dikepalanya tidak akan sembuh dalam waktu beberapa jam, dia bukan manusia super.
"Lumayan pak. Lumayan menyakitkan, bapak harus naikkan gaji saya bulan ini dua puluh persen. Karena berhadapan sama cewek setan kayak tadi itu butuh tenaga dan itu gak gratis loh pak."
Ari bergeming tidak menjawab, namun tatapannya tak beralih melihat kewajah Susi yang memar. Ada jengkel dan tak terima kalau gadis itu terluka, tapi seperti biasa. Ari terlalu pintar membuat suasana hati Susi menjadi buruk, bahkan gelisah hanya karena ditatap seperti sekarang.
Tidak ingin memperpanjang atau lebih tepatnya menatap Susi, Ari mengalihkan pandangannya. Kemudian pergi dari sana, tapi sebelum itu ia sudah memberi interupsi pada sekretarisnya itu untuk ikut pulang bersama. Dan ini sebuah penawaran langka.
"Pulang sama saya Sus, saya tunggu dibawah."
Susi hanya mengangguk, ia sudah tahu kalau pria itu tak perlu mendengar jawabannya. Ala biasa karena terbiasa, terbiasa diabaikan, terbiasa dibuai lalu dilempar. Begitulah kira-kira majasnya kehidupan Susi yang selalu dipenuhi oleh urusan yang bersangkutan dengan Ari.
Tanpa menunggu ataupun membuang waktu, Susi segera mematikan komputernya. Merapikan meja sebelum melangkah keluar bilik, dilihatnya tinggal Arifin yang mendapat tugas lembur hari ini.
"Fin, duluan ya. Hati-hati ada demit gombel yang suka sama cowok jomblo." Teriak Susi, sedangkan yang diajak ngomong hanya menggelengkan kepala.
Mendengar derap langkah yang menjauh, membuat Arifin juga menghentikan jarinya mengetik.
Bulu kuduknya merinding. Bahkan entah kenapa hawa diarea tekuknya begitu dingin, Arifin gelisah.
"Ah sialan emang mbak Susi. Gak takut jadi malah parnok ginikan." Rutuknya kesal, tapi terlepas dari kegelisahannya. Arifin merasa bahwa ada suara cekikikan yang terdengar meski pelan, dan mau tak mau ia harus menoleh saat itu juga.
Mendadak aura ruangan ini menjadi menakutkan, hati Arifin jadi tak karuan. Guyonan Susi mempengaruhi mental Arifin yang tidak penakut menjadi ingin segera pergi dari sana, kerjaan numpuk boss!
Lampu mendadak mati, membuat jantung Arifin semakin cemas. Kenapa sekarang ia malah membayangkan seperti cerita-cerita horror ditv, yang sering kali mendapat teror dari makhluk astral ketika sedang bekerja dikantor yang sunyi sepi seperti Arifin sekarang.
Baru saja ia menyalakan tombol ponselnya, menghidupkan senter dan nyaris pingsan kala melihat seorang perempuan dengan rambut tergerai yang sangat amat menakutkan bagi pria itu.
"Aakkhhhhh." Arifin berteriak sekuat tenaga, bahkan sampai tenggorokannya sakit. Jantungnya serasa melompat keluar saat suara tawa malah terdengar nyaring dan melengking.
Tubuh Arifin tergeletak dilantai, lelaki itu pingsan mengenaskan dengan wajah pucat.
Wanita yang tadi berdiri tak jauh dari Arifin itu segera menghidupkan saklar lampu. Menatap gemas sekaligus cemas karena melihat tubuh gempal itu terkapar tak berdaya.
"Fin, bangun fin. Arifin bangun woi, ih gue becanda aja kali fin. Masa pingsan beneran sih? Woi fin."
Susi menggerakkan tubuh Arifin sambil tertawa campur prihatin, niatnya mengerjai malah berakhir pingsan begini.
Duh mana kuat Susi mengangkat tubuh Arifin. Dengan terpaksa dan berat hati ia menelpon pak boss, sambil menggerakkan lengan Arifin berharap lelaki itu segera sadar.
Tiga kali bunyi sambungan namun tak diangkat, akhirnya Susi mengurungkan niat menelpon Ari. Dia meraih telpon kantor, dan menekan angka lima untuk langsung tersambung ke ruang satpam.
Dan tak butuh waktu lama, satpam jaga malam membopong tubuh Arifin susah payah menuju kamar istirahat yang memang disediakan oleh kantor sewaktu-waktu ada karyawan kurang sehat.
Masih dengan cengiran tanpa dosanya Susi membiarkan security mengurus Arifin yang entah pingsan beneran, atau justru tertidur. Pasalnya pria berbadan bulat gempal itu sering kali molor dijam kerja namun Susi tak pernah memarahinya. Arifin sering kali menjadi bully-an dalam arti bercanda bukan menghina, tingkahnya sering kali membuat orang-orang tertawa. Apalagi porsi makannya yang alhamdulillah bikin perut kenyang mendadak, Susi menyayanginya sebagai teman baik. Selama ini juga pekerjaan Arifin sangat baik, jadi ia tak mempermasalahkan kalau pria itu curi-curi waktu tidur. Dia juga memahami situasi dimana tubuh terasa lelah namun tuntutan memaksa kita untuk tetap kuat.
Sesampainya diparkiran, Susi melongokan kepala mencari dimana mobil Ari namun tak terlihat. Ia berjalan ketempat biasa bossnya itu parkir, menatap gemas karena ternyata tidak siapapun disana.
"Kemana dia?" Tanya Susi pada diri sendiri, tapi matanya mengedarkan pandangan. Berharap menemukan sosok bossnya, tidak ada siapapun disini. Susi tidak takut, tapi entah kenapa perasaannya jadi tak enak.
Belum sempat ia menghela nafas dan merenggangkan otot, sebuah dorongan membuat tubuhnya terjungkal kedepan dan terduduk dilantai yang kasar itu.
Matanya melotot tak terima ketika mengetahui siapa yang telah berani melakukan ini padanya.
"Ini balasan untuk lo yang udah mempermalukan gue tadi." Wanita itu berdecih, sambil mengibaskan tangannya berpura-pura kepanasan. Sedangkan Susi hanya bisa menatap jengah orang itu dengan malas, tenaganya sudah habis seharian dan mungkin sekarang ia tidak akan melawan lagi.
"Lo gak usah belagak mau jadi sekretaris hebat didepan boss, kenapa? Lo gak laku ya sampe harus ngalangin gue yang mau ketemu Ari."
Susah payah Susi bangkit, membersihkan rok selututnya. Menyingkirkan poni yang menutupi mata, tak berniat menjawab gadis itu.
"Selain sok jago, lo juga bisu ternyata. Tadi aja lo berkuasa banget ngusir gue, sekarang kenapa? Takut heh?"
Ternyata keberadaan makhluk astral itu juga benar adanya, karena Susi bahkan tak menyadari sejak kapan perempuan jadi-jadian ini ada disana. Mendengar langkahnya pun tidak.
"Udah ngomongnya? Gue mau pulang kalo udah, males dengerin curhatan lo."
Mendengar jawaban Susi yang seperti itu, wanita itu sontak merasa kesal kembali. Bahkan ia berniat kembali melakukan tindak kekerasan dengan menampar Susi, tapi kalah cepat saat sebuah tangan menghalanginya.
"Sekali lagi menyentuhnya, aku tidak akan membiarkanmu melihat matahari ataupun merasakan udara saat ini juga." Suara dingin itu mengalihkan perhatian Susi dan -si kampret yang melongo karena terkejut atas kehadiran Ari.
"A Ari, kamu disini?" Raut wajah nya mendadak pucat, tatapan bengis dan mengintimidasi Ari membuat nyalinya menciut.
"Pergi dari sini, sebelum aku sendiri yang menyeretmu keluar dari perusahaanku!"
Tidak ada toleransi dalam nada bicara Ari, itu arti nya -wanita jalang ini harus segera pergi. Susi tahu bahwa Ari bukanlah orang yang suka bermain-main jika sudah memerintah.
"Tapi aku mau ngomong sama kamu, please. Kita ngobrol dulu ya?"
Ari mengetatkan rahangnya, bahkan mata pria itu menggelap. Susi tidak tahu harus melakukan apa selain diam, bukannya ia tidak kasihan jika terjadi sesuatu antara mereka namun ikut campur urusan Ari hanya akan menambah beban gadis itu.
"PERGI!" Suara Ari menggema nyaring, bahkan ini lebih keras dari yang biasa Susi dengar. Sangat jarang melihat tatapan amarah dari lelaki seperti Ari. Kalau dalam pekerjaan ia sudah biasa mendapat nada jengkel dan kesal, maka kali ini Ari terlihat berbeda.
Perempuan itu terkejut, bahkan spontan melangkah mundur. Matanya berkaca-kaca, namun tak sedikitpun membuat Ari tersentuh bahkan dengan beringas dia malah menarik Susi pergi dari sana. Masuk kedalam mobil, dan situasi seperti ini sangatlah Susi benci. Dimana ia kehabisan kata untuk memulai sebuah percakapan, ini semua gara-gara makhluk ghaib itukan? Ya ampun, berasa sekarat Susi sekarang.