"Berapa hutangnya?" tanya Kanaya menatap Adrian
"Lima ratus juta rupiah" jawab Adrian lantang.
"Oke aku bayar" jawab Kanaya enteng.
Mendengar jawaban Kanaya yang begitu tegas membuat Adrian terkejut. Apakah perempuan ini benar-benar memiliki uang sebanyak itu? Tanya nya dalam hati.
"Itu belum termasuk bunga pinjamannya" kata Adrian tidak mau kalah sambil berjalan menuju sofa yang ada di kamar dan kemudian duduk santai diatas sofa.
"Sebutkan saja berapa nominal yang harus aku bayar?" jawab Kanaya tidak kalah sengit dan berpikir pasti uang yang mesti dia bayar tidak mungkin sebanyak yang dia punya sekarang. Kalaupun uangnya kurang dia bisa minta ke bapanya.
"Satu milyar" jawab Adrian dengan bangga.
Ades dan Dio yang mendengar ucapan Adrian membuka mulut mereka serempak tanpa mereka sadari. Bagaimana tidak, bunga pinjaman hutangnya dua kali lipat dari uang pinjaman. Benar-benar lintah darat pembunuh masyarakat.
Kanaya yang mendengar ucapan Adrian pun menghela nafas panjang dan menghembuskan nya dengan berat. Mengapa dia begitu keterlaluan meminta bunga pinjaman sebanyak itu?
"Oke aku bayar" jawab Kanaya tersenyum sinis ke Adrian.
"Kak Kanaya" panggil Ades kemudian dia menggelengkan kepala tanda tidak menyetujui nya. Dan Kanaya pun mengisyaratkan agar Ades tenang saja.
Mendengar perkataan Kanaya yang menyanggupi untuk membayari uang sebesar satu milyar membuat Adrian merasa harga dirinya merasa direndahkan. Bagaimana tidak? Selama ini para pesaing bisnisnya tidak ada yang pernah melawan Adrian, malah mereka kalah telak. Tapi baru kali ini Adrian merasa kalah.
Tony yang melihat perubahan wajah Adrian tahu kalau Adrian sekarang benar-benar merasa kesal. Karena dia tau sekali watak Adrian yang tidak pernah mau kalah. Tony tau ini juga adalah momen langka dimana sekarang dia punya cara untuk membully Adrian setelah ini. Tony meledek Adrian yang terlihat kesal, dia memberi kode seolah Adrian sekarang sekarat.
"Masukkan rekeningmu" kata Kanaya sambil memberikan handphonenya menyuruh Adrian memasukkan nomer rekeningnya. Adrian pun mengambil ke handphonenya dan dia benar-benar terkejut kalau Kanaya akan mentransfer uang sejumlah satu milyar tersebut melalui internet bangkingnya. Dia benar-benar dibuat kalah telak oleh Kanaya.
"Ambil handphone mu" ucap Adrian mengembalikan handphone Kanaya.
"Aku tidak butuh uang. Uang ku banyak. Tapi aku butuh seorang wanita untuk menghangatkan kamarku" kata Adrian melirik ke arah Ades.
Ades yang merasa terancam meringkuk dibalik badan Dio. Dia tidak ingin melayani pria yang bernama Adrian tersebut walaupun wajahnya tampan rupawan, tapi Ades hanya mencintai Dio. Tapi dia juga tidak ingin bergantung dengan Kanaya dan tidak ingin melibatkannya dalam masalah yang dihadapinya sekarang. Ades mencoba dengan penuh keberanian berdiri dan berjalan menuju ke arah Adrian, dia melepas genggaman tangan Dio dan mengisyaratkan semua baik-baik saja.
"Aku akan bertanggungjawab atas semua yang ayah lakukan ka" kata Ades yang berbicara kepada Kanaya.
"Good girl" ucap Adrian merasa menang.
"Jangan lakukan hal ini dek" kata Kanaya.
"Aku akan membayar berapa pun yang kamu mau" ujar Kanaya berbicara kepada Adrian.
Adrian pun tertawa dengan keras, seolah merasa semua yang dia lihat sesuatu yang lucu. Tony yang menyaksikan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mulai lagi deh dramanya Adrian" ucapnya dalam hati.
"Seperti yang aku katakan tadi. Aku tidak butuh uang. Aku hanya membutuhkan kehangatan didalam kamarku" jawab Adrian dengan tatapan yang tajam.
"Apa kamu tidak mengerti dengan ucapanku sebelumnya?" bentak Adrian.
Sontak saja membuat Kanaya merasa geram, dia benar-benar merasa telah dipermainkan oleh Adrian.
"Mungkin kamu bisa menggantikannya" ucap Adrian dengan senyum sinis dibibir seksinya.
Kanaya lebih terkejut lagi setelah mendengar ucapan Adrian yang jauh lebih tidak masuk akal. Dirinya yang harus menggantikan Ades, benar-benar gila pria ini pikir Kanaya.
"Tora bawa perempuan itu kedalam mobil" kata Adrian menyuruh bodyguardnya untuk membawa Ades.
Ades kaget ketika lengannya ditarik paksa oleh pria berbadan besar yang bernama Tora tersebut.
"Dio, kak Kanaya" teriak Ades yang meminta pertolongan mereka.
Dio yang mencoba untuk menolong langsung dihadang oleh bodyguard lainnya. Begitu pula dengan Kanaya tangannya dicengkram kuat sehingga sulit baginya untuk melawan.
"Aku rasa sudah cukup kita berdebat kali ini. See you later baby" kata Adrian penuh kemenangan.
"Tunggu" kata Kanaya menghentikan langkah Adrian yang sedang berlalu pergi.
"Ada apa lagi cantik?" ucap Adrian menggoda Kanaya. Dia yakin sekarang ini pasti Kanaya berniat untuk menggantikan posisi temannya itu.
"Aku akan menggantikannya" ucap Kanaya lesu.
Adrian merasa kegirangan di dalam hatinya, namun dia tidak menampakan guratan kesenangannya itu.
"Yes, berhasil" ucapnya dalam hati.
"Apa kamu yakin? " tanya Adrian antusias.
Sebenarnya semenjak pertama kali Adrian melihat Kanaya dia merasakan sebuah getaran yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Selain bersama wanita yang bernama Ayu. Dia tidak pernah merasakan getaran-getaran tertarik untuk menyukai wanita. Ayu adalah wanita yang selama ini dicintainya,namun dia kehilangan keberadaan Ayu sekarang yang entah dimana dirinya berada. Sudah lebih lima belas tahun Adrian mencari keberadaan Ayu namun tidak pernah menemukan cinta masa kecilnya tersebut.
"Iya, tapi dengan satu syarat. Kamu tidak boleh mengganggu kehidupan Ades lagi" kata Kanaya memberikan persyaratan.
"Tentu saja" jawab Adrian.
"Satu lagi" kata Kanaya yang menghentikan Adrian yang akan berbicara.
"Katakan saja apalagi?" ujar Adrian.
"Aku ingin mereka berdua sekarang dinikahkan" ucap Kanaya dengan nada sedikit keras.
Adrian yang mendengarkan syarat-syarat yang diajukan oleh Kanaya merasa heran dengan semua syarat yang dia rasa sedikit konyol.
"Baiklah" jawab Adrian pasrah.