Realita
Aku Tara.
Hidupku rasanya sempurna sekali.
Aku punya keluarga yang sangat suportif. Gak pernah sekalipun aku diatur untuk memilih jalan hidupku.
Aku punya suami yang juga sangat mendukungku dengan batasan yang menurutku sangat wajar. Gak posesif, punya caranya sendiri memanjakan aku sebagai istri dan ibu dari anak perempuan tunggal kami yang baru 1 tahun hidup di dunia ini.
Namanya Mada.
He's just so perfect with all his imperfections.
Mada memang pria impianku semenjak lulus SMA. Aku kuliah di kampus yang sama dengannya. Hanya dia anak fakultas Ekonomi dan aku Komunikasi.
Dulu Mada sangat insecure sama hubungan kami. Aku diatur sedemikian rupa hingga akhirnya kuliahnya sendiri keteteran dan dia akhirnya di-drop out kan oleh kampus di semester akhir. Aku bertahan karena dalam hati aku tau, aku gak bisa tanpa Mada.
Dan benar, aku sekarang menjabat sebagai Manager di sebuah perusahaan multinasional berkat pecutan Mada yang membuatku selalu mengintrospeksi diri. Bukannya aku memuja Mada, ya memang aku bucin, tapi aku tau ini berkat latihan mental sehari-hariku menghadapi Mada yang pada dasarnya keras.
Hubungan kami sempat goyah di tahun-tahun awal. Keributan kami sempat buat aku jengah, mau udahan aja.
Tapi aku sayang Mada, gak kebayang bagaimana hidupku gak ada dia. Aku tau aku bisa hidup tanpa Mada. Cuma gak mau aja. Dia buat aku jadi lebih baik. Aku dulu cengeng, lemah, penakut, minder, and I'm not that person anymore. Bahkan habitku untuk menyenangkan semua orang mulai berkurang karena aku akhirnya sadar gak akan bisa menyenangkan semua orang.
Ya mungkin Mada khusus dikirim Tuhan untuk menempa jiwaku yang terlalu dimanja saat kecil, sekaligus menyembuhkan trauma-trauma yang kualami dulu.
Mada sekarang lebih banyak di rumah. Membantu urusan rumah tangga sambil menjalankan bisnis makanannya.
Dia bangga sama aku. Tapi aku tak habis pikir apakah di alam bawah sadarnya dia minder dengan posisiku yang semakin baik. Sementara dia yang harusnya menjadi tulang punggung keluarga penghasilannya tidak terlalu cukup untuk memenuhi kebutuhan kami.
Aku gak pernah ambil pusing soal itu. Karena aku tau Mada bertanggung jawab. Hanya keberuntungan aja yang selalu gak berpihak sama dia. Mungkin memang ini jalan yang harus dia tempuh untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Semoga ya.